Thursday, 20 December 2012

FanFiction – “Running Away” 14


Pandangan dingin itu seakan-akan menusuk relung hati Alice. Ketakutan menjalari tubuhnya. Ia begitu takut Greyson membencinya, ia tak ingin Greyson menjauhinya. Ia ingin selalu bersama Greyson. Itu semua karena satu hal. Karena ia mencintai Greyson. Sangat mencintainya.
Greyson menatap ekspresi ketakutan di wajah Alice. Namun pandangannya tak kunjung lepas dari mata gadis itu. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Alice. Matanya terpejam dan ia mulai mengecup bibir Alice dengan lembut. Ia berharap ciuman itu dapat merebut Alice kembali padanya. Greyson ingin Alice kembali menjadi miliknya. Dan bukan milik Zack.
Mata Alice terbelalak mendapat ciuman yang begitu tiba-tiba di bibirnya. Ia berusaha melepaskan dirinya karena ia begitu terkejut. Namun tangan Greyson menahan kepalanya. Ia pun pasrah dan mulai memejamkan mata untuk ‘menikmati’ ciuman yang diberikan Greyson.
Pelan-pelan Greyson menjauh dari Alice, berbalik arah, dan berjalan ke dapur tanpa memandang Alice lagi. Tetapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Alice sehingga langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang, masih dengan pandangan dingin ia menatap Alice.
“Kau mau memaafkanku kan?” tanya Alice sambil menatap Greyson penuh harap.
Greyson menghela nafas dan seketika itu juga pandangan matanya berubah lembut. Senyuman tipis pun mulai terlihat di bibirnya. Lalu ia menyahut, “Asalkan kau mau mengakhiri hubunganmu dengan Zack,”
Mendengar jawaban Greyson, Alice mendengus dengan kesal. Lalu ia menimpali, “Kau juga harus memutuskan hubunganmu dengan Bella!”
Greyson terkesiap mendengar kata-kata Alice. Matanya membelalak, ia berpikir sejenak dan mulai mengerti. Sesuai dugaannya, Alice menyaksikan acara talkshow penuh sandiwara itu. Ia berkata sembari mendengus, “Itu semua ulah Troy,”
“Troy?”
“Yeah, manajerku. Um, lebih tepatnya mantan manajerku,” sahut Greyson sembari mengangkat bahu.
“Ulah Troy?” tanya Alice lagi dengan heran.
“Itu adalah sandiwara yang dibuat Troy. Dan aku terpaksa mengikutinya,” Greyson menghela nafas, “Akan kuceritakan nanti. Sebaiknya kau membantuku membuat makan malam,”
Alice masih menatap Greyson heran, namun ia segera mengangguk dan mengikuti Greyson ke dapur untuk membuat makan malam.

xxx

“Jadi intinya, Troy ingin kau menjalin hubungan dengan model kacangan seperti dia?” tanya Alice geram di sela-sela acara makan mereka.
Greyson yang mendengar pertanyaan Alice pun hanya mengangguk sembari mengangkat bahu.
“Keterlaluan,” desis Alice.
“Siapa?”
“Troy dan perempuan Westphalen itu,” sahut Alice masih dengan nada kesal.
Greyson tertawa mendengar nada bicara Alice yang tak biasa. Jarang sekali ia melihat Alice merutuk-rutuk sendiri seperti itu. Yang ditetawakan pun melirik Greyson dengan kesal.
“You’re very funny! Um, yeah, kau mau tidur di mana malam ini?” tanya Greyson akhirnya, mengembalikan Alice ke kenyataan.
Alice berpikir sejenak, menggaruk-garuk kepalanya, dan menjawab sambil mengangkat bahu, “Um, yah, jika kau tidak keberatan,”
“Baiklah,” sahut Greyson sembari menghela nafas, dan menjawab dengan nada menggoda, “Kau bisa tidur di bekas kamar Alexa. Tenang saja, di sana tidak ada tikus,”
Sambil memutar bola mata, Alice menimpali, “Cukuplah Greyson! Tikus yang di rumahku saat itu begitu besar! Kau harus melihatnya dan kau akan ketakutan setengah mati,”
“Ohya? Wow!” sahut Greyson yang segera dilempar pandangan kesal oleh Alice. Greyson pun tertawa terbahak-bahak. Ia tidak akan menyangka ia akan bertemu dengan Alice saat ia ingin sendiri. Awalnya ia mengira ia akan menjadi lebih buruk, namun ternyata ia salah. Ia sangat menikmati kehadiran Alice di sampingnya. “Well, sudah pukul sepuluh. Kau tidak tidur?”
“Yeah, aku sudah mengantuk,” Alice menguap sebentar, “Di mana kamar Alexa?”
“Di lantai atas,” jawab Greyson singkat.
Alice mengerjapkan kedua matanya dan berkata, “Um, kamarmu di mana?”
“Itu,” jawab Alice sembari menunjuk ke depan dapur.
Dengan mata terbelalak, Alice menelan ludah dan bertanya, “Uh, kau tahu aku… penakut kan?”
Greyson mengangguk pasti sembari menahan senyuman. “Yeah, I know right. So?”
Yang ditanya hanya menatap balik sambil sesekali menelan ludah. Alice menggeleng pelan dan menggaruk tengkuknya. Melihat tingkah Alice, Greyson tertawa renyah. Ia sangat geli melihat ekspresi Alice yang satu ini.
“Jadi kamu mau tidur di kamarku?” tanya Greyson dengan nada menggoda dan sebelah alis terangkat, “Bersamaku?”
“Ah, kau bercanda? Tentu tidak. Yah, aku pasti menyukai kamar Alexa,” sahut Alice dengan nada ragu.
“Yeah, kau pasti suka kamar Alexa yang luas, gelap, dan berdebu. Ditambah lagi suasana sepi di lantai atas,” timpal Greyson untuk menambah ketakutan Alice.
Dan sesuai dugaan Greyson, mata Alice membelalak, dan detik berikutnya Alice sudah menjerit tidak jelas. Greyson tertawa terpingkal-pingkal mendengar jeritan Alice.
“Tenang Alice, aku tidak akan membiarkanmu tidur di atas. Kau bisa tidur di kamarku,” Greyson berhenti sejenak, sedangkan Alice menatap Greyson tidak percaya. Lalu Greyson melanjutkan, “Aku bisa tidur di sofa,”
“No,” sergah Alice.
“Mana mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa?”
“Tapi―”
“Sudahlah. Tidurlah,” ujar Greyson sambil tersenyum. Alice pun berjalan dengan ragu ke kamar Greyson. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat perubahan ekspresi Greyson. Namun yang didapatinya hanyalah Greyson yang tengah meminum segelas air mineral.

xxx

Alice membolak-balik tubuhnya dengan gelisah. Ia tak bisa tidur. Pikirannya terus membayangkan Greyson yang saat ini tengah tidur di sofa ruang tamu. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke luar kamar.
Dilihatnya Greyson yang tengah tertidur pulas. Wajahnya membayangkan mimpi. Alice tersenyum menatap ekspresi Greyson saat tidur. Begitu lelap dan damai. Perlahan Alice mendekat ke arah Greyson. Ia duduk di depan sofa tempat Greyson tidur. Awalnya ia berniat untuk membangunkan Greyson agar bertukar tempat dengannya, namun tiba-tiba kantuk menyerang matanya yang mulai berat. Ia pun tertidur. Pulas.
Pagi pun tiba. Matahari telah menjelang. Alice terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak. Ia lupa ia ada di mana saat ini. Namun perlahan-lahan ingatannya kembali ke otaknya. Ia ingat semalam ia tertidur di depan sofa tempat Greyson tidur, namun kini ia terbangun di atas kasur yang empuk dan ada selembar selimut yang menutupi dirinya. Alice bingung. Ia pun menatap ke sebelahnya dan mendapati Greyson yang sedang tidur.
Alice terkejut melihat pemandangan di sebelahnya. Ia membuka selimut dan meraba-raba tubuhnya. Jangan-jangan Greyson sudah melakukan sesuatu padanya malam tadi. Namun ternyata pakaiaannya masih lengkap, begitu juga pakaian Greyson. Ia pun menghela nafas lega.
“Selamat pagi, istriku!”
Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi Alice yang sedang duduk di atas kasur. Ia terkejut dan menoleh ke arah ciuman itu. Pipi Alice mulai memerah. Ia pun memukul pelan kepala Greyson dengan guling.
“Apa-apaan kau?”
Greyson tertawa pelan dan melanjutkan, “Ah, kita ini seperti suami istri! Tidur di satu ranjang yang sama semalaman,”
“Hentikan ocehanmu itu, Mr. Chance,” ujar Alice yang pipinya sudah merah total sembari beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
“Baiklah, Mrs. Chance,” seru Greyson sambil tertawa-tawa.

xxx

“Lihatlah, kita ini seperti suami istri!” kata Greyson saat Alice tengah menyiapkan sarapan di dapur.
“Bisakah kau diam, Mr. Chance?” tanya Alice yang pipinya sudah mulai merona.
“Aku akan diam jika kau mau menciumku,” sahut Greyson dengan santainya.
Pipi Alice semakin memanas. Ia pun membalikkan badan dan melemparkan sepotong timun tepat ke kepala Greyson. Lalu ia tertawa-tawa saat melihat lemparannya tepat sasaran.
“Oke, hentikan itu, Mrs. Chance!” seru Greyson pura-pura kesal dengan nada memerintah.
“Oh, untuk saat ini aku bernama Mrs. Curtin,” sahut Alice sembari menjulurkan lidah. Ia pun melihat perubahan ekspresi wajah Greyson yang semula ceria menjadi kesal, kemudian ia melanjutkan, “Tetapi aku hanya mencintai Mr. Chance,”
Greyson tersenyum mendengar perkataan Alice, ia pun menyahut, “Aku tahu kau tidak bisa lepas dari pesona seorang Greyson Chance,”
“Keep dreaming!”
Greyson kembali tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba saja ia mendengar pintu pagar yang diketuk-ketuk dan diikuti suara bel. Greyson memutar bola mata dan berkata pada Alice, “Tunggu, aku ingin ke luar sebentar,” ia pun meninggalkan Alice dan berjalan ke arah pintu depan. “Tunggu!”
Greyson pun membukakan pintu dan melihat orang yang mengetuk pagar.
“Hai Grey! Sudah kuduga kau ada di sini. Aku melihat mobilmu,”
Perasaan kesal mulai menjalari tubuh Greyson ketika melihat siapa yang ada di depannya. Bella Westphalen.

