Saturday, 15 December 2012

FanFiction – “Running Away” 8


“Aku mencintaimu,” bisik Greyson sambil tersenyum lembut.
Alice terperangah mendengar pernyataan cinta Greyson yang sangat mendadak itu. Ia tidak menyangka Greyson akan menyatakan perasaannya secepat itu. Padahal selama ini ia berpikir Greyson sudah melupakannya, namun ternyata ia salah.
Greyson dengan sangat lembut mengelus pipi Alice yang memerah, entah karena dingin atau karena malu. Dengan tetap mempertahankan senyumannya yang sangat memikat itu, Greyson berkata, “Aku tak berharap lebih. Aku hanya ingin mengungkapkannya padamu,” lalu menepuk kedua pundak Alice dan menambahkan, “Ayo kita pulang. Di sini sangat dingin,”
Greyson pun berjalan mendahului Alice. Namun Alice segera menahan langkah Greyson dengan memegang tangannya. “Tunggu,” ujarnya.
Dengan segera yang diajak berbicara akhirnya membalikkan badan lalu memandang Alice dalam-dalam. Ia menaikkan alisnya, dan lagi-lagi masih dengan senyumannya. “Ya?”
Mendadak Alice merasa tulang-tulangnya melunak. Ia sungguh merasa gugup dan tidak dapat berkata apa pun. Namun akhirnya setelah menghela nafas, Alice memberanikan diri untuk berkata, “Aku juga,”
Mendengar suara Alice yang bergetar dan melihat wajah Alice yang memerah, niat jahil Greyson pun muncul. Ia mengulum senyum sambil mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”
Pertanyaan Greyson membuat Alice semakin gugup. Ia menggaruk tengkuknya yang mungkin tidak gatal. Dan dengan tergagap-gagap ia kembali mengucapkannya, “Aku juga,”
Greyson kembali menahan senyum dan bertanya lagi, “’Juga’ apa?”
“Aku juga mencintaimu,” kata Alice akhirnya. Wajahnya sudah merah padam sejak tadi. Ia tak mampu menatap mata Greyson. Pandangannya selalu mengarah ke bawah.
Kemudian Greyson mendekap Alice erat di dalam pelukannya. Ia merasa sangat bahagia malam itu. Malam ketika salju-salju pertama mulai turun tahun ini. Malam dingin yang diterangi lampu-lampu kota dan juga diiringi bunyi kendaraan yang mengalun-alun di jalanan.
“So?” tanya Greyson akhirnya, masih sambil memeluk Alice.
“What?” Alice bertanya heran. Ia sepertinya mulai kehabisan nafas akibat dipeluk Greyson terlalu erat.
Greyson melepaskan pelukannya dan mendesah. Detik berikutnya Greyson sudah berlutut di depan Alice sambil mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Alice, lalu berkata dengan berlebihan, “Oh Princess Alice. Would you be mine?”
Melihat gaya Greyson yang menurutnya lucu, Alice tertawa cekikikan. Lalu ia menatap mata Greyson yang juga sedang menatapnya. Kemudian ia mengangguk pasti dan tubuhnya berakhir di pelukan Greyson yang lebih erat daripada sebelumnya.

xxx

Pagi-pagi benar Alice dan Greyson sudah pergi berjalan-jalan. Greyson sengaja mengosongkan jadwal hari ini dengan tujuan agar ia dapat menikmati hari natal bersama Alice. Dengan menggunakan pakaian hangat tebal berbahan wol, mereka berdua berjalan bergandengan tangan di tengah hamparan salju di sepanjang jalan.
Greyson mengajak Alice pergi ke tempat favorit mereka berdua, Central Park. Mereka menghabiskan waktu untuk bermain ice skating di Lasker Rink. Berkali-kali Alice terpeleset dan terjatuh karena ia sudah lupa cara bermain skate. Namun dengan sabar Greyson mengajari Alice bermain skate. Mereka tertawa bersama dan sama-sama merasa senang dapat menghabiskan waktu bersama.
Setelah bermain ice skating, mereka berdua berjalan ke Central Park Zoo dan setelahnya pergi untuk duduk-duduk di bangku taman melihat orang-orang yang sedang berjalan hilir mudik ataupun melihat kuda-kuda yang membawa orang mengelilingi Central Park.
“Kau tahu, Grey? Aku merasa sangat bahagia pada hari ini!” ujar Alice sambil menggosokkan kedua tangan untuk menghangatkannya.
“Yeah, so am I. I hope we’ll―” kata-kata Greyson terpotong oleh suara sekelompok gadis yang berteriak memanggil namanya. “Oh, my! Come on Alice!” seru Greyson sambil menarik lengan Alice untuk berlari, dari kejaran penggemarnya, bersama dengannya.
 “Wa… Wait!” ujar Alice yang sedikit tertatih-tatih untuk menyesuaikan langkah Greyson. Mereka berlari cukup kuat dari kejaran para penggemar. Alice tertawa-tawa sepanjang perjalanan mereka. Sesekali ia menatap ke belakang dan betapa terkejutnya ia melihat semakin banyak orang yang mengejar mereka.
“We should go to my apartment!” seru Greyson kepada Alice yang segera dibalas dengan anggukan pasti.
Namun, langkah mereka terhenti karena di depan mereka sudah banyak wartawan yang menunggu mereka. Beberapa orang yang membawa kamera mengambil gambar mereka berdua yang sedang bergandengan tangan. Dan beberapa lagi sibuk menyodorkan mikrofon kepada Grey dan mengarahkan kamera ke arahnya.
“Oh, damn it! Alice! Go now!” seru Greyson memberi arahan kepada Alice. Tetapi lautan manusia itu sudah mengepung mereka berdua sehingga sudah tidak bisa berkutik lagi. Lampu flash kamera seakan menyerbu mereka berdua. Melihat itu semua, Greyson tersadar.
Ia dan Alice harus bersiap-siap. Wajah mereka akan terpampang di media masa.

