Greyson
yang merasa tidak terima, dengan cepat meninju wajah Zack.
Seketika
itu juga keadaan di sana menjadi ribut karena pertengkaran Zack dan Greyson.
Banyak anggota kru yang berusaha memisahkan mereka berdua, tetapi tidak ada
yang berhasil memadamkan api kemarahan di antara keduanya. Bahkan Alexa, kakak
kesayangan Greyson, yang sudah berusaha menghentikan adiknya pun gagal.
“Kau
sama sekali tidak mengenal Alice!” seru Greyson sambil memukul pipi Zack yang
segera mengelak.
“Kau
yang tidak memahami Alice!” balas Zack, “Kau
meninggalkan Alice dan membuatnya berubah!”
Kemarahan
Greyson memuncak mendengar perkataan Zack. Ia mengepalkan tangannya di sebelah
tubuhnya, menahan nafas, dan meninju wajah Zack dengan sekuat tenaga membuat
Zack terpelanting.
“Stop!”
seru sebuah suara seorang gadis di sebelah kanan
Greyson.
Greyson
menyadari kedatangan Alice, tetapi ia hanya dapat
memandang Alice yang saat ini tengah memandang tajam ke arahnya.
Kemarahan sudah mulai
menguasainya, sehingga ia berusaha untuk memukul Zack dengan menarik kerah baju
yang dipakai Zack. Saat akan memukul wajah Zack untuk yang kesekian kalinya, Alice
menahan tangan Greyson dan memandang dingin ke arahnya.
“Apa yang kau lakukan
terhadap Zack?” bentak Alice yang mulai emosi.
“Ia yang memulainya,” sahut
Greyson dingin seraya memandang bengis ke arah Zack.
“Kau tidak perlu memukulnya!
Kau jahat, Grey! Kau sangat jahat!” bentak Alice dengan marah. Bulir air mata jatuh
dari matanya karena emosi, “Mulai sekarang, kau bukan lagi sahabatku!”
Alice mulai membantu Zack
berdiri, dan mulai berjalan menjauh. Sementara Greyson memandang Alice dengan
pandangan yang bukan lagi merupakan pandangan marah, tetapi pandangan yang terluka.
Perlahan tangannya terangkat untuk memegang dadanya. Greyson merasakan sakit
yang amat sangat di hatinya.
xxx
“Aduh!” rintih Zack yang sedang
diobati oleh Alice di rumahnya.
“Diam,” ucap Alice singkat
sambil terus mengoleskan alkohol dengan kapas di wajah Zack yang penuh luka
bekas pukulan. Ia masih mengingat kejadian tadi. Penyesalan karena membentak
Greyson sementara ia tidak tahu apa masalahnya. Ia ingin kembali ke saat yang
lalu dan menarik kata-katanya pada Greyson.
Setelah mengobati Zack, Alice
segera berpamitan dan pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju ke
rumahnya, Alice terus memikirkan kejadian tadi pagi. Penyesalannya semakin memburuk
ketika di jalan ia melihat rombongan Greyson sedang berjalan ke arahnya, dan di
sana ia melihat Greyson yang wajahnya penuh dengan luka lebam. Greyson
memandangnya dengan ekspresi terluka lalu membuang muka ke arah lain.
Alice berhenti sejenak dan
berbisik sangat pelan, “Grey…”
Namun Greyson tidak mendengar
bisikkan Alice. Dan ketika berjalan melewati Alice, ia tidak sekali pun menoleh
ke arah Alice. Pandangannya lurus ke depan dengan rahang terkatup rapat.
Saat itu juga Alice merasa
kehilangan sebagian dirinya. Lebih parah dari ketika Greyson meninggalkannya
selama tiga tahun.
xxx
Greyson mengurung dirinya di
dalam kamar. Dengan perasaan pedih, ia merenung sambil duduk di atas ranjang.
