Sudah dua minggu sejak terakhir kali ia bertemu dengan
Alice. Hari-hari yang dilaluinya sepulang dari desa itu dihabiskan dengan
bermuram durja. Tak ada lagi yang mampu ia lakukan kecuali menjalani
rutinitasnya sebagai penyanyi dan membagikan senyuman juga tawa palsu ke media
dan para penggemarnya.
Hari ini hari kosongnya menjelang Christmas Concert yang
akan diadakan di Central Park―yang sangat dekat dengan apartemennya―tanggal 21
Desember nanti. Ia menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di dalam kamar
apartemen. Merenung, membaca novel, mendengarkan lagu, dan sesekali bermain
game favoritnya. Namun semua itu tidak mengobati rasa sakitnya yang sudah
semakin parah.
Karena bosan, Greyson pun memutuskan untuk menyamar dan
berjalan-jalan sebentar di East Broadway Mall, salah satu mall besar di New
York. Ia mengenakan mantelnya. Namun tidak seperti biasanya, ia tidak
memasukkan foto Alice di saku mantelnya. Setelah mengenakan mantel, ia berjalan
ke luar untuk ‘mengambil’ mobilnya, dan kemudian mengendarainya ke mall
tersebut.
Di dalam mobil, selama perjalanan, ia mendengarkan siaran
radio remaja yang seringkali memutarkan lagu-lagu yang sedang hits di dunia.
Tiba-tiba saja, lagu yang sangat ia kenal pun terdengar dari speaker. Lagunya.
Greyson menggigit bibir bawahnya saat mendengar lagu yang ia
ciptakan sendiri itu. Nafasnya terasa sesak. Dan perlahan, dengan suara
bergetar ia bernyanyi,
“Running away through
the night so black.
The stars on my shoulder pulling me back.
Whispers of you ringing through my ears
trying to forget all the wasted tears.
And all your lies in your blue eyes,
another day goes by and all I can say is
wish I could forget you, but you keep coming back,”
The stars on my shoulder pulling me back.
Whispers of you ringing through my ears
trying to forget all the wasted tears.
And all your lies in your blue eyes,
another day goes by and all I can say is
wish I could forget you, but you keep coming back,”
Tak terasa air mata jatuh dari matanya. Ia merasa bodoh saat
ini. Bagaimana mungkin laki-laki yang sudah hampir dewasa menangis karena
mendengar suaranya yang menyanyikan lagu yang ia ciptakan sendiri?
Saat ini, saat ia merasakan sakit di hatinya, ia menyadari
satu hal.
“I’ve understood why Alice hated me,”
xxx
Sampailah gadis itu di kota besar ini setelah menjalani
berbagai argumentasi dengan kedua orang tuanya. Ia melihat sekelilingnya dengan
sangat kagum. Belum pernah ia melihat kota yang ‘sehidup’ ini.
Dengan cepat, sesuai dengan arahan kedua orang tuanya yang
sudah pernah ke New York, Alice segera mencari taksi yang akan membawanya ke
salah satu hotel di Manhattan. Setelah sampai di hotel tersebut, ia memesan
sebuah kamar yang akan di tempatinya selama satu hari, sebelum ia menemukan
apartemen untuk tempat tinggalnya.
Malam ini ia habiskan dengan memikirkan cara untuk bertemu
dengan Greyson di kota yang sangat luas ini. Karena tidak menemukan jalan
keluar, ia mengeluarkan foto itu lagi dan memandangnya selama beberapa menit.
Setelah itu ia merasa kantuk yang luar biasa menyerangnya dan ia pun tertidur.
Pagi-pagi benar Alice sudah terbangun dan hal pertama yang
diingatnya adalah ekspresi sedih Zack saat mengantarnya ke bandara. Sesaat ia
merasa menyesal meninggalkan desanya dan juga Zack. Namun kemudian ia tersadar
bahwa ia kemari untuk menemui Greyson, sahabatnya yang sudah ia lukai.
Setelah matahari mulai beranjak dari tidurnya, Alice
membersihkan diri dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Ia memutuskan untuk
berjalan kaki ke mana saja kakinya inginkan. Tanpa sadar kakinya sudah
menuntunnya ke sebuah taman yang sangat besar dan luas. Taman yang sangat indah
dengan pohon-pohon yang sudah tidak ada daunnya.
Ia berjalan ke sekeliling taman yang terdapat banyak pemusik
blues jalanan. Beberapa orang sedang Ia
sangat menikmati suasana di taman yang ia belum tahu namanya. Tiba-tiba, saat
ia melangkah, ia menginjak sebuah selebaran berwarna hijau. Karena rasa
penasaran, Alice mengambil kertas itu dan membacanya.
