Ia sahabatku.
Seseorang berseragam putih abu-abu itu, yang berjalan dengan
menenteng sebuah tas, bergerak lincah tanpa beban sedang senyumnya mengembang.
Wajah muda penuh harapan. Pun kacamata yang bertengger manis di hidungnya tak jua
membuat wajahnya nampak lebih tua.
Ya. Ia temanku. Sahabatku. Seseorang yang telah sekian lama berdiri
di sampingku, menopangku kala kujatuh, dan tertawa bersamaku kala kubahagia.
Tak pernah sekalipun kumenyesal pernah menjadi bagian dalam
hidupnya. Tak pernah sekalipun kumenyesal pernah menjadi saksi senyum lebar
itu, yang menunjukkan deretan gigi rapihnya. Menyenangkan untuk dilihat.
Suaranya yang khas acap kali hadir dalam hariku. Dalam suka maupun senduku. Tak
pernah sekalipun ia pergi, meninggalkan aku yang kehilangan satu hal yang
menopangku.
Ia selalu ada untukku.
Namun kini kami berpisah. Jarak antaraku dan dia telah
melebar, seiring berjalannya waktu yang tak pernah berdusta, yang tak pernah
menanti. Kendatipun begitu, aku selalu mengingat senyumnya, tawanya, pun
tangisnya. Juga hari-hari itu, kala kami berjalan bersama, menyusuri pantai
dekat rumah kami sembari bertelanjang kaki menikmati senja yang sama-sama kami
suka.
Aku menetap dan ia pergi. Hanya kenangan yang ada bagi kami.
Kedua mataku kerap kali melayang jauh ke ujung cakrawala. Lebur warna merah dan
jingga di horizon membawaku pergi pada kenangan-kenangan yang telah berlalu.
Memaksa bulir likuida bening menetes dari sudut mataku.
Tawa kami masih bergema di pantai itu. Pantai berpasir putih
yang dulu pernah dihiasi jejak-jejak kaki kami. Jejak kaki gadis-gadis liar
yang melanggar aturan dan pulang malam dengan senyum lebar di wajah, tak takut
meski konsekuensi harus dimarahi. Kami tidak salah. Kami tahu. Menghabiskan
waktu bersama sahabatku bukanlah hal yang salah, begitu pikirku. Aku
menyayanginya dan ingin agar ia terus ada dalam hidupku. Tak peduli apa yang
ada dalam benaknya; apa ia akan berpikir sama denganku.
Waktu telah bergulir begitu cepat. Aku berdiri di sini,
menatapnya dari kejauhan tengah berjalan dengan langkah kaki ringan,
berdampingan dengan teman-teman sebaya. Tawanya masih terdengar sama. Tak ada
yang berbeda dari dirinya. Mungkin hanya postur tubuhnya yang sedikit berbeda.
Tetapi itu tak lantas membuatku lupa padanya.
Jelas tidak. Entah apa aku masih ada di memorinya atau
tidak. Aku tidak peduli. Ia masih sahabatku.
Meski kini kutatap ia dari kejauhan, yang tak akan pernah
dicapainya jika belum tiba waktunya. Dan hanya ucapan ini yang mampu kuucapkan
dari atas sini.
Selamat ulang tahun,
Sahabatku. Aku menyayangimu.