Rasanya aku ingin menghujat barisan mahasiswa itu, yang berseru-seru meminta keadilan kepada pemerintah, yang menggulingkan pemegang hegemoni mutlak demokrasi terpimpin. Bisa apa mereka? Apakah menggulingkan si pencipta paham Nasakom itu adalah prestasi besar bagi ego dan idealisme kosong yang mereka miliki? Apakah mereka dari awal sudah menahu bahwasanya pemegang rezim baru itu lebih-lebih lagi otoriternya; lebih-lebih sering lagi memperkosa hak rakyat?
Sukseslah mereka adanya, tatkala Presiden Sukarno terguling dari otoritasnya sebagai penghuni singgasana manis berlabel Istana Negara; pun kala Presiden Suharto naik menggantikan penghuni sebelum ia, dan duduk nyaman mengatur rakyatnya, yang memegang peran ganda sebagai pion-pion pribadinya.
Memang kondisi ekonomi Indonesia menanjak drastis hingga kami bisa mengecap rasa-rasa nikmat pengenyang perut tanpa perlu menipiskan dompet kami. Memang Indonesia sejahtera. Memang. Tetapi itu kalau dilihat dari luarnya saja–atau paling tidak sampai di balik kulit ari. Siapa yang pernah mengupas kulit yang lebih dalam lagi, dan melihat busuknya buah rezim yang mendominasi? Atau, mari kita sederhanakan, siapa yang berani?
Jawabannya ada dalam tuangan cerita ini, cerita yang sungguh kualami dan benar terjadi. Cerita yang tak sempat kureka-reka walau kondisi memaksa. Ialah kami, pers berjiwa militan, yang berani menerjang ketidakadilan dan menyobek tirai despotisme yang digantung para tirani. Namun, dalam kisah ini, sebuah ironi tertuang melalui pena duka yang kubeli dengan mengemis dari penguasa. Kekuatan militansi kami dibredel bersama awak media tempat kami berkaca, dibungkam hingga kami tak bisa bersuara.
Di suatu masa, saat itu 15 Februari 1984, aku berjalan menyusuri deretan toko di bilangan Jakarta Barat, dipayungi kanopi-kanopi yang masih meneteskan air sisa hujan semalam dan pagi tadi. Siang itu begitu sepi, hingga bisa dikatakan di sepanjang jalan itu, aku seorang diri. Tanganku menggenggam tali kamera analog yang menggantung di leher seraya mengamati apa yang terjadi di sekitarku, siap mengabadikan segala momen yang mungkin terjadi.
“Zhar, ngapain ke pecinan kalau ada yang lebih mudah diliput, semacam kegiatan Presiden di istana?”
Terngiang tanya yang disuarakan oleh salah satu dari kawanku di kantor tadi, ketika aku mempersiapkan diri untuk pergi meliput sesuatu. Aku mengerutkan keningku saat itu, bertanya dalam hati–tersirat jelas tanya itu lewat air mukaku yang tampak tak senang–apakah aku tak boleh mengikuti kehendakku untuk mencari isu dan mengangkatnya menjadi sebuah berita, tanpa adanya intervensi kepentingan politik dari para penggede negara maupun petinggi media?
Maka, tanpa banyak bicara, hanya kulayangkan senyumanku pada rekanku itu sebelum melangkah pergi atas kemauanku sendiri. Aku menutup telinga soal batas-batas normatif temporer yang dibangun secara semu oleh orang-orang yang selalu melindungi impresi diri, dengan membuat sebuah limitasi bagi mereka-mereka yang dianggap tidak berhak untuk mempunyai pengaruh atas negara ini. Pseudo demokrasi.
“Azhary, tunggu.”
Aku menoleh ke sumber dari suara yang memecah lamunanku, yaitu seorang gadis yang kini berlari kecil dan berusaha menyejajarkan langkahnya dengan milikku yang lebar-lebar. Spontan kedua tungkaiku memperlambat laju, bahkan berhenti berjalan, untuk secara refleks membiarkan gadis itu mendekat. Aku menatapnya heran. Gadis itu membawa kamera analog yang nyaris sama persis dengan punyaku. Tubuhnya basah oleh keringat. Keringat juga menitik-nitik di pelipisnya yang ditempeli helai-helai rambut yang lolos dari ikatannya. Namun, semua itu tidaklah penting, selain senyuman di wajahnya.
“Ya, Tan? Kamu kenapa ke sini?” ialah balasan atas sapanya, yang disertai dengan kedua alis yang terangkat. “Saya dengar kamu dikejar deadline menyelesaikan satu karikatur untuk berita besok pagi?”
Ia menggeleng, gadis itu. Intan, namanya. “Nggak perlu deadline untuk saya menyelesaikan gambar-gambar itu, Zhar. Saya sudah selesaikan semuanya,” jawab Intan sebelum ia tersenyum dan senyumnya berubah menjadi tawa renyah yang manis didengar.
“Ya sudah, ayo kita berangkat?”
