Sudah kurang lebih dua bulan Alice dan Zack menjalani
hubungan mereka. Zack semakin hari semakin menyayangi Alice, sedangkan Alice
belum bisa mencintai Zack. Sesungguhnya Zack tahu Alice sama sekali tidak
mencintainya sebagai seorang kekasih, tetapi ia tidak peduli, ia ingin menjadi
egois sekali saja. Ia ingin memiliki Alice walau hanya sebentar.
Alice merasa ia tidak bisa lagi melanjutkan hubungannya
dengan Zack, namun ia terus-menerus memaksakan diri untuk membuka pintu
hatinya. Namun sia-sia belaka, pintu itu sudah terkunci rapat dengan seseorang
di dalamnya. Greyson David Michael Chance.
“Alice! Kau tahu? Seminggu lagi Valentine! Aku tak sabar,”
ujar Zack saat mereka berdua tengah menghabiskan waktu di pinggiran sungai.
Alice tidak mendengar perkataan Zack. Ia tengah melamun menatap air yang sudah
hampir mencair karena ini akhir musim dingin. Zack memiringkan kepalanya
bingung. “Alice?”
“Eh, ya?” sahut Alice akhirnya.
“Kau tidak mendengarku,” ucap Zack kesal.
“Eh, maaf. Aku… Banyak pikiran,” kata Alice lemah.
Lalu Zack melirik Alice dan bertanya sesuatu yang
sesungguhnya sudah ia ketahui jawabannya, “Pikiran apa? Kau bisa
menceritakannya pada… Um, aku,”
Sembari tersenyum, Alice menggeleng dan menyahut, “Itu akan
menyusahkanmu,” Lalu Alice berdiri membetulkan jaketnya, dan berkata, “Maaf
Zachary Curtin, aku ingin sendiri,”
Tanpa beranjak dari tempatnya, Zack memandangi kepergian
Alice. Sambil menghela nafas ia berkata, “Kurasa aku harus menghentikan ini,”
xxx
“Mom!” panggil Greyson dengan suara serak.
Dengan segera Mrs. Chance menghampiri putranya, yang
kondisinya masih belum baik, itu di ruang keluarga. “Ada apa?” tanya Mrs.
Chance lembut.
“Aku ingin pergi ke suatu tempat. Sendiri,” ujar Greyson
menjelaskan.
“Grey, kondisimu sedang buruk sekarang. Siapa yang akan
mengurusmu nanti?” timpal Mrs. Chance seraya menghela nafas dan memandang
lembut ke arah Greyson.
Emosi Greyson yang tidak stabil pun mulai meninggi. Ia
membentak ibunya dengan kasar, “Aku bilang aku ingin pergi ke suatu tempat
sendiri!”
Mrs. Chance menghela nafas dan memandang anaknya dengan
sedih. Baru kali ini Greyson membentaknya seperti itu. Namun ia tidak akan
marah karena ia mengerti kondisi putra bungsunya saat ini. Dengan sabar ia
membelai rambut Greyson dan bertanya lembut, “Kau ingin ke mana?”
“Wichita Falls,” jawab Greyson cepat, “Rumah kita masih di
sana kan?”
“Wichita Falls? Kau yakin?” tanya Mrs. Chance ragu-ragu.
“Aku yakin,”
Setelah menimbang-nimbang sejenak, Mrs. Chance pun
mengangguk sambil tersenyum dan berkata, “Baiklah, Nak. Kapan kau mau berangkat
ke sana?”
“Besok,”
“Ya sudah, ayo bantu Mom mempersiapkan kebutuhanmu,” ajak
Mrs. Chance sambil berjalan menuju ke kamar Greyson.
Senyuman Greyson pun mengembang, dengan langkah ringan ia
berjalan menyusul ibunya.
xxx
“Mom, Dad. Aku ingin sendiri saat ini,” ujar Alice tiba-tiba
saat sedang berkumpul bersama keluarganya.
Mr. Cartel menghela nafas dan bertanya, “Mau ke mana? Jangan
bilang ke New York?”
Sambil menggeleng pelan, Alice menjawab, “Tidak, Dad. Aku
ingin ke… um… tempat tinggal kita dulu,”
Mrs. Cartel yang tengah meminum secangkir teh hangat segera
tersedak. Ia memandang Alice lalu bertanya, “Um… Maksudmu… Wichita Falls?”
Mendengar pertanyaan ibunya, Alice mengangguk pasti masih
dengan wajah datar.
“Kau akan tinggal bersama siapa? Dan siapa yang akan
mengurusmu?” tanya Mrs. Cartel masih dengan nada kaget.