To be continued…
»»  READ MORE

FanFiction – “Running Away” 13


Alice terdiam di dalam mobil Greyson. Begitu pula laki-laki di sebelahnya. Keheningan yang mencekam memenuhi udara di dalam mobil. Mereka berdua menyadari keberadaan masing-masing, namun justru itulah yang membuat mereka tak mampu berbuat apa pun.
Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah mereka di perumahan tempat mereka tinggal. Alice bisa sedikit bernafas lega karena dalam hitungan menit ia akan sampai di rumahnya, dan turun dari mobil ini sehingga ia tak terpaksa harus berbicara dengan Greyson.
Alice dapat melihat rumahnya di depan. Ia sudah bersiap bernafas lega. Tidak. Rumah itu telah mereka lalui dan sekarang rumah itu sudah di belakang mereka. Alice memandang Greyson dengan heran. Namun dengan pandangan acuh tak acuh, Greyson tetap memfokuskan pandangannya ke arah jalanan di depannya.
Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Greyson mengendarai mobil itu hingga mereka semakin jauh dari perumahan itu.
“Grey, rumahku―”
“Shut up,” sambar Greyson singkat.
Dengan kesal Alice mendengus. Ia ingin protes tetapi ia juga ingin berusaha sekuat tenaga untuk menghindari pembicaraan dengan Greyson, sehingga Alice hanya duduk dengan bibir mengerucut. Pikiran negatif tentang Greyson pun mulai muncul. Bagaimana jika Greyson ingin menculiknya? Bagaimana jika Greyson ternyata ingin menjualnya? Bagaimana jika…
Pikiran buruk terhadap Greyson pun lenyap seketika ketika mereka sampai di sebuah tempat yang sangat indah.

xxx

Setelah melepas sabuk pengaman, Greyson segera membuka pintu dan keluar dari mobil. Ia menghirup udara segar di sana dalam-dalam. Mendengarkan alunan suara air―yang tak kunjung membeku― yang menderu di depannya. Perlahan bibir Greyson tersenyum. Berbagai kenangan indah yang sudah lampau menari-nari dalam benaknya, menghasilkan kehangatan yang mulai menjalari tubuhnya.
Melihat Greyson turun, Alice pun ikut turun dari mobil dan menempatkan dirinya di sebelah Greyson. Ia melemparkan pandangan terpesona pada tempat ini. Tempat yang semakin indah.
“Kau masih mengingat tempat ini?” tanya Greyson akhirnya, setelah hampir satu jam mereka saling berdiam diri.
“Tentu,” jawab Alice singkat. Ia merasakan kerinduan yang begitu besar membuncah dalam hatinya sesaat setelah mendengar suara Greyson. Namun otaknya terus menerus berusaha membuang rasa itu. Otaknya mengatakan ia sudah memiliki Zack. Lain dengan otaknya, hatinya mengatakan yang sebaliknya.
Perlahan Greyson menyelipkan tangannya di telapak tangan Alice, dan menempatkan jari-jemarinya di sela-sela jari Alice. Ia menggenggam tangan Alice erat dan menuntun gadis itu mendekat ke air terjun.
Alice sedikit terkesiap merasakan jemari Greyson yang sudah terselip di antara jari-jarinya. Sesaat otaknya mengatakan ia harus melepaskan genggaman Greyson. Tetapi hatinya berkata ia harus membalas genggaman itu. Dan Alice mendengarkan kata hatinya.
Dengan langkah ringan, dua orang itu berjalan ke aliran air terjun Wichita Falls, tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama hingga larut malam, sehingga kedua orang tua mereka marah. Tempat mereka membagi kisah sepulang sekolah. Tempat mereka bertatapan, tertawa, tersenyum, dan bergandengan tangan bersama. Dan akhirnya menjadi tempat mereka menyalurkan rasa cinta kepada satu sama lain.
Sudah dua jam mereka menghabiskan waktu di air terjun itu dalam keheningan. Mata mereka yang berbicara. Mata mereka mengungkapkan isi hati mereka yang saling merindukan. Dan mata mereka juga yang mengungkapkan rasa bersalah pada satu sama lain.
“Ayo kita pulang. Di sini dingin. Aku tak ingin kau sakit,” kata Greyson dengan nada datar.
Alice merasakan kehangatan itu lagi ketika mendengar ungkapan perhatian Greyson padanya. Tanpa ragu ia mengangguk dan mereka mulai memasuki mobil, lagi-lagi dalam diam. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, sampailah mereka di depan rumah Alice yang notabene bersebelahan dengan rumah Greyson.
“Kalau kau butuh sesuatu, aku ada di sebelah rumahmu,” kata Greyson sesaat setelah ia membantu Alice menurunkan barang bawaannya. “Selamat sore!”
Greyson hendak masuk ke dalam mobil untuk memarkirkan mobilnya di dalam rumahnya. Namun sebelum ia sempat masuk, ia menoleh sejenak ke arah Alice. Ia melihat beberapa bulir air mata jatuh dari mata Alice. Spontan Greyson segera berjalan mendekati Alice dan bertanya khawatir, “Ada apa?”
“Maafkan aku, Grey! Maafkan aku! Aku mencintaimu, tapi… tapi…” kata Alice dengan terisak-isak sambil menghambur ke pelukan Greyson.
Dengan heran Greyson membalas pelukan Alice dan memandang gadis di depannya. Ia tak mengerti mengapa Alice tiba-tiba menangis. Pelan-pelan ia memberanikan diri untuk membelai rambut coklat Alice yang lembut dan mengecup puncak kepala Alice.
“Aku sudah mengkhianatimu, Grey!” jerit Alice kesal. Kesal pada dirinya sendiri.
Greyson masih tidak mengerti. Ia pun bertanya dengan nada heran, “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,”
Alice terdiam sejenak, menimbang-nimbang yang akan dikatakannya. Namun sudah kepalang basah, ia harus melanjutkan kata-katanya, “Sudah dua bulan aku menjadi kekasih Zack,”
Sesaat setelah mendengar perkataan Alice, segala perasaan yang memenuhi hatinya mulai lenyap terbawa angin sore. Ia merasakan kekosongan di dalam hatinya. Sambil memandang Alice dengan tatapan nanar dan tersenyum pedih, Greyson berkata, “Selamat sore,” dan mulai masuk ke mobilnya.

xxx

Ia kembali menyesap coklat hangat di tangannya, pandangannya menerawang ke arah jendela, menatap butiran-butiran kecil salju dengan perasaan hampa. Ia tak tahu harus berbuat apa. Hatinya kosong sekarang. Pikirannya telah terkuras habis.
Sudah dua bulan aku menjadi kekasih Zack,”
Lagi-lagi suara gadis itu terngiang-ngiang di dalam otaknya. Mimpi buruknya menjadi kenyataan, Alice telah melupakannya dan berpaling pada Zack. Namun ini semua salahnya. Dengan bodohnya ia mengikuti permainan sandiwara yang dibuat oleh Troy, mantan manajernya. Seharusnya ia mengikuti kata hatinya dan lebih memilih Alice ketimbang kariernya.
Rasa lapar menyerangnya, ia pun beranjak dari tempat duduknya di dekat jendela dan mulai melangkah dengan kaki yang mulai kaku ke arah dapur dan berniat untuk membuat spaghetti. Ketika ia sedang memotong tomat untuk bahan sausnya, pikirannya melayang memikirkan mimpi buruknya sehingga jari tangan kirinya teriris pisau.

xxx

Alice tengah duduk di kasurnya sambil membersihkan kuku jari tangannya. Ia merasakan hampa yang luar biasa. Perasaan bersalah kembali menyerang dirinya dan membuatnya gelisah. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Meminta maaf pada Greyson sudah percuma. Greyson tak akan pernah memaafkannya.

Tiba-tiba terdengar suara aneh dari arah dapur. Alice tersentak dan dengan was-was ia menajamkan pendengarannya. Suara itu terdengar seperti gemerisik pepohonan. Perlahan namun pasti ia beranjak dari tempat tidurnya dan mulai berjalan dengan mengendap-endap ke dapurnya. Dan ketika ia sampai di dapurnya, ia menatap sosok itu, membuatnya spontan menjerit histeris.

xxx

Greyson tersentak mendengar jeritan dari rumah sebelahnya. Alice. Ia pun kembali berusaha membalut lukanya dengan plester. Ketika ia hampir berhasil membalut lukanya, terdengarlah ketukan di pagarnya. Ketukan yang sangat keras dan terburu-buru. Greyson pun memutar bola matanya dan sedikit mendengus.
Setelah selesai membalut luka di jarinya, ia bergegas ke luar rumah untuk melihat siapa yang mengetuk pagar dengan keras itu pada malam hari.
“Tunggu!” seru Greyson saat akan membuka pintu rumah yang terkunci. Sesaat setelah membuka pintu rumahnya, Greyson mendongak dan melihat gadis, yang sangat tidak ingin dijumpainya, mengetuk pagar dengan terburu-buru dan dengan wajah panik penuh keringat.
Dengan malas Greyson membukakan pintu pagar dan gadis itu segera menghambur ke dalam pelukannya. Greyson tidak menanggapi pelukannya.
“Aku takut, Grey! Di sana… di sana ada… ada tikus!” ujar Alice tergagap di dalam pelukannya.
Mau tak mau Greyson geli juga mendengar pernyataan Alice. Namun masih dengan tatapan dinginnya, tanpa berkata-kata Greyson melepaskan pelukan Alice dan menutup pintu pagar. Setelahnya, ia menganggukkan kepala ke arah pintu untuk mempersilakan Alice masuk.
Di dalam rumah, keheningan masih terasa di antara dua orang itu. Greyson yang awalnya ingin membuat makan malam pun lupa akan rencananya. Ia bingung harus berbuat apa. Akhirnya ia menghempaskan diri di atas sofa di ruang tamunya sembari mengisyaratkan pada Alice agar cepat duduk.
“Wah, rumahmu tetap bersih ya! Padahal sudah ditinggal tiga tahun,” ujar Alice kagum saat sedang melihat-lihat ke sekeliling ruangan itu.
“Ya,” jawab Greyson singkat sembari mengangguk samar.
Alice melirik sejenak ke arah Greyson. Ia tidak menyangka laki-laki itu akan memberikan tanggapan yang sangat singkat padanya. Alice pun menghela nafas dan melanjutkan, “Pasti, um, di sini tidak ada tikus,”
Greyson tersenyum tipis tanpa diketahui Alice. Sebesar apa pun kekecewaannya pada gadis itu, Greyson tak sanggup bersikap dingin padanya. Namun ia segera memperbaiki ekspresi wajahnya dan mengangguk samar sambil menjawab, “Tentu,”
Tiba-tiba Greyson beranjak dari tempat duduknya membuat Alice heran. “Mau ke mana?”
Tanpa banyak bicara, Greyson menunjuk ke arah dapur dan melangkahkan kakinya ke sana. Alice pun mengikutinya dari belakang, dan langkah gadis itu terhenti karena tiba-tiba Greyson berbalik badan dan menatapnya dingin.
Alice merasa tubuhnya mengecil saat itu. Ia begitu takut melihat pandangan Greyson. Jarang sekali laki-laki itu melemparkan pandangan dingin pada orang. Ia hanya melakukannya jika ia membenci orang yang bersangkutan. Alice pun tersadar. Greyson membencinya. Sangat membencinya.

To be continued
»»  READ MORE

Wednesday, 19 December 2012

FanFiction – “Running Away” 12


Sudah kurang lebih dua bulan Alice dan Zack menjalani hubungan mereka. Zack semakin hari semakin menyayangi Alice, sedangkan Alice belum bisa mencintai Zack. Sesungguhnya Zack tahu Alice sama sekali tidak mencintainya sebagai seorang kekasih, tetapi ia tidak peduli, ia ingin menjadi egois sekali saja. Ia ingin memiliki Alice walau hanya sebentar.
Alice merasa ia tidak bisa lagi melanjutkan hubungannya dengan Zack, namun ia terus-menerus memaksakan diri untuk membuka pintu hatinya. Namun sia-sia belaka, pintu itu sudah terkunci rapat dengan seseorang di dalamnya. Greyson David Michael Chance.
“Alice! Kau tahu? Seminggu lagi Valentine! Aku tak sabar,” ujar Zack saat mereka berdua tengah menghabiskan waktu di pinggiran sungai. Alice tidak mendengar perkataan Zack. Ia tengah melamun menatap air yang sudah hampir mencair karena ini akhir musim dingin. Zack memiringkan kepalanya bingung. “Alice?”
“Eh, ya?” sahut Alice akhirnya.
“Kau tidak mendengarku,” ucap Zack kesal.
“Eh, maaf. Aku… Banyak pikiran,” kata Alice lemah.
Lalu Zack melirik Alice dan bertanya sesuatu yang sesungguhnya sudah ia ketahui jawabannya, “Pikiran apa? Kau bisa menceritakannya pada… Um, aku,”
Sembari tersenyum, Alice menggeleng dan menyahut, “Itu akan menyusahkanmu,” Lalu Alice berdiri membetulkan jaketnya, dan berkata, “Maaf Zachary Curtin, aku ingin sendiri,”
Tanpa beranjak dari tempatnya, Zack memandangi kepergian Alice. Sambil menghela nafas ia berkata, “Kurasa aku harus menghentikan ini,”

xxx

“Mom!” panggil Greyson dengan suara serak.
Dengan segera Mrs. Chance menghampiri putranya, yang kondisinya masih belum baik, itu di ruang keluarga. “Ada apa?” tanya Mrs. Chance lembut.
“Aku ingin pergi ke suatu tempat. Sendiri,” ujar Greyson menjelaskan.
“Grey, kondisimu sedang buruk sekarang. Siapa yang akan mengurusmu nanti?” timpal Mrs. Chance seraya menghela nafas dan memandang lembut ke arah Greyson.
Emosi Greyson yang tidak stabil pun mulai meninggi. Ia membentak ibunya dengan kasar, “Aku bilang aku ingin pergi ke suatu tempat sendiri!”
Mrs. Chance menghela nafas dan memandang anaknya dengan sedih. Baru kali ini Greyson membentaknya seperti itu. Namun ia tidak akan marah karena ia mengerti kondisi putra bungsunya saat ini. Dengan sabar ia membelai rambut Greyson dan bertanya lembut, “Kau ingin ke mana?”
“Wichita Falls,” jawab Greyson cepat, “Rumah kita masih di sana kan?”
“Wichita Falls? Kau yakin?” tanya Mrs. Chance ragu-ragu.
“Aku yakin,”
Setelah menimbang-nimbang sejenak, Mrs. Chance pun mengangguk sambil tersenyum dan berkata, “Baiklah, Nak. Kapan kau mau berangkat ke sana?”
“Besok,”
“Ya sudah, ayo bantu Mom mempersiapkan kebutuhanmu,” ajak Mrs. Chance sambil berjalan menuju ke kamar Greyson.
Senyuman Greyson pun mengembang, dengan langkah ringan ia berjalan menyusul ibunya.

