Entah apa yang ada di pikiran pihak manajemennya Greyson
tidak mengerti. Ia justru berpikir sebaliknya, bahwa dengan adanya Alice, itu
akan mendongkrak ketenarannya. Ia merasa sangat geram dengan pihak
manajemennya, namun ia sadar ia tak mampu berbuat apa pun. Sedangkan Alice
berpikir bahwa ia sudah sangat menyusahkan Greyson sehingga ia memutuskan untuk
kembali ke rumah ayah dan ibunya.
“Kau harus berpikir ulang tentang masalah itu, Alice,” pinta
Greyson saat Alice tengah menyiapkan keberangkatannya.
“Tidak, Grey. Aku tidak ingin menjadi penghalang kariermu,”
sahut Alice sambil tersenyum sedih.
“Penghalang? Tidak tidak tidak. Kau bukanlah penghalang,”
bantah Greyson. “Tunggulah sebentar. Aku akan mengurus masalah ini. Dan jika
itu tidak berhasil, kau boleh kembali ke desa itu,”
Alice menggeleng pelan, lalu ia menatap mata Greyson
dalam-dalam, dan berkata, “Sebaliknya, kembalilah padaku jika masalahmu sudah
selesai,”
Mendengar perkataan Alice, Greyson semakin berang. Ia merasa
sangat marah pada kebijakan manajemennya. Tetapi ia tidak ingin melampiaskan
amarahnya kepada Alice. Ia hanya menghela nafas panjang dan menyerah, “Baiklah
Alice. Aku akan mengikuti kemauanmu,”
Alice memaksakan seulas senyum. Perlahan ia berdiri dan
memeluk Greyson hangat. “Aku percaya kau bisa menyelesaikan masalah ini
secepatnya,”
“Secepatnya,” ulang Greyson sambil membalas pelukan Alice.
xxx
Di sinilah Alice sekarang. Kembali menjalani hidupnya
sebagai gadis desa biasa yang selalu menghabiskan waktunya di pinggiran sungai
sembari menatap air sungai yang sudah membeku. Ia mendekap tubuhnya erat-erat
untuk menghilangkan rasa dingin yang mengganas.
“Kau akan mati membeku jika terus-menerus duduk di situ,”
ujar seseorang di belakang Alice dengan suara yang menghangatkan.
“Zack,” bisik Alice senang. Ia tersenyum saat menatap
pemilik mata hijau itu juga tersenyum padanya dengan senyuman yang dahulu
seringkali ia lihat.
“Alice, aku sangat merindukanmu,” kata Zack sembari memeluk
Alice yang sudah berdiri di hadapannya. Alice tak ragu-ragu membalas dekapan
Zack yang hangat.
“Aku juga, Zack,” timpal Alice. Detik berikutnya ia
melepaskan pelukan Zack, dan sembari menatap mata Zack, ia bertanya, “Apa kau
masih marah padaku?”
“Marah? Kau bercanda? Aku tidak pernah marah padamu,” sahut
Zack sembari tersenyum.
Lalu Alice dengan ragu-ragu kembali bertanya, “Greyson?”
Zack membuang muka dari Alice. Ia terdiam sejenak, lalu
berkata, “Setidaknya untuk saat ini, tidak,”
Alice menghela nafas lega. Pada awalnya ia mengira kebencian
Zack terhadap Greyson juga akan berdampak buruk pada hubungan persahabatannya
dengan Zack.
“Alice,” panggil Zack.
“Ya?”
Zack menimbang-nimbang sejenak kata yang akan diucapkannya.
Namun ia memutuskan untuk mengatakannya di lain waktu. Ia tidak akan merusak
suasana saat ini. “Ah tidak. Lain kali saja kita bicarakan,” ucap Zack sambil
tersenyum.
Alice pun mengerti dan segera mengangguk. Kemudian mereka
kembali duduk di pinggiran sungai dan menyalurkan perasaan rindu mereka dalam
keheningan dengan saling menatap atau melalui genggaman tangan. Mereka tidak
menghiraukan udara dingin yang menusuk tulang. Mereka hanya peduli dengan
kehadiran satu sama lain.