Alice memutar bola mata, dan dengan sedikit dengusan ia
berkata, “Kurasa Mom sudah lupa aku sempat tinggal di New York cukup lama,” dan
ia menambahkan setelah berhenti sejenak, “Sendiri,”
“Aku tahu kau tidak sendiri saat itu. Ada Greys―” ucapan
Mrs. Cartel terhenti karena melihat lirikan tajam dari Alice. Kemudian ia
berdeham salah tingkah dan berkata, “Um, yah, Mom… Mom setuju,”
Secercah kebahagiaan timbul di dalam hati Alice. Namun ia
berusaha menyembunyikannya dengan tetap memasang wajah datar yang sangat ia
sukai.
Karena istrinya sudah menyetujuinya, Mr. Cartel pun terpaksa
menyetujuinya. Lalu ia bertanya, “Kapan kau akan ke sana?”
“Besok,” jawab Alice singkat dan segera beranjak dari
tempatnya duduk untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa esok hari.
xxx
“Greyson! Kamu serius mau bawa ini semua?” tanya Mrs. Chance
dengan terkejut saat melihat barang bawaan Greyson yang banyak sekali. Greyson
membawa dua buah koper besar pakaian dan perlengkapan, dan juga sebuah tas
ransel besar berisi barang-barang kebutuhannya di sana.
Dengan heran, Greyson melirik ke arah barang bawaannya dan
bertanya, “Apa yang salah? Aku bawa secukupnya kok!”
“Secukupnya? Greyson sayang, kau tidak perlu membawa barang
sebanyak itu! You can wash your clothes by yourself,” ujar Mrs. Chance sambil
menggeleng-geleng kepala.
“I knew it, tapi aku butuh ini semua. Ah, lebih baik aku berangkat
sekarang,” ujar Greyson seraya meletakkan barang bawaannya di lantai dan
berjalan ke arah Ayah dan kedua kakaknya untuk berpamitan.
Tak beberapa lama kemudian, Greyson sudah siap berangkat. Ia
sudah berpamitan dengan ayah, ibu, dan kedua kakaknya dan segera memasuki
mobilnya.
“Kau yakin tidak
ingin ditemani?” tanya Alexa untuk meyakinkan adiknya.
“Yeah! Aku yakin!” sahut Greyson dengan nada pasti. “Ya
sudah, aku berangkat dulu ya! Bye Mom, Dad, Tanner, Alexa!” Mobil Greyson pun
mulai melaju untuk menempuh perjalanan sekitar 180 kilometer.
“Aku merasa akan terjadi sesuatu di sana,” ujar Mrs. Chance
khawatir.
“Dan aku tahu apa yang akan terjadi,” timpal Alexa dengan
wajah misterius.
xxx
Sesampainya di dekat bandara Wichita Falls, Greyson
menghentikan sejenak mobilnya untuk meregangkan kakinya yang cukup penat
menempuh perjalanan yang sangat jauh. Di sinilah Greyson sekarang, di Wichita
Falls, tanah kelahirannya. Ia sangat merindukan kampung halamannya, tempat ia
dilahirkan, tempat ia dibesarkan, dan tempat ia bertemu dengan kenangan masa
kecilnya yang indah.
Perlahan ingatan itu datang, ketika ia meninggalkan Alice
dan berjanji padanya di tempat ini. Dan ketika ia datang ke sini untuk mencari
gadis itu, tetapi gadis itu sudah lama meninggalkannya. Berbagai kenangan pahit
pun membekas di tempat ini.
“Uh!”
Pandangan Greyson teralihkan kepada seorang gadis berambut
coklat yang saat ini menatap ke arah lain di belakang mobilnya. Gadis itu
terlihat kesusahan membawa barang bawaannya. Karena kasihan, Greyson pun turun
dari mobil dan menghampiri gadis itu untuk menawarinya bantuan, “Can I help
you?”
“Um, yeah, of course!” sahut gadis itu. Sejurus kemudian
gadis itu mendongak menatap Greyson. Sesaat pandangan mereka bertemu dan keduanya
larut dalam keterkejutan. Mata biru itu menatap ke arahnya. Tepat ke arah matanya.
Greyson membungkam mulutnya. Lagi-lagi kabut hitam itu
memenuhi kepalanya. Ia ingin sekali menjerit-jerit seperti saat di rumah
beberapa waktu lalu. Namun mata itu menjerat matanya dan membuatnya tak sanggup
melakukan apa pun selain balas menatapnya.
“Kau?” tanya gadis itu.
Yang ditanya hanya tersenyum tipis. Ia bingung harus berkata
apa.
“Kurasa aku tahu tempat tujuanmu,” ujar Greyson akhirnya, “Bagaimana
jika bersamaku… Um―” Greyson menghentikan sejenak kata-katanya. Ia menelan
ludah dan melanjutkan, “Alice?”
To be continued…
No comments:
Post a Comment