Friday, 18 January 2013

FanFiction – “Running Away” 20


“Aku tak bisa,” jawab Greyson sambil menggeleng pelan.
Alice terperangah mendengar jawaban Greyson. Ia pun bertanya, “Mengapa?”
“Aku harus pergi minggu depan. Guy baru saja mengirimi aku sebuah pesan singkat. Ia bilang aku harus melakukan sebuah konser di Indonesia, atau Guy terpaksa akan berhenti menjadi manajer untuk selamanya. Aku tidak mau hal itu terjadi padanya,” terang Greyson sambil menatap ke bawah.
“Tapi―”
“Alice, maafkan aku. Ini semua demi Guy. Andaikan bukan Guy yang meminta, mungkin aku akan menolaknya dan lebih memilih untuk bersamamu,” jelas Greyson sembari menggenggam tangan Alice, “Setelah konser itu selesai, aku akan kembali padamu. Aku janji.”
Alice tidak sanggup menatap wajah Greyson. Akhirnya ia pun bertanya, “Kapan konser itu dilaksanakan?”
“April. Dua puluh April waktu Indonesia,” jawab Greyson.
“Itu masih dua bulan lagi, Grey! Mengapa kau terburu-buru?” protes Alice.
“Ada beberapa hal yang harus aku urus. Kuharap kau mengerti, Alice,” ucap Greyson sambil menatap Alice lembut, “Selama seminggu ini, kita habiskan waktu bersama-sama. Jangan biarkan ada yang mengganggu kita. Ya?”
Alice pun akhirnya tersenyum dan mengangguk mengerti.
“Setelah pulang dari sana, aku berjanji akan membuatmu bahagia. Dan kebahagiaanmu tidak ada lagi yang akan merebutnya. I promise.”

xxx

Hari keberangkatan Greyson pun tiba. Sudah satu minggu penuh mereka menghabiskan waktu dan tidak membiarkan siapapun dan apapun mengganggu mereka. Alice mengantarkan Greyson ke bandara. Hatinya merasa takut. Ia takut Greyson tidak menepati janjinya seperti dulu. Terlebih lagi ketika Greyson mengucapkan hal yang hampir sama dengan kepergiannya empat tahun lalu.
“Hey, Alice! Trust me, I will visit you later! Aku janji aku akan menemuimu dua bulan lagi! Tunggulah aku, Alice, aku berjanji. Sampai jumpa Alice!” seru Greyson.
 “Grey!” seru Alice sambil menahan lengan baju Greyson agar tidak segera masuk ke pesawat.
“Alice? Aku harus berangkat dua puluh menit lagi.”
“Jangan katakan kata-kata itu. Kumohon. Aku tidak mau itu terulang lagi,” kata Alice lirih. Ia menundukkan kepalanya dengan tangan masih mencengkeram erat lengan baju Greyson.
Greyson pun tersenyum. Ia mengangkat dagu Alice dan berkata lembut, “Baiklah, aku akan menggantinya. Alice, maukah kau menungguku hingga dua bulan lagi? Aku akan kembali untuk membahagiakanmu.”
Alice tersenyum mendengar kata-kata lembut dari Greyson. Ia pun mengangguk pasti dan kemudian mencium pipi Greyson yang sesaat kemudian memerah padam. Setelah mereka mengucapkan salam perpisahan, Greyson pun berjalan menjauh. Dan Alice menatap punggung Greyson yang semakin hilang dari pandangan dengan gelisah.
Sebelum ia melihat Greyson masuk ke dalam pesawat melalui tembok kaca itu, Alice pun segera berlari meninggalkan bandara. Ia takut. Ia sangat takut Greyson akan direnggut selamanya dari dirinya. Ia takut kehilangan orang yang ia sayangi untuk yang kedua kalinya.
Ia takut tak dapat bertemu Greyson lagi.

xxx

Alice menggigit bibirnya selama perjalanan menuju ke rumahnya. Jarinya mengetuk-ngetuk jendela taksi yang ia tumpangi. Matanya memandang liar ke luar jendela. Kegelisahan merayap di sekujur tubuhnya. Entah mengapa ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang tidak ia inginkan. Sesuatu yang menimpa Greyson.
Ia pun akhirnya sampai di rumahnya, setelah menumpangi sebuah perahu untuk menyeberangi sungai besar dekat desanya. Tanpa banyak bicara, ia segera naik ke kamarnya untuk berdiam diri di sana. Pikirannya melayang-layang entah ke mana. Tiba-tiba saja ia merasa ia harus menyalakan televisinya.
Layar televisi yang mulanya hitam pun perlahan-lahan menampilkan cahaya. Alice mengganti channelnya dan memutuskan untuk menonton berita. Rahangnya menegang ketika melihat dua orang pembawa acara yang menyampaikan berita tentang hal yang amat sangat tidak ingin ia dengar.
Penerbangan Amerika Serikat – Indonesia dengan nomor penerbangan xxxx mengalami kecelakaan pada pukul delapan hari ini. Pesawat―”
Dengan segera, Alice mematikan televisinya dan mulai duduk meringkuk di sudut ranjangnya. Perlahan-lahan kedua tangannya terangkat. Ia mulai menjambak rambutnya dan pandangannya mulai kabur karena air mata. Ia membisikkan sebuah nama dengan bibir bergetar.
Greyson sudah meninggalkannya.
Untuk selamanya.