Alice mendesah sembari menatap salju-salju yang turun
perlahan. Ia berkata pada Zack dengan mata berkilat-kilat senang, “Zack. Kau
tahu? Aku sudah menjadi kekasih Greyson saat ini,”
Mendengar itu, amarah Zack hampir saja meledak jika ia tidak
ingat ia sudah berkata pada Alice bahwa untuk saat ini ia tidak marah pada Greyson.
Zack berusaha menyembunyikan perasaannya dan berkata singkat, “Oh ya?”
Alice mengangguk bersemangat dan ia mulai bercerita tentang
pengalamannya bersama Greyson selama beberapa hari yang lalu di New York dan
juga di Oklahoma. Bagaimana mereka menghabiskan Natal bersama dan bagaimana
mereka dikejar oleh puluhan orang.
Zack mulai jengah mendengar cerita sahabatnya itu. Lalu ia
tersadar. Ia tak mungkin bisa memaafkan Greyson.
xxx
“Ada apa denganmu, Grey? Kau membuat seluruh penggemarmu
kecewa! Penampilanmu sangatlah buruk!” tegur Troy sesaat setelah konser Greyson
di Malaysia berakhir.
Greyson memandang Troy dengan pandangan dingin dan berkata,
“Sebaiknya kau bertukar tempat denganku,”
Troy menghela nafas dan memaksa Greyson untuk berbicara dengannya
saat ini. “Apa semua ini karena Alice-mu itu?”
Dengan geram Greyson mengatupkan kedua rahangnya dan berkata
masih dengan rahang terkatup rapat, “Itu semua bukan urusanmu,”
Begitulah ia, Greyson tidak dapat menampilkan penampilan
terbaiknya selama turnya. Hanya karena ia memikirkan seseorang yang sangat ia
rindukan. Apa yang sedang Alice lakukan saat ini? Apakah Alice merindukannya?
Atau mungkin Alice sudah melupakannya? Pikiran itulah yang selalu muncul di
pikiran Greyson saat sudah di atas panggung. Hal itu membuat penampilannya
buruk, seperti salah menekan tuts piano, atau melupakan sebagian besar lirik
lagunya sendiri.
Melihat hal itu, diam-diam Guy khawatir pada Greyson.
Meskipun seringkali ia kesal pada Greyson yang sering kekanak-kanakkan, diam-diam
Guy juga menyukai Greyson dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Ia pun
berusaha menyelesaikan masalah anak itu dengan pihak manajemennya. Dengan
sekuat tenaga ia membela Greyson tanpa diketahui oleh bocah itu.
“Bisakah kita mempertimbangkan ulang kebijakanmu itu?” tanya
Guy pada Troy.
“Tidak, Guy. Apa kau terpengaruh dengan kisah cinta remaja
yang dijalani anak itu?” ejek Troy sembari mencibir.
“Bukan. Menurutku kebijakanmu salah besar. Kau membuatnya
hilang dari gosip-gosip tetapi kau juga membuatnya menghancurkan
penampilannya,” timpal Guy lagi sedikit lebih kesal.
Troy menimbang-nimbang sejenak perkataannya dan berkata,
“Aku hanya tidak ingin ia dibenci oleh penggemarnya,”
Guy terheran mendengar pernyataan Troy, lalu ia menimpali
lagi, “Dibenci? Kau bercanda? Hubungannya dengan Alice bisa menambah
ketenarannya,”
“Kau tahu sebagian besar penggemarnya adalah wanita, dan
jika mereka tahu Greyson memiliki seorang kekasih, hal itu akan membuat
penggemarnya beralih darinya,” balas Troy lagi mulai bersungut-sungut.
“Dan kurasa kau tidak perlu mengurusi kehidupan cintaku,”
Troy dan Guy terkejut mendengar suara itu. Mereka dengan
serentak menoleh ke arah yang sama, dan melihat Greyson yang sedang bersandar
di dekat pintu sembari menatap Troy tajam.
xxx
Alice dan Zack tengah berada di rumah Zack. Mereka sedang
menonton siaran televisi sembari menyantap kue yang dibuat oleh Mrs. Curtin,
ibu Zack. Zack mengganti channel yang sedang mereka tonton karena membosankan
buatnya.
