Pandangan dingin itu seakan-akan menusuk relung hati Alice. Ketakutan
menjalari tubuhnya. Ia begitu takut Greyson membencinya, ia tak ingin Greyson
menjauhinya. Ia ingin selalu bersama Greyson. Itu semua karena satu hal. Karena
ia mencintai Greyson. Sangat mencintainya.
Greyson menatap ekspresi ketakutan di wajah Alice. Namun
pandangannya tak kunjung lepas dari mata gadis itu. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya
ke wajah Alice. Matanya terpejam dan ia mulai mengecup bibir Alice dengan
lembut. Ia berharap ciuman itu dapat merebut Alice kembali padanya. Greyson
ingin Alice kembali menjadi miliknya. Dan bukan milik Zack.
Mata Alice terbelalak mendapat ciuman yang begitu tiba-tiba
di bibirnya. Ia berusaha melepaskan dirinya karena ia begitu terkejut. Namun
tangan Greyson menahan kepalanya. Ia pun pasrah dan mulai memejamkan mata untuk
‘menikmati’ ciuman yang diberikan Greyson.
Pelan-pelan Greyson menjauh dari Alice, berbalik arah, dan
berjalan ke dapur tanpa memandang Alice lagi. Tetapi tiba-tiba tangannya
ditahan oleh Alice sehingga langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang, masih
dengan pandangan dingin ia menatap Alice.
“Kau mau memaafkanku kan?” tanya Alice sambil menatap
Greyson penuh harap.
Greyson menghela nafas dan seketika itu juga pandangan
matanya berubah lembut. Senyuman tipis pun mulai terlihat di bibirnya. Lalu ia
menyahut, “Asalkan kau mau mengakhiri hubunganmu dengan Zack,”
Mendengar jawaban Greyson, Alice mendengus dengan kesal.
Lalu ia menimpali, “Kau juga harus memutuskan hubunganmu dengan Bella!”
Greyson terkesiap mendengar kata-kata Alice. Matanya membelalak,
ia berpikir sejenak dan mulai mengerti. Sesuai dugaannya, Alice menyaksikan
acara talkshow penuh sandiwara itu. Ia berkata sembari mendengus, “Itu semua
ulah Troy,”
“Troy?”
“Yeah, manajerku. Um, lebih tepatnya mantan manajerku,” sahut Greyson sembari mengangkat bahu.
“Ulah Troy?” tanya Alice lagi dengan heran.
“Itu adalah sandiwara yang dibuat Troy. Dan aku terpaksa
mengikutinya,” Greyson menghela nafas, “Akan kuceritakan nanti. Sebaiknya kau
membantuku membuat makan malam,”
Alice masih menatap Greyson heran, namun ia segera
mengangguk dan mengikuti Greyson ke dapur untuk membuat makan malam.
xxx
“Jadi intinya, Troy ingin kau menjalin hubungan dengan model
kacangan seperti dia?” tanya Alice geram di sela-sela acara makan mereka.
Greyson yang mendengar pertanyaan Alice pun hanya mengangguk
sembari mengangkat bahu.
“Keterlaluan,” desis Alice.
“Siapa?”
“Troy dan perempuan Westphalen itu,” sahut Alice masih
dengan nada kesal.
Greyson tertawa mendengar nada bicara Alice yang tak biasa.
Jarang sekali ia melihat Alice merutuk-rutuk sendiri seperti itu. Yang
ditetawakan pun melirik Greyson dengan kesal.
“You’re very funny! Um, yeah, kau mau tidur di mana malam ini?”
tanya Greyson akhirnya, mengembalikan Alice ke kenyataan.
Alice berpikir sejenak, menggaruk-garuk kepalanya, dan
menjawab sambil mengangkat bahu, “Um, yah, jika kau tidak keberatan,”
“Baiklah,” sahut Greyson sembari menghela nafas, dan
menjawab dengan nada menggoda, “Kau bisa tidur di bekas kamar Alexa. Tenang
saja, di sana tidak ada tikus,”
Sambil memutar bola mata, Alice menimpali, “Cukuplah
Greyson! Tikus yang di rumahku saat itu begitu besar! Kau harus melihatnya dan
kau akan ketakutan setengah mati,”
“Ohya? Wow!” sahut Greyson yang segera dilempar pandangan
kesal oleh Alice. Greyson pun tertawa terbahak-bahak. Ia tidak akan menyangka
ia akan bertemu dengan Alice saat ia ingin sendiri. Awalnya ia mengira ia akan
menjadi lebih buruk, namun ternyata ia salah. Ia sangat menikmati kehadiran
Alice di sampingnya. “Well, sudah pukul sepuluh. Kau tidak tidur?”
“Yeah, aku sudah mengantuk,” Alice menguap sebentar, “Di
mana kamar Alexa?”
“Di lantai atas,” jawab Greyson singkat.
Alice mengerjapkan kedua matanya dan berkata, “Um, kamarmu
di mana?”
“Itu,” jawab Alice sembari menunjuk ke depan dapur.
Dengan mata terbelalak, Alice menelan ludah dan bertanya, “Uh,
kau tahu aku… penakut kan?”
Greyson mengangguk pasti sembari menahan senyuman. “Yeah, I
know right. So?”
Yang ditanya hanya menatap balik sambil sesekali menelan
ludah. Alice menggeleng pelan dan menggaruk tengkuknya. Melihat tingkah Alice,
Greyson tertawa renyah. Ia sangat geli melihat ekspresi Alice yang satu ini.