xxx

Setelah beberapa lama, mereka berdua akhirnya berhasil membebaskan diri dari para wartawan dan penggemar yang menggila. Keduanya merasa sengat lelah setelah berlari-lari dalam jarak yang cukup jauh. Pipi mereka berdua memerah karena kelelahan. Namun kedua pasang mata milik mereka masih memancarkan kilatan kebahagiaan.
“Penggemarmu… Gila,” ujar Alice dengan nafas terengah-engah.
“Itulah resiko menjadi orang terkenal sepertiku,” timpal Greyson dengan kepercayaan diri tinggi. Ia sudah dapat mengatur nafasnya menjadi teratur.
Dengan lembut Alice memukul pundak Greyson. Lalu mereka berdua tertawa bersama di bawah sebuah pohon yang sebagian rantingnya sudah tertutup salju.
Karena sadar perut mereka sudah lapar, Greyson pun mengajak Alice ke sebuah restoran dan mereka makan dengan bersemangat. Di tengah acara makan pun mereka masih bisa berbincang-bincang sambil sesekali bercanda dan tertawa. Padahal mereka sama-sama sadar wajah mereka akan terpampang di media masa esok hari. Bahkan hari ini juga.
“Whoa! Sudah pukul lima? Cepat sekali. Rasanya aku baru berjalan keluar dari apartemenmu satu jam yang lalu!” ujar Greyson sesaat setelah melihat jam tangannya.
“Kau bercanda? Pukul lima? Aku tak percaya!” sahut Alice sambil menarik tangan Greyson untuk melihat paksa jam tangannya. Mata Alice pun membelalak melihatnya. “Uh, sayang sekali kita tidak bisa melaksanakan rencana kita yang lain!”
“Masih ada satu lagi!” ujar Greyson tiba-tiba.
“Apa?” tanya Alice penasaran.
“Kita harus menyaksikan parade pemusik jalanan di Central Park!” sahut Greyson dengan sedikit penekanan di kata ‘Central Park’.
Alice kembali membelalak mendengarnya. “Are you crazy, dude? Kita ke tempat gila itu lagi? Tidak tidak tidak,” tanya Alice tak percaya. Ia berharap Greyson hanya bercanda, namun ternyata Greyson kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“Why not? Ayolah, Alice. Kau akan menyesal jika melewatkan parade natal pemusik jalanan itu! Trust me, they’re awesome!” pinta Greyson dengan pandangan memohon.
Alice pun mendesah dan terpaksa mengikuti kemauan Greyson karena sebenarnya ia juga penasaran dengan parade yang disebut-sebut oleh Greyson. “Baiklah,” kata Alice akhirnya.
Dan setelah membayar pesanan, mereka kembali ke ‘tempat maut’ tadi. Kali ini Greyson tak lupa menggunakan topi dan kaca mata hitam yang sebenarnya sudah ia sediakan sedari tadi di tas tangan milik Alice. Ia tahu orang akan menganggapnya aneh karena menggunakan kacamata hitam di musim dingin. Tetapi ia tidak peduli, ini semua demi kemanannya dan Alice.
Mereka memperlambat kecepatan melangkah karena ingin menikmati pemandangan hamparan salju di tanah dan juga merasakan bola-bola salju yang mulai turun dari langit. Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah mereka ke Central Park. Di pusat Central Park, sudah banyak keluarga, kelompok-kelompok, dan pasangan-pasangan kekasih yang berkumpul untuk menyaksikan parade natal pemusik jalanan.
Parade pun dimulai. Berbagai alat musik dimainkan. Nada-nada natal mengalun-alun memenuhi udara dingin yang menusuk tulang, membawa jiwa-jiwa yang mendengarnya terhanyut dalam melodi indah yang mengalun merdu.
Alice dan Greyson saling berpandangan. Greyson tersenyum puas saat melihat kilatan kagum di mata Alice. Ia tak menyangka akan menghabiskan natal tahun ini bersama orang yang sangat dicintainya. Sementara Alice merasa menjadi gadis yang paling bahagia di dunia ini karena dapat melakukan kencan pertama di malam natal bersama orang yang selama ini ia anggap sudah melupakannya.
Mendadak telepon genggam milik Greyson berbunyi. Greyson mendecak. “Tunggu sebentar, ya? Ada telepon masuk,” ujar Greyson kepada Alice dan kemudian berjalan menjauh dari keramaian.
Setelah menemukan tempat yang pas, Greyson pun mengangkat telepon itu, “Halo?” Ia mendengarkan sang penelepon dengan mata membelalak. Lalu ia berkata dengan tergagap dan suara yang bergetar, “Ba..Baiklah, aku..aku akan segera ke sana,”
Greyson merasa sangat panik saat itu. Segera setelah memutuskan sambungan telepon, Greyson berlari ke tempat Alice untuk menyampaikan sesuatu. Alice yang melihat Greyson datang menghampirinya dengan wajah panik pun segera berdiri dan bertanya, “Ada apa, Grey?”
“Ayahku sakit parah. Di Oklahoma,”

To be continued…

No comments:

Post a Comment