Tuan, terimalah sajak kelamku
Mengapa senja berkawan dengan baskara
bila ia tahu sang raja ‘kan beranjak
Mengapa pasir bersuka dibelai ombak
bila ia tahu sang debur ‘kan kembali berlayar
Mereka seperti aku;
yang menantikanmu dalam lingkup buaian malam
Meski aku tahu kau hanya ‘kan pergi di waktu pagi
Mereka pun layaknya aku;
yang menyambut ulur tanganmu
Meski aku tahu kau ‘kan menariknya dan menyudah sua
Tiada bunga yang menolak hadir kupu-kupu
Kendati ia tahu sang bidadari taman hanya ‘kan hinggap lalu terbang menjauh
Tiada langit yang membenci hujan
Kendati ia tahu rinainya hanya ‘kan singgah dan berlalu,
meninggalkan busur warna-warni pilu
Begitu pun aku, Pujanggaku
Yang ‘kan tetap tinggal meski kau hadir untuk kembali melebur dengan dunia
Begitu pun aku, Pelantun Kasihku
Yang ‘kan tetap bersemayam dalam benakmu meski aku hanya ‘kan terusir
Dan kau melupa
»» READ MORE
Mengapa senja berkawan dengan baskara
bila ia tahu sang raja ‘kan beranjak
Mengapa pasir bersuka dibelai ombak
bila ia tahu sang debur ‘kan kembali berlayar
Mereka seperti aku;
yang menantikanmu dalam lingkup buaian malam
Meski aku tahu kau hanya ‘kan pergi di waktu pagi
Mereka pun layaknya aku;
yang menyambut ulur tanganmu
Meski aku tahu kau ‘kan menariknya dan menyudah sua
Tiada bunga yang menolak hadir kupu-kupu
Kendati ia tahu sang bidadari taman hanya ‘kan hinggap lalu terbang menjauh
Tiada langit yang membenci hujan
Kendati ia tahu rinainya hanya ‘kan singgah dan berlalu,
meninggalkan busur warna-warni pilu
Begitu pun aku, Pujanggaku
Yang ‘kan tetap tinggal meski kau hadir untuk kembali melebur dengan dunia
Begitu pun aku, Pelantun Kasihku
Yang ‘kan tetap bersemayam dalam benakmu meski aku hanya ‘kan terusir
Dan kau melupa