Thursday, 20 December 2012

FanFiction – “Running Away” 14


Pandangan dingin itu seakan-akan menusuk relung hati Alice. Ketakutan menjalari tubuhnya. Ia begitu takut Greyson membencinya, ia tak ingin Greyson menjauhinya. Ia ingin selalu bersama Greyson. Itu semua karena satu hal. Karena ia mencintai Greyson. Sangat mencintainya.
Greyson menatap ekspresi ketakutan di wajah Alice. Namun pandangannya tak kunjung lepas dari mata gadis itu. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Alice. Matanya terpejam dan ia mulai mengecup bibir Alice dengan lembut. Ia berharap ciuman itu dapat merebut Alice kembali padanya. Greyson ingin Alice kembali menjadi miliknya. Dan bukan milik Zack.
Mata Alice terbelalak mendapat ciuman yang begitu tiba-tiba di bibirnya. Ia berusaha melepaskan dirinya karena ia begitu terkejut. Namun tangan Greyson menahan kepalanya. Ia pun pasrah dan mulai memejamkan mata untuk ‘menikmati’ ciuman yang diberikan Greyson.
Pelan-pelan Greyson menjauh dari Alice, berbalik arah, dan berjalan ke dapur tanpa memandang Alice lagi. Tetapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Alice sehingga langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang, masih dengan pandangan dingin ia menatap Alice.
“Kau mau memaafkanku kan?” tanya Alice sambil menatap Greyson penuh harap.
Greyson menghela nafas dan seketika itu juga pandangan matanya berubah lembut. Senyuman tipis pun mulai terlihat di bibirnya. Lalu ia menyahut, “Asalkan kau mau mengakhiri hubunganmu dengan Zack,”
Mendengar jawaban Greyson, Alice mendengus dengan kesal. Lalu ia menimpali, “Kau juga harus memutuskan hubunganmu dengan Bella!”
Greyson terkesiap mendengar kata-kata Alice. Matanya membelalak, ia berpikir sejenak dan mulai mengerti. Sesuai dugaannya, Alice menyaksikan acara talkshow penuh sandiwara itu. Ia berkata sembari mendengus, “Itu semua ulah Troy,”
“Troy?”
“Yeah, manajerku. Um, lebih tepatnya mantan manajerku,” sahut Greyson sembari mengangkat bahu.
“Ulah Troy?” tanya Alice lagi dengan heran.
“Itu adalah sandiwara yang dibuat Troy. Dan aku terpaksa mengikutinya,” Greyson menghela nafas, “Akan kuceritakan nanti. Sebaiknya kau membantuku membuat makan malam,”
Alice masih menatap Greyson heran, namun ia segera mengangguk dan mengikuti Greyson ke dapur untuk membuat makan malam.

xxx

“Jadi intinya, Troy ingin kau menjalin hubungan dengan model kacangan seperti dia?” tanya Alice geram di sela-sela acara makan mereka.
Greyson yang mendengar pertanyaan Alice pun hanya mengangguk sembari mengangkat bahu.
“Keterlaluan,” desis Alice.
“Siapa?”
“Troy dan perempuan Westphalen itu,” sahut Alice masih dengan nada kesal.
Greyson tertawa mendengar nada bicara Alice yang tak biasa. Jarang sekali ia melihat Alice merutuk-rutuk sendiri seperti itu. Yang ditetawakan pun melirik Greyson dengan kesal.
“You’re very funny! Um, yeah, kau mau tidur di mana malam ini?” tanya Greyson akhirnya, mengembalikan Alice ke kenyataan.
Alice berpikir sejenak, menggaruk-garuk kepalanya, dan menjawab sambil mengangkat bahu, “Um, yah, jika kau tidak keberatan,”
“Baiklah,” sahut Greyson sembari menghela nafas, dan menjawab dengan nada menggoda, “Kau bisa tidur di bekas kamar Alexa. Tenang saja, di sana tidak ada tikus,”
Sambil memutar bola mata, Alice menimpali, “Cukuplah Greyson! Tikus yang di rumahku saat itu begitu besar! Kau harus melihatnya dan kau akan ketakutan setengah mati,”
“Ohya? Wow!” sahut Greyson yang segera dilempar pandangan kesal oleh Alice. Greyson pun tertawa terbahak-bahak. Ia tidak akan menyangka ia akan bertemu dengan Alice saat ia ingin sendiri. Awalnya ia mengira ia akan menjadi lebih buruk, namun ternyata ia salah. Ia sangat menikmati kehadiran Alice di sampingnya. “Well, sudah pukul sepuluh. Kau tidak tidur?”
“Yeah, aku sudah mengantuk,” Alice menguap sebentar, “Di mana kamar Alexa?”
“Di lantai atas,” jawab Greyson singkat.
Alice mengerjapkan kedua matanya dan berkata, “Um, kamarmu di mana?”
“Itu,” jawab Alice sembari menunjuk ke depan dapur.
Dengan mata terbelalak, Alice menelan ludah dan bertanya, “Uh, kau tahu aku… penakut kan?”
Greyson mengangguk pasti sembari menahan senyuman. “Yeah, I know right. So?”
Yang ditanya hanya menatap balik sambil sesekali menelan ludah. Alice menggeleng pelan dan menggaruk tengkuknya. Melihat tingkah Alice, Greyson tertawa renyah. Ia sangat geli melihat ekspresi Alice yang satu ini.
“Jadi kamu mau tidur di kamarku?” tanya Greyson dengan nada menggoda dan sebelah alis terangkat, “Bersamaku?”
“Ah, kau bercanda? Tentu tidak. Yah, aku pasti menyukai kamar Alexa,” sahut Alice dengan nada ragu.
“Yeah, kau pasti suka kamar Alexa yang luas, gelap, dan berdebu. Ditambah lagi suasana sepi di lantai atas,” timpal Greyson untuk menambah ketakutan Alice.
Dan sesuai dugaan Greyson, mata Alice membelalak, dan detik berikutnya Alice sudah menjerit tidak jelas. Greyson tertawa terpingkal-pingkal mendengar jeritan Alice.
“Tenang Alice, aku tidak akan membiarkanmu tidur di atas. Kau bisa tidur di kamarku,” Greyson berhenti sejenak, sedangkan Alice menatap Greyson tidak percaya. Lalu Greyson melanjutkan, “Aku bisa tidur di sofa,”
“No,” sergah Alice.
“Mana mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa?”
“Tapi―”
“Sudahlah. Tidurlah,” ujar Greyson sambil tersenyum. Alice pun berjalan dengan ragu ke kamar Greyson. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat perubahan ekspresi Greyson. Namun yang didapatinya hanyalah Greyson yang tengah meminum segelas air mineral.

