Wednesday, 19 December 2012

FanFiction – “Running Away” 12


Sudah kurang lebih dua bulan Alice dan Zack menjalani hubungan mereka. Zack semakin hari semakin menyayangi Alice, sedangkan Alice belum bisa mencintai Zack. Sesungguhnya Zack tahu Alice sama sekali tidak mencintainya sebagai seorang kekasih, tetapi ia tidak peduli, ia ingin menjadi egois sekali saja. Ia ingin memiliki Alice walau hanya sebentar.
Alice merasa ia tidak bisa lagi melanjutkan hubungannya dengan Zack, namun ia terus-menerus memaksakan diri untuk membuka pintu hatinya. Namun sia-sia belaka, pintu itu sudah terkunci rapat dengan seseorang di dalamnya. Greyson David Michael Chance.
“Alice! Kau tahu? Seminggu lagi Valentine! Aku tak sabar,” ujar Zack saat mereka berdua tengah menghabiskan waktu di pinggiran sungai. Alice tidak mendengar perkataan Zack. Ia tengah melamun menatap air yang sudah hampir mencair karena ini akhir musim dingin. Zack memiringkan kepalanya bingung. “Alice?”
“Eh, ya?” sahut Alice akhirnya.
“Kau tidak mendengarku,” ucap Zack kesal.
“Eh, maaf. Aku… Banyak pikiran,” kata Alice lemah.
Lalu Zack melirik Alice dan bertanya sesuatu yang sesungguhnya sudah ia ketahui jawabannya, “Pikiran apa? Kau bisa menceritakannya pada… Um, aku,”
Sembari tersenyum, Alice menggeleng dan menyahut, “Itu akan menyusahkanmu,” Lalu Alice berdiri membetulkan jaketnya, dan berkata, “Maaf Zachary Curtin, aku ingin sendiri,”
Tanpa beranjak dari tempatnya, Zack memandangi kepergian Alice. Sambil menghela nafas ia berkata, “Kurasa aku harus menghentikan ini,”

xxx

“Mom!” panggil Greyson dengan suara serak.
Dengan segera Mrs. Chance menghampiri putranya, yang kondisinya masih belum baik, itu di ruang keluarga. “Ada apa?” tanya Mrs. Chance lembut.
“Aku ingin pergi ke suatu tempat. Sendiri,” ujar Greyson menjelaskan.
“Grey, kondisimu sedang buruk sekarang. Siapa yang akan mengurusmu nanti?” timpal Mrs. Chance seraya menghela nafas dan memandang lembut ke arah Greyson.
Emosi Greyson yang tidak stabil pun mulai meninggi. Ia membentak ibunya dengan kasar, “Aku bilang aku ingin pergi ke suatu tempat sendiri!”
Mrs. Chance menghela nafas dan memandang anaknya dengan sedih. Baru kali ini Greyson membentaknya seperti itu. Namun ia tidak akan marah karena ia mengerti kondisi putra bungsunya saat ini. Dengan sabar ia membelai rambut Greyson dan bertanya lembut, “Kau ingin ke mana?”
“Wichita Falls,” jawab Greyson cepat, “Rumah kita masih di sana kan?”
“Wichita Falls? Kau yakin?” tanya Mrs. Chance ragu-ragu.
“Aku yakin,”
Setelah menimbang-nimbang sejenak, Mrs. Chance pun mengangguk sambil tersenyum dan berkata, “Baiklah, Nak. Kapan kau mau berangkat ke sana?”
“Besok,”
“Ya sudah, ayo bantu Mom mempersiapkan kebutuhanmu,” ajak Mrs. Chance sambil berjalan menuju ke kamar Greyson.
Senyuman Greyson pun mengembang, dengan langkah ringan ia berjalan menyusul ibunya.

xxx

“Mom, Dad. Aku ingin sendiri saat ini,” ujar Alice tiba-tiba saat sedang berkumpul bersama keluarganya.
Mr. Cartel menghela nafas dan bertanya, “Mau ke mana? Jangan bilang ke New York?”
Sambil menggeleng pelan, Alice menjawab, “Tidak, Dad. Aku ingin ke… um… tempat tinggal kita dulu,”
Mrs. Cartel yang tengah meminum secangkir teh hangat segera tersedak. Ia memandang Alice lalu bertanya, “Um… Maksudmu… Wichita Falls?”
Mendengar pertanyaan ibunya, Alice mengangguk pasti masih dengan wajah datar.
“Kau akan tinggal bersama siapa? Dan siapa yang akan mengurusmu?” tanya Mrs. Cartel masih dengan nada kaget.
Alice memutar bola mata, dan dengan sedikit dengusan ia berkata, “Kurasa Mom sudah lupa aku sempat tinggal di New York cukup lama,” dan ia menambahkan setelah berhenti sejenak, “Sendiri,”
“Aku tahu kau tidak sendiri saat itu. Ada Greys―” ucapan Mrs. Cartel terhenti karena melihat lirikan tajam dari Alice. Kemudian ia berdeham salah tingkah dan berkata, “Um, yah, Mom… Mom setuju,”
Secercah kebahagiaan timbul di dalam hati Alice. Namun ia berusaha menyembunyikannya dengan tetap memasang wajah datar yang sangat ia sukai.
Karena istrinya sudah menyetujuinya, Mr. Cartel pun terpaksa menyetujuinya. Lalu ia bertanya, “Kapan kau akan ke sana?”
“Besok,” jawab Alice singkat dan segera beranjak dari tempatnya duduk untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa esok hari.