Ia merasa sadar bahwa ini adalah balasan akan menghilangnya ia selama tiga
tahun dari hadapan Alice. Namun kata-kata terakhir yang diucapkan Alice kembali
terngiang di dalam otaknya dan membuatnya benar-benar merasa terluka.
“Mulai sekarang, kau bukan lagi sahabatku!”
Kembali terputar di otaknya
kenangan tiga tahun yang lalu ketika ia masih sering bermain dengan Alice.
Dengan leluasa menggenggam tangannya, membelai rambutnya, dan menatap dalam
kedua mata biru itu. Namun kini semuanya sudah berakhir. Karena kesalahannya.
Karena Alice yang lebih memilih Zack.
Tangannya mulai bergerak ke
saku mantelnya dan mengeluarkan selembar foto yang sangat berharga buatnya.
Satu butir air mata turun dari matanya, dan dengan sangat pelan, ia berbisik, “Aku
senang jika kau bahagia, Alice,” lalu perlahan ia membaringkan tubuhnya dan
tertidur pulas dengan tangan yang masih menggenggam foto itu.
xxx
Empat hari sudah lewat yang
menandakan shooting video klip sudah selesai. Itu artinya sudah saatnya
Greyson, kakaknya, wakil manajernya, dan juga para kru harus pulang dari desa
itu dan kembali menjalankan rutinitas mereka yang biasanya. Greyson sama sekali
tidak merasa sedih karena sudah dari empat hari yang lalu hatinya terasa
kosong.
Ia masih mengingat pandangan
pedih Alice saat bertemu dengannya di perjalanan kembali dari shooting hari
pertama. Namun Greyson sudah sepakat dengan dirinya sendiri untuk melupakan
Alice. Membiarkan Alice bahagia bersama orang yang dipilih gadis itu.
“Grey! Cepatlah, kita harus
segera berperahu agar cepat sampai di seberang,” seru Alexa yang sudah membawa
sekoper besar pakaian.
“Tunggu. Aku ingin ke rumah
Alice,” sahut Greyson yang sudah berlari ke luar penginapan.
Greyson bertanya-tanya kepada
para penduduk di manakah tempat tinggal Alice dan keluarganya. Sesekali, di
jalan, para gadis menatapnya sambil cekikikan. Greyson memutar bola mata dan
kemudian membalas tatapan mereka dengan senyuman yang sudah dirancang untuk
menghadapi wartawan.
Akhirnya ia pun menemukan
rumah Alice yang berdiri kokoh di depan sebuah taman yang letaknya tidak jauh
dari sungai. Ia segera mengetuk pintu untuk menemui orangtua Alice. Dan ternyata yang membukakan pintunya adalah Alice.
Greyson segera menghela napas panjang. Rasa sakit itu kembali dirasakannya saat
melihat Alice yang sangat tidak ingin dijumpainya saat ini. Namun ia berusaha
kuat untuk menyembunyikan emosinya.
“Greyson, sedang apa kau―”
kata Alice dengan volume suara yang sangat kecil.
“Aku ingin bertemu orangtuamu,”
ujar Greyson tanpa basa-basi.
Alice mengangguk samar dan
masuk ke dalam rumah untuk memanggil kedua orangtuanya. Tak lama kemudian ia
kembali bersama ayah dan ibunya yang tersenyum senang melihat kedatangan
sahabat anaknya ini.
“Hey, Greyson! Come in!” ajak
Ibunya Alice dengan wajah sangat sumringah.
“I’m sorry, Ma’am. I can’t.
Aku kemari untuk berpamitan karena aku harus kembali ke New York. Pekerjaanku
di sini sudah selesai,” jelas Greyson, lagi-lagi tanpa basa-basi, sambil
tersenyum sopan.
Alice sontak terkejut dan
membelalak setelah mendengar perkataan Greyson.
“Wah, sayang sekali. Baiklah,
Grey, hati-hati. Kuharap kau akan ke sini lagi. Dan jangan lupakan kita, Son!” ucap ayahnya Alice dengan senyum
lebar sambil menepuk pundak Greyson.