xxx

Dengan marah, Alice berlari keluar kamarnya. Ia berlari sekuat-kuatnya. Ia ingin melampiaskan segalanya di tempat favoritnya. Sungai. Ia harus ke sana. Air mata sudah tidak dapat lagi dibendungnya. Pipinya basah. Wajahnya memerah. Ketakutannya terbukti. Segalanya telah terjadi. Segalanya telah terenggut dari dalam hidupnya.
Sampailah ia di sungai. Ia memandangi pantulan dirinya di dasar sungai. Ia menyumpal mulutnya dengan bagian kerah bajunya dan mulai menjerit sekuat tenaga. Air matanya terus menerus mengalir. Ia ingin menumpahkan segala kesedihannya dengan berteriak tanpa membuat orang lain terganggu.
“Why should be Greyson? Why?” jerit Alice sambil terisak keras. Angin bertiup cukup kencang, membuat tubuhnya menggigil. Namun ia sudah tidak peduli lagi. Semuanya telah meninggalkannya sendirian. Zack, dan kini Greyson. Tubuhnya mulai limbung. Ia hampir saja terjatuh sampai tubuhnya ditahan oleh seseorang. Sebelum Alice benar-benar tidak sadarkan diri, ia menangkap sosok itu dan sempat berkata lirih dengan suara bergetar, “Kupikir kau―” detik berikutnya, ia jatuh pingsan.

xxx

Mengapa kau menangis, Alice? Aku ada di sini. Aku berada di sampingmu. Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu,” sayup-sayup terdengar suara lembut yang memenuhi kepalanya.
Grey? Kau kah itu?” Alice berbisik pelan. Ia mencari-cari asal suara tersebut, namun yang didapatkannya hanyalah bayang-bayang semu, “Grey? Kau di mana? Grey! Please, don’t leave me!”
Cahaya putih yang berpendar-pendar itu pun lenyap. Digantikan dengan kegelapan yang hitam pekat.

xxx

Alice pun siuman satu jam kemudian. Ia heran mengapa ia sudah berada di tempat tidurnya, padahal baru beberapa saat lalu ia berdiri di pinggir sungai. Ia segera duduk dan mencari-cari sesuatu. Mencari bayang-bayang yang sebenarnya tidak pernah ada. Ia pun mulai menangis keras lagi ketika ingatan itu merayap ke otaknya.
“Alice? Apa kau baik-baik saja?” tanya suara yang tak lain dan tak bukan adalah suara milik ibunya.
Melihat ibunya yang sudah berdiri di sebelah tempat tidurnya dan menatapnya dengan lembut, Alice segera menghambur memeluk ibunya sembari terisak keras. “Mom… Grey… Greyson,” kata Alice lirih.
“Alice? Ada apa dengan Greyson? Bukankah ia―” tanya ibunya dengan bingung. Kata-katanya berhenti entah karena apa. Ia pun mengelus rambut Alice dengan lembut sambil berkata, “Sebaiknya kau tidur, Alice. Kau terlihat lelah.”
Alice pun mengangguk lemah. Ia segera melepaskan pelukannya dan membaringkan dirinya di atas kasur.

xxx

Alice terbangun pada malam harinya dalam kondisi lapar. Seisi rumah sudah tertidur ketika ia berjalan menuju dapur di rumahnya untuk mencari makanan yang mungkin ada untuk mengganjal perutnya. Dan benar saja, ada beberapa makanan di atas meja makan. Ia pun segera memakan apa pun yang ada di situ dengan rakus.
Tak lama setelah ia memulai makan, ia mendengar suara aneh dari arah kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari dapur. Seperti suara dengkuran. Seketika itu juga bulu tengkuknya meremang. Ia pun berpikir untuk melanjutkan makannya dengan cepat agar ia bisa segera kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur. Namun pikiran itu tiba-tiba hilang. Ia menghentikan makannya dan berjalan perlahan menuju kamar tamu yang―diketahuinya―kosong.
Perlahan ia membuka kamar itu dan mendapati sesuatu yang tengah berbaring di atas kasur. Bagian atas ‘benda’ itu terlihat naik-turun, seperti orang yang sedang bernafas. Dengkuran pun terdengar semakin keras di kamar itu. Alice tanpa ragu segera berjalan ke arah tempat tidur dan menyingkap selimut yang menutupinya.
Alice menjerit pelan ketika melihat sosok siapa yang sedang tertidur di sana.
Mendengar jeritan Alice, laki-laki yang sedang tidur itu pun segera bangun dan membelalak melihat Alice. Dan detik berikutnya, Alice sudah jatuh pingsan.

