Thursday, 13 December 2012

FanFiction - "Running Away" 6


Greyson yang merasa tidak terima, dengan cepat meninju wajah Zack.
Seketika itu juga keadaan di sana menjadi ribut karena pertengkaran Zack dan Greyson. Banyak anggota kru yang berusaha memisahkan mereka berdua, tetapi tidak ada yang berhasil memadamkan api kemarahan di antara keduanya. Bahkan Alexa, kakak kesayangan Greyson, yang sudah berusaha menghentikan adiknya pun gagal.
“Kau sama sekali tidak mengenal Alice!” seru Greyson sambil memukul pipi Zack yang segera mengelak.
“Kau yang tidak memahami Alice!” balas Zack, “Kau meninggalkan Alice dan membuatnya berubah!”
Kemarahan Greyson memuncak mendengar perkataan Zack. Ia mengepalkan tangannya di sebelah tubuhnya, menahan nafas, dan meninju wajah Zack dengan sekuat tenaga membuat Zack terpelanting.
“Stop!” seru sebuah suara seorang gadis di sebelah kanan Greyson.
Greyson menyadari kedatangan Alice, tetapi ia hanya dapat memandang Alice yang saat ini tengah memandang tajam ke arahnya.
Kemarahan sudah mulai menguasainya, sehingga ia berusaha untuk memukul Zack dengan menarik kerah baju yang dipakai Zack. Saat akan memukul wajah Zack untuk yang kesekian kalinya, Alice menahan tangan Greyson dan memandang dingin ke arahnya.
“Apa yang kau lakukan terhadap Zack?” bentak Alice yang mulai emosi.
“Ia yang memulainya,” sahut Greyson dingin seraya memandang bengis ke arah Zack.
“Kau tidak perlu memukulnya! Kau jahat, Grey! Kau sangat jahat!” bentak Alice dengan marah. Bulir air mata jatuh dari matanya karena emosi, “Mulai sekarang, kau bukan lagi sahabatku!”
Alice mulai membantu Zack berdiri, dan mulai berjalan menjauh. Sementara Greyson memandang Alice dengan pandangan yang bukan lagi merupakan pandangan marah, tetapi pandangan yang terluka. Perlahan tangannya terangkat untuk memegang dadanya. Greyson merasakan sakit yang amat sangat di hatinya.

xxx

“Aduh!” rintih Zack yang sedang diobati oleh Alice di rumahnya.
“Diam,” ucap Alice singkat sambil terus mengoleskan alkohol dengan kapas di wajah Zack yang penuh luka bekas pukulan. Ia masih mengingat kejadian tadi. Penyesalan karena membentak Greyson sementara ia tidak tahu apa masalahnya. Ia ingin kembali ke saat yang lalu dan menarik kata-katanya pada Greyson.
Setelah mengobati Zack, Alice segera berpamitan dan pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Alice terus memikirkan kejadian tadi pagi. Penyesalannya semakin memburuk ketika di jalan ia melihat rombongan Greyson sedang berjalan ke arahnya, dan di sana ia melihat Greyson yang wajahnya penuh dengan luka lebam. Greyson memandangnya dengan ekspresi terluka lalu membuang muka ke arah lain.
Alice berhenti sejenak dan berbisik sangat pelan, “Grey…”
Namun Greyson tidak mendengar bisikkan Alice. Dan ketika berjalan melewati Alice, ia tidak sekali pun menoleh ke arah Alice. Pandangannya lurus ke depan dengan rahang terkatup rapat.
Saat itu juga Alice merasa kehilangan sebagian dirinya. Lebih parah dari ketika Greyson meninggalkannya selama tiga tahun.

xxx

Greyson mengurung dirinya di dalam kamar. Dengan perasaan pedih, ia merenung sambil duduk di atas ranjang. Ia merasa sadar bahwa ini adalah balasan akan menghilangnya ia selama tiga tahun dari hadapan Alice. Namun kata-kata terakhir yang diucapkan Alice kembali terngiang di dalam otaknya dan membuatnya benar-benar merasa terluka.
Mulai sekarang, kau bukan lagi sahabatku!”
Kembali terputar di otaknya kenangan tiga tahun yang lalu ketika ia masih sering bermain dengan Alice. Dengan leluasa menggenggam tangannya, membelai rambutnya, dan menatap dalam kedua mata biru itu. Namun kini semuanya sudah berakhir. Karena kesalahannya. Karena Alice yang lebih memilih Zack.
Tangannya mulai bergerak ke saku mantelnya dan mengeluarkan selembar foto yang sangat berharga buatnya. Satu butir air mata turun dari matanya, dan dengan sangat pelan, ia berbisik, “Aku senang jika kau bahagia, Alice,” lalu perlahan ia membaringkan tubuhnya dan tertidur pulas dengan tangan yang masih menggenggam foto itu.

