Monday, 17 December 2012

FanFiction – “Running Away” 10

Berhubungan dengan kemunculan Alice dan Greyson di media massa, pihak manajemen Greyson pun memutuskan Greyson tidak boleh lagi mengajak Alice ke setiap konsernya dan Greyson tidak diperkenankan lagi bersama dengan Alice. Jika hal itu dilanggar, maka karier Greyson terpaksa harus dihentikan.
Entah apa yang ada di pikiran pihak manajemennya Greyson tidak mengerti. Ia justru berpikir sebaliknya, bahwa dengan adanya Alice, itu akan mendongkrak ketenarannya. Ia merasa sangat geram dengan pihak manajemennya, namun ia sadar ia tak mampu berbuat apa pun. Sedangkan Alice berpikir bahwa ia sudah sangat menyusahkan Greyson sehingga ia memutuskan untuk kembali ke rumah ayah dan ibunya.
“Kau harus berpikir ulang tentang masalah itu, Alice,” pinta Greyson saat Alice tengah menyiapkan keberangkatannya.
“Tidak, Grey. Aku tidak ingin menjadi penghalang kariermu,” sahut Alice sambil tersenyum sedih.
“Penghalang? Tidak tidak tidak. Kau bukanlah penghalang,” bantah Greyson. “Tunggulah sebentar. Aku akan mengurus masalah ini. Dan jika itu tidak berhasil, kau boleh kembali ke desa itu,”
Alice menggeleng pelan, lalu ia menatap mata Greyson dalam-dalam, dan berkata, “Sebaliknya, kembalilah padaku jika masalahmu sudah selesai,”
Mendengar perkataan Alice, Greyson semakin berang. Ia merasa sangat marah pada kebijakan manajemennya. Tetapi ia tidak ingin melampiaskan amarahnya kepada Alice. Ia hanya menghela nafas panjang dan menyerah, “Baiklah Alice. Aku akan mengikuti kemauanmu,”
Alice memaksakan seulas senyum. Perlahan ia berdiri dan memeluk Greyson hangat. “Aku percaya kau bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya,”
“Secepatnya,” ulang Greyson sambil membalas pelukan Alice.

xxx

Di sinilah Alice sekarang. Kembali menjalani hidupnya sebagai gadis desa biasa yang selalu menghabiskan waktunya di pinggiran sungai sembari menatap air sungai yang sudah membeku. Ia mendekap tubuhnya erat-erat untuk menghilangkan rasa dingin yang mengganas.
“Kau akan mati membeku jika terus-menerus duduk di situ,” ujar seseorang di belakang Alice dengan suara yang menghangatkan.
“Zack,” bisik Alice senang. Ia tersenyum saat menatap pemilik mata hijau itu juga tersenyum padanya dengan senyuman yang dahulu seringkali ia lihat.
“Alice, aku sangat merindukanmu,” kata Zack sembari memeluk Alice yang sudah berdiri di hadapannya. Alice tak ragu-ragu membalas dekapan Zack yang hangat.
“Aku juga, Zack,” timpal Alice. Detik berikutnya ia melepaskan pelukan Zack, dan sembari menatap mata Zack, ia bertanya, “Apa kau masih marah padaku?”
“Marah? Kau bercanda? Aku tidak pernah marah padamu,” sahut Zack sembari tersenyum.
Lalu Alice dengan ragu-ragu kembali bertanya, “Greyson?”
Zack membuang muka dari Alice. Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Setidaknya untuk saat ini, tidak,”
Alice menghela nafas lega. Pada awalnya ia mengira kebencian Zack terhadap Greyson juga akan berdampak buruk pada hubungan persahabatannya dengan Zack.
“Alice,” panggil Zack.
“Ya?”
Zack menimbang-nimbang sejenak kata yang akan diucapkannya. Namun ia memutuskan untuk mengatakannya di lain waktu. Ia tidak akan merusak suasana saat ini. “Ah tidak. Lain kali saja kita bicarakan,” ucap Zack sambil tersenyum.
Alice pun mengerti dan segera mengangguk. Kemudian mereka kembali duduk di pinggiran sungai dan menyalurkan perasaan rindu mereka dalam keheningan dengan saling menatap atau melalui genggaman tangan. Mereka tidak menghiraukan udara dingin yang menusuk tulang. Mereka hanya peduli dengan kehadiran satu sama lain.
Alice mendesah sembari menatap salju-salju yang turun perlahan. Ia berkata pada Zack dengan mata berkilat-kilat senang, “Zack. Kau tahu? Aku sudah menjadi kekasih Greyson saat ini,”
Mendengar itu, amarah Zack hampir saja meledak jika ia tidak ingat ia sudah berkata pada Alice bahwa untuk saat ini ia tidak marah pada Greyson. Zack berusaha menyembunyikan perasaannya dan berkata singkat, “Oh ya?”
Alice mengangguk bersemangat dan ia mulai bercerita tentang pengalamannya bersama Greyson selama beberapa hari yang lalu di New York dan juga di Oklahoma. Bagaimana mereka menghabiskan Natal bersama dan bagaimana mereka dikejar oleh puluhan orang.
Zack mulai jengah mendengar cerita sahabatnya itu. Lalu ia tersadar. Ia tak mungkin bisa memaafkan Greyson.

xxx

“Ada apa denganmu, Grey? Kau membuat seluruh penggemarmu kecewa! Penampilanmu sangatlah buruk!” tegur Troy sesaat setelah konser Greyson di Malaysia berakhir.
Greyson memandang Troy dengan pandangan dingin dan berkata, “Sebaiknya kau bertukar tempat denganku,”
Troy menghela nafas dan memaksa Greyson untuk berbicara dengannya saat ini. “Apa semua ini karena Alice-mu itu?”
Dengan geram Greyson mengatupkan kedua rahangnya dan berkata masih dengan rahang terkatup rapat, “Itu semua bukan urusanmu,”
Begitulah ia, Greyson tidak dapat menampilkan penampilan terbaiknya selama turnya. Hanya karena ia memikirkan seseorang yang sangat ia rindukan. Apa yang sedang Alice lakukan saat ini? Apakah Alice merindukannya? Atau mungkin Alice sudah melupakannya? Pikiran itulah yang selalu muncul di pikiran Greyson saat sudah di atas panggung. Hal itu membuat penampilannya buruk, seperti salah menekan tuts piano, atau melupakan sebagian besar lirik lagunya sendiri.
Melihat hal itu, diam-diam Guy khawatir pada Greyson. Meskipun seringkali ia kesal pada Greyson yang sering kekanak-kanakkan, diam-diam Guy juga menyukai Greyson dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Ia pun berusaha menyelesaikan masalah anak itu dengan pihak manajemennya. Dengan sekuat tenaga ia membela Greyson tanpa diketahui oleh bocah itu.
“Bisakah kita mempertimbangkan ulang kebijakanmu itu?” tanya Guy pada Troy.
“Tidak, Guy. Apa kau terpengaruh dengan kisah cinta remaja yang dijalani anak itu?” ejek Troy sembari mencibir.
“Bukan. Menurutku kebijakanmu salah besar. Kau membuatnya hilang dari gosip-gosip tetapi kau juga membuatnya menghancurkan penampilannya,” timpal Guy lagi sedikit lebih kesal.
Troy menimbang-nimbang sejenak perkataannya dan berkata, “Aku hanya tidak ingin ia dibenci oleh penggemarnya,”
Guy terheran mendengar pernyataan Troy, lalu ia menimpali lagi, “Dibenci? Kau bercanda? Hubungannya dengan Alice bisa menambah ketenarannya,”
“Kau tahu sebagian besar penggemarnya adalah wanita, dan jika mereka tahu Greyson memiliki seorang kekasih, hal itu akan membuat penggemarnya beralih darinya,” balas Troy lagi mulai bersungut-sungut.
“Dan kurasa kau tidak perlu mengurusi kehidupan cintaku,”
Troy dan Guy terkejut mendengar suara itu. Mereka dengan serentak menoleh ke arah yang sama, dan melihat Greyson yang sedang bersandar di dekat pintu sembari menatap Troy tajam.

xxx

Alice dan Zack tengah berada di rumah Zack. Mereka sedang menonton siaran televisi sembari menyantap kue yang dibuat oleh Mrs. Curtin, ibu Zack. Zack mengganti channel yang sedang mereka tonton karena membosankan buatnya.
Melihat Zack memindahkan channel, Alice merenggut. Namun rasa kesalnya menghilang saat melihat acara talkshow yang menampilkan Greyson. Zack hendak memindahkan channel dengan bersungut-sungut. Namun Alice dengan cepat merebut remote yang dipegang Zack.
Kudengar kau memiliki kekasih?” tanya sang pembawa acara pada Greyson.
Ya, aku memiliki kekasih yang tinggal jauh dari sini,” jelas Greyson dengan wajah berseri-seri.
Baiklah, aku penasaran siapa kekasihmu itu. Apakah gadis yang kau maksud adalah gadis yang didapati bersamamu di Central Park natal yang lalu?” tanya pembawa acara itu lagi pada Greyson.
Greyson terlihat menelan ludah dan menimbang-nimbang sejenak hal yang akan dijawabnya. Lalu, setelah menghela nafas, Greyson pun menjawab, “Bukan,”
Alice terkesiap mendengar jawaban Greyson. Ia tak sanggup berbuat apa pun selain tetap menonton acara itu. Sementara Zack terlihat geram saat melihat wajah Greyson yang―menurutnya―memuakkan.
Bukan? Lalu siapakah kekasih Greyson Chance? Sebaiknya kita panggil saja dia! Bella Westphalen!” ucap sang pembawa acara yang diikuti suara musik dan munculnya seorang gadis cantik berambut pirang dari sebuah pintu dekat para pemusik.
Greyson tampak sangat terkejut dengan kehadiran gadis itu. Namun ia mulai memainkan perannya dan menyambut Bella dengan hangat. Ia mengecup kening Bella yang membuat seluruh penonton riuh berteriak.
Alice muak melihat acara itu dan ia segera berlari keluar dari rumah Zack sambil menangis terisak-isak. Ia merasa sudah ditipu habis-habisan oleh Greyson. Ia merasa dipermainkan. Dan dengan bengis Alice mengecap Greyson sebagai pengkhianat.

xxx

“Apa-apaan ini?” bentak Greyson dengan berang sembari menggebrak meja di depan kedua wakil manajernya.
“Santailah, Grey. Mari duduk!” ajak Troy yang tengah menyesap minuman hangat di tangannya.
Greyson pun naik pitam. Ia merasa sangat marah karena dipermainkan oleh Troy yang selama ini ia pikir adalah sahabatnya. Ia berjalan ke depan Troy dan mengangkat kerah baju yang dipakai Troy sehingga membuatnya berdiri.
Guy yang melihat itu hanya terdiam di sofa yang ia duduki. Ia dapat memahami apa yang dirasakan oleh Greyson. Dan ia tahu Troy harus menerima kemarahan Greyson.
“Hey, calm down, Boy! Aku bisa menjelaskan semuanya!” bentak Troy yang sebenarnya mulai ketakutan melihat kilatan kemarahan di mata Greyson yang biasanya lembut.
Dengan kasar Greyson melepaskan cengkeramannya dan membuat Troy terhenyak di sofa. Troy pun melanjutkan, “Ketenaranmu bisa meningkat jika berperan sebagai kekasih model itu!”
Model?’ tanya Greyson dalam hatinya. Ia terheran-heran. Bagaimana mungkin Bella temannya di Wichita Falls adalah seorang model?
“Yeah, ia adalah model pendatang baru. Tampaknya kau sudah mengenalnya,” kata Troy seakan bisa membaca pikiran Greyson, “Kuharap kau melupakan Alice dan beralih ke Bella,”
Mendengar itu, naiklah amarah Greyson. “Kurasa kau mulai beralih pekerjaan menjadi seorang cupid,” ejek Greyson. Kemudian ia melanjutkan, sembari berjalan pergi, “Aku berhenti,”

To be continued…

No comments:

Post a Comment