To be continued
»»  READ MORE

Sunday, 6 January 2013

FanFiction – “Running Away” 19


R.I.P
Zachary Curtin
18 Maret 1996 – 19 Februari 2012

Berkali-kali Alice membaca tulisan di batu nisan itu. Ia masih tidak percaya laki-laki tegap bermata hijau yang selalu menamaninya saat ia sendiri, telah berbaring dalam damai di bawahnya. Ia masih belum menerima semua itu. Ia masih ingin bersandar di bahu laki-laki itu, memegang tangannya, dan menatap mata hijaunya.
Selama pemakaman, Alice tidak sedikitpun mengeluarkan air mata, membuat orang-orang di sekitarnya, yang tahu hubungan mereka begitu dekat, merasa Alice tidak memiliki perasaan dan memiliki hati sekeras batu. Tetapi tidak. Alice begitu terpukul dengan kejadian itu. Zack, Zachary Curtin, adalah orang yang sangat berharga yang pernah ada di kehidupannya.
Greyson terus menerus menggenggam tangan Alice untuk menguatkan gadis itu. Ia tak sanggup berkata apa pun, karena biar bagaimana pun juga, Zack sudah cukup berjasa dalam hubungannya dengan Alice. Diam-diam ia juga merasa sedih dengan kepergian Zack.
“Alice, bagaimana jika kita pulang? Udara di sini sangatlah dingin,” ucap Greyson lembut.
“Tidak. Kau saja yang pulang. Aku masih ingin bersama Zack,” sahut Alice dengan suara bergetar. Ia menatap ke arah batu nisan dengan pandangan kosong.
Greyson pun menyerah. Akhirnya ia berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan ke tempat penginapan di desa tempat tinggal Alice. Ia kembali menatap ke belakang dan melihat punggung Alice mulai bergetar. Gadis itu mulai menangis.

xxx

“Zack, tolong kau jangan pergi lama-lama. Aku membutuhkanmu,” ucap Alice sambil membelai-belai batu nisan di depannya, seakan-akan sedang berbicara dengan Zack. Pandangannya kabur, satu butir air mata mulai turun membasahi pipinya, permulaan untuk beberapa butir air mata lain yang mulai turun dengan deras. “Mengapa kau tidak mengajakku?” tanya Alice lagi dengan suara lebih lirih.
“Alice…” panggil seseorang dari balik punggung Alice.
“Grey? Bukankah kau sudah pulang?” tanya Alice saat menyadari orang itu adalah Greyson.
“Tidak. Aku tidak akan pulang tanpamu,” ucap Greyson dengan lembut, “Sampai kapan kau mau menyiksa dirimu sendiri? Biarkan ia tenang, Alice. Kau tahu? Ia akan sangat sedih jika kau terus menerus membuang-buang air matamu,”
“Membuang? Aku menangisi orang yang aku sayangi! Kau tidak mengerti, Grey! Kau membencinya. Kau tidak tahu perasaanku!” seru Alice sambil tersedu-sedu. Matanya merah memancarkan kesedihan yang amat sangat.
“Tidak! Kau salah. Aku sama sekali tidak membencinya. Aku menyukainya. Aku sangat berterimakasih padanya karena sudah menjagamu selama aku tidak ada,” jelas Greyson sabar.
“Cukuplah! Tidak usah berbohong padaku. Tidak mungkin kau tidak membencinya,” desis Alice.
Greyson menatap gadis itu dengan pandangan sedih. Ia tahu tak ada gunanya membantah ucapan Alice saat ini. Emosinya sedang sangat tidak stabil. Tetapi dengan setia ia menunggu gadis itu sampai ia puas ‘bertemu’ dengan Zack. Greyson terus menerus membelai rambut panjang gadis itu, ikut merasakan apa yang dirasakannya.
“Ayo kita pulang, Grey,” kata Alice akhirnya, “Zack, maafkan aku. Aku tidak bisa menemanimu terus menerus. Aku harus pulang. Besok aku akan ke sini lagi,”
Alice akhirnya pulang dengan ditemani Greyson. Setelah ia sudah mengantar gadis itu sampai di rumahnya, Greyson pun kembali ke penginapannya. Ia melepaskan baju hitamnya dan menggantinya dengan baju lain saat ia sudah berdiri di kamarnya.
Ia pun duduk di atas ranjangnya dan merasakan telepon genggamnya bordering. Ada pesan masuk. Ia pun membuka dan membacanya. Setelah ia membacanya, ia memutar bola mata dan membalas pesan itu.
Sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin mengajak Alice pergi, namun gadis itu sedang diliputi kesedihan. Akhirnya ia pun memutuskan untuk berjalan ke sungai tempat Alice dan Zack biasa bertemu.