xxx

“Mom, Dad. Aku ingin sendiri saat ini,” ujar Alice tiba-tiba saat sedang berkumpul bersama keluarganya.
Mr. Cartel menghela nafas dan bertanya, “Mau ke mana? Jangan bilang ke New York?”
Sambil menggeleng pelan, Alice menjawab, “Tidak, Dad. Aku ingin ke… um… tempat tinggal kita dulu,”
Mrs. Cartel yang tengah meminum secangkir teh hangat segera tersedak. Ia memandang Alice lalu bertanya, “Um… Maksudmu… Wichita Falls?”
Mendengar pertanyaan ibunya, Alice mengangguk pasti masih dengan wajah datar.
“Kau akan tinggal bersama siapa? Dan siapa yang akan mengurusmu?” tanya Mrs. Cartel masih dengan nada kaget.
Alice memutar bola mata, dan dengan sedikit dengusan ia berkata, “Kurasa Mom sudah lupa aku sempat tinggal di New York cukup lama,” dan ia menambahkan setelah berhenti sejenak, “Sendiri,”
“Aku tahu kau tidak sendiri saat itu. Ada Greys―” ucapan Mrs. Cartel terhenti karena melihat lirikan tajam dari Alice. Kemudian ia berdeham salah tingkah dan berkata, “Um, yah, Mom… Mom setuju,”
Secercah kebahagiaan timbul di dalam hati Alice. Namun ia berusaha menyembunyikannya dengan tetap memasang wajah datar yang sangat ia sukai.
Karena istrinya sudah menyetujuinya, Mr. Cartel pun terpaksa menyetujuinya. Lalu ia bertanya, “Kapan kau akan ke sana?”
“Besok,” jawab Alice singkat dan segera beranjak dari tempatnya duduk untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa esok hari.

xxx

“Greyson! Kamu serius mau bawa ini semua?” tanya Mrs. Chance dengan terkejut saat melihat barang bawaan Greyson yang banyak sekali. Greyson membawa dua buah koper besar pakaian dan perlengkapan, dan juga sebuah tas ransel besar berisi barang-barang kebutuhannya di sana.
Dengan heran, Greyson melirik ke arah barang bawaannya dan bertanya, “Apa yang salah? Aku bawa secukupnya kok!”
“Secukupnya? Greyson sayang, kau tidak perlu membawa barang sebanyak itu! You can wash your clothes by yourself,” ujar Mrs. Chance sambil menggeleng-geleng kepala.
“I knew it, tapi aku butuh ini semua. Ah, lebih baik aku berangkat sekarang,” ujar Greyson seraya meletakkan barang bawaannya di lantai dan berjalan ke arah Ayah dan kedua kakaknya untuk berpamitan.
Tak beberapa lama kemudian, Greyson sudah siap berangkat. Ia sudah berpamitan dengan ayah, ibu, dan kedua kakaknya dan segera memasuki mobilnya.
 “Kau yakin tidak ingin ditemani?” tanya Alexa untuk meyakinkan adiknya.
“Yeah! Aku yakin!” sahut Greyson dengan nada pasti. “Ya sudah, aku berangkat dulu ya! Bye Mom, Dad, Tanner, Alexa!” Mobil Greyson pun mulai melaju untuk menempuh perjalanan sekitar 180 kilometer.
“Aku merasa akan terjadi sesuatu di sana,” ujar Mrs. Chance khawatir.
“Dan aku tahu apa yang akan terjadi,” timpal Alexa dengan wajah misterius.

xxx

Sesampainya di dekat bandara Wichita Falls, Greyson menghentikan sejenak mobilnya untuk meregangkan kakinya yang cukup penat menempuh perjalanan yang sangat jauh. Di sinilah Greyson sekarang, di Wichita Falls, tanah kelahirannya. Ia sangat merindukan kampung halamannya, tempat ia dilahirkan, tempat ia dibesarkan, dan tempat ia bertemu dengan kenangan masa kecilnya yang indah.
Perlahan ingatan itu datang, ketika ia meninggalkan Alice dan berjanji padanya di tempat ini. Dan ketika ia datang ke sini untuk mencari gadis itu, tetapi gadis itu sudah lama meninggalkannya. Berbagai kenangan pahit pun membekas di tempat ini.
“Uh!”
Pandangan Greyson teralihkan kepada seorang gadis berambut coklat yang saat ini menatap ke arah lain di belakang mobilnya. Gadis itu terlihat kesusahan membawa barang bawaannya. Karena kasihan, Greyson pun turun dari mobil dan menghampiri gadis itu untuk menawarinya bantuan, “Can I help you?”
“Um, yeah, of course!” sahut gadis itu. Sejurus kemudian gadis itu mendongak menatap Greyson. Sesaat pandangan mereka bertemu dan keduanya larut dalam keterkejutan. Mata biru itu menatap ke arahnya. Tepat ke arah matanya.
Greyson membungkam mulutnya. Lagi-lagi kabut hitam itu memenuhi kepalanya. Ia ingin sekali menjerit-jerit seperti saat di rumah beberapa waktu lalu. Namun mata itu menjerat matanya dan membuatnya tak sanggup melakukan apa pun selain balas menatapnya.
“Kau?” tanya gadis itu.
Yang ditanya hanya tersenyum tipis. Ia bingung harus berkata apa.
“Kurasa aku tahu tempat tujuanmu,” ujar Greyson akhirnya, “Bagaimana jika bersamaku… Um―” Greyson menghentikan sejenak kata-katanya. Ia menelan ludah dan melanjutkan, “Alice?”

To be continued…
»»  READ MORE

Tuesday, 18 December 2012

FanFiction – “Running Away” 11

Alice baru kembali ke sekolah setelah sekian lama meliburkan diri. Di sekolah ia ‘diinterogasi’ oleh teman-temannya. Mengapa ia membolos begitu lama, mengapa ia jarang terlihat di rumahnya, mengapa ia akhir-akhir ini tidak ‘menampakkan’ diri. Hal yang sama terus menerus ditanyai.
Sudah beberapa hari setelah Alice menyaksikan tayangan di televisi saat itu. Ia merasa seperti orang bodoh yang mau-maunya dipermainkan oleh seorang penyanyi terkenal. Seharusnya ia menyadarinya sejak awal. Seharusnya ia tahu, Greyson tidak sungguh-sungguh mencintainya.
Lagi-lagi perubahan itu terjadi. Alice tidak seceria saat ia masih bersama Greyson. Pipinya tidak lagi merona merah karena sering tertawa. Bahkan saat ini wajahnya pucat dan tubuhnya semakin kurus. Perubahan yang jauh lebih buruk daripada sebelumnya.
“Alice, kuharap kau makan sekarang,” ucap Zack tajam.
Mendengar kata-kata Zack, Alice melengos dan membuang muka. Ia tersenyum masam dan menyahut, “Apa pedulimu? Urus saja urusanmu sendiri,”
Yang merasakan kehilangan bukan hanya Alice. Zack pun juga. Ia merasa kehilangan Alice-nya yang dulu. Ia tahu, selama bersamanya, Alice memang jarang sekali tersenyum apalagi tertawa. Namun mata biru Alice selalu hangat dan tersenyum setiap kali menatapnya. Namun kini semuanya menghilang. Dan lagi-lagi pria itu yang sudah merampasnya.
Zack ingin sekali membalas apa yang sudah disebabkan oleh Greyson. Namun ia tahu hal itu sama sekali tidak mungkin. Lagi pula ia tahu Alice tidak ingin ia berbuat kasar kepada siapapun.
“Alice, kumohon,” pinta Zack. Kali ini wajahnya memelas. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Alice.
“Baiklah,” ucap Alice dengan nada yang lebih lembut. Mau tidak mau hatinya tersentuh juga melihat sinar khawatir di mata hijau Zack.
Zack yang mendengar sahutan Alice pun tersenyum. Ia senang akhirnya gadis itu mau mendengarkan ucapannya. Dengan perlahan ia menyuapi Alice sesuap demi sesuap makanan. Alice merasa terharu dengan perhatian Zack yang begitu besar. Tiba-tiba pandangan mereka bertemu dan membuat pipi Alice merona merah. Jantungnya berdegup keras. Alice kemudian menyadari sesuatu yang membuatnya terbatuk-batuk karena tersedak.
Sangatlah mungkin ia jatuh cinta pada Zack.

xxx

Alexa tampak bingung melihat adiknya yang sedari tadi mondar-mandir tak keruan. Entah masalah apa yang membuat Greyson menjadi seperti orang linglung yang tidak tahu arah. Karena merasa diperhatikan, Greyson pun mendengus dan menghempaskan diri ke atas sofa lalu terdiam sambil menggigit bibirnya.
“Ada apa?” tanya Alexa hati-hati.
Setelah menghela nafas sejenak, Greyson pun memaksakan dirinya untuk menjawab, “Oh, kau takkan mengerti,”
“Aku akan berusaha mengerti,” sahut Alexa.
Greyson pun memandang mata coklat kakaknya, ia tersenyum kemudian menjawab, “Entahlah, Lex. Aku merasa… Yah, tidak mudah menjelaskannya,”
Alexa tersenyum lalu beranjak dari bangkunya dan berkata, “Kau bisa menceritakannya padaku jika kau sudah siap,” Perlahan ia keluar dari kamar Greyson dan menutup pintunya memberikan Greyson waktu untuk sendiri.
Di dalam kamarnya, Greyson terus menerus memikirkan masalah yang saat ini tengah dialaminya. Berkali-kali ia menarik dan menghela nafas untuk mengusir kepenatannya, namun sia-sia belaka. Lagi-lagi ia menyakiti Alice. Ia merasa dirinya adalah seorang penghianat. Ia telah membuat Alice salah sangka.
Kini ia tidak lagi bekerja dengan Troy. Ia memutuskan untuk keluar dari manajemen itu. Guy pun keluar dari pekerjaannya, dan menawarkan dirinya menjadi manajer Greyson. Mau tak mau Greyson merasa terharu dengan perhatian Guy, yang selama ini ia anggap sebagai musuh. Seiring dengan keluarnya Greyson, banyak sekali label yang menawarkan kerja sama dengan Greyson. Namun dengan halus Greyson menolak karena ia ingin vakum sementara dari dunia musik.
Ia sangat ingin menghubungi Alice untuk menjelaskan semuanya. Namun ia tak tahu bagaimana cara menghubunginya. Ia tidak memiliki nomor ponsel Alice, begitu juga dengan alamat e-mail Alice. Greyson merasa bodoh. Bagaimana mungkin ia dapat mengaku sebagai kekasih Alice sedangkan ia tidak tahu hal-hal dasar mengenai Alice.
Tiba-tiba sebuah ketakutan menjalari tubuhnya. Matanya membelalak, nafasnya memburu, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Bayangan Alice muncul di benaknya. Bayangan Alice sedang bersama Zack. Bayangan Alice yang sudah melupakannya, dan beralih ke Zack.
Pandangannya pun menggelap, perutnya seakan dipenuhi kupu-kupu. Ia merasa pusing dengan sebuah pertanyaan yang terus menerus menari-nari di dalam otaknya. Rasa sakit menjalari kepalanya. Ia merasa sudah hampir berputus asa dengan masalah yang ia hadapi. Mungkin menurut orang lain hal itu adalah masalah sepele, namun baginya masalah itu adalah sebuah masalah besar. Apakah kini Alice membencinya?

