Karena kesedihan hatinya ketika di tinggal oleh teman masa kecilnya itu, Alice dan keluarganya pindah ke sebuah desa kecil di Amerika Serikat yang saking terpencilnya, tidak ada yang tahu nama desa itu.
Alice sudah berubah. Ia tak lagi seceria dulu, ia tak pernah lagi tertawa, bahkan tersenyum. Berbicara pun hanya sepatah dua patah kata. Ia tak peduli lagi dengan hidupnya.
xxx
Laki-laki itu memandangi daun-daun yang berguguran di Central Park, New York ini. Sesekali ia bersenandung, menyanyikan lagu miliknya yang berjudul Running Away.
"Wish I could forget you, but I just can't" ia mengakhiri lagunya dan menghela napas sambil sesekali mengusapkan kedua tangannya. Dingin. Tetapi ia sudah tak peduli lagi, ia ingin mengakhiri ini semua. Diperbudak oleh manajemen yang mengambil keuntungan darinya dengan semena-mena. Ia ingin kembali ke kampung halamannya di Wichita Falls, bertemu dengan teman masa kecilnya yang begitu ia rindukan.
Penyesalan terus menyiksa dalam hatinya.
Perlahan ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke apartemen tempat tinggalnya di dekat situ dengan langkah kaku. Tiba-tiba saja terdengar suara ribut, suara perempuan, tepat di belakangnya.
"Oh, damn!" ujarnya sambil berlari sekuat-kuatnya.
xxx
"Alice, why do you always feel sad? Mom tidak suka jika kamu selalu bersedih seperti itu, sweetheart," ujar Mom.
Alice hanya memandang ibunya dengan pandangan dingin.
"Ayolah, masih banyak teman di luar sana! Dan ingat, harusnya kau senang melihat Greyson sekarang sudah terkenal! Kau harusnya bangga," lanjut Mom sambil mengusap kepala Alice.
"Ibu tidak mengerti!" seru Alice seraya menepis tangan ibunya dan berlari ke sungai di belakang rumahnya. Ia menangis di situ. Menangis sejadi-jadinya. Ia sangat merindukan Greyson. Greyson David Michael Chance teman masa kecilnya. Ia sudah berubah kini.
Alice merogoh saku jaketnya dan mengambil selembar kertas yang ternyata adalah sebuah foto. Terlihat dari betapa lecaknya foto itu, foto itu sudah ratusan kali dilipat, dibuka, dan dilipat lagi.
"Kamu berubah, Grey. Kamu sudah tidak sama," kata Alice lirih sambil memandang foto di tangannya, fotonya bersama Greyson di depan Memorial Park Mausoleum. Tangan Greyson yang besar merangkulnya dan senyuman yang sangat ceria terpancar dari wajah lembut Greyson. Sementara Alice sedang tersenyum.
xxx
Seminggu sudah berlalu sejak ia memandangi daun berguguran di Central Park. Dan hari ini kebetulan ia tidak punya jadwal bernyanyi atau mengisi acara. Ia sudah membulatkan tekad untuk pergi ke Wichita Falls, bertemu dengan orang yang sangat ia rindukan.
Beberapa pakaian ia masukkan ke dalam koper kecil. Ia sudah mempersiapkan semuanya. Greyson pun bersiap mengendarai mobilnya menuju bandara. Hatinya berdebar-debar tak keruan. Pikirannya melayang ke kemungkinan yang akan terjadi jika ia menemui teman masa kecilnya itu. Gadis yang sangat ia cintai, yang sangat ia rindukan.
"Apa yang akan ia katakan jika aku bertemu dengannya?" tanya Greyson kepada dirinya sendiri, "Kau bodoh, Grey!"
Ia tak perlu menempuh perjalanan panjang karena ia sudah sampai di bandara.
xxx
"Hey," sapa seorang laki-laki dari belakang Alice.
Alice yang sedang duduk di pinggir sungai pun menoleh dan sedikit mendongak, melihat sosok laki-laki bertubuh tinggi yang sedang tersenyum manis padanya. Alice membalas senyuman laki-laki itu.
"Kamu sedang apa?" tanya laki-laki itu sambil memposisikan diri duduk di samping Alice.
Ditanya demikian, Alice hanya menghela napas dan tersenyum, lalu kembali menatap riak-riak air yang menari-nari di sungai.