xxx

Greyson melepaskan alas kakinya dan mulai duduk di pinggiran sungai. Ia menatap air yang sudah mulai mencair dengan pandangan menerawang. Ia merasa ketenangan mulai memasuki dirinya. Angin akhir musim dingin bertiup lembut membuat tubuhnya cukup menggigil. Laki-laki itu merapatkan mantelnya. Ia mulai mengeluarkan foto yang begitu berharga miliknya dari dalam saku mantel.
Pandangannya tertuju pada gadis di foto itu. Gadis yang begitu ia cintai, yang sedang tersenyum lebar. Gadis yang bahagia. “Maafkan aku, Alice. Aku sudah merebut kebahagiaanmu,” ucap Greyson lirih. Ia merasa telah merampas kebahagiaan dalam diri Alice dengan menjadi penyanyi terkenal. Rentetan kejadian ini seluruhnya berawal dari ketika Greyson meninggalkan Wichita Falls untuk meraih mimpinya.
“Ternyata kau masih menyimpan foto itu dengan baik,”
Greyson menoleh ke sumber suara, dan mendapati Alice yang sudah berganti pakaian sedang memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Mata gadis itu masih sembab, namun tersenyum. Gadis itu pun duduk di sebelah Greyson dan menyandarkan kepalanya di bahu Greyson.
“Tentu saja. Aku tidak akan membuangnya,” sahut Greyson.
“Milikku sudah rusak. Maafkan aku, tetapi rusaknya di bagian wajahmu,” sesal Alice seraya merogoh saku mantelnya untuk mengambil foto miliknya yang sama persis dengan milik Greyson.
“Tidak apa-apa,” timpal Greyson saat ia melirik ke arah foto di tangan Alice. Ia tersenyum geli melihat wajahnya yang sudah tidak berbentuk di dalam foto.
“Kau tahu, Grey. Sungguh, aku tidak menyalahkanmu saat ini,” kata Alice, “Tetapi hidupku berubah sejak kau pergi empat tahun yang lalu. Kau tidak salah. Menjadi penyanyi terkenal adalah impianmu sejak lama, dan dari dulu aku sudah tahu kau akan terkenal suatu saat nanti. Apalagi sejak aku melihat permainan pianomu di pesta ulang tahun Bella,”
“Ya! Aku masih mengingatnya! Aku ingat, saat itu kau tertawa dan memamerkan gigi ompongmu,” kenang Greyson.
“Jangan bahas gigiku!” protes Alice, “Hari itulah, hari di mana aku mulai menyukai seorang pria. Seorang pria yang duduk di belakang piano dan memainkan lagu-lagu indah. Seorang pria berumur tujuh tahun yang setiap kali bermain piano selalu memejamkan matanya,”
“Kau sangat mengenalku, Alice. Saat itu juga aku mulai menyukai seorang perempuan bermata biru yang menggunakan dress warna kuning yang kependekan, dengan rambut coklat yang terurai indah,” timpal Greyson sembari tersenyum.
“Benarkah?” tanya Alice kagum yang disambut dengan anggukan kepala oleh Greyson, “Yah, akhirnya kita dekat, semakin dekat hingga sama-sama tidak menyadari perasaan kita sudah tumbuh menjadi sangat besar. Aku tidak peduli dengan perasaanku, aku hanya peduli dengan keberadaanmu di sebelahku, menyediakan bahumu saat aku menangis, membelaku jika ada yang jahat padaku. Hanya itulah yang aku pikirkan.
“Hingga saat itu. Saat kau bilang kau akan pergi jauh dariku, aku mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Hatiku seperti kosong. Ada sesuatu yang hilang. Saat itulah aku tahu, aku sudah jatuh cinta padamu.
“Hari-hari aku lewatkan dengan kesedihan, hingga setelah satu tahun menunggumu yang tidak kunjung kembali, aku pun minta orang tuaku untuk pindah rumah. Dan ayahku memilih tempat ini. Tempat aku bertemu Zack untuk pertama kalinya,” Alice menghentikan sejenak kata-katanya karena air mata mulai turun dari matanya, “Saat itulah, aku mulai merasa tidak sendiri. Aku punya teman. Teman yang selalu ada ketika aku sedih. Teman yang sempat menggantikan posisimu.
“Zack selalu menatap mataku dengan mata hijaunya yang teduh. Tangannya yang kokoh selalu ada untuk merangkulku ketika aku mulai merasa kesepian. Aku sudah mulai merasa akan melupakanmu, sampai ketika kau datang ke desa ini, aku tahu, aku tidak akan pernah melupakanmu. Dan tidak akan pernah mencintai Zack sebagai laki-laki,”
Air mata Alice mengalir deras. Greyson pun dengan segerap merangkul tubuh Alice yang mulai bergetar. Ia mengecup puncak kepala Alice dan merasakan kehangatan yang dulu sempat ia rasakan. “Maafkan aku, Alice. Maafkan aku. Ini semua salahku,” sesal Greyson dengan bersungguh-sungguh.
“Tak apa, Grey. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Ini bukan salahmu. Segala yang terjadi beberapa bulan belakangan ini bukanlah salahmu. Ini semua karena masalah waktu,” kata Alice masih dengan tersedu-sedu.
“Ya sudah, ini mulai dingin. Bagaimana jika kita pulang?” tanya Greyson pada Alice.
“Baiklah. Kau mau mampir ke rumahku? Ibuku membuat pie nanas,” kata Alice sambil menghapus air matanya. Ketika ia mulai berdiri, ia berkata pada Greyson dengan pandangan memohon, “Kau mau, kan berjanji padaku, untuk tidak akan meninggalkan aku?”
Greyson berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan, “Aku tak bisa,”