“Jadi kamu mau tidur di kamarku?” tanya Greyson dengan nada
menggoda dan sebelah alis terangkat, “Bersamaku?”
“Ah, kau bercanda? Tentu tidak. Yah, aku pasti menyukai
kamar Alexa,” sahut Alice dengan nada ragu.
“Yeah, kau pasti suka kamar Alexa yang luas, gelap, dan
berdebu. Ditambah lagi suasana sepi di lantai atas,” timpal Greyson untuk
menambah ketakutan Alice.
Dan sesuai dugaan Greyson, mata Alice membelalak, dan detik
berikutnya Alice sudah menjerit tidak jelas. Greyson tertawa terpingkal-pingkal
mendengar jeritan Alice.
“Tenang Alice, aku tidak akan membiarkanmu tidur di atas.
Kau bisa tidur di kamarku,” Greyson berhenti sejenak, sedangkan Alice menatap
Greyson tidak percaya. Lalu Greyson melanjutkan, “Aku bisa tidur di sofa,”
“No,” sergah Alice.
“Mana mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa?”
“Tapi―”
“Sudahlah. Tidurlah,” ujar Greyson sambil tersenyum. Alice
pun berjalan dengan ragu ke kamar Greyson. Sesekali ia menoleh ke belakang
untuk melihat perubahan ekspresi Greyson. Namun yang didapatinya hanyalah
Greyson yang tengah meminum segelas air mineral.
xxx
Alice membolak-balik tubuhnya dengan gelisah. Ia tak bisa
tidur. Pikirannya terus membayangkan Greyson yang saat ini tengah tidur di sofa
ruang tamu. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke luar kamar.
Dilihatnya Greyson yang tengah tertidur pulas. Wajahnya
membayangkan mimpi. Alice tersenyum menatap ekspresi Greyson saat tidur. Begitu
lelap dan damai. Perlahan Alice mendekat ke arah Greyson. Ia duduk di depan
sofa tempat Greyson tidur. Awalnya ia berniat untuk membangunkan Greyson agar
bertukar tempat dengannya, namun tiba-tiba kantuk menyerang matanya yang mulai
berat. Ia pun tertidur. Pulas.
Pagi pun tiba. Matahari telah menjelang. Alice terbangun dan
mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak. Ia lupa ia ada di mana saat ini. Namun
perlahan-lahan ingatannya kembali ke otaknya. Ia ingat semalam ia tertidur di
depan sofa tempat Greyson tidur, namun kini ia terbangun di atas kasur yang
empuk dan ada selembar selimut yang menutupi dirinya. Alice bingung. Ia pun menatap
ke sebelahnya dan mendapati Greyson yang sedang tidur.
Alice terkejut melihat pemandangan di sebelahnya. Ia membuka
selimut dan meraba-raba tubuhnya. Jangan-jangan Greyson sudah melakukan sesuatu
padanya malam tadi. Namun ternyata pakaiaannya masih lengkap, begitu juga
pakaian Greyson. Ia pun menghela nafas lega.
“Selamat pagi, istriku!”
Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi Alice yang sedang
duduk di atas kasur. Ia terkejut dan menoleh ke arah ciuman itu. Pipi Alice
mulai memerah. Ia pun memukul pelan kepala Greyson dengan guling.
“Apa-apaan kau?”
Greyson tertawa pelan dan melanjutkan, “Ah, kita ini seperti
suami istri! Tidur di satu ranjang yang sama semalaman,”
“Hentikan ocehanmu itu, Mr. Chance,” ujar Alice yang pipinya
sudah merah total sembari beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
“Baiklah, Mrs. Chance,” seru Greyson sambil tertawa-tawa.
xxx
“Lihatlah, kita ini seperti suami istri!” kata Greyson saat
Alice tengah menyiapkan sarapan di dapur.
“Bisakah kau diam, Mr. Chance?” tanya Alice yang pipinya
sudah mulai merona.
“Aku akan diam jika kau mau menciumku,” sahut Greyson dengan
santainya.
Pipi Alice semakin memanas. Ia pun membalikkan badan dan
melemparkan sepotong timun tepat ke kepala Greyson. Lalu ia tertawa-tawa saat
melihat lemparannya tepat sasaran.
“Oke, hentikan itu, Mrs. Chance!” seru Greyson pura-pura
kesal dengan nada memerintah.
“Oh, untuk saat ini aku bernama Mrs. Curtin,” sahut Alice
sembari menjulurkan lidah. Ia pun melihat perubahan ekspresi wajah Greyson yang
semula ceria menjadi kesal, kemudian ia melanjutkan, “Tetapi aku hanya
mencintai Mr. Chance,”
Greyson tersenyum mendengar perkataan Alice, ia pun
menyahut, “Aku tahu kau tidak bisa lepas dari pesona seorang Greyson Chance,”
“Keep dreaming!”
Greyson kembali tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba saja ia
mendengar pintu pagar yang diketuk-ketuk dan diikuti suara bel. Greyson memutar
bola mata dan berkata pada Alice, “Tunggu, aku ingin ke luar sebentar,” ia pun
meninggalkan Alice dan berjalan ke arah pintu depan. “Tunggu!”
Greyson pun membukakan pintu dan melihat orang yang mengetuk
pagar.
“Hai Grey! Sudah kuduga kau ada di sini. Aku melihat
mobilmu,”
Perasaan kesal mulai menjalari tubuh Greyson ketika melihat
siapa yang ada di depannya. Bella Westphalen.
To be continued…