Tuesday, 11 December 2012

FanFiction - "Running Away" 3

Inilah hari keberangkatan Greyson. Greyson sebenarnya enggan mengikuti shooting video klip ini. Tetapi berhubung ia diperbolehkan untuk mengajak kakak perempuannya, Alexa, semangatnya untuk mengikuti shooting ini pun meningkat walau hanya sedikit.
"What's on their mind? Shooting video klip di desa yang bahkan tidak ada namanya," ujar Greyson pada Alexa sambil memakan roti isinya sebelum ia berangkat ke bandara.
"I don't know right, Grey. But you should be professional. Jangan banyak mengeluh!" tegur Alexa seraya meneguk kopi di tangannya.
Greyson hanya mengangguk malas untuk menanggapi kakaknya itu.
Tak beberapa lama kemudian, Greyson dan Alexa pun berangkat ke bandara untuk melakukan penerbangannya menuju 'desa antah berantah'. Di bandara, Troy dan Guy sudah menunggu. Dan seperti biasa, Guy menunggu Greyson dengan memasang wajah masam.
"Morning Troy! Morning Guy!" sapa Greyson saat berjumpa dengan Troy dan Guy.
"Kau lama sekali! Kau sudah telat lima menit dari yang seharusnya," tegur Guy sambil melihat jam tangannya dan berkacak pinggang.
"Maafkan aku, Guy. Aku yang menyetir mobilnya," sahut Alexa untuk membela Greyson.
Greyson yang tengah berdiri di sebelah Alexa tersenyum puas dan menjulurkan lidahnya pada Guy yang tidak dapat berkata apa pun.
"Sudah, sudah. Sekarang kita harus bersiap-siap. Karena penerbangan akan dilakukan dua puluh menit lagi," kata Troy akhirnya.

xxx

Alice lagi-lagi sedang duduk di pinggiran sungai menatap riak-riak air di depannya. Ia memegang selembar foto yang tak lain adalah fotonya bersama Greyson. Entah sudah berapa lama ia duduk diam di tempat ini tanpa ditemani oleh Zack, sahabatnya. Pikiran Alice melayang jauh ke kenangan tahun-tahun yang lalu ketika ia masih menghabiskan hari-harinya bersama Greyson. Tanpa ia sadari, senyuman terukir di bibirnya. Senyuman yang sangat tulus dan manis.
Sementara di sudut sungai yang lain, sudut sungai yang tak dapat dilihat Alice, Zack tengah memasang perangkap ikan. Ia menyadari keberadaan Alice. Sekali-sekali ia mengintip untuk melihat Alice dengan mata hijaunya yang jeli.
"Alice tersenyum?" gumam Zack heran. Ia belum pernah melihat senyuman Alice yang seperti itu. Zack merutuk dalam hatinya. Lagi-lagi ia menemukan satu misteri lagi dari Alice.
Setelah memasang perangkap ikannya, ia berjingkat ke tempat Alice duduk. Ia ingin meminta maaf atas kejadian dua hari yang lalu saat Alice marah padanya.
Sesampainya ia tepat di belakang Alice, Zack tak segera memanggil Alice. Ia justru berhenti sejenak untuk melihat foto yang tengah berada di tangan Alice. Mata Zack segera membelalak kaget.
'Bukankah itu Greyson Chance yang sangat aku idolakan?' batin Zack heran. Ia merasa sangat heran mengapa Alice bisa berada di sebelah Greyson di foto itu. Ia melihat dengan lebih seksama, Alice tersenyum sangat lebar dan Greyson merangkulnya sambil tersenyum lebar pula. Karena terlalu mencondongkan tubuhnya ke depan, Zack merasa oleng dan ia jatuh ke depan.
"Aduh!"
Alice yang sedang termenung pun terkesiap melihat Zack yang jatuh tersungkur di sebelahnya. Spontan ia melipat foto itu dan memasukkannya ke saku jaketnya. Matanya membelalak kaget. Lalu perlahan-lahan ia tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya saat ini.
Zack yang kesakitan hanya mengusap-usap hidungnya yang 'menyentuh' tanah. Lalu ia berusaha duduk dan mendongak ke arah Alice. Melihat Alice tertawa, Zack melupakan rasa sakitnya dan segera tersenyum.
"Hey," sapa Zack canggung.
"Hey juga," sahut Alice masih dengan sisa-sisa tawanya.
"Kau tertawa," ujar Zack sambil tersenyum. Senyum yang sangat mempesona.
Alice tersadar bahwa ia sudah tertawa setelah sekian lama. Pipinya bersemu merah, lalu ia menutup mulutnya dengan tangan.
"Aku senang melihatmu tertawa," kata Zack lagi masih dengan senyumannya.
Alice menatap Zack dan ia tersadar.
Zack mampu membuatnya tertawa setelah sekian lama merasa sedih.