To be continued…
»»  READ MORE

Saturday, 5 January 2013

FanFiction – “Running Away” 18


“Tega-teganya kau menyakiti Alice!” bentak Zack seusai memukul wajah Greyson.
Greyson tidak membalas pukulan Zack, ia justru diam menatap arah lain. Entah mengapa, ia merasa pantas mendapatkan pukulan itu. “Memangnya ada apa dengan gadis itu?”
“Bodoh!” seru Zack sambil menambah satu pukulan lagi di sisi lain wajah Greyson. “Apa kau tidak tahu Alice masih sangat menyayangimu, huh? Ia begitu mengkhawatirkan kondisimu dua hari yang lalu. Ia takut terjadi sesuatu padamu. Sedangkan apa yang kau lakukan?”
Kata-kata Zack sangatlah menyudutkan Greyson. Ia bahkan tidak tahu gadis itu masih mencintainya. Ia begitu peduli dengan egonya hingga tidak memperkirakan perasaan Alice, tidak dapat mengartikan arti pandangan Alice, arti air mata Alice.
“Cukup, Zack. Ayo kita pulang,” ujar Alice yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Zack. “Aku…” sambung Alice lirih, “Aku tidak apa-apa,”
Zack menuding tepat ke wajah Greyson. Ia menatap laki-laki itu tajam. “Ingat, urusanmu denganku belum selesai,”
Zack dan Alice pun berjalan menjauh dari tempat itu. Rencana mereka untuk bersenang-senang justru menjadi tidak menyenangkan. Sementara itu, Greyson masih terdiam dan Bella menatap Greyson dengan mata membelalak.
“Grey?” panggil Bella takut-takut.
Greyson pun menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum palsu. “Bella, sepertinya kita harus pulang,”
“Tapi―” Bella memberhentikan kata-katanya karena ia tahu kondisi Greyson saat ini, “Baiklah,” Bella tidak banyak bicara. Gadis itu justru diam mengingat kejadian tadi. Melihat laki-laki yang bersama Alice menatap Greyson dengan penuh amarah, mendengar kata-kata Zack yang tajam dan melihat ekspresi Greyson yang tidak dapat diartikan. Namun ia dapat menggabungkan itu semua dan mengartikannya. Tidak lama lagi hubungannya dan Greyson akan berhenti.

xxx

“Seharusnya kau tak perlu mengatakan itu, Zack,” kata Alice kaku sembari menatap jalanan di depannya dengan pandangan menerawang. “Aku ingin ia tahu sendiri,”
“Maafkan aku. Aku  tidak dapat menahan emosiku,” sesal Zack.
“Tak apa. Aku berterimakasih padamu, dan aku sangat menghargai ketulusanmu mencintaiku,” ucap Alice sambil tersenyum samar. Pandangannya masih menerawang ke jalanan di hadapannya, menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Zack tersenyum dan membelai lembut rambut coklat Alice yang indah. Entah mengapa, Zack sangat menyayangi gadis itu, meskipun ia tahu, sampai kapanpun gadis itu tidak akan pernah membalas perasaannya.
Tiba-tiba melintas sebuah mobil di sebelah mereka. Mobil itu berhenti dan pelan-pelan kaca bagian pengemudi terbuka dan terlihatlah wajah Greyson yang sedang tersenyum samar.
“Kalian berdua ingin ikut?” tawar Greyson.
“Tidak,” jawab Alice langsung dengan nada bicara tajam. Mendengar jawaban Alice, Greyson terkejut dan kemudian, tanpa banyak bicara, ia melajukan kembali mobilnya.
Alice lega melihat mobil itu sudah menjauh darinya. Namun tanpa diduga-duga, mobil itu kembali berhenti agak jauh di depan mereka, dan terlihat Greyson yang turun dari mobil itu lalu berjalan ke arahnya.
“Aku akan berjalan bersamamu,” ujar Greyson saat ia sudah berdiri di depan Alice dan Zack, “Um, maksudku, bersama kalian,”
“Mobilmu?” tanya Alice.
“Bella yang mengendarainya,”
“Kau mempercayakan mobilmu pada gadis seperti dia? Apakah kau bodoh? Ah, aku lupa. Kau tidak mungkin tidak percaya pada kekasihmu,” ucap Alice sarkastis.

xxx

Sudah lewat satu hari sejak Zack memukul wajah Greyson di air terjun saat itu. Hubungan mereka berempat tidak berubah sama sekali. Greyson semakin tersiksa dengan kepura-puraannya, Alice semakin merindukan Greyson, Bella semakin tidak peduli dengan kondisi Greyson, dan Zack semakin sibuk menguatkan diri.
“Alice, entah mengapa aku sangat ingin pergi ke taman,” ujar Zack.
“Di dekat sini ada taman. Kau ingin ke sana?” tanya Alice sambil mengetuk-ngetuk meja makan.
“Jika kau ingin menemaniku, tentunya,” timpal Zack sambil tersenyum semanis mungkin.
Alice tersenyum simpul mendengar Zack berkata seperti itu. “Buang senyum palsumu itu, Zachary Curtin!” sambar Alice sambil melemparkan sebungkus roti.
“Hey! Jangan membuang-buang makanan!” seru Zack sembari menangkap roti itu dan tertawa-tawa. Alice pun ikut tertawa senang. Ia sangat menikmati saat-saat seperti ini. Ia merindukan saat-saat seperti ini. Terutama jika ia bersama sahabat masa kecilnya.
“Cepat habiskan sarapanmu, dan kita ke taman,” ucap Alice.
“Baik, Mom,” sahut Zack yang segera disambut satu kali lagi lemparan roti.