Aku melongo. “Berangkat?” tanyaku, bagai orang dungu.
Intan mengangguk bersemangat lalu berkata, “Ya, berangkat! Liputan, Zhar. Saya mau ikut kamu, hari ini.” Setelahnya, ia menggedikkan bahu untuk kemudian melanjutkan,
“Saya selalu penasaran dengan framing beritamu yang selalu beda dari yang lain. Entahlah, tapi menurut saya, cara kamu memandang sesuatu untuk dijadikan berita itu sangat kritis dan tajam. Tetapi juga manis.”
Aku tersenyum namun tak banyak bicara, setelahnya, dan ialah yang kembali membuka cakap–mengusir hening yang sama sekali tak sunyi, “Besok Imlek, dan kamu sengaja datang ke pecinan ini untuk mencari sesuatu yang sekiranya pas dan sesuai dengan momen itu, ‘kan?” Aku melirik Intan, dan bila tak salah tangkap, terlihat secercah kekhawatiran di matanya, meski senyuman melengkung sempurna di parasnya.
“Begitulah.”
“Bukannya mau menggurui, tetapi ... kurasa framing-mu kali ini agak terlalu sensitif. Kamu tahu, ‘kan–” Ucapannya terhenti.
“Tahu apa?”
Ia tak melanjutkan dan tetap bungkam. Kali ini hening menjerat kami dengan berbalut sunyi yang sejati, tetapi tak lama-lama, sebab mataku menangkap sesosok pria berkemeja putih berjongkok di balik pohon tepat di seberang jalan tempat aku dan Intan berpijak. Mataku melebar ketika kulihat orang itu membawa senapan laras panjang pada kedua tangannya. Ia tampak membidik sesuatu yang berada jauh di ujung jalan; tak menyadari kehadiran kami.
Bukan sekadar presensinya yang sekonyong-konyong memecah hening yang membeku di antara aku dan Intan, melainkan sebuah dentuman yang membahana hanya sedetik usai aku menangkap gambar sosok itu dengan kamera analog-ku. Aku menahan napas tatkala berdiri di sebelah Intan, di balik pilar besar yang menutupi hadir kami dari pandangan si pemegang senapan. Intan membeku hingga bibirnya memucat. Sekujur tubuhku terasa kaku hingga dapat merosot jatuh sewaktu-waktu.
“Petrus.” Akhirnya Intan bersuara dalam bisiknya yang lirih. Napasnya terdengar berat. Ia terang saja merasa ketakutan. Aku pun.
Kepalaku terangguk mengiyakan, sebab manusia berkemeja putih itu sudah lenyap dari tempatnya semula tak sampai menunggu menit-menit untuk berlalu. Aku tahu ia telah pergi dan tak akan mengancam nyawa kami, tetapi rasa ngeri itu masih menyisa. Bagaimana tidak? Kami baru saja melihat secara langsung operasi rahasia milik penguasa negeri, yang kabarnya dialamatkan bagi usaha reduksi kejahatan di Indonesia, khususnya Jakarta.
Tanpa menunggu Intan, aku kembali melangkah, setengah berlari, menuju arah tembakan pria tadi. Sebuah pemikiran gila mulai membentuk entitasnya dalam benak. Hanya satu perasaan yang kini menggerogoti hatiku, ialah amarah yang menggebu. Mengambil gambar seorang penembak misterius adalah sesuatu yang sejatinya berada di luar kompetensiku sebagai seorang pers, yang hidup di zamannya tirani-tirani bertangan besi. Namun aku tak akan membiarkan gambarku menjadi potret kosong yang tak bermakna. Bila pers tak punya kuasa menghakimi, biar sesuatu yang kuberitakan menyerukan keadilan yang sejati.
“Zhar, sebaiknya kita pulang sekarang,” ujar Intan yang kini berjalan menyusulku dengan langkah kaki cepat, berusaha menyeimbangkan lebar-lebar langkahku. Tampaknya ia mulai membaca maksud dari arah pergiku. Aku tak menyahut dan terus bungkam sembari tetap melangkah. Hal itulah yang membuat Intan pada akhirnya memanggilku kembali dalam jeritan bernada frustrasi, “Azhary! Dengerin saya!”
Aku menulikan diriku atas seruan-seruan bernada probabilitas terburuk, dan terus saja berjalan mencari siapa yang kali ini menjadi korban modus operandi, yang baru saja kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Tak butuh waktu terlalu lama bagiku untuk mendahului Intan dan tiba di lokasi tempat korban Petrus berbaring dengan bercak darah menghiasi kaus berwarna krim kusam milik orang itu. Segera kutangkap potret figur mati di hadapanku dengan kamera, seraya menggertakkan gigi dengan sentimen getir yang pekat.
Aku mengenal pria gendut dengan luka tembak dalam di dada tempat jantungnya berada. Ia adalah pencopet kelas kakap yang kadang-kadang bosan mencopet, lalu memilih merampok. Ia terkenal di daerah pecinan ini, bahkan sampai ke luar-luar, hingga aku yang tak berasal dari sini pun mengenalnya. Tak ada yang berani padanya Penjahat memang harus diadili. Merekalah yang di antara masyarakat telah menimbulkan resah. Namun, bukan begini caranya. Mereka pantas menjalani proses peradilan yang lebih layak. Mereka pantas untuk mati sebagai manusia, bukan hewan buruan pemegang kuasa, tak peduli sebagaimana buruk mereka.
“Intan, bisa tolong tunggu di sini? Saya mau cari karung atau apapun untuk menutupi tubuh orang ini,” kataku sambil menoleh ke arah suara langkah kaki Intan, yang masih berlari-lari kecil untuk mendekat padaku, ketika ia sudah dekat. Keningku berkerut samar saat kulihat Intan yang tak bergeming. Ia memandangku dengan caranya yang tak biasa: tidak ada kelembutan dan sesuatu yang kurindukan di balik tatapnya. Apa artinya? Marah? Benci? Atau ... jijik?
Aku tak mau ambil pusing. Kuanggap saja tidak ada yang dipikirkan gadis itu, ketika aku beranjak dari tempatku berpijak, lalu pergi menuju gang sempit di antara deretan toko di seberang jalan.
Cukup lama aku mencari. Tempat yang kudatangi agak rapi dan kosong sementara, ditinggal pemiliknya yang mau merayakan hari besar esok pagi. Sunyi sekali, bahkan hingga aku berhasil menemukan dua lembar karung goni dan berjalan ke tempat tadi. Tak dapat kutemukan Intan di manapun di sana. Kepalaku terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Ah. Mungkin ia sedang pergi ke kamar mandi.
Aku pun berjongkok di sebelah tubuh tak bernyawa yang kini tergeletak di tanah. Kututupi tubuh itu dengan karung yang baginya kucarikan. Miris, sungguh. Hatiku bagai tertohok bilah-bilah pedang, tatkala tak sengaja kusentuh kulit dinginnya. Inikah negeri yang semestinya kucintai? Yang diwarnai intrik politik hingga mengorbankan sisi manusiawi para petingginya? Muak. Aku muak betulan. Segera aku bangkit untuk berdiri, hendak cepat menyingkir dan menuliskan beritaku yang akan kujadikan senjata balasan bagi sang tirani di singgasana sana. Belum sempat kedua tungkaiku berdiri tegak, hantaman keras mendarat di tengkukku, hingga aku terjerembab dan jatuh tengkurap di atas tubuh gendut penjahat yang mati. Wajahku mencium tanah.
Perih. Nyeri. Kepalaku berputar.
Apa ini?
Pandanganku mengabur.
Apa ini?
Aku dipaksa berdiri. Kerahku ditarik hingga aku tersentak. Mataku berusaha melihat apa yang terjadi, tetapi nihil. Yang kulihat hanyalah dunia di sekelilingku berputar, sebelum hantaman lain mendarat bertubi di perutku. Di punggungku. Di wajahku. Aku kembali terjerembab.
Samar-samar dapat kulihat, kini, kondisi yang terjadi. Ada tujuh manusia di sekitarku. Enam di antaranya sepertinya pria, ditilik dari postur besar mereka. Mereka bawa senjata. Lalu ada satu lagi. Aku tak perlu lama-lama menelaah, tak perlu lama-lama meneliti. Sosok satunya adalah Intan, gadis yang pribadinya pernah kukagumi, yang tatapannya pernah kusuka, yang tawanya pernah kupuja.
“Biadab betul jurnalis sialan ini.”
“Ancaman negara.”
“Tangkap.”
“Adili.”
Suara pria-pria itu berkumandang di kepalaku yang masih berpusing. Lalu suara sesosok gadis mengikuti, “Padahal sudah sering kuawasi.”
Sebelum ragaku kembali terjerembab dan sadarku direnggut oleh hantaman lainnya, timbul tanya dalam benak, apa kami, para pers militan, akan pernah punya hak bersuara yang tanpa intervensi, yang tidak dihitung sebuah subversi, yang tanpa dikihanati?
Rasanya aku ingin menghujat barisan mahasiswa itu, yang dulu berseru-seru meminta keadilan kepada pemerintah dan menggulingkan pemegang hegemoni mutlak demokrasi terpimpin. Apakah mereka dari awal sudah menahu bahwasanya pemegang rezim baru ini lebih-lebih lagi otoriternya; lebih-lebih sering lagi memperkosa hak rakyat? Hak pers?
Lalu soal tanya siapa yang berani mengupas busuknya buah rezim yang mendominasi, aku masih bertetap hati untuk menjawab “aku”, pers militan yang siap menerjang ideologi demokrasi yang pseudo, bahkan bila harus mati berkalang tanah.
Ini demi keadilan.
Selesai.
Malang, 28 Maret 2017.
Untuk M. Azhary Arramadhani.
»» READ MORE