Laki-laki bernama Zack itu mengerti dan memilih untuk diam. Ia membiarkan Alice menikmati kesendiriannya, dan merenungi hal-hal yang ia tidak mengerti. Mereka bersahabat. Namun persahabatan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Persahabatan yang tidak banyak bicara, saling mengerti hanya dengan tatapan mata masing-masing.
Perlahan, Alice mendekati Zack dan menyandarkan kepalanya ke pundak Zack yang kokoh. Ia merasakan pengertian Zack melalui ketenangannya, harum nafasnya, dan detak jantungnya.
Mata Zack yang hijau memandang teduh ke hutan kecil di seberang sungai. Pandangannya menembus ke kedalaman hutan itu. Seakan menghisap semua warna dari hutan itu dan memindahkannya ke iris matanya.
Tanpa sadar Zack sudah mengusap lembut rambut Alice. Ia berusaha menjaga debar jantungnya agar tidak dapat di dengar oleh Alice. Ia merasakan ada getaran lembut di daerah pundak kirinya yang disandari oleh Alice.
"Zack.." panggil Alice lirih.
"Ya?" tanya Zack lembut.
"Aku ingin pulang," ujar Alice sambil menegakkan kembali tubuhnya. "Dingin,"
Mereka pun berdiri, Zack merangkul pundak Alice, sementara Alice hanya diam menikmati kehangatan yang menjalari tubuhnya.
xxx
Greyson menekan tombol bel di rumah itu. Namun tak ada gadis yang menjengukkan kepalanya dari jendela kamar di sebelah kanan dan tersenyum. Seperti yang dulu Alice lakukan. Greyson meniup telapak tangannya yang sudah hampir membeku. Sunyi.
Dengan sabar Greyson tetap menanti Alice keluar dari rumahnya dan memeluknya untuk melepas rindu. Namun sia-sia, berkali-kali pun ia menekan bel rumah itu, tak ada yang keluar.
"Kosong," ujar Greyson lirih. Ia terduduk di depan rumah itu dengan putus asa. Kepalanya menunduk ke tanah dan tak sadar ia sudah meneteskan dua bulir air mata.
"Hey," tiba-tiba terdengar suara tepat di belakang tubuhnya. Suara seorang gadis. Secercah harapan terbit dalam hati Greyson, ia segera berdiri dan menoleh ke belakang. Lalu ia menghela napas kecewa.
"Sedang apa? Hey, bukankah kau Greyson yang tiga tahun yang lalu tinggal di sini?" lanjut suara itu. Ia memandang Greyson dengan mata berbinar-binar.
"Hey Bella, how are you?" tanya Greyson sopan.
"I'm fine! How about you?" sahut gadis bernama Bella itu dengan bersemangat. Terdapat kilatan di matanya.
"So am I. Mmh, can I ask you something?" tanya Greyson ragu.
"Sure," jawab gadis itu sambil mengangguk,
"Apa kamu tahu di mana Alice?"
Gadis itu membelalak lalu mengalihkan pandangan dari Greyson dengan tidak suka.
"Hey?"
"Uh, aku tidak tahu. Ia sudah pindah sejak dua tahun yang lalu, sejak kau mulai terkenal. Um, yah, aku merasa ia tidak lagi menginginkan dirimu menemuinya," ujar Bella.
Hati Greyson langsung mencelos mendengar pernyataan Bella. Hatinya segera diselimuti kabut rasa bersalah yang semakin lama semakin tebal. Ia sudah berjanji, dua bulan setelah kemunculannya di televisi ia akan menjumpai Alice. Namun waktu terus berjalan dan membuatnya melupakan janjinya itu.
"Mmmh, Grey? How about hot chocolate at my house? Kau terlihat kedinginnan," ajak Bella.
"Yah, bukan ide yang buruk," sahut Greyson datar.
xxx
Keheningan yang menyesakkan kembali menyelimuti Alice. Ia berusaha menguak kabut keheningan yang sangat menyiksa ini. Tetapi ia tidak bisa. Bayang-bayang Greyson terus memenuhi otaknya.
Untuk mengusir rasa sesak itu, Alice menyetel televisi dalam kamarnya. Layar televisi yang gelap pun mulai menampakkan warna. Channel yang pertama kali muncul adalah sebuah acara talkshow yang menampilkan seorang penyanyi remaja laki-laki yang album keduanya sedang 'meledak' dalam dunia hiburan.
Greyson David Michael Chance.
To be continued...
To be continued...
No comments:
Post a Comment