“Aku
mencintaimu,” bisik Greyson sambil tersenyum lembut.
Alice
terperangah mendengar pernyataan cinta Greyson yang sangat mendadak itu. Ia
tidak menyangka Greyson akan menyatakan perasaannya secepat itu. Padahal selama
ini ia berpikir Greyson sudah melupakannya, namun ternyata ia salah.
Greyson
dengan sangat lembut mengelus pipi Alice yang memerah, entah karena dingin atau
karena malu. Dengan tetap mempertahankan senyumannya yang sangat memikat itu,
Greyson berkata, “Aku tak berharap lebih. Aku hanya ingin mengungkapkannya
padamu,” lalu menepuk kedua pundak Alice dan menambahkan,
“Ayo kita pulang. Di sini sangat dingin,”
Greyson
pun berjalan mendahului Alice. Namun Alice segera menahan langkah Greyson
dengan memegang tangannya. “Tunggu,” ujarnya.
Dengan
segera yang diajak berbicara akhirnya membalikkan badan lalu memandang Alice
dalam-dalam. Ia menaikkan alisnya, dan lagi-lagi masih dengan senyumannya. “Ya?”
Mendadak
Alice merasa tulang-tulangnya melunak. Ia sungguh merasa gugup dan tidak dapat
berkata apa pun. Namun akhirnya setelah menghela nafas, Alice memberanikan diri
untuk berkata, “Aku juga,”
Mendengar suara Alice yang
bergetar dan melihat wajah Alice yang memerah, niat jahil Greyson pun muncul. Ia mengulum senyum sambil mengangkat sebelah
alisnya. “Apa maksudmu?”
Pertanyaan
Greyson membuat Alice semakin gugup. Ia menggaruk tengkuknya yang mungkin tidak gatal. Dan dengan
tergagap-gagap ia kembali mengucapkannya, “Aku juga,”
Greyson
kembali menahan senyum dan bertanya lagi, “’Juga’ apa?”
“Aku
juga mencintaimu,” kata Alice akhirnya. Wajahnya sudah merah padam sejak tadi.
Ia tak mampu menatap mata Greyson. Pandangannya selalu mengarah ke bawah.
Kemudian
Greyson mendekap Alice erat di dalam pelukannya. Ia merasa sangat bahagia malam
itu. Malam ketika salju-salju pertama mulai turun tahun ini. Malam dingin yang
diterangi lampu-lampu kota dan juga diiringi bunyi kendaraan yang mengalun-alun
di jalanan.
“So?”
tanya Greyson akhirnya, masih sambil memeluk Alice.
“What?”
Alice bertanya heran. Ia sepertinya mulai kehabisan nafas akibat dipeluk
Greyson terlalu erat.
Greyson
melepaskan pelukannya dan mendesah. Detik berikutnya Greyson sudah berlutut di
depan Alice sambil mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Alice, lalu
berkata dengan berlebihan, “Oh Princess Alice. Would you be mine?”
Melihat
gaya Greyson yang menurutnya lucu, Alice tertawa cekikikan. Lalu ia menatap
mata Greyson yang juga sedang menatapnya. Kemudian ia mengangguk pasti dan
tubuhnya berakhir di pelukan Greyson yang lebih erat daripada sebelumnya.
xxx
Pagi-pagi
benar Alice dan Greyson sudah pergi berjalan-jalan. Greyson sengaja
mengosongkan jadwal hari ini dengan tujuan agar ia dapat menikmati hari natal
bersama Alice. Dengan menggunakan pakaian hangat tebal berbahan wol, mereka
berdua berjalan bergandengan tangan di tengah hamparan salju di sepanjang
jalan.
Greyson
mengajak Alice pergi ke tempat favorit mereka berdua, Central Park. Mereka
menghabiskan waktu untuk bermain ice skating di Lasker Rink. Berkali-kali Alice terpeleset dan terjatuh karena ia sudah
lupa cara bermain skate. Namun dengan sabar Greyson mengajari Alice bermain
skate. Mereka tertawa bersama dan sama-sama merasa senang dapat menghabiskan
waktu bersama.
Setelah
bermain ice skating, mereka berdua berjalan ke Central Park Zoo dan setelahnya pergi untuk duduk-duduk di bangku taman
melihat orang-orang yang sedang berjalan hilir mudik ataupun melihat kuda-kuda yang
membawa orang mengelilingi Central Park.
“Kau
tahu, Grey? Aku merasa sangat bahagia pada hari ini!” ujar Alice sambil
menggosokkan kedua tangan untuk menghangatkannya.
“Yeah,
so am I. I hope we’ll―” kata-kata Greyson terpotong oleh suara sekelompok gadis
yang berteriak memanggil namanya. “Oh, my! Come on Alice!” seru Greyson sambil
menarik lengan Alice untuk berlari, dari kejaran penggemarnya, bersama
dengannya.
“Wa… Wait!” ujar Alice yang sedikit
tertatih-tatih untuk menyesuaikan langkah Greyson. Mereka berlari cukup kuat
dari kejaran para penggemar. Alice tertawa-tawa sepanjang perjalanan mereka.
Sesekali ia menatap ke belakang dan betapa terkejutnya ia melihat semakin
banyak orang yang mengejar mereka.
“We
should go to my apartment!” seru Greyson kepada Alice yang segera dibalas
dengan anggukan pasti.
Namun,
langkah mereka terhenti karena di depan mereka sudah banyak wartawan yang
menunggu mereka. Beberapa orang yang membawa kamera mengambil gambar mereka
berdua yang sedang bergandengan tangan. Dan beberapa lagi sibuk menyodorkan
mikrofon kepada Grey dan mengarahkan kamera ke arahnya.