xxx

“Bella!” panggil Greyson di depan rumah Bella. Tak lama kemudian, muncullah seorang wanita paruh baya yang merupakan pengasuh Bella.
“Ada apa?” tanya wanita itu.
“Tolong panggilkan Bella, ya. Saya ingin pergi bersamanya sebentar,” sahut Greyson sopan.
“Baik. Tunggu di sini ya,”
Greyson menunggu Bella dengan sabar. Sudah cukup lama ia berdiri di situ, kira-kira sepuluh menit. Tapi akhirnya yang ditunggu datang juga. Bella sudah berdandan rapi. Ia memakai dress selutut berwarna pink pastel yang sangat indah, dan juga sepatu high heels berwarna senada. Dan tentu saja ia mengenakan sweater bulu warna putih untuk menahan udara dingin.
“Kita mau ke mana, Grey?” tanya Bella sambil melemparkan senyuman.
“Seharusnya kau tak perlu berdandan seperti itu. Aku hanya ingin mengajakmu ke taman,” jawab Greyson kaku. Ia heran melihat penampilan Bella saat ini. Hatinya merasa tidak enak dengan gadis itu. Gadis itu tidak tahu benar tujuan Greyson yang sebenarnya.

xxx

“Ayo kita duduk di sana!” ajak Alice sambil menunjuk sebuah bangku di bawah pohon besar yang sudah botak, dan di belakang sebuah air mancur.
“Baiklah,”
Mereka pun berbincang-bincang selama beberapa menit. Namun seperti biasa, sebagian besar waktu mereka habiskan dengan saling berdiam diri. Masing-masing berkomunikasi melalui keheningan dan tatapan mata. Tak lama kemudian, pandangan yang sangat tidak ingin Alice lihat pun muncul di hadapannya.
Greyson berjalan dengan Bella yang berdandan sangat rapi. Gadis itu memeluk lengan Greyson, sedangkan Greyson hanya menatap lurus ke depan dengan acuh tak acuh. Alice sudah hampir pergi melihat keberadaan mereka, namun segera ditahan oleh Zack.
“Jangan pergi. Aku merasa akan terjadi sesuatu di sini. Sebaiknya kita mendengarkan saja percakapan mereka,” ucap Zack. Ia melihat sejenak ke arah Greyson dan Bella yang sudah duduk di sisi lain air mancur, “Ayo kita duduk di dekat air mancur agar bisa mendengar mereka dengan jelas,”
Alice pun menurut, mereka akhirnya berjalan menuju air mancur dan duduk di sana seperti tidak mengetahui apa-apa. Mereka mulai menajamkan pendengaran dan mendengarkan.
“Bella, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,” kata Greyson kaku.
Darah mendesir deras di dalam tubuh Bella. Ia sudah tahu akan terjadi hal yang tidak beres jika Greyson sudah berkata seperti itu. “A-ada apa?” tanya Bella tergagap.
“Aku… sudah tidak bisa bersamamu,” ucap Greyson tanpa basa-basi, “Aku ingin kita segera mengakhiri hubungan ini,”
Tulang-tulang di dalam tubuh Bella seakan terlepas dari dalam tubuhnya. Ia mendadak menjadi lemas. Namun ia tahu, ini bukan saat yang tepat untuk menangis. Akhirnya ia berusaha menahan air matanya dan berkata lirih, “Aku tahu ini akan terjadi, Grey. Aku, aku sangat menikmati kebersamaan kita beberapa saat lalu. Terimakasih sudah mau jujur padaku. Aku, aku pergi dulu,”
Bella pun pergi meninggalkan Greyson yang masih duduk diam di tempatnya semula. Ia masih memikirkan apa lagi yang harus ia lakukan setelah ini. Lalu Greyson menangkap sosok Zack dan Alice yang sudah berdiri tak jauh darinya. Ia pun menegakkan posisi duduknya. Tiba-tiba, Zack menghampiri Greyson diikuti Alice.
“Aku suka dengan keberanianmu, Grey,” ucap Zack mengakui.
“Apa maksudmu?” tanya Greyson. Lalu ia berpikir sejenak dan sedikit demi sedikit mengerti, “Kalian mendengarkan percakapanku dengan Bella?”
“Ya,” jawab Alice dan Zack bersamaan.
Greyson memutar bola mata dan mendengus kesal. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia pun berjalan menjauhi mereka berdua.
“Tunggu!” seru Zack, membuat langkah Greyson terhenti. Greyson pun kembali. Zack menatap Alice dalam-dalam, ia mendekat dan mengecup kening Alice. “Aku mencintaimu, Alice. Sangat mencintaimu,” mata hijaunya menatap Alice lekat. Ia kemudian melanjutkan, “Tetapi tugasku sudah selesai. Sebelum aku pergi, aku ingin memberikan ini,”
Zack melepaskan kalung yang selama ini ia pakai. Tak seorangpun mengetahui keberadaan kalung itu di leher Zack. Hanya sebuah kalung rantai, tanpa liontin. Kemudian ia mengalungkan benda itu di leher Alice.
“Aku pergi dulu,” kata Zack yang kemudian berjalan menjauh, meninggalkan Alice dan Greyson yang berdiri mematung. Alice tak mampu berkata-kata. Ia tak tahu pasti apa yang dirasakannya saat ini. Segalanya bercampur dalam hatinya; rasa sedih, kecewa, bahagia.
Greyson dan Alice berdiri masih dalam diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, sibuk memikirkan apa yang harus mereka katakan. Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Suara decit rem mobil dan bunyi klakson kendaraan lain membawa mereka kembali ke kenyataan.
Mata Alice membelalak, ia berseru, “Zack!” dan segera berlari ke arah jalan diikuti oleh Greyson.
Mereka berdua berdiri mematung di pinggir jalan. Mereka melihat Zack. Terbaring kaku bersimbah darah.