Melihat Zack memindahkan channel, Alice merenggut. Namun
rasa kesalnya menghilang saat melihat acara talkshow yang menampilkan Greyson.
Zack hendak memindahkan channel dengan bersungut-sungut. Namun Alice dengan
cepat merebut remote yang dipegang Zack.
“Kudengar kau memiliki
kekasih?” tanya sang pembawa acara pada Greyson.
“Ya, aku memiliki
kekasih yang tinggal jauh dari sini,” jelas Greyson dengan wajah
berseri-seri.
“Baiklah, aku
penasaran siapa kekasihmu itu. Apakah gadis yang kau maksud adalah gadis yang
didapati bersamamu di Central Park natal yang lalu?” tanya pembawa acara
itu lagi pada Greyson.
Greyson terlihat menelan ludah dan menimbang-nimbang sejenak
hal yang akan dijawabnya. Lalu, setelah menghela nafas, Greyson pun menjawab, “Bukan,”
Alice terkesiap mendengar jawaban Greyson. Ia tak sanggup
berbuat apa pun selain tetap menonton acara itu. Sementara Zack terlihat geram
saat melihat wajah Greyson yang―menurutnya―memuakkan.
“Bukan? Lalu siapakah kekasih Greyson Chance? Sebaiknya kita panggil saja dia! Bella
Westphalen!” ucap sang pembawa acara yang diikuti suara musik dan munculnya
seorang gadis cantik berambut pirang dari sebuah pintu dekat para pemusik.
Greyson tampak sangat terkejut dengan kehadiran gadis itu.
Namun ia mulai memainkan perannya dan menyambut Bella dengan hangat. Ia mengecup
kening Bella yang membuat seluruh penonton riuh berteriak.
Alice muak melihat acara itu dan ia segera berlari keluar
dari rumah Zack sambil menangis terisak-isak. Ia merasa sudah ditipu
habis-habisan oleh Greyson. Ia merasa dipermainkan. Dan dengan bengis Alice
mengecap Greyson sebagai pengkhianat.
xxx
“Apa-apaan ini?” bentak Greyson dengan berang sembari
menggebrak meja di depan kedua wakil manajernya.
“Santailah, Grey. Mari duduk!” ajak Troy yang tengah
menyesap minuman hangat di tangannya.
Greyson pun naik pitam. Ia merasa sangat marah karena
dipermainkan oleh Troy yang selama ini ia pikir adalah sahabatnya. Ia berjalan
ke depan Troy dan mengangkat kerah baju yang dipakai Troy sehingga membuatnya
berdiri.
Guy yang melihat itu hanya terdiam di sofa yang ia duduki.
Ia dapat memahami apa yang dirasakan oleh Greyson. Dan ia tahu Troy harus
menerima kemarahan Greyson.
“Hey, calm down, Boy! Aku bisa menjelaskan semuanya!” bentak
Troy yang sebenarnya mulai ketakutan melihat kilatan kemarahan di mata Greyson
yang biasanya lembut.
Dengan kasar Greyson melepaskan cengkeramannya dan membuat
Troy terhenyak di sofa. Troy pun melanjutkan, “Ketenaranmu bisa meningkat jika
berperan sebagai kekasih model itu!”
‘Model?’ tanya
Greyson dalam hatinya. Ia terheran-heran. Bagaimana mungkin Bella temannya di
Wichita Falls adalah seorang model?
“Yeah, ia adalah model pendatang baru. Tampaknya kau sudah
mengenalnya,” kata Troy seakan bisa membaca pikiran Greyson, “Kuharap kau
melupakan Alice dan beralih ke Bella,”
Mendengar itu, naiklah amarah Greyson. “Kurasa kau mulai
beralih pekerjaan menjadi seorang cupid,”
ejek Greyson. Kemudian ia melanjutkan, sembari berjalan pergi, “Aku berhenti,”
To be continued…
No comments:
Post a Comment