Matanya membelalak setelah membaca selebaran itu.
xxx
Telepon genggam Greyson berbunyi saat sang pemilik sedang
tertidur dengan nyenyaknya pagi itu. Dengan gusar ia mengambil telepon
genggamnya dan mengangkatnya tanpa membaca siapa yang menelepon.
“Hmm?”
“Greyson! Bagaimana
mungkin di akhir pekan seperti ini kau tidur sampai siang? Ingat, bro, kau
punya jadwal pemotretan saat ini,” kata orang di telepon dengan panjang
lebar.
“Siapa ini?” tanya Greyson yang ternyata sedari tadi belum
tahu siapa peneleponnya.
Orang di seberang sana itu pun terdengar menghela nafas, “Baiklah, Grey. Datang ke bagian utara
Central Park dan kau akan tau siapa aku,” ucap sang penelepon dan segera
memutuskan sambungan.
Greyson menguap keras dan mengerang karena pagi-pagi sudah
ada yang mengganggu tidur indahnya. Namun lagi-lagi atas dasar kebosanan,
Greyson pun bangkit dari pembaringan dan membersihkan diri sesaat setelah
melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Setelah membersihkan diri, Greyson pun memutuskan untuk
mengikuti petunjuk sang penelepon. Ia berjalan kaki sambil menghirup udara
akhir musim gugur dalam-dalam. Karena menggunakan pakaian yang sangat tebal dan
masker, tak ada satupun orang yang mengenalnya.
Sampailah ia di Central Park. Dan ia secara reflek berjalan
ke bagian utara dari Central Park. Dan ia melihat Troy yang sudah menunggunya
sambil berkacak pinggang. Greyson pun berlari ke arah Troy dengan cengiran
lebar.
Yah, seburuk-buruknya keadaannya, Greyson akan merasa lebih
baik jika bertemu dengan Alexa atau Troy. Bahkan terkadang Guy, yang seringkali
sinis padanya.
Mereka pun berbicara masalah konser yang akan dilakukan di
tempat ini pada tanggal 21 Desember yang akan datang. Tepat di tengah
pembicaraan, Greyson melihat seorang gadis, yang sedang duduk di bangku taman
di bawah pohon besar yang sudah botak, sedang membaca sebuah selebaran. Gadis
itu berambut coklat, dan matanya yang memandang ke bawah terlihat sedikit warna
birunya.
“Alice?”
Greyson mengucek matanya untuk memastikan kebenaran
penglihatannya. Dan saat ia melihat kembali ke bangku taman itu, ia sadar
penglihatannya tadi tidaklah salah.
Itu benar-benar Alice.
xxx
Alice sudah menemukan apartemen yang cocok untuknya di
daerah Manhattan juga. Ia tak ingin jauh-jauh dari taman besar, yang baru-baru
ini diketahui Alice, bernama Central Park. Apartemen yang ia pilih cukup bagus
dengan fasilitas memadai, dan pemandangan yang indah dari jendela kamarnya.
Ia terlalu sibuk akhir-akhir ini. Sibuk membeli dan
memindahkan barang-barang ke apartemennya. Hingga tak terasa kalender telah
menunjukkan tanggal 20 Desember, sehari sebelum acara yang sangat
ditunggu-tunggu Alice. Ia cepat-cepat mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk
sebuah poster besar dengan tulisan ‘GREYSON!! IT’S ME ALICE CARTEL!’ yang akan
dipakainya di konser Greyson esok hari.
Sudah lewat dua jam Alice berkutat pada poster yang akan ia
gunakan esok hari. Satu minggu yang lalu, tepat saat ia menemukan selebaran
yang berisi tentang Christmas Concert, Alice segera berburu tiket VIP agar dapat
menonton Greyson dengan lebih dekat.
Sesungguhnya ia bukan ingin menonton konser Greyson. Tetapi
ia ingin bertemu Greyson.
xxx
“Alexa, doakan aku ya,” ujar Greyson di belakang panggung
sembari memeluk Alexa yang dengan setia menemaninya.
“Aku pasti mendoakanmu,” sahut Alexa sambil tersenyum, “Kau
tidak menelepon Mom?”
“Aku baru saja meneleponnya. Mom terdengar sangat
bersemangat dan ia berjanji akan mendoakanku bersama Dad,” lalu Greyson
menambahkan sesuatu dengan berbisik, “Ia juga berkata bahwa Tanner sudah punya
pacar,”
Lalu mereka tertawa bersama.
“Greyson, ini sudah waktumu untuk naik ke atas panggung,”
ujar salah satu kru acara tersebut.
