Wednesday, 14 January 2015

Stephany.



Ia sahabatku.

Seseorang berseragam putih abu-abu itu, yang berjalan dengan menenteng sebuah tas, bergerak lincah tanpa beban sedang senyumnya mengembang. Wajah muda penuh harapan. Pun kacamata yang bertengger manis di hidungnya tak jua membuat wajahnya nampak lebih tua.

Ya. Ia temanku. Sahabatku. Seseorang yang telah sekian lama berdiri di sampingku, menopangku kala kujatuh, dan tertawa bersamaku kala kubahagia.

Tak pernah sekalipun kumenyesal pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Tak pernah sekalipun kumenyesal pernah menjadi saksi senyum lebar itu, yang menunjukkan deretan gigi rapihnya. Menyenangkan untuk dilihat. Suaranya yang khas acap kali hadir dalam hariku. Dalam suka maupun senduku. Tak pernah sekalipun ia pergi, meninggalkan aku yang kehilangan satu hal yang menopangku.

Ia selalu ada untukku.

Namun kini kami berpisah. Jarak antaraku dan dia telah melebar, seiring berjalannya waktu yang tak pernah berdusta, yang tak pernah menanti. Kendatipun begitu, aku selalu mengingat senyumnya, tawanya, pun tangisnya. Juga hari-hari itu, kala kami berjalan bersama, menyusuri pantai dekat rumah kami sembari bertelanjang kaki menikmati senja yang sama-sama kami suka.

Aku menetap dan ia pergi. Hanya kenangan yang ada bagi kami. Kedua mataku kerap kali melayang jauh ke ujung cakrawala. Lebur warna merah dan jingga di horizon membawaku pergi pada kenangan-kenangan yang telah berlalu. Memaksa bulir likuida bening menetes dari sudut mataku.

Tawa kami masih bergema di pantai itu. Pantai berpasir putih yang dulu pernah dihiasi jejak-jejak kaki kami. Jejak kaki gadis-gadis liar yang melanggar aturan dan pulang malam dengan senyum lebar di wajah, tak takut meski konsekuensi harus dimarahi. Kami tidak salah. Kami tahu. Menghabiskan waktu bersama sahabatku bukanlah hal yang salah, begitu pikirku. Aku menyayanginya dan ingin agar ia terus ada dalam hidupku. Tak peduli apa yang ada dalam benaknya; apa ia akan berpikir sama denganku.

Waktu telah bergulir begitu cepat. Aku berdiri di sini, menatapnya dari kejauhan tengah berjalan dengan langkah kaki ringan, berdampingan dengan teman-teman sebaya. Tawanya masih terdengar sama. Tak ada yang berbeda dari dirinya. Mungkin hanya postur tubuhnya yang sedikit berbeda. Tetapi itu tak lantas membuatku lupa padanya.

Jelas tidak. Entah apa aku masih ada di memorinya atau tidak. Aku tidak peduli. Ia masih sahabatku.
Meski kini kutatap ia dari kejauhan, yang tak akan pernah dicapainya jika belum tiba waktunya. Dan hanya ucapan ini yang mampu kuucapkan dari atas sini.

Selamat ulang tahun, Sahabatku. Aku menyayangimu.
»»  READ MORE