xxx

Setalah satu jam penerbangan, Greyson pun akhirnya sampai di sebuah bandara kecil. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar untuk mengusir kantuk dan lelah yang sedari tadi menyerangnya selama di pesawat.
"Ayo kita berlayar!" seru Troy bersemangat.
"Berlayar?" tanya Greyson dan Alexa heran secara bersamaan.
"Yup! Kita harus berlayar menyusuri sungai untuk sampai di tempat itu," jelas Troy sambil tersenyum lebar.
"Aku benci pelayaran!" gerutu Guy.
Greyson melirik ke arah Guy. Karena tidak ingin sependapat dengan Guy, ia pun menimpali dengan sangat semangat―hampir berlebihan―sambil tersenyum lebar, "Yeah, aku cinta pelayaran!"
"Bukannya kau selalu mabuk,―"
Greyson menginjak kaki Alexa dan berbisik dengan sangat pelan, "Shut up!"
Rombongan itu pun berjalan ke luar bandara. Pada awalnya mereka ingin naik taksi agar segera sampai di pinggiran sungai. Namun karena taksi yang ditunggu tak kunjung ada, mereka akhirnya memutuskan untuk berlajan kaki.
"Aku sangat lelah!" seru Greyson di tengah perjalanan.
Guy yang melihatnya mencibir, "Dasar bocah payah!"
"Apa kau bilang?" tanya Greyson sambil mendelik.
"Shut up!" seru Troy dan Alexa bersamaan.
Greyson dan Guy lalu mendeham pelan lalu berkata, "Sorry,"
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, rombongan ini akhirnya sampai di tepi sungai tempat beberapa perahu sudah menunggu untuk disewa. Mereka pun menyewa dua buah perahu. Greyson terpaksa berdua dengan Guy sementara Alexa berdua dengan Troy.
"Mengapa aku harus bersama pria tua ini?" erang Greyson.
"Jika aku yang bersama Guy, perahu itu akan tenggelam, little boy!" jelas Troy.
"Little boy? I'm no longer a lil boy! Oh, ayolah!" bujuk Greyson lagi.
Troy tidak menanggapi perkataan Greyson dan segera menaiki perahu bersama Alexa.
"Hey bocah! Naiklah!" seru Guy tak sabar.
Greyson pun memandang ngeri ke arah perahu dan perlahan-lahan menaikinya sambil menatap Guy dengan was-was.

xxx

Saat ini Zack dan Alice tengah berlayar menyusuri sungai―sungai yang sama dengan sungai kecil tempat Zack dan Alice sering bersama. Alice bersenandung tanpa sadar sepanjang perlayaran.
"Maybe you can forget, but I just can't" Alice mengakhiri lagu Running Away milik sahabat kecilnya.
"Siapa penyanyi lagu barusan? Sepertinya aku sering mendengarnya," tanya Zack sambil terus fokus pada kegiatan mendayungnya.
Alice tak menjawab dan hanya mengangkat bahunya. Lalu ia menoleh ke samping kanannya. Ia menopangkan dagunya dengan tangan kanan dan menerawang jauh. Kemudian ada sebuah pemandangan yang tak biasa di depannya. Alice melihat dua buah perahu yang masih cukup jauh di depan sana. Ia menegakkan posisi duduknya dan berkata sambil menuding, "Zack, lihat itu!"
Zack yang diajak berbicara segera menoleh ke arah yang sama dan meyipitkan matanya agar dapat melihat lebih jelas. "Ada perahu, memangnya kenapa?"
Alice hanya menggeleng dengan pandangan mata masih ke arah yang sama. Padahal adalah hal biasa jika ada perahu di sungai ini. Tetapi ia merasa perahu itu adalah perahu yang tidak biasa. Pandangan matanya tertawan perahu itu.
"Ayo kita kembali ke desa," ujar Alice.

xxx

"Yaks! Kau jorok sekali, Grey!" kata Guy sambil memandang jijik ke arah Greyson yang tengah muntah dengan kepala menjulur ke sungai.
"Diam kau! Aku sedang,―" Greyson kembali memuntahkan isi perutnya yang merasa sangat mual.
Lalu Guy tersenyum penuh kemenangan, "Kau bilang kau cinta pelayaran,"
"Inilah rasa cintaku!" balas Greyson.
Tak lama kemudian, dua perahu itu sampai di pinggir sungai di sebuah desa kecil yang sangat indah. Pohon-pohon dengan daun yang sudah menguning tumbuh menjadi semacam gapura desa itu, seakan menyambut kedatangan mereka. Angin musim gugur yang bertiup, membuat daun-daun itu bergerak dan bergesekkan menimbulkan suara gemerisik yang sangat merdu. Beberapa daun yang sudah menguning itu berguguran dengan sangat perlahan mengikuti irama angin yang bertiup.
"Wah, indah sekali tempat ini," ujar Greyson kagum. Ia memandang ke sekelilingnya dan menghirup udara segar dalam-dalam.
"Benarkan? Tempat ini memang sangat indah," ujar Troy.
Alexa hanya memandang kagum tempat itu sambil sesekali tersenyum mendengar suara derik serangga.
"Ayo kita ke tempat penginapan yang sudah kita pesan!" kata Guy tanpa basa-basi, "Kita harus menunggu semalaman sampai kru yang lainnya datang. Mereka akan datang besok pagi. Sebaiknya kita beristirahat untuk malam ini,"
Mereka berempat pun berjalan di jalanan berbatu. Di sekeliling mereka tumbuh banyak semak-semak yang menguning dan pohon-pohon yang hampir botak.
Greyson merasakan hal lain di desa ini. Ia merasa hatinya tertambat di desa ini. Ada hal yang berbeda.
'Tempat ini bukan tempat sembarangan. There's something special here,' batin Grey.
Sesaat setelah berpikir demikian, Greyson tak sengaja bertemu pandang dengan seorang gadis berambut coklat yang memiliki mata biru yang sangat indah. Mata biru yang sangat ia kenal.
"Alice?"

To be continued...

No comments:

Post a Comment