Greyson mengangguk dan sekali lagi meminta dukungan dari
kakaknya yang segera membalas dengan acungan jempol.
Perlahan Greyson menaiki panggung dan cahaya yang sangat
terang menyambutnya. Ia mendengar suara riuh penonton yang mayoritas adalah
wanita. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah penonton yang sangat ribut.
Dan yang pertama kali dilihatnya setelah ia duduk di bangku
pianonya adalah, sebuah poster besar dengan warna mencolok yang bertuliskan
‘GREYSON!! IT’S ME ALICE CARTEL!’ yang membuatnya menahan senyum.
xxx
Konser berjalan lancar, ia telah menyanyikan lima buah lagu
yang di antaranya adalah ‘Rocking Around The Christmas Tree’ dan ‘Santa Claus
is Coming To Town’, hingga akhirnya Greyson menyanyikan lagu terakhirnya yang
berjudul ‘Running Away’
“Okay, guys. This is my last song,” terdengar suara penonton
yang kecewa. Namun ada beberapa yang berteriak histeris, “I dedicate this song
for my girl that has broken my heart,”
Alice pun langsung terhenyak mendengar perkataan Greyson.
Penyesalan begitu tergambar dari wajahnya. Penyesalan yang begitu dalam. Hampir
saja ia menangis jika ia tidak ingat ini adalah tempat umum.
“But it doesn’t matter. Even if she’s broken my heart for
hundred times―” ia hentikan sejenak kata-katanya dan membuat penonton riuh
berteriak. Ia melirik ke arah Alice, yang terlihat hampir menangis, dan
tersenyum tipis, lalu melanjutkan, “I would still love her,”
Alice mendongak dan menatap Greyson yang saat ini tengah
menatapnya sembari memainkan pianonya. Mau tak mau Alice membalas senyuman
Greyson yang begitu mempesona.
“Wish I could forget
you, but I just can’t,”
Tepuk tangan yang riuh dari penonton menutup penampilan
Greyson malam itu. Greyson berjalan ke bibir panggung dan membungkuk dalam
sambil berkata, “Merry Christmas, everyone!”
Dan lampu panggung pun dimatikan. Sedikit demi sedikit
penonton meninggalkan tempat duduknya masih dengan suara ribut. Namun Alice
masih saja duduk di bangkunya sambil sesekali tersenyum senang.
“I would still love
her,” kata-kata itu terus terngiang di dalam benaknya. Apakah ia boleh
sedikit berharap? Apakah kata-kata itu untuknya?
xxx
“Congratulation, Grey! You’re rock!” jerit Alexa senang.
“Itu semua karena dukunganmu, Lex!” sahut Greyson sambil
memeluk Alexa dengan sayang.
Lalu beberapa wartawan datang untuk mewawancarai Greyson.
Greyson pun meninggalkan kakaknya sebentar untuk menanggapi para wartawan yang
pasti akan menggila jika tidak ditanggapi. Setelah diwawancarai dan difoto
sana-sini, Greyson kembali ke kakaknya, dan berpamitan pulang. Tak lupa ia
berterimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat.
Greyson memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki karena
apartemennya sangat dekat dengan Central Park. Tanpa diduga, ia melihat sesosok
gadis yang amat sangat ia kenal sedang berjalan perlahan-lahan sambil mendekap
tubuhnya sendiri.
Tanpa basa-basi, Greyson segera menyusul gadis itu. Dan saat
ia sudah sampai di sebelah gadis itu, ia berdeham pelan. Gadis yang tak lain
adalah Alice itu pun mendongak menatap Greyson yang sedang tersenyum lembut
padanya.
Alice pun menghentikan langkahnya dan membuat Greyson
otomatis berhenti juga. Alice terisak pelan karena akhirnya bertemu dengan
orang yang sangat ingin ia jumpai. Ia lalu memeluk Greyson erat.
Greyson tak hanya menatap Alice, namun ia juga membalas
pelukan Alice dan mendekapnya hangat. Greyson mengecup puncak kepala Alice.
Lalu Greyson melepaskan dekapannya, mengangkat dagu Alice dengan tangannya, dan
menatap mata Alice dalam-dalam.
“Alice,” panggil Greyson lembut, “Lihat aku,”
Alice pun menatap mata coklat Greyson yang sangat indah.
Alice merasakan getaran di hatinya saat melihat mata Greyson yang lembut. “Aku
sudah melihatmu,” sahut Alice.
“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Greyson masih dengan
suara lembutnya.
Alice hanya mengangguk sembari tersenyum.
“Aku mencintaimu,”
To be continued…
"i would still love her"
ReplyDeleteaaww :3 how sweet <3
wkwkwkwk xD
Delete