“Oh,
damn it! Alice! Go now!” seru Greyson memberi arahan kepada Alice. Tetapi
lautan manusia itu sudah mengepung mereka berdua sehingga sudah tidak bisa
berkutik lagi. Lampu flash kamera seakan menyerbu mereka berdua. Melihat itu
semua, Greyson tersadar.
Ia
dan Alice harus bersiap-siap. Wajah mereka akan terpampang di media masa.
xxx
Setelah
beberapa lama, mereka berdua akhirnya berhasil membebaskan diri dari para
wartawan dan penggemar yang menggila. Keduanya merasa sengat lelah setelah
berlari-lari dalam jarak yang cukup jauh. Pipi mereka berdua memerah karena kelelahan.
Namun kedua pasang mata milik mereka masih memancarkan kilatan kebahagiaan.
“Penggemarmu…
Gila,” ujar Alice dengan nafas terengah-engah.
“Itulah
resiko menjadi orang terkenal sepertiku,” timpal Greyson dengan kepercayaan
diri tinggi. Ia sudah dapat mengatur nafasnya menjadi teratur.
Dengan
lembut Alice memukul pundak Greyson. Lalu mereka berdua tertawa bersama di
bawah sebuah pohon yang sebagian rantingnya sudah tertutup salju.
Karena
sadar perut mereka sudah lapar, Greyson pun mengajak Alice ke sebuah restoran
dan mereka makan dengan bersemangat. Di tengah acara makan pun mereka masih
bisa berbincang-bincang sambil sesekali bercanda dan tertawa. Padahal mereka
sama-sama sadar wajah mereka akan terpampang di media masa esok hari. Bahkan
hari ini juga.
“Whoa!
Sudah pukul lima? Cepat sekali. Rasanya aku baru
berjalan keluar dari apartemenmu satu jam yang lalu!” ujar Greyson sesaat
setelah melihat jam tangannya.
“Kau
bercanda? Pukul lima? Aku tak percaya!” sahut Alice
sambil menarik tangan Greyson untuk melihat paksa jam tangannya. Mata Alice pun
membelalak melihatnya. “Uh, sayang sekali kita tidak bisa melaksanakan rencana
kita yang lain!”
“Masih
ada satu lagi!” ujar Greyson tiba-tiba.
“Apa?”
tanya Alice penasaran.
“Kita
harus menyaksikan parade pemusik
jalanan di Central Park!” sahut
Greyson dengan sedikit penekanan di kata ‘Central Park’.
Alice
kembali membelalak mendengarnya. “Are you crazy, dude? Kita ke tempat gila itu
lagi? Tidak tidak tidak,” tanya Alice tak
percaya. Ia berharap Greyson hanya bercanda, namun ternyata Greyson kemudian
mengangguk sambil tersenyum.
“Why
not? Ayolah, Alice. Kau akan menyesal jika melewatkan parade natal pemusik
jalanan itu! Trust me, they’re awesome!” pinta Greyson dengan pandangan
memohon.
Alice
pun mendesah dan terpaksa mengikuti kemauan Greyson karena sebenarnya ia juga penasaran
dengan parade yang disebut-sebut oleh Greyson. “Baiklah,” kata Alice akhirnya.
Dan
setelah membayar pesanan, mereka kembali ke ‘tempat maut’ tadi. Kali ini
Greyson tak lupa menggunakan topi dan kaca mata hitam yang sebenarnya sudah ia
sediakan sedari tadi di tas tangan milik Alice. Ia tahu orang akan
menganggapnya aneh karena menggunakan kacamata hitam di musim dingin. Tetapi ia
tidak peduli, ini semua demi kemanannya dan Alice.
Mereka memperlambat kecepatan
melangkah karena ingin menikmati pemandangan hamparan salju di tanah dan juga
merasakan bola-bola salju yang mulai turun dari langit. Setelah beberapa menit
perjalanan, sampailah mereka ke Central Park. Di pusat Central Park, sudah banyak keluarga, kelompok-kelompok, dan pasangan-pasangan kekasih yang berkumpul untuk menyaksikan parade natal
pemusik jalanan.
Parade
pun dimulai. Berbagai alat musik dimainkan. Nada-nada natal mengalun-alun
memenuhi udara dingin yang menusuk tulang, membawa jiwa-jiwa yang mendengarnya
terhanyut dalam melodi indah yang mengalun merdu.
Alice
dan Greyson saling berpandangan. Greyson
tersenyum puas saat melihat kilatan kagum di mata Alice. Ia tak menyangka akan
menghabiskan natal tahun ini bersama orang yang sangat dicintainya. Sementara
Alice merasa menjadi gadis yang paling bahagia di dunia ini karena dapat
melakukan kencan pertama di malam natal bersama orang yang selama ini ia anggap
sudah melupakannya.
Mendadak telepon genggam
milik Greyson berbunyi. Greyson mendecak. “Tunggu sebentar, ya? Ada telepon
masuk,” ujar Greyson kepada Alice dan kemudian berjalan menjauh dari keramaian.
Setelah menemukan tempat yang
pas, Greyson pun mengangkat telepon itu, “Halo?” Ia mendengarkan sang penelepon
dengan mata membelalak. Lalu ia berkata dengan tergagap dan suara yang
bergetar, “Ba..Baiklah, aku..aku akan segera ke sana,”
Greyson merasa sangat panik
saat itu. Segera setelah memutuskan sambungan telepon, Greyson berlari ke
tempat Alice untuk menyampaikan sesuatu. Alice yang melihat Greyson datang
menghampirinya dengan wajah panik pun segera berdiri dan bertanya, “Ada apa,
Grey?”
“Ayahku sakit parah. Di
Oklahoma,”
To be continued…
No comments:
Post a Comment