xxx

“Greyson! Kamu serius mau bawa ini semua?” tanya Mrs. Chance dengan terkejut saat melihat barang bawaan Greyson yang banyak sekali. Greyson membawa dua buah koper besar pakaian dan perlengkapan, dan juga sebuah tas ransel besar berisi barang-barang kebutuhannya di sana.
Dengan heran, Greyson melirik ke arah barang bawaannya dan bertanya, “Apa yang salah? Aku bawa secukupnya kok!”
“Secukupnya? Greyson sayang, kau tidak perlu membawa barang sebanyak itu! You can wash your clothes by yourself,” ujar Mrs. Chance sambil menggeleng-geleng kepala.
“I knew it, tapi aku butuh ini semua. Ah, lebih baik aku berangkat sekarang,” ujar Greyson seraya meletakkan barang bawaannya di lantai dan berjalan ke arah Ayah dan kedua kakaknya untuk berpamitan.
Tak beberapa lama kemudian, Greyson sudah siap berangkat. Ia sudah berpamitan dengan ayah, ibu, dan kedua kakaknya dan segera memasuki mobilnya.
 “Kau yakin tidak ingin ditemani?” tanya Alexa untuk meyakinkan adiknya.
“Yeah! Aku yakin!” sahut Greyson dengan nada pasti. “Ya sudah, aku berangkat dulu ya! Bye Mom, Dad, Tanner, Alexa!” Mobil Greyson pun mulai melaju untuk menempuh perjalanan sekitar 180 kilometer.
“Aku merasa akan terjadi sesuatu di sana,” ujar Mrs. Chance khawatir.
“Dan aku tahu apa yang akan terjadi,” timpal Alexa dengan wajah misterius.

xxx

Sesampainya di dekat bandara Wichita Falls, Greyson menghentikan sejenak mobilnya untuk meregangkan kakinya yang cukup penat menempuh perjalanan yang sangat jauh. Di sinilah Greyson sekarang, di Wichita Falls, tanah kelahirannya. Ia sangat merindukan kampung halamannya, tempat ia dilahirkan, tempat ia dibesarkan, dan tempat ia bertemu dengan kenangan masa kecilnya yang indah.
Perlahan ingatan itu datang, ketika ia meninggalkan Alice dan berjanji padanya di tempat ini. Dan ketika ia datang ke sini untuk mencari gadis itu, tetapi gadis itu sudah lama meninggalkannya. Berbagai kenangan pahit pun membekas di tempat ini.
“Uh!”
Pandangan Greyson teralihkan kepada seorang gadis berambut coklat yang saat ini menatap ke arah lain di belakang mobilnya. Gadis itu terlihat kesusahan membawa barang bawaannya. Karena kasihan, Greyson pun turun dari mobil dan menghampiri gadis itu untuk menawarinya bantuan, “Can I help you?”
“Um, yeah, of course!” sahut gadis itu. Sejurus kemudian gadis itu mendongak menatap Greyson. Sesaat pandangan mereka bertemu dan keduanya larut dalam keterkejutan. Mata biru itu menatap ke arahnya. Tepat ke arah matanya.
Greyson membungkam mulutnya. Lagi-lagi kabut hitam itu memenuhi kepalanya. Ia ingin sekali menjerit-jerit seperti saat di rumah beberapa waktu lalu. Namun mata itu menjerat matanya dan membuatnya tak sanggup melakukan apa pun selain balas menatapnya.
“Kau?” tanya gadis itu.
Yang ditanya hanya tersenyum tipis. Ia bingung harus berkata apa.
“Kurasa aku tahu tempat tujuanmu,” ujar Greyson akhirnya, “Bagaimana jika bersamaku… Um―” Greyson menghentikan sejenak kata-katanya. Ia menelan ludah dan melanjutkan, “Alice?”

To be continued…

No comments:

Post a Comment