xxx

Empat hari sudah lewat yang menandakan shooting video klip sudah selesai. Itu artinya sudah saatnya Greyson, kakaknya, wakil manajernya, dan juga para kru harus pulang dari desa itu dan kembali menjalankan rutinitas mereka yang biasanya. Greyson sama sekali tidak merasa sedih karena sudah dari empat hari yang lalu hatinya terasa kosong.
Ia masih mengingat pandangan pedih Alice saat bertemu dengannya di perjalanan kembali dari shooting hari pertama. Namun Greyson sudah sepakat dengan dirinya sendiri untuk melupakan Alice. Membiarkan Alice bahagia bersama orang yang dipilih gadis itu.
“Grey! Cepatlah, kita harus segera berperahu agar cepat sampai di seberang,” seru Alexa yang sudah membawa sekoper besar pakaian.
“Tunggu. Aku ingin ke rumah Alice,” sahut Greyson yang sudah berlari ke luar penginapan.
Greyson bertanya-tanya kepada para penduduk di manakah tempat tinggal Alice dan keluarganya. Sesekali, di jalan, para gadis menatapnya sambil cekikikan. Greyson memutar bola mata dan kemudian membalas tatapan mereka dengan senyuman yang sudah dirancang untuk menghadapi wartawan.
Akhirnya ia pun menemukan rumah Alice yang berdiri kokoh di depan sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari sungai. Ia segera mengetuk pintu untuk menemui orangtua Alice. Dan ternyata yang membukakan pintunya adalah Alice. Greyson segera menghela napas panjang. Rasa sakit itu kembali dirasakannya saat melihat Alice yang sangat tidak ingin dijumpainya saat ini. Namun ia berusaha kuat untuk menyembunyikan emosinya.
“Greyson, sedang apa kau―” kata Alice dengan volume suara yang sangat kecil.
“Aku ingin bertemu orangtuamu,” ujar Greyson tanpa basa-basi.
Alice mengangguk samar dan masuk ke dalam rumah untuk memanggil kedua orangtuanya. Tak lama kemudian ia kembali bersama ayah dan ibunya yang tersenyum senang melihat kedatangan sahabat anaknya ini.
“Hey, Greyson! Come in!” ajak Ibunya Alice dengan wajah sangat sumringah.
“I’m sorry, Ma’am. I can’t. Aku kemari untuk berpamitan karena aku harus kembali ke New York. Pekerjaanku di sini sudah selesai,” jelas Greyson, lagi-lagi tanpa basa-basi, sambil tersenyum sopan.
Alice sontak terkejut dan membelalak setelah mendengar perkataan Greyson.
“Wah, sayang sekali. Baiklah, Grey, hati-hati. Kuharap kau akan ke sini lagi. Dan jangan lupakan kita, Son!” ucap ayahnya Alice dengan senyum lebar sambil menepuk pundak Greyson.
“Tentu, Sir. Aku akan kemari suatu hari nanti untuk menemui anda berdua dan―” kata-kata Greyson terhenti sejenak. Ia menelan ludah dan melanjutkan, “Alice. Uh, baiklah, aku harus pergi sekarang. Mereka pasti sudah menungguku sangat lama. Good bye Ma’am, Sir, and Alice. I’ll come back later,”
Greyson pun berjalan untuk kembali ke penginapan. Alice yang air matanya tidak dapat terbendung lagi, segera menyusul Greyson sambil menangis tersedu-sedu. Ia berlari untuk menyejajarkan langkahnya dengan langkah Greyson yang lebar.
“Tunggu!” seru Alice sambil terisak.
Greyson menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya untuk menghadap ke belakang. Lalu ia mendapati tubuhnya dipeluk oleh seorang gadis berambut coklat yang kepalanya hanya sebatas dagunya. Ia sedikit merasa terkejut.
“Jangan… Jangan pergi. Kumohon,” pinta Alice sembari sesenggukan. Air matanya mengalir sangat deras.
Perlahan-lahan tangan Greyson terangkat untuk menyentuh kepala berambut coklat itu. Ia membelai lembut rambut Alice dan tersenyum samar.
“Maafkan aku, Alice. Aku harus pergi,” kata Greyson pelan. Lalu ia menghela napas dan berkata sambil pelan-pelan melepaskan pelukannya, “Lagi pula aku tahu, kau sudah bahagia bersama Zack,”
Alice terkejut mendengar perkataan Greyson. Ia mendongak untuk menatap Greyson. Dengan jelas ia dapat melihat Greyson mengatupkan kedua rahangnya untuk menahan tangis, dan juga pandangan matanya yang dialihkan ke arah lain.
“Tidak! Kau tidak boleh pergi!” seru Alice dengan berderai air mata sambil menggenggam tangan Greyson.
Dengan kasar Greyson menyentakkan tangannya untuk melepaskan genggaman Alice, lalu memandang dengan dingin ke mata Alice. “Berhentilah mengurusku. Uruslah dirimu sendiri,” ujar Greyson tajam dan kemudian berbalik pergi.

xxx

Alice sedang berada di depan televisi di ruang keluarga saat ini. Namun ia biarkan saja televisi itu berbicara sendiri sementara pikiran Alice berada di tempat lain. Ia kini benar-benar kehilangan sebagian dirinya. Greyson telah pergi untuk yang kedua kalinya karena kata-katanya yang tidak berperasaan. Sedangkan hubungan persahabatannya dengan Zack semakin renggang karena Zack yang―meskipun sudah dipaksanya―tidak mau membuka mulut untuk menjelaskan penyebab kejadian beberapa hari yang lalu.
Lalu sebuah ide gila melintas di otaknya. Ia pun berusaha membuang pikiran itu. Namun ide itu tak kunjung beranjak dari otaknya. Lalu dengan berat hati ia memutuskan untuk melaksanakan ide itu. Kemudian ia beranjak dari sofa dan berjalan ke depan rumah di mana ayah dan ibunya berada.
Setelah menguatkan hati, Alice memanggil kedua orangtuanya, “Mom, Dad,”
Mereka berdua pun menoleh secara bersamaan dan, dengan serempak juga, menyahut, “Ya?”
Alice memejamkan matanya sejenak, menghela napas, dan berkata tegas, “Aku ingin menyusul Greyson ke New York,”

To be continued…

3 comments:

  1. gk tau kenapa gue merasa ada saat2 disaat gue membaca, gue inget lagu noah yang 'separuh aku'. nggak tau kenapa

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang liriknya separuh aku gimana sih? -_- gua cuma tau reff nya wauawkawkawak

      Delete