xxx

“Aku mencintaimu, Alice,” ujar Zack malam itu, ketika salju-salju mulai turun dan langit mulai dihiasi bulan berwarna keperakkan, yang tampak di sela-sela ranting pohon.
Alice merasa ia tak sanggup bernafas. Jantungnya berdetak tak keruan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia juga tak tahu apa statusnya saat ini. Seakan mengerti isi hati Alice, Zack berkata, “Aku tahu kau bingung. Aku akan menunggumu,”
Perlahan senyum mengembang di bibir Alice. “Aku juga mencintaimu,” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Alice. Perlahan timbul rasa bersalah di dalam hati Alice setelah mengatakan itu. Ia tak tahu mengapa. Apa yang dikatakannya bertolak belakang dengan apa yang dirasakannya, namun otaknya berkata ia harus mengatakan itu.
Zack terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Alice. Seketika itu juga senyuman tergambar di wajah Zack. Ia pun segera mendekap Alice di dalam pelukannya. Alice merasa kehangatan mengaliri tubuhnya. Namun ada yang mengganjal di sana. Di dalam hatinya.

xxx

“Mom! Dad!” jerit Greyson dari dalam kamarnya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya saat itu.
Mrs. Chance pun bergegas ke kamar Greyson dan dengan panik bertanya, “Ada apa, Son?”
Tak lama kemudian Mr. Chance menyusul dengan kursi rodanya. Ia juga sepanik istrinya. Greyson terus mengerang kesakitan. Kepalanya seperti ditusuk ribuan paku. Greyson berusaha mengusir rasa sakitnya dengan menjambak rambutnya kuat-kuat.
Alexa dan Tanner pun berlari ke dalam kamar Greyson karena mendengar erangan bocah itu. Alexa menangis melihat kondisi adiknya yang sedang kacau. Sedangkan Tanner berusaha menenangkan Alexa dengan merangkul tubuh Alexa yang lebih kecil darinya sambil memandang cemas ke arah Greyson.
 Erangan Greyson pun berhenti digantikan dengan isak tangis. Mrs. Chance segera mendekap Greyson dalam pelukannya dan bertanya dengan lembut, “What’s happened, My Son?”
Sembari sesenggukan, Greyson menggeleng kuat-kuat dan menjawab, “Aku takut, Mom!”
Mrs. Chance memandang Greyson dengan bingung. Ia tak tahu apa yang terjadi terhadap anaknya, karena Greyson sama sekali tidak mau menceritakan apa pun kepadanya. Mrs. Chance pun melirik Alexa, yang sedang terisak, dengan pandangan bertanya namun hanya dibalas dengan gelengan pelan.
“Alice. Alice!” raung Greyson. Ia tampak seperti orang gila saat itu, “Aku bodoh, Mom! Aku bodoh! Aku sudah menipunya!”
Mrs. Chance masih terheran-heran. Apa yang terjadi dengan Alice dan Greyson? Sepertinya beberapa waktu yang lalu, ketika mereka berdua datang ke rumah itu, mereka tampak biasa-biasa saja. Berbagai pertanyaan timbul di dalam kepalanya. Namun ia memutuskan untuk membiarkan Greyson tenang dulu agar ia dapat menceritakannya dengan lebih jelas.
“Aku takut,” ujar Greyson dengan suara yang mulai melemah. Perlahan tubuhnya menjadi lemas dan detik berikutnya ia tak lagi sadarkan diri.

To be continued…
»»  READ MORE

Monday, 17 December 2012

FanFiction – “Running Away” 10

Berhubungan dengan kemunculan Alice dan Greyson di media massa, pihak manajemen Greyson pun memutuskan Greyson tidak boleh lagi mengajak Alice ke setiap konsernya dan Greyson tidak diperkenankan lagi bersama dengan Alice. Jika hal itu dilanggar, maka karier Greyson terpaksa harus dihentikan.
Entah apa yang ada di pikiran pihak manajemennya Greyson tidak mengerti. Ia justru berpikir sebaliknya, bahwa dengan adanya Alice, itu akan mendongkrak ketenarannya. Ia merasa sangat geram dengan pihak manajemennya, namun ia sadar ia tak mampu berbuat apa pun. Sedangkan Alice berpikir bahwa ia sudah sangat menyusahkan Greyson sehingga ia memutuskan untuk kembali ke rumah ayah dan ibunya.
“Kau harus berpikir ulang tentang masalah itu, Alice,” pinta Greyson saat Alice tengah menyiapkan keberangkatannya.
“Tidak, Grey. Aku tidak ingin menjadi penghalang kariermu,” sahut Alice sambil tersenyum sedih.
“Penghalang? Tidak tidak tidak. Kau bukanlah penghalang,” bantah Greyson. “Tunggulah sebentar. Aku akan mengurus masalah ini. Dan jika itu tidak berhasil, kau boleh kembali ke desa itu,”
Alice menggeleng pelan, lalu ia menatap mata Greyson dalam-dalam, dan berkata, “Sebaliknya, kembalilah padaku jika masalahmu sudah selesai,”
Mendengar perkataan Alice, Greyson semakin berang. Ia merasa sangat marah pada kebijakan manajemennya. Tetapi ia tidak ingin melampiaskan amarahnya kepada Alice. Ia hanya menghela nafas panjang dan menyerah, “Baiklah Alice. Aku akan mengikuti kemauanmu,”
Alice memaksakan seulas senyum. Perlahan ia berdiri dan memeluk Greyson hangat. “Aku percaya kau bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya,”
“Secepatnya,” ulang Greyson sambil membalas pelukan Alice.

xxx

Di sinilah Alice sekarang. Kembali menjalani hidupnya sebagai gadis desa biasa yang selalu menghabiskan waktunya di pinggiran sungai sembari menatap air sungai yang sudah membeku. Ia mendekap tubuhnya erat-erat untuk menghilangkan rasa dingin yang mengganas.
“Kau akan mati membeku jika terus-menerus duduk di situ,” ujar seseorang di belakang Alice dengan suara yang menghangatkan.
“Zack,” bisik Alice senang. Ia tersenyum saat menatap pemilik mata hijau itu juga tersenyum padanya dengan senyuman yang dahulu seringkali ia lihat.
“Alice, aku sangat merindukanmu,” kata Zack sembari memeluk Alice yang sudah berdiri di hadapannya. Alice tak ragu-ragu membalas dekapan Zack yang hangat.
“Aku juga, Zack,” timpal Alice. Detik berikutnya ia melepaskan pelukan Zack, dan sembari menatap mata Zack, ia bertanya, “Apa kau masih marah padaku?”
“Marah? Kau bercanda? Aku tidak pernah marah padamu,” sahut Zack sembari tersenyum.
Lalu Alice dengan ragu-ragu kembali bertanya, “Greyson?”
Zack membuang muka dari Alice. Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Setidaknya untuk saat ini, tidak,”
Alice menghela nafas lega. Pada awalnya ia mengira kebencian Zack terhadap Greyson juga akan berdampak buruk pada hubungan persahabatannya dengan Zack.
“Alice,” panggil Zack.
“Ya?”
Zack menimbang-nimbang sejenak kata yang akan diucapkannya. Namun ia memutuskan untuk mengatakannya di lain waktu. Ia tidak akan merusak suasana saat ini. “Ah tidak. Lain kali saja kita bicarakan,” ucap Zack sambil tersenyum.
Alice pun mengerti dan segera mengangguk. Kemudian mereka kembali duduk di pinggiran sungai dan menyalurkan perasaan rindu mereka dalam keheningan dengan saling menatap atau melalui genggaman tangan. Mereka tidak menghiraukan udara dingin yang menusuk tulang. Mereka hanya peduli dengan kehadiran satu sama lain.
Alice mendesah sembari menatap salju-salju yang turun perlahan. Ia berkata pada Zack dengan mata berkilat-kilat senang, “Zack. Kau tahu? Aku sudah menjadi kekasih Greyson saat ini,”
Mendengar itu, amarah Zack hampir saja meledak jika ia tidak ingat ia sudah berkata pada Alice bahwa untuk saat ini ia tidak marah pada Greyson. Zack berusaha menyembunyikan perasaannya dan berkata singkat, “Oh ya?”
Alice mengangguk bersemangat dan ia mulai bercerita tentang pengalamannya bersama Greyson selama beberapa hari yang lalu di New York dan juga di Oklahoma. Bagaimana mereka menghabiskan Natal bersama dan bagaimana mereka dikejar oleh puluhan orang.
Zack mulai jengah mendengar cerita sahabatnya itu. Lalu ia tersadar. Ia tak mungkin bisa memaafkan Greyson.

xxx

“Ada apa denganmu, Grey? Kau membuat seluruh penggemarmu kecewa! Penampilanmu sangatlah buruk!” tegur Troy sesaat setelah konser Greyson di Malaysia berakhir.
Greyson memandang Troy dengan pandangan dingin dan berkata, “Sebaiknya kau bertukar tempat denganku,”
Troy menghela nafas dan memaksa Greyson untuk berbicara dengannya saat ini. “Apa semua ini karena Alice-mu itu?”
Dengan geram Greyson mengatupkan kedua rahangnya dan berkata masih dengan rahang terkatup rapat, “Itu semua bukan urusanmu,”
Begitulah ia, Greyson tidak dapat menampilkan penampilan terbaiknya selama turnya. Hanya karena ia memikirkan seseorang yang sangat ia rindukan. Apa yang sedang Alice lakukan saat ini? Apakah Alice merindukannya? Atau mungkin Alice sudah melupakannya? Pikiran itulah yang selalu muncul di pikiran Greyson saat sudah di atas panggung. Hal itu membuat penampilannya buruk, seperti salah menekan tuts piano, atau melupakan sebagian besar lirik lagunya sendiri.
Melihat hal itu, diam-diam Guy khawatir pada Greyson. Meskipun seringkali ia kesal pada Greyson yang sering kekanak-kanakkan, diam-diam Guy juga menyukai Greyson dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Ia pun berusaha menyelesaikan masalah anak itu dengan pihak manajemennya. Dengan sekuat tenaga ia membela Greyson tanpa diketahui oleh bocah itu.
“Bisakah kita mempertimbangkan ulang kebijakanmu itu?” tanya Guy pada Troy.
“Tidak, Guy. Apa kau terpengaruh dengan kisah cinta remaja yang dijalani anak itu?” ejek Troy sembari mencibir.
“Bukan. Menurutku kebijakanmu salah besar. Kau membuatnya hilang dari gosip-gosip tetapi kau juga membuatnya menghancurkan penampilannya,” timpal Guy lagi sedikit lebih kesal.
Troy menimbang-nimbang sejenak perkataannya dan berkata, “Aku hanya tidak ingin ia dibenci oleh penggemarnya,”
Guy terheran mendengar pernyataan Troy, lalu ia menimpali lagi, “Dibenci? Kau bercanda? Hubungannya dengan Alice bisa menambah ketenarannya,”
“Kau tahu sebagian besar penggemarnya adalah wanita, dan jika mereka tahu Greyson memiliki seorang kekasih, hal itu akan membuat penggemarnya beralih darinya,” balas Troy lagi mulai bersungut-sungut.
“Dan kurasa kau tidak perlu mengurusi kehidupan cintaku,”
Troy dan Guy terkejut mendengar suara itu. Mereka dengan serentak menoleh ke arah yang sama, dan melihat Greyson yang sedang bersandar di dekat pintu sembari menatap Troy tajam.

xxx

Alice dan Zack tengah berada di rumah Zack. Mereka sedang menonton siaran televisi sembari menyantap kue yang dibuat oleh Mrs. Curtin, ibu Zack. Zack mengganti channel yang sedang mereka tonton karena membosankan buatnya.
Melihat Zack memindahkan channel, Alice merenggut. Namun rasa kesalnya menghilang saat melihat acara talkshow yang menampilkan Greyson. Zack hendak memindahkan channel dengan bersungut-sungut. Namun Alice dengan cepat merebut remote yang dipegang Zack.
Kudengar kau memiliki kekasih?” tanya sang pembawa acara pada Greyson.
Ya, aku memiliki kekasih yang tinggal jauh dari sini,” jelas Greyson dengan wajah berseri-seri.
Baiklah, aku penasaran siapa kekasihmu itu. Apakah gadis yang kau maksud adalah gadis yang didapati bersamamu di Central Park natal yang lalu?” tanya pembawa acara itu lagi pada Greyson.
Greyson terlihat menelan ludah dan menimbang-nimbang sejenak hal yang akan dijawabnya. Lalu, setelah menghela nafas, Greyson pun menjawab, “Bukan,”
Alice terkesiap mendengar jawaban Greyson. Ia tak sanggup berbuat apa pun selain tetap menonton acara itu. Sementara Zack terlihat geram saat melihat wajah Greyson yang―menurutnya―memuakkan.
Bukan? Lalu siapakah kekasih Greyson Chance? Sebaiknya kita panggil saja dia! Bella Westphalen!” ucap sang pembawa acara yang diikuti suara musik dan munculnya seorang gadis cantik berambut pirang dari sebuah pintu dekat para pemusik.
Greyson tampak sangat terkejut dengan kehadiran gadis itu. Namun ia mulai memainkan perannya dan menyambut Bella dengan hangat. Ia mengecup kening Bella yang membuat seluruh penonton riuh berteriak.
Alice muak melihat acara itu dan ia segera berlari keluar dari rumah Zack sambil menangis terisak-isak. Ia merasa sudah ditipu habis-habisan oleh Greyson. Ia merasa dipermainkan. Dan dengan bengis Alice mengecap Greyson sebagai pengkhianat.

xxx

“Apa-apaan ini?” bentak Greyson dengan berang sembari menggebrak meja di depan kedua wakil manajernya.
“Santailah, Grey. Mari duduk!” ajak Troy yang tengah menyesap minuman hangat di tangannya.
Greyson pun naik pitam. Ia merasa sangat marah karena dipermainkan oleh Troy yang selama ini ia pikir adalah sahabatnya. Ia berjalan ke depan Troy dan mengangkat kerah baju yang dipakai Troy sehingga membuatnya berdiri.
Guy yang melihat itu hanya terdiam di sofa yang ia duduki. Ia dapat memahami apa yang dirasakan oleh Greyson. Dan ia tahu Troy harus menerima kemarahan Greyson.
“Hey, calm down, Boy! Aku bisa menjelaskan semuanya!” bentak Troy yang sebenarnya mulai ketakutan melihat kilatan kemarahan di mata Greyson yang biasanya lembut.
Dengan kasar Greyson melepaskan cengkeramannya dan membuat Troy terhenyak di sofa. Troy pun melanjutkan, “Ketenaranmu bisa meningkat jika berperan sebagai kekasih model itu!”
Model?’ tanya Greyson dalam hatinya. Ia terheran-heran. Bagaimana mungkin Bella temannya di Wichita Falls adalah seorang model?
“Yeah, ia adalah model pendatang baru. Tampaknya kau sudah mengenalnya,” kata Troy seakan bisa membaca pikiran Greyson, “Kuharap kau melupakan Alice dan beralih ke Bella,”
Mendengar itu, naiklah amarah Greyson. “Kurasa kau mulai beralih pekerjaan menjadi seorang cupid,” ejek Greyson. Kemudian ia melanjutkan, sembari berjalan pergi, “Aku berhenti,”

To be continued…
»»  READ MORE

Sunday, 16 December 2012

FanFiction – “Running Away” 9

“Aku ikut,” ujar Alice pasti saat mendengar pernyataan Greyson yang akan ke Oklahoma malam itu juga.

“Tidak. Aku tidak ingin kau kelelahan. Sebaiknya kau di sini saja menunggu aku,” ujar Greyson berusaha memberi pengertian. Tetapi Alice tetap memaksa untuk ikut sehingga akhirnya Greyson sepakat mereka akan berangkat bersama malam itu. Mereka pun segera meninggalkan tempat ramai itu dan kembali ke apartemen masing-masing. Saat mereka akan berpisah, mereka berjanji akan bertemu di suatu tempat agar dapat berangkat ke bandara bersama-sama.
Nafas Greyson tersengal-sengal karena merasa sangat panik. Berkali-kali ia mengatur nafas namun pikirannya tetap kacau. Ia memikirkan ayahnya yang sangat ia cintai. Berbagai pikiran negatif pun menyerbu otaknya dan ia berusaha membuangnya jauh-jauh dengan menggeleng kuat-kuat.
Segala sesuatunya sudah siap. Greyson segera keluar dari apartemennya dan menuju tempat parkir underground. Setelah menemukan mobilnya, ia segera masuk dan mengendarai mobilnya ke tempat Alice dan Greyson berjanji untuk bertemu.
Setelah sampai, ia segera melihat Alice yang sudah membawa sebuah koper. Tanpa basa-basi Alice segera meletakkan kopernya di bangku penumpang belakang dan duduk di sebelah Greyson di depan. Perjalanan mereka menuju bandara diliputi keheningan. Greyson merasa gelisah, sedangkan Alice menjaga perasaan Greyson, jangan sampai ia salah berucap dan membuat Greyson semakin resah.

xxx

Greyson pun segera mengurus tiket penerbangan, yang terawal, ke Oklahoma. Ia akhirnya mendapatkan dua tiket penerbangan. Penerbangan akan dilakukan satu jam lagi. Mereka menunggu sembari duduk di sebuah bangku panjang. Greyson berkali-kali menggigiti kuku jarinya, sedangkan Alice yang duduk di sebelahnya menyandarkan kepalanya di bahu Greyson dan tangannya menggenggam tangan Greyson yang bebas.
Satu jam pun berlalu masih dalam keheningan. Mereka lalu bersiap untuk masuk ke dalam pesawat. Setelah di dalam pesawat pun mereka masih bergumul dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Greyson mengerang membuat Alice menatap Greyson bingung.
“Aku bodoh, Alice,” ujar Greyson lirih penuh penyesalan.
Alice bingung akan ucapan Greyson. Ia membelai tangan Greyson untuk menenangkannya. Lalu ia berkata lembut, “Keep calm, Grey. Everything will be okay, and I’m here with you if you need me,” Ia pun menyandarkan kepalanya di pundak Greyson yang kemudian menyandarkan kepalanya di kepala Alice.
Akhirnya sampailah mereka di bandara Will Rogers World. Greyson dan Alice pun bergegas keluar dari bandara dan menaiki taksi ke Edmond, Oklahoma; tempat keluarga Greyson tinggal semenjak tiga tahun yang lalu.
Dalam perjalanan, Greyson terus menerus bergumam tidak jelas dan Alice hanya berusaha menenangkan Greyson agar tidak terus menerus gelisah dengan membelai tangannya. Setelah sekitar lima belas kilometer, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Mereka pun turun dengan tergesa-gesa, menurunkan bawaan mereka, membayar, dan kemudian segera berlari ke dalam rumah.
Di dalam rumah, mereka disambut hangat oleh Mrs. Chance, ibu dari Greyson. “Oh, Grey! Merry Christmas!”
Sambil memeluk ibunya dengan perasaan rindu, Greyson bertanya, “Merry Christmas too, Mom. Bagaimana kondisi Dad?”
“Tenang, sweetheart. Your Dad’s okay,” sahut Mrs. Chance yang membuat Greyson dapat bernafas lega. Lalu Mrs. Chance melirik ke arah Alice dan mengerutkan keningnya, kemudian berkata, “Wait, let me guess. You are Alice, aren’t you?”
Alice pun merasa senang karena ibunya Greyson masih mengingatnya dengan baik. Ia lalu tersenyum dan mengangguk. Kemudian Mrs. Chance kembali bertanya dengan sedikit berbisik, “Apakah kau sekarang menjadi kekasih Greyson?”
“Oh, Mom. Stop it!” ujar Greyson yang pipinya memerah.
“Uh, itu bukan masalah, anakku. Aku senang jika kekasihmu adalah Alice. Dan bukan Bella. Aku tak suka padanya,” timpal Mrs. Chance dengan mengernyitkan hidungnya.
“Oh, sudahlah. Apa Mom tidak membiarkan kami masuk? Di sini sangat dingin,” kata Greyson mengakhiri perbincangan dan membuat Mrs. Chance menepuk dahinya dan segera mempersilakan mereka masuk.
Setelah masuk, Greyson bergegas ke kamar ayahnya dan diikuti oleh Alice dan juga Mrs. Chance. Di dalam kamar, terlihat ayah Greyson yang sedang terbaring lemah. Namun Mr. Chance masih menyisihkan senyum terbaiknya untuk anaknya yang baru saja pulang.
“Greyson and―” ujar Mr. Chance lemah.
“Alice,” sambung Alice sambil tersenyum.
“Oh, right, Alice Cartel. Merry Christmas!” lanjut Mr. Chance masih dengan senyum lemah.
“Merry Christmas too, Mr. Chance,” balas Alice.
“Wah, mengapa kau pulang, Grey? Bukankah kau sedang sibuk?” tanya Mr. Chance dengan suara serak.
Greyson menghela nafas lalu berkata, “Sesibuk apa pun aku, jika ada anggota keluargaku yang sakit, aku akan pulang saat itu juga,”
Mr. Chance tersenyum lagi mendengar perkataan anak bungsunya itu. Lalu ia melirik ke arah Alice dan berkata untuk menggoda mereka, “Greyson, kau sepertinya tidak salah memilih kekasih,”
Seketika itu juga pipi Greyson dan juga Alice memerah.

xxx

Sudah tiga hari Greyson dan Alice tinggal di rumah keluarga Chance. Keluarga dengan lima anggota keluarga yang hangat. Alice merasa nyaman berada di antara anggota keluarga Chance yang menyambutnya dengan suka cita. Pada hari ketiga ini, keadaan Mr. Chance sudah membaik. Greyson pun memutuskan untuk kembali ke Manhattan bersama Alice karena dua wakil manajernya mulai mencari-carinya masalah pekerjaan.
“Mom, Dad terimakasih ya. Maaf jika kami berdua merepotkan kalian berdua,” ujar Greyson saat di bandara menjelang keberangkatannya bersama Alice.
“Oh, sama sekali tidak, Grey. Justru kami sangat senang kau mau pulang untuk mengunjungi aku,” sahut Mr. Chance yang duduk di kursi roda.
“Thanks Mr. and Mrs. Chance,” ucap Alice sambil memeluk Mrs. Chance dan menjabat tangan Mr. Chance.
“Yeah, sama-sama. Sudahlah, penerbangan kalian akan dilaksanakan dua puluh lima menit lagi. Sebaiknya kalian segera pergi,” kata Mrs. Chance, “Dan kami berharap jika kalian kembali ke sini, kalian membawa kabar baik bahwa kalian akan menikah,”
“Uh, Mom. Can you stop it? Okay, we’ll go now. Good bye!” seru Greyson. Kemudian ia menggandeng tangan Alice dan berbalik untuk segera menjalani pemeriksaan.

xxx

Sesampainya di New York, Greyson tak segera menuju ke apartemennya. Ia justru mengantarkan Alice ke apartemennya sendiri dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di situ. Alice tidak mengusir Greyson. Ia membiarkan Greyson tidur sebentar di kamarnya, sedangkan ia menyiapkan minuman panas untuk Greyson.
Saat Alice tengah membuat coklat hangat untuk Greyson, tiba-tiba seseorang memeluk pinggangnya dari belakang, ia sedikit terkejut. Ia menoleh ke samping dan mendapati Greyson yang tengah tersenyum lebar padanya sambil berkata, “Selamat pagi, istriku,”
Mendengar ucapan Greyson, pipi Alice memerah. Ia segera melepaskan pelukan Greyson dan berkata tajam, “Aku bukan istrimu, Grey! Dan ingat, kita masih lima belas tahun!”
“Ah, apa kau pikir kita tidak seperti suami istri saat ini? Kau membuatkanku minuman panas, sedangkan aku bersantai di kamarmu,” ujar Greyson. Ia duduk di salah satu kursi meja makan dan mengangkat kedua kakinya ke atas meja makan.
Pipi Alice bertambah merah, lalu ia berseru saat melihat kaki Greyson di atas meja makan, “Turunkan kakimu dari situ, Mr. Greyson!”
“Okay, Mrs. Chance,” sahut Greyson sambil mengedipkan sebelah matanya dan menurunkan kedua kakinya.
“Stop it!” sambar Alice seraya melemparkan selembar serbet ke wajah Greyson yang segera disambut tawa renyah dari pemuda itu.
Tiba-tiba ponsel Greyson berbunyi. Sang pemilik ponsel pun segera mengangkat telepon itu. “Hello, Troy? What’s happened?”
Greyson menghela nafas panjang. Raut wajahnya yang semula ceria berubah kusut saat mendengar wakil manajernya itu berkata di telepon. “Terserah kau!” bentak Greyson kesal sambil memutuskan sambungan. Setelah memutuskan telepon, Greyson hanya duduk diam di kursi dengan wajah yang bersungut-sungut. Ia memutar-mutar ponselnya di meja.
“Ada apa, Grey?” tanya Alice saat melihat perubahan raut wajah Greyson.
“Aku mendapat pekerjaan lagi,” jawab Greyson masih dengan nada kesal, “Tur ke negara-negara di Asia,”
“Bukankah itu baik?” tanya Alice heran.
“Bukan itu masalahnya,” timpal Greyson ketus.
“Lalu?” tanya Alice penasaran.
“Aku tidak boleh mengajakmu!” jelas Greyson kesal.
“Itu bukanlah masalah besar, Grey!” kata Alice sambil tertawa manis.
“Tunggu. Aku belum selesai,” Greyson menelan ludah sejenak dan melanjutkan, “Aku tidak akan pernah boleh lagi mengajakmu. Dan kau tidak boleh ikut aku secara diam-diam,”
“Atau?”
“Atau karierku terpaksa dihentikan,”

To be continued…
»»  READ MORE

Saturday, 15 December 2012

FanFiction – “Running Away” 8


“Aku mencintaimu,” bisik Greyson sambil tersenyum lembut.
Alice terperangah mendengar pernyataan cinta Greyson yang sangat mendadak itu. Ia tidak menyangka Greyson akan menyatakan perasaannya secepat itu. Padahal selama ini ia berpikir Greyson sudah melupakannya, namun ternyata ia salah.
Greyson dengan sangat lembut mengelus pipi Alice yang memerah, entah karena dingin atau karena malu. Dengan tetap mempertahankan senyumannya yang sangat memikat itu, Greyson berkata, “Aku tak berharap lebih. Aku hanya ingin mengungkapkannya padamu,” lalu menepuk kedua pundak Alice dan menambahkan, “Ayo kita pulang. Di sini sangat dingin,”
Greyson pun berjalan mendahului Alice. Namun Alice segera menahan langkah Greyson dengan memegang tangannya. “Tunggu,” ujarnya.
Dengan segera yang diajak berbicara akhirnya membalikkan badan lalu memandang Alice dalam-dalam. Ia menaikkan alisnya, dan lagi-lagi masih dengan senyumannya. “Ya?”
Mendadak Alice merasa tulang-tulangnya melunak. Ia sungguh merasa gugup dan tidak dapat berkata apa pun. Namun akhirnya setelah menghela nafas, Alice memberanikan diri untuk berkata, “Aku juga,”
Mendengar suara Alice yang bergetar dan melihat wajah Alice yang memerah, niat jahil Greyson pun muncul. Ia mengulum senyum sambil mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”
Pertanyaan Greyson membuat Alice semakin gugup. Ia menggaruk tengkuknya yang mungkin tidak gatal. Dan dengan tergagap-gagap ia kembali mengucapkannya, “Aku juga,”
Greyson kembali menahan senyum dan bertanya lagi, “’Juga’ apa?”
“Aku juga mencintaimu,” kata Alice akhirnya. Wajahnya sudah merah padam sejak tadi. Ia tak mampu menatap mata Greyson. Pandangannya selalu mengarah ke bawah.
Kemudian Greyson mendekap Alice erat di dalam pelukannya. Ia merasa sangat bahagia malam itu. Malam ketika salju-salju pertama mulai turun tahun ini. Malam dingin yang diterangi lampu-lampu kota dan juga diiringi bunyi kendaraan yang mengalun-alun di jalanan.
“So?” tanya Greyson akhirnya, masih sambil memeluk Alice.
“What?” Alice bertanya heran. Ia sepertinya mulai kehabisan nafas akibat dipeluk Greyson terlalu erat.
Greyson melepaskan pelukannya dan mendesah. Detik berikutnya Greyson sudah berlutut di depan Alice sambil mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Alice, lalu berkata dengan berlebihan, “Oh Princess Alice. Would you be mine?”
Melihat gaya Greyson yang menurutnya lucu, Alice tertawa cekikikan. Lalu ia menatap mata Greyson yang juga sedang menatapnya. Kemudian ia mengangguk pasti dan tubuhnya berakhir di pelukan Greyson yang lebih erat daripada sebelumnya.

xxx

Pagi-pagi benar Alice dan Greyson sudah pergi berjalan-jalan. Greyson sengaja mengosongkan jadwal hari ini dengan tujuan agar ia dapat menikmati hari natal bersama Alice. Dengan menggunakan pakaian hangat tebal berbahan wol, mereka berdua berjalan bergandengan tangan di tengah hamparan salju di sepanjang jalan.
Greyson mengajak Alice pergi ke tempat favorit mereka berdua, Central Park. Mereka menghabiskan waktu untuk bermain ice skating di Lasker Rink. Berkali-kali Alice terpeleset dan terjatuh karena ia sudah lupa cara bermain skate. Namun dengan sabar Greyson mengajari Alice bermain skate. Mereka tertawa bersama dan sama-sama merasa senang dapat menghabiskan waktu bersama.
Setelah bermain ice skating, mereka berdua berjalan ke Central Park Zoo dan setelahnya pergi untuk duduk-duduk di bangku taman melihat orang-orang yang sedang berjalan hilir mudik ataupun melihat kuda-kuda yang membawa orang mengelilingi Central Park.
“Kau tahu, Grey? Aku merasa sangat bahagia pada hari ini!” ujar Alice sambil menggosokkan kedua tangan untuk menghangatkannya.
“Yeah, so am I. I hope we’ll―” kata-kata Greyson terpotong oleh suara sekelompok gadis yang berteriak memanggil namanya. “Oh, my! Come on Alice!” seru Greyson sambil menarik lengan Alice untuk berlari, dari kejaran penggemarnya, bersama dengannya.
 “Wa… Wait!” ujar Alice yang sedikit tertatih-tatih untuk menyesuaikan langkah Greyson. Mereka berlari cukup kuat dari kejaran para penggemar. Alice tertawa-tawa sepanjang perjalanan mereka. Sesekali ia menatap ke belakang dan betapa terkejutnya ia melihat semakin banyak orang yang mengejar mereka.
“We should go to my apartment!” seru Greyson kepada Alice yang segera dibalas dengan anggukan pasti.
Namun, langkah mereka terhenti karena di depan mereka sudah banyak wartawan yang menunggu mereka. Beberapa orang yang membawa kamera mengambil gambar mereka berdua yang sedang bergandengan tangan. Dan beberapa lagi sibuk menyodorkan mikrofon kepada Grey dan mengarahkan kamera ke arahnya.
“Oh, damn it! Alice! Go now!” seru Greyson memberi arahan kepada Alice. Tetapi lautan manusia itu sudah mengepung mereka berdua sehingga sudah tidak bisa berkutik lagi. Lampu flash kamera seakan menyerbu mereka berdua. Melihat itu semua, Greyson tersadar.
Ia dan Alice harus bersiap-siap. Wajah mereka akan terpampang di media masa.

xxx

Setelah beberapa lama, mereka berdua akhirnya berhasil membebaskan diri dari para wartawan dan penggemar yang menggila. Keduanya merasa sengat lelah setelah berlari-lari dalam jarak yang cukup jauh. Pipi mereka berdua memerah karena kelelahan. Namun kedua pasang mata milik mereka masih memancarkan kilatan kebahagiaan.
“Penggemarmu… Gila,” ujar Alice dengan nafas terengah-engah.
“Itulah resiko menjadi orang terkenal sepertiku,” timpal Greyson dengan kepercayaan diri tinggi. Ia sudah dapat mengatur nafasnya menjadi teratur.
Dengan lembut Alice memukul pundak Greyson. Lalu mereka berdua tertawa bersama di bawah sebuah pohon yang sebagian rantingnya sudah tertutup salju.
Karena sadar perut mereka sudah lapar, Greyson pun mengajak Alice ke sebuah restoran dan mereka makan dengan bersemangat. Di tengah acara makan pun mereka masih bisa berbincang-bincang sambil sesekali bercanda dan tertawa. Padahal mereka sama-sama sadar wajah mereka akan terpampang di media masa esok hari. Bahkan hari ini juga.
“Whoa! Sudah pukul lima? Cepat sekali. Rasanya aku baru berjalan keluar dari apartemenmu satu jam yang lalu!” ujar Greyson sesaat setelah melihat jam tangannya.
“Kau bercanda? Pukul lima? Aku tak percaya!” sahut Alice sambil menarik tangan Greyson untuk melihat paksa jam tangannya. Mata Alice pun membelalak melihatnya. “Uh, sayang sekali kita tidak bisa melaksanakan rencana kita yang lain!”
“Masih ada satu lagi!” ujar Greyson tiba-tiba.
“Apa?” tanya Alice penasaran.
“Kita harus menyaksikan parade pemusik jalanan di Central Park!” sahut Greyson dengan sedikit penekanan di kata ‘Central Park’.
Alice kembali membelalak mendengarnya. “Are you crazy, dude? Kita ke tempat gila itu lagi? Tidak tidak tidak,” tanya Alice tak percaya. Ia berharap Greyson hanya bercanda, namun ternyata Greyson kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“Why not? Ayolah, Alice. Kau akan menyesal jika melewatkan parade natal pemusik jalanan itu! Trust me, they’re awesome!” pinta Greyson dengan pandangan memohon.
Alice pun mendesah dan terpaksa mengikuti kemauan Greyson karena sebenarnya ia juga penasaran dengan parade yang disebut-sebut oleh Greyson. “Baiklah,” kata Alice akhirnya.
Dan setelah membayar pesanan, mereka kembali ke ‘tempat maut’ tadi. Kali ini Greyson tak lupa menggunakan topi dan kaca mata hitam yang sebenarnya sudah ia sediakan sedari tadi di tas tangan milik Alice. Ia tahu orang akan menganggapnya aneh karena menggunakan kacamata hitam di musim dingin. Tetapi ia tidak peduli, ini semua demi kemanannya dan Alice.
Mereka memperlambat kecepatan melangkah karena ingin menikmati pemandangan hamparan salju di tanah dan juga merasakan bola-bola salju yang mulai turun dari langit. Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah mereka ke Central Park. Di pusat Central Park, sudah banyak keluarga, kelompok-kelompok, dan pasangan-pasangan kekasih yang berkumpul untuk menyaksikan parade natal pemusik jalanan.
Parade pun dimulai. Berbagai alat musik dimainkan. Nada-nada natal mengalun-alun memenuhi udara dingin yang menusuk tulang, membawa jiwa-jiwa yang mendengarnya terhanyut dalam melodi indah yang mengalun merdu.
Alice dan Greyson saling berpandangan. Greyson tersenyum puas saat melihat kilatan kagum di mata Alice. Ia tak menyangka akan menghabiskan natal tahun ini bersama orang yang sangat dicintainya. Sementara Alice merasa menjadi gadis yang paling bahagia di dunia ini karena dapat melakukan kencan pertama di malam natal bersama orang yang selama ini ia anggap sudah melupakannya.
Mendadak telepon genggam milik Greyson berbunyi. Greyson mendecak. “Tunggu sebentar, ya? Ada telepon masuk,” ujar Greyson kepada Alice dan kemudian berjalan menjauh dari keramaian.
Setelah menemukan tempat yang pas, Greyson pun mengangkat telepon itu, “Halo?” Ia mendengarkan sang penelepon dengan mata membelalak. Lalu ia berkata dengan tergagap dan suara yang bergetar, “Ba..Baiklah, aku..aku akan segera ke sana,”
Greyson merasa sangat panik saat itu. Segera setelah memutuskan sambungan telepon, Greyson berlari ke tempat Alice untuk menyampaikan sesuatu. Alice yang melihat Greyson datang menghampirinya dengan wajah panik pun segera berdiri dan bertanya, “Ada apa, Grey?”
“Ayahku sakit parah. Di Oklahoma,”

To be continued…
»»  READ MORE

FanFicion - "Running Away" 7


Sudah dua minggu sejak terakhir kali ia bertemu dengan Alice. Hari-hari yang dilaluinya sepulang dari desa itu dihabiskan dengan bermuram durja. Tak ada lagi yang mampu ia lakukan kecuali menjalani rutinitasnya sebagai penyanyi dan membagikan senyuman juga tawa palsu ke media dan para penggemarnya.
Hari ini hari kosongnya menjelang Christmas Concert yang akan diadakan di Central Park―yang sangat dekat dengan apartemennya―tanggal 21 Desember nanti. Ia menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di dalam kamar apartemen. Merenung, membaca novel, mendengarkan lagu, dan sesekali bermain game favoritnya. Namun semua itu tidak mengobati rasa sakitnya yang sudah semakin parah.
Karena bosan, Greyson pun memutuskan untuk menyamar dan berjalan-jalan sebentar di East Broadway Mall, salah satu mall besar di New York. Ia mengenakan mantelnya. Namun tidak seperti biasanya, ia tidak memasukkan foto Alice di saku mantelnya. Setelah mengenakan mantel, ia berjalan ke luar untuk ‘mengambil’ mobilnya, dan kemudian mengendarainya ke mall tersebut.
Di dalam mobil, selama perjalanan, ia mendengarkan siaran radio remaja yang seringkali memutarkan lagu-lagu yang sedang hits di dunia. Tiba-tiba saja, lagu yang sangat ia kenal pun terdengar dari speaker. Lagunya.
Greyson menggigit bibir bawahnya saat mendengar lagu yang ia ciptakan sendiri itu. Nafasnya terasa sesak. Dan perlahan, dengan suara bergetar ia bernyanyi,

Running away through the night so black.
The stars on my shoulder pulling me back.
Whispers of you ringing through my ears
trying to forget all the wasted tears.
And all your lies in your blue eyes,
another day goes by and all I can say is
wish I could forget you, but you keep coming back
,”

Tak terasa air mata jatuh dari matanya. Ia merasa bodoh saat ini. Bagaimana mungkin laki-laki yang sudah hampir dewasa menangis karena mendengar suaranya yang menyanyikan lagu yang ia ciptakan sendiri?
Saat ini, saat ia merasakan sakit di hatinya, ia menyadari satu hal.
“I’ve understood why Alice hated me,”

xxx

Sampailah gadis itu di kota besar ini setelah menjalani berbagai argumentasi dengan kedua orang tuanya. Ia melihat sekelilingnya dengan sangat kagum. Belum pernah ia melihat kota yang ‘sehidup’ ini.
Dengan cepat, sesuai dengan arahan kedua orang tuanya yang sudah pernah ke New York, Alice segera mencari taksi yang akan membawanya ke salah satu hotel di Manhattan. Setelah sampai di hotel tersebut, ia memesan sebuah kamar yang akan di tempatinya selama satu hari, sebelum ia menemukan apartemen untuk tempat tinggalnya.
Malam ini ia habiskan dengan memikirkan cara untuk bertemu dengan Greyson di kota yang sangat luas ini. Karena tidak menemukan jalan keluar, ia mengeluarkan foto itu lagi dan memandangnya selama beberapa menit. Setelah itu ia merasa kantuk yang luar biasa menyerangnya dan ia pun tertidur.
Pagi-pagi benar Alice sudah terbangun dan hal pertama yang diingatnya adalah ekspresi sedih Zack saat mengantarnya ke bandara. Sesaat ia merasa menyesal meninggalkan desanya dan juga Zack. Namun kemudian ia tersadar bahwa ia kemari untuk menemui Greyson, sahabatnya yang sudah ia lukai.
Setelah matahari mulai beranjak dari tidurnya, Alice membersihkan diri dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Ia memutuskan untuk berjalan kaki ke mana saja kakinya inginkan. Tanpa sadar kakinya sudah menuntunnya ke sebuah taman yang sangat besar dan luas. Taman yang sangat indah dengan pohon-pohon yang sudah tidak ada daunnya.
Ia berjalan ke sekeliling taman yang terdapat banyak pemusik blues jalanan. Beberapa orang sedang  Ia sangat menikmati suasana di taman yang ia belum tahu namanya. Tiba-tiba, saat ia melangkah, ia menginjak sebuah selebaran berwarna hijau. Karena rasa penasaran, Alice mengambil kertas itu dan membacanya.
Matanya membelalak setelah membaca selebaran itu.

xxx

Telepon genggam Greyson berbunyi saat sang pemilik sedang tertidur dengan nyenyaknya pagi itu. Dengan gusar ia mengambil telepon genggamnya dan mengangkatnya tanpa membaca siapa yang menelepon.
“Hmm?”
Greyson! Bagaimana mungkin di akhir pekan seperti ini kau tidur sampai siang? Ingat, bro, kau punya jadwal pemotretan saat ini,” kata orang di telepon dengan panjang lebar.
“Siapa ini?” tanya Greyson yang ternyata sedari tadi belum tahu siapa peneleponnya.
Orang di seberang sana itu pun terdengar menghela nafas, “Baiklah, Grey. Datang ke bagian utara Central Park dan kau akan tau siapa aku,” ucap sang penelepon dan segera memutuskan sambungan.
Greyson menguap keras dan mengerang karena pagi-pagi sudah ada yang mengganggu tidur indahnya. Namun lagi-lagi atas dasar kebosanan, Greyson pun bangkit dari pembaringan dan membersihkan diri sesaat setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Setelah membersihkan diri, Greyson pun memutuskan untuk mengikuti petunjuk sang penelepon. Ia berjalan kaki sambil menghirup udara akhir musim gugur dalam-dalam. Karena menggunakan pakaian yang sangat tebal dan masker, tak ada satupun orang yang mengenalnya.
Sampailah ia di Central Park. Dan ia secara reflek berjalan ke bagian utara dari Central Park. Dan ia melihat Troy yang sudah menunggunya sambil berkacak pinggang. Greyson pun berlari ke arah Troy dengan cengiran lebar.
Yah, seburuk-buruknya keadaannya, Greyson akan merasa lebih baik jika bertemu dengan Alexa atau Troy. Bahkan terkadang Guy, yang seringkali sinis padanya.
Mereka pun berbicara masalah konser yang akan dilakukan di tempat ini pada tanggal 21 Desember yang akan datang. Tepat di tengah pembicaraan, Greyson melihat seorang gadis, yang sedang duduk di bangku taman di bawah pohon besar yang sudah botak, sedang membaca sebuah selebaran. Gadis itu berambut coklat, dan matanya yang memandang ke bawah terlihat sedikit warna birunya.
“Alice?”
Greyson mengucek matanya untuk memastikan kebenaran penglihatannya. Dan saat ia melihat kembali ke bangku taman itu, ia sadar penglihatannya tadi tidaklah salah.
Itu benar-benar Alice.

xxx

Alice sudah menemukan apartemen yang cocok untuknya di daerah Manhattan juga. Ia tak ingin jauh-jauh dari taman besar, yang baru-baru ini diketahui Alice, bernama Central Park. Apartemen yang ia pilih cukup bagus dengan fasilitas memadai, dan pemandangan yang indah dari jendela kamarnya.
Ia terlalu sibuk akhir-akhir ini. Sibuk membeli dan memindahkan barang-barang ke apartemennya. Hingga tak terasa kalender telah menunjukkan tanggal 20 Desember, sehari sebelum acara yang sangat ditunggu-tunggu Alice. Ia cepat-cepat mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk sebuah poster besar dengan tulisan ‘GREYSON!! IT’S ME ALICE CARTEL!’ yang akan dipakainya di konser Greyson esok hari.
Sudah lewat dua jam Alice berkutat pada poster yang akan ia gunakan esok hari. Satu minggu yang lalu, tepat saat ia menemukan selebaran yang berisi tentang Christmas Concert, Alice segera berburu tiket VIP agar dapat menonton Greyson dengan lebih dekat.
Sesungguhnya ia bukan ingin menonton konser Greyson. Tetapi ia ingin bertemu Greyson.

xxx

“Alexa, doakan aku ya,” ujar Greyson di belakang panggung sembari memeluk Alexa yang dengan setia menemaninya.
“Aku pasti mendoakanmu,” sahut Alexa sambil tersenyum, “Kau tidak menelepon Mom?”
“Aku baru saja meneleponnya. Mom terdengar sangat bersemangat dan ia berjanji akan mendoakanku bersama Dad,” lalu Greyson menambahkan sesuatu dengan berbisik, “Ia juga berkata bahwa Tanner sudah punya pacar,”
Lalu mereka tertawa bersama.
“Greyson, ini sudah waktumu untuk naik ke atas panggung,” ujar salah satu kru acara tersebut.
Greyson mengangguk dan sekali lagi meminta dukungan dari kakaknya yang segera membalas dengan acungan jempol.
Perlahan Greyson menaiki panggung dan cahaya yang sangat terang menyambutnya. Ia mendengar suara riuh penonton yang mayoritas adalah wanita. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah  penonton yang sangat ribut.
Dan yang pertama kali dilihatnya setelah ia duduk di bangku pianonya adalah, sebuah poster besar dengan warna mencolok yang bertuliskan ‘GREYSON!! IT’S ME ALICE CARTEL!’ yang membuatnya menahan senyum.

xxx

Konser berjalan lancar, ia telah menyanyikan lima buah lagu yang di antaranya adalah ‘Rocking Around The Christmas Tree’ dan ‘Santa Claus is Coming To Town’, hingga akhirnya Greyson menyanyikan lagu terakhirnya yang berjudul ‘Running Away’
“Okay, guys. This is my last song,” terdengar suara penonton yang kecewa. Namun ada beberapa yang berteriak histeris, “I dedicate this song for my girl that has broken my heart,”
Alice pun langsung terhenyak mendengar perkataan Greyson. Penyesalan begitu tergambar dari wajahnya. Penyesalan yang begitu dalam. Hampir saja ia menangis jika ia tidak ingat ini adalah tempat umum.
“But it doesn’t matter. Even if she’s broken my heart for hundred times―” ia hentikan sejenak kata-katanya dan membuat penonton riuh berteriak. Ia melirik ke arah Alice, yang terlihat hampir menangis, dan tersenyum tipis, lalu melanjutkan, “I would still love her,”
Alice mendongak dan menatap Greyson yang saat ini tengah menatapnya sembari memainkan pianonya. Mau tak mau Alice membalas senyuman Greyson yang begitu mempesona.
Wish I could forget you, but I just can’t,
Tepuk tangan yang riuh dari penonton menutup penampilan Greyson malam itu. Greyson berjalan ke bibir panggung dan membungkuk dalam sambil berkata, “Merry Christmas, everyone!”
Dan lampu panggung pun dimatikan. Sedikit demi sedikit penonton meninggalkan tempat duduknya masih dengan suara ribut. Namun Alice masih saja duduk di bangkunya sambil sesekali tersenyum senang.
I would still love her,” kata-kata itu terus terngiang di dalam benaknya. Apakah ia boleh sedikit berharap? Apakah kata-kata itu untuknya?

xxx

“Congratulation, Grey! You’re rock!” jerit Alexa senang.
“Itu semua karena dukunganmu, Lex!” sahut Greyson sambil memeluk Alexa dengan sayang.
Lalu beberapa wartawan datang untuk mewawancarai Greyson. Greyson pun meninggalkan kakaknya sebentar untuk menanggapi para wartawan yang pasti akan menggila jika tidak ditanggapi. Setelah diwawancarai dan difoto sana-sini, Greyson kembali ke kakaknya, dan berpamitan pulang. Tak lupa ia berterimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat.
Greyson memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki karena apartemennya sangat dekat dengan Central Park. Tanpa diduga, ia melihat sesosok gadis yang amat sangat ia kenal sedang berjalan perlahan-lahan sambil mendekap tubuhnya sendiri.
Tanpa basa-basi, Greyson segera menyusul gadis itu. Dan saat ia sudah sampai di sebelah gadis itu, ia berdeham pelan. Gadis yang tak lain adalah Alice itu pun mendongak menatap Greyson yang sedang tersenyum lembut padanya.
Alice pun menghentikan langkahnya dan membuat Greyson otomatis berhenti juga. Alice terisak pelan karena akhirnya bertemu dengan orang yang sangat ingin ia jumpai. Ia lalu memeluk Greyson erat.
Greyson tak hanya menatap Alice, namun ia juga membalas pelukan Alice dan mendekapnya hangat. Greyson mengecup puncak kepala Alice. Lalu Greyson melepaskan dekapannya, mengangkat dagu Alice dengan tangannya, dan menatap mata Alice dalam-dalam.
“Alice,” panggil Greyson lembut, “Lihat aku,”
Alice pun menatap mata coklat Greyson yang sangat indah. Alice merasakan getaran di hatinya saat melihat mata Greyson yang lembut. “Aku sudah melihatmu,” sahut Alice.
“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Greyson masih dengan suara lembutnya.
Alice hanya mengangguk sembari tersenyum.
“Aku mencintaimu,”

To be continued…
»»  READ MORE

Thursday, 13 December 2012

FanFiction - "Running Away" 6


Greyson yang merasa tidak terima, dengan cepat meninju wajah Zack.
Seketika itu juga keadaan di sana menjadi ribut karena pertengkaran Zack dan Greyson. Banyak anggota kru yang berusaha memisahkan mereka berdua, tetapi tidak ada yang berhasil memadamkan api kemarahan di antara keduanya. Bahkan Alexa, kakak kesayangan Greyson, yang sudah berusaha menghentikan adiknya pun gagal.
“Kau sama sekali tidak mengenal Alice!” seru Greyson sambil memukul pipi Zack yang segera mengelak.
“Kau yang tidak memahami Alice!” balas Zack, “Kau meninggalkan Alice dan membuatnya berubah!”
Kemarahan Greyson memuncak mendengar perkataan Zack. Ia mengepalkan tangannya di sebelah tubuhnya, menahan nafas, dan meninju wajah Zack dengan sekuat tenaga membuat Zack terpelanting.
“Stop!” seru sebuah suara seorang gadis di sebelah kanan Greyson.
Greyson menyadari kedatangan Alice, tetapi ia hanya dapat memandang Alice yang saat ini tengah memandang tajam ke arahnya.
Kemarahan sudah mulai menguasainya, sehingga ia berusaha untuk memukul Zack dengan menarik kerah baju yang dipakai Zack. Saat akan memukul wajah Zack untuk yang kesekian kalinya, Alice menahan tangan Greyson dan memandang dingin ke arahnya.
“Apa yang kau lakukan terhadap Zack?” bentak Alice yang mulai emosi.
“Ia yang memulainya,” sahut Greyson dingin seraya memandang bengis ke arah Zack.
“Kau tidak perlu memukulnya! Kau jahat, Grey! Kau sangat jahat!” bentak Alice dengan marah. Bulir air mata jatuh dari matanya karena emosi, “Mulai sekarang, kau bukan lagi sahabatku!”
Alice mulai membantu Zack berdiri, dan mulai berjalan menjauh. Sementara Greyson memandang Alice dengan pandangan yang bukan lagi merupakan pandangan marah, tetapi pandangan yang terluka. Perlahan tangannya terangkat untuk memegang dadanya. Greyson merasakan sakit yang amat sangat di hatinya.

xxx

“Aduh!” rintih Zack yang sedang diobati oleh Alice di rumahnya.
“Diam,” ucap Alice singkat sambil terus mengoleskan alkohol dengan kapas di wajah Zack yang penuh luka bekas pukulan. Ia masih mengingat kejadian tadi. Penyesalan karena membentak Greyson sementara ia tidak tahu apa masalahnya. Ia ingin kembali ke saat yang lalu dan menarik kata-katanya pada Greyson.
Setelah mengobati Zack, Alice segera berpamitan dan pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Alice terus memikirkan kejadian tadi pagi. Penyesalannya semakin memburuk ketika di jalan ia melihat rombongan Greyson sedang berjalan ke arahnya, dan di sana ia melihat Greyson yang wajahnya penuh dengan luka lebam. Greyson memandangnya dengan ekspresi terluka lalu membuang muka ke arah lain.
Alice berhenti sejenak dan berbisik sangat pelan, “Grey…”
Namun Greyson tidak mendengar bisikkan Alice. Dan ketika berjalan melewati Alice, ia tidak sekali pun menoleh ke arah Alice. Pandangannya lurus ke depan dengan rahang terkatup rapat.
Saat itu juga Alice merasa kehilangan sebagian dirinya. Lebih parah dari ketika Greyson meninggalkannya selama tiga tahun.

xxx

Greyson mengurung dirinya di dalam kamar. Dengan perasaan pedih, ia merenung sambil duduk di atas ranjang. Ia merasa sadar bahwa ini adalah balasan akan menghilangnya ia selama tiga tahun dari hadapan Alice. Namun kata-kata terakhir yang diucapkan Alice kembali terngiang di dalam otaknya dan membuatnya benar-benar merasa terluka.
Mulai sekarang, kau bukan lagi sahabatku!”
Kembali terputar di otaknya kenangan tiga tahun yang lalu ketika ia masih sering bermain dengan Alice. Dengan leluasa menggenggam tangannya, membelai rambutnya, dan menatap dalam kedua mata biru itu. Namun kini semuanya sudah berakhir. Karena kesalahannya. Karena Alice yang lebih memilih Zack.
Tangannya mulai bergerak ke saku mantelnya dan mengeluarkan selembar foto yang sangat berharga buatnya. Satu butir air mata turun dari matanya, dan dengan sangat pelan, ia berbisik, “Aku senang jika kau bahagia, Alice,” lalu perlahan ia membaringkan tubuhnya dan tertidur pulas dengan tangan yang masih menggenggam foto itu.

xxx

Empat hari sudah lewat yang menandakan shooting video klip sudah selesai. Itu artinya sudah saatnya Greyson, kakaknya, wakil manajernya, dan juga para kru harus pulang dari desa itu dan kembali menjalankan rutinitas mereka yang biasanya. Greyson sama sekali tidak merasa sedih karena sudah dari empat hari yang lalu hatinya terasa kosong.
Ia masih mengingat pandangan pedih Alice saat bertemu dengannya di perjalanan kembali dari shooting hari pertama. Namun Greyson sudah sepakat dengan dirinya sendiri untuk melupakan Alice. Membiarkan Alice bahagia bersama orang yang dipilih gadis itu.
“Grey! Cepatlah, kita harus segera berperahu agar cepat sampai di seberang,” seru Alexa yang sudah membawa sekoper besar pakaian.
“Tunggu. Aku ingin ke rumah Alice,” sahut Greyson yang sudah berlari ke luar penginapan.
Greyson bertanya-tanya kepada para penduduk di manakah tempat tinggal Alice dan keluarganya. Sesekali, di jalan, para gadis menatapnya sambil cekikikan. Greyson memutar bola mata dan kemudian membalas tatapan mereka dengan senyuman yang sudah dirancang untuk menghadapi wartawan.
Akhirnya ia pun menemukan rumah Alice yang berdiri kokoh di depan sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari sungai. Ia segera mengetuk pintu untuk menemui orangtua Alice. Dan ternyata yang membukakan pintunya adalah Alice. Greyson segera menghela napas panjang. Rasa sakit itu kembali dirasakannya saat melihat Alice yang sangat tidak ingin dijumpainya saat ini. Namun ia berusaha kuat untuk menyembunyikan emosinya.
“Greyson, sedang apa kau―” kata Alice dengan volume suara yang sangat kecil.
“Aku ingin bertemu orangtuamu,” ujar Greyson tanpa basa-basi.
Alice mengangguk samar dan masuk ke dalam rumah untuk memanggil kedua orangtuanya. Tak lama kemudian ia kembali bersama ayah dan ibunya yang tersenyum senang melihat kedatangan sahabat anaknya ini.
“Hey, Greyson! Come in!” ajak Ibunya Alice dengan wajah sangat sumringah.
“I’m sorry, Ma’am. I can’t. Aku kemari untuk berpamitan karena aku harus kembali ke New York. Pekerjaanku di sini sudah selesai,” jelas Greyson, lagi-lagi tanpa basa-basi, sambil tersenyum sopan.
Alice sontak terkejut dan membelalak setelah mendengar perkataan Greyson.
“Wah, sayang sekali. Baiklah, Grey, hati-hati. Kuharap kau akan ke sini lagi. Dan jangan lupakan kita, Son!” ucap ayahnya Alice dengan senyum lebar sambil menepuk pundak Greyson.
“Tentu, Sir. Aku akan kemari suatu hari nanti untuk menemui anda berdua dan―” kata-kata Greyson terhenti sejenak. Ia menelan ludah dan melanjutkan, “Alice. Uh, baiklah, aku harus pergi sekarang. Mereka pasti sudah menungguku sangat lama. Good bye Ma’am, Sir, and Alice. I’ll come back later,”
Greyson pun berjalan untuk kembali ke penginapan. Alice yang air matanya tidak dapat terbendung lagi, segera menyusul Greyson sambil menangis tersedu-sedu. Ia berlari untuk menyejajarkan langkahnya dengan langkah Greyson yang lebar.
“Tunggu!” seru Alice sambil terisak.
Greyson menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya untuk menghadap ke belakang. Lalu ia mendapati tubuhnya dipeluk oleh seorang gadis berambut coklat yang kepalanya hanya sebatas dagunya. Ia sedikit merasa terkejut.
“Jangan… Jangan pergi. Kumohon,” pinta Alice sembari sesenggukan. Air matanya mengalir sangat deras.
Perlahan-lahan tangan Greyson terangkat untuk menyentuh kepala berambut coklat itu. Ia membelai lembut rambut Alice dan tersenyum samar.
“Maafkan aku, Alice. Aku harus pergi,” kata Greyson pelan. Lalu ia menghela napas dan berkata sambil pelan-pelan melepaskan pelukannya, “Lagi pula aku tahu, kau sudah bahagia bersama Zack,”
Alice terkejut mendengar perkataan Greyson. Ia mendongak untuk menatap Greyson. Dengan jelas ia dapat melihat Greyson mengatupkan kedua rahangnya untuk menahan tangis, dan juga pandangan matanya yang dialihkan ke arah lain.
“Tidak! Kau tidak boleh pergi!” seru Alice dengan berderai air mata sambil menggenggam tangan Greyson.
Dengan kasar Greyson menyentakkan tangannya untuk melepaskan genggaman Alice, lalu memandang dengan dingin ke mata Alice. “Berhentilah mengurusku. Uruslah dirimu sendiri,” ujar Greyson tajam dan kemudian berbalik pergi.

xxx

Alice sedang berada di depan televisi di ruang keluarga saat ini. Namun ia biarkan saja televisi itu berbicara sendiri sementara pikiran Alice berada di tempat lain. Ia kini benar-benar kehilangan sebagian dirinya. Greyson telah pergi untuk yang kedua kalinya karena kata-katanya yang tidak berperasaan. Sedangkan hubungan persahabatannya dengan Zack semakin renggang karena Zack yang―meskipun sudah dipaksanya―tidak mau membuka mulut untuk menjelaskan penyebab kejadian beberapa hari yang lalu.
Lalu sebuah ide gila melintas di otaknya. Ia pun berusaha membuang pikiran itu. Namun ide itu tak kunjung beranjak dari otaknya. Lalu dengan berat hati ia memutuskan untuk melaksanakan ide itu. Kemudian ia beranjak dari sofa dan berjalan ke depan rumah di mana ayah dan ibunya berada.
Setelah menguatkan hati, Alice memanggil kedua orangtuanya, “Mom, Dad,”
Mereka berdua pun menoleh secara bersamaan dan, dengan serempak juga, menyahut, “Ya?”
Alice memejamkan matanya sejenak, menghela napas, dan berkata tegas, “Aku ingin menyusul Greyson ke New York,”

To be continued…
»»  READ MORE