“Tentu, Sir. Aku akan kemari
suatu hari nanti untuk menemui anda berdua dan―” kata-kata Greyson terhenti
sejenak. Ia menelan ludah dan melanjutkan, “Alice. Uh, baiklah, aku harus pergi
sekarang. Mereka pasti sudah menungguku sangat lama. Good bye Ma’am, Sir, and
Alice. I’ll come back later,”
Greyson pun berjalan untuk
kembali ke penginapan. Alice yang air matanya tidak dapat terbendung lagi,
segera menyusul Greyson sambil menangis tersedu-sedu. Ia berlari untuk
menyejajarkan langkahnya dengan langkah Greyson yang lebar.
“Tunggu!” seru Alice sambil
terisak.
Greyson menghentikan
langkahnya dan memutar tubuhnya untuk menghadap ke belakang. Lalu ia mendapati
tubuhnya dipeluk oleh seorang gadis berambut coklat yang kepalanya hanya
sebatas dagunya. Ia sedikit merasa terkejut.
“Jangan… Jangan pergi.
Kumohon,” pinta Alice sembari sesenggukan. Air matanya mengalir sangat deras.
Perlahan-lahan tangan Greyson
terangkat untuk menyentuh kepala berambut coklat itu. Ia membelai lembut rambut
Alice dan tersenyum samar.
“Maafkan aku, Alice. Aku
harus pergi,” kata Greyson pelan. Lalu ia menghela napas dan berkata sambil
pelan-pelan melepaskan pelukannya, “Lagi pula aku tahu, kau sudah bahagia
bersama Zack,”
Alice terkejut mendengar
perkataan Greyson. Ia mendongak untuk menatap Greyson. Dengan jelas ia dapat
melihat Greyson mengatupkan kedua rahangnya untuk menahan tangis, dan juga pandangan
matanya yang dialihkan ke arah lain.
“Tidak! Kau tidak boleh
pergi!” seru Alice dengan berderai air mata sambil menggenggam tangan Greyson.
Dengan kasar Greyson
menyentakkan tangannya untuk melepaskan genggaman Alice, lalu memandang dengan
dingin ke mata Alice. “Berhentilah mengurusku. Uruslah dirimu sendiri,” ujar
Greyson tajam dan kemudian berbalik pergi.
xxx
Alice sedang berada di depan
televisi di ruang keluarga saat ini. Namun ia biarkan saja televisi itu
berbicara sendiri sementara pikiran Alice berada di tempat lain. Ia kini
benar-benar kehilangan sebagian dirinya. Greyson telah pergi untuk yang kedua
kalinya karena kata-katanya yang tidak berperasaan. Sedangkan hubungan
persahabatannya dengan Zack semakin renggang karena Zack yang―meskipun sudah dipaksanya―tidak mau membuka mulut untuk menjelaskan penyebab kejadian beberapa hari yang lalu.
Lalu sebuah ide gila melintas
di otaknya. Ia pun berusaha membuang pikiran itu. Namun ide itu tak kunjung
beranjak dari otaknya. Lalu dengan berat hati ia memutuskan untuk melaksanakan
ide itu. Kemudian ia beranjak dari sofa dan berjalan ke depan rumah di mana
ayah dan ibunya berada.
Setelah menguatkan hati,
Alice memanggil kedua orangtuanya, “Mom, Dad,”
Mereka berdua pun menoleh
secara bersamaan dan, dengan serempak juga, menyahut, “Ya?”
Alice memejamkan matanya
sejenak, menghela napas, dan berkata tegas, “Aku ingin menyusul Greyson ke New
York,”
To be continued…
gk tau kenapa gue merasa ada saat2 disaat gue membaca, gue inget lagu noah yang 'separuh aku'. nggak tau kenapa
ReplyDeleteWwkwkkwk kenapaa?
Deleteemang liriknya separuh aku gimana sih? -_- gua cuma tau reff nya wauawkawkawak
Delete