To be continued…
»»  READ MORE

FanFiction – “Running Away” 17

“Sudah dua hari, mengapa Greyson dan Bella belum pulang?” tanya Alice kepada dirinya sendiri ketika sedang sendirian di dalam kamar. Baru saja ia berpikiran demikian, pagar rumahnya diketuk oleh seseorang. Ketika ia melongokkan kepalanya melalui jendela, yang pertama kali ia lihat adalah kepala Greyson.
“Alice, ada orang di luar!” seru Zack dari arah ruang tamu.
“Ya!” sahut Alice sambil berjalan ke luar.
“Hey Alice,” sapa Greyson kaku. Alice membukakan pintu pagar untuknya dan ia melihat Greyson tengah menggandeng tangan Bella dengan mesra. Tiba-tiba saja muncul sebuah perasaan aneh dalam hatinya. Kerongkongannya tercekat, ia hampir-hampir tidak dapat bernafas.
“Hai,” sahut Alice serak, “Tunggu, biar kuambilkan kunci rumahmu,” Alice pun berlari ke dalam rumah. Tanpa sadar air mata jatuh dari matanya saat ia melintas di depan Zack yang sedang berada di ruang tamu. Zack bingung melihat Alice meneteskan air matanya.
“Ada yang tidak beres,” gumam Zack pada dirinya sendiri. Sedetik kemudian ia sudah melihat keluar untuk mengetahui siapa yang ada di sana dan ia mendapati Greyson yang sedang menggandeng tangan Bella. “Keterlaluan,” desis Zack geram.
Tak lama kemudian, Alice sudah keluar dari kamarnya sambil menenteng sebuah kunci rumah dan air mata di pipinya sudah ia hapus meskipun masih nampak.
“Ini… kunci rumahmu,” ujar Alice pada Greyson sambil mengulurkan tangan untuk memberikan kuncinya. Lagi-lagi ia melihat pemandangan yang tidak enak. Bella tengah bersandar di bahu Greyson dan tangan kanan Greyson bermain-main di rambut Bella.
“Thank you,” ucap Greyson sambil mengambil kunci dengan tangan kirinya, “Very much,”
“You’re welcome,” sahut Alice dengan suara yang hampir-hampir tidak terdengar. Kepalanya tertunduk. Tak sanggup menatap Greyson yang sedang bersama kekasih barunya. Ia hampir saja menangis, namun tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang merangkulnya dari samping kirinya. Alice menoleh dan mendapati Zack sedang tersenyum lembut padanya.
“Alice, ayo masuk!” bisik Zack sambil menutup pagar dengan tangannya yang bebas. Alice pun mengangguk dan menunggu Zack selesai menutup pagarnya. Zack mendongak dan menatap Greyson tajam. Didapatinya laki-laki itu terkejut. Agaknya ia terkejut akan keberadaannya di sana, di rumah Alice. Kemudian Zack dan Alice berbalik arah dan masuk kembali ke dalam rumah.

xxx

Zack? Mengapa ada Zack di rumah Alice? Sejak kapan ia ada di situ? Pertanyaan itu muncul dalam benak Greyson. Ia sibuk memikirkan itu sehingga ia tidak sadar ia masih berdiri di depan pagar rumah Alice. Rahangnya terkatup rapat.
“Hun?” panggil Bella sambil melambaikan tangannya di hadapan Greyson.
“Ah. Ya?” sahut Greyson tergagap ketika ia kembali dari lamunannya.
“Kau melamun,” dengus Bella sambil mengerucutkan bibirnya.
“Maaf. Ayo kuantar kau ke rumah,” kata Greyson sambil menggandeng tangan kekasihnya dan berjalan menjauhi rumah Alice. “Bagaimana mungkin Zack ada di rumah gadis itu?” tanya Greyson lebih kepada dirinya sendiri dengan lirih.
“Huh?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa,” sahut Greyson sambil menyunggingkan seulas senyum yang dibuat―sebisa mungkin―terlihat manis.
Bella hanya diam. Ia tahu Greyson masih sangat mencintai Alice dan terkejut akan keberadaan laki-laki tadi di rumah Alice. Tetapi ia tidak peduli. Ia tidak peduli akan perasaan Greyson. Ia hanya memedulikan perasaannya saat ini saja. Ia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan Greyson walaupun―ia tahu―tak akan lama.