xxx

Alice membolak-balik tubuhnya dengan gelisah. Ia tak bisa tidur. Pikirannya terus membayangkan Greyson yang saat ini tengah tidur di sofa ruang tamu. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke luar kamar.
Dilihatnya Greyson yang tengah tertidur pulas. Wajahnya membayangkan mimpi. Alice tersenyum menatap ekspresi Greyson saat tidur. Begitu lelap dan damai. Perlahan Alice mendekat ke arah Greyson. Ia duduk di depan sofa tempat Greyson tidur. Awalnya ia berniat untuk membangunkan Greyson agar bertukar tempat dengannya, namun tiba-tiba kantuk menyerang matanya yang mulai berat. Ia pun tertidur. Pulas.
Pagi pun tiba. Matahari telah menjelang. Alice terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak. Ia lupa ia ada di mana saat ini. Namun perlahan-lahan ingatannya kembali ke otaknya. Ia ingat semalam ia tertidur di depan sofa tempat Greyson tidur, namun kini ia terbangun di atas kasur yang empuk dan ada selembar selimut yang menutupi dirinya. Alice bingung. Ia pun menatap ke sebelahnya dan mendapati Greyson yang sedang tidur.
Alice terkejut melihat pemandangan di sebelahnya. Ia membuka selimut dan meraba-raba tubuhnya. Jangan-jangan Greyson sudah melakukan sesuatu padanya malam tadi. Namun ternyata pakaiaannya masih lengkap, begitu juga pakaian Greyson. Ia pun menghela nafas lega.
“Selamat pagi, istriku!”
Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi Alice yang sedang duduk di atas kasur. Ia terkejut dan menoleh ke arah ciuman itu. Pipi Alice mulai memerah. Ia pun memukul pelan kepala Greyson dengan guling.
“Apa-apaan kau?”
Greyson tertawa pelan dan melanjutkan, “Ah, kita ini seperti suami istri! Tidur di satu ranjang yang sama semalaman,”
“Hentikan ocehanmu itu, Mr. Chance,” ujar Alice yang pipinya sudah merah total sembari beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
“Baiklah, Mrs. Chance,” seru Greyson sambil tertawa-tawa.

xxx

“Lihatlah, kita ini seperti suami istri!” kata Greyson saat Alice tengah menyiapkan sarapan di dapur.
“Bisakah kau diam, Mr. Chance?” tanya Alice yang pipinya sudah mulai merona.
“Aku akan diam jika kau mau menciumku,” sahut Greyson dengan santainya.
Pipi Alice semakin memanas. Ia pun membalikkan badan dan melemparkan sepotong timun tepat ke kepala Greyson. Lalu ia tertawa-tawa saat melihat lemparannya tepat sasaran.
“Oke, hentikan itu, Mrs. Chance!” seru Greyson pura-pura kesal dengan nada memerintah.
“Oh, untuk saat ini aku bernama Mrs. Curtin,” sahut Alice sembari menjulurkan lidah. Ia pun melihat perubahan ekspresi wajah Greyson yang semula ceria menjadi kesal, kemudian ia melanjutkan, “Tetapi aku hanya mencintai Mr. Chance,”
Greyson tersenyum mendengar perkataan Alice, ia pun menyahut, “Aku tahu kau tidak bisa lepas dari pesona seorang Greyson Chance,”
“Keep dreaming!”
Greyson kembali tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba saja ia mendengar pintu pagar yang diketuk-ketuk dan diikuti suara bel. Greyson memutar bola mata dan berkata pada Alice, “Tunggu, aku ingin ke luar sebentar,” ia pun meninggalkan Alice dan berjalan ke arah pintu depan. “Tunggu!”
Greyson pun membukakan pintu dan melihat orang yang mengetuk pagar.
“Hai Grey! Sudah kuduga kau ada di sini. Aku melihat mobilmu,”
Perasaan kesal mulai menjalari tubuh Greyson ketika melihat siapa yang ada di depannya. Bella Westphalen.

To be continued…

No comments:

Post a Comment