xxx

“Menangislah, Alice,” ujar Zack lembut pada Alice yang sedang menangis di bahunya yang kokoh. “Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik,”
“Aku benci laki-laki itu!” raung Alice sambil memukul-mukul pundak Zack. Zack hanya terdiam. Ia tahu. Sangat tahu gadis ini masih sangat mencintai Greyson. Tetapi ia tetap mempertahankan Alice bukan karena ingin memaksa Alice untuk mencintainya, tetapi karena tujuan lain.
Alice terus saja terisak. Ia tahu benar mengapa hatinya sesakit ini. Ia tidak menyangka Greyson bisa secepat itu mencintai Bella. Perlahan Alice kembali menegakkan tubuhnya. Ia masih sesenggukkan, tetapi ia tersenyum kepada Zack.
“Thanks very much, Zack. I love you,” bisik Alice sambil memeluk tubuh Zack.
Darah Zack seketika itu juga berdesir cepat. Tak pernah Alice mengucapkan kata sakral itu sekalipun padanya. Dan baru beberapa detik yang lalu ia mendengar kata itu meluncur dari bibir Alice. Ia serasa melayang di udara. Namun detik berikutnya, ia sadar yang Alice maksud adalah cinta sebagai sahabat. Bukan sebagai kekasih.

xxx

Lagi-lagi Greyson berdiam diri di pinggiran kasurnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana mungkin laki-laki itu ada di rumah Alice? Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa bersamanya? Ia masih bertanya-tanya, apakah menjadikan Bella kekasihnya adalah pilihan yang tepat? Ia tak tahu.
Tangan Greyson terangkat ke dadanya. Ia merasakan sakit yang amat sangat. Ia mulai mengerang. Sekarang rasa sakit itu merambat ke kepalanya.
“Mom…” erang Greyson. Ia lupa ibunya tidak ada di sini, “Sakit…”

xxx

“Suara apa itu?” tanya Alice tiba-tiba saat ia sedang duduk di kamarnya. Ia mendengar suara erangan dari rumah sebelah, tepat di sebelah kamarnya. “Greyson?”
Alice pun segera berlari ke luar kamar dan menghampiri Zack dengan wajah panik. Zack heran melihat Alice yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. “Ada apa, Alice?” tanya Zack.
“Cepat, ikut aku. Sesuatu terjadi pada Greyson!” jelas Alice dengan cepat. Wajahnya terlihat sangat gelisah. Melihat itu, Zack pun segera berdiri dan ke luar rumah bersama Alice. Tanpa banyak bicara, Alice segera berlari menuju rumah itu dan tidak lagi mengetuk pintu rumah, ia pun masuk ke kamar Greyson. “Grey!”
Erangan Greyson semakin keras. Ia tampak menjambak rambutnya sambil sesekali berteriak memanggil ibunya. “Mom…”
“Grey! What happened?” tanya Alice panik. Ia mengguncang-guncang tubuh Greyson dengan kasar.
Namun yang ditanya tidak menjawab. Ia justru mendorong tubuh Alice dengan keras sehingga membuat gadis itu terjatuh. Zack tidak tinggal diam, ia menarik kerah baju Greyson dan menampar laki-laki itu.
“Berani-beraninya kau!” bentak Zack dengan bengis. Alice berusaha menarik Zack menjauh dari Greyson karena ia tahu Greyson sedang tidak baik saat ini.
Greyson mendelik tajam tepat ke mata Zack. Ia mendorong juga laki-laki itu hingga terjerembab. “Pergi kalian berdua!” seru Greyson. Ia sangat tidak ingin diganggu saat ini.
“Kau ini!” seru Zack sambil berusaha memukul Greyson. Tangan Alice menahannya sehingga Zack tidak jadi memukul laki-laki itu.
“Cukup Zack! Jangan bertindak bodoh!” tegur Alice. Lalu ia melihat ke arah Greyson dan bertanya lembut, “Apa yang terjadi padamu Grey?”
“I said, get out from my house!” jerit Greyson histeris sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangan.
Alice terkejut akan tanggapan Greyson. Ia mematung sambil memandang Greyson. Air matanya jatuh perlahan. Ia mulai menangis sesenggukan. Hatinya sakit melihat kondisi sahabat masa kecilnya. Ia takut.
Sedikit demi sedikit emosi Greyson mereda melihat air mata Alice yang membasahi pipinya. Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya. Ia pun berdiri dan menyentuh pipi Alice. “Alice…” panggil Greyson lirih.
Tangan Greyson pun ditepis oleh Alice. Ia segera berlari keluar dari kamar Greyson menuju rumahnya sendiri. Zack yang melihat Alice berlari pun hendak menyusul gadis itu. Tetapi sebelumnya, Zack menyempatkan diri untuk meninju wajah Greyson.
“Kau akan berhadapan denganku,” desis Zack.

xxx

Sudah dua hari sejak Alice melihat perubahan Greyson yang membuatnya takut. Ia tak ingin berjumpa dengan Greyson. Paling tidak untuk saat ini. Hatinya belum siap.
“Alice? Kau tidak memakan sarapanmu?” tanya Zack sambil mengambil selai untuk dioleskan di atas roti di tangannya.
Alice pun tersadar, lalu ia tersenyum dan mengikuti gerak Zack mengambil selai dan memakan rotinya dengan ogah-ogahan. Ia masih memikirkan kondisi Greyson. Hatinya sesungguhnya ingin menjumpai Greyson, tetapi otaknya mengatakan hal lain. Entah mengapa hati dan otaknya sulit bekerja sama.
“Sudah lah! Aku tidak mau makan lagi,” ujar Alice sambil pergi dari tempat makan menuju ruang tamu. Zack hanya menatap Alice dan roti, yang baru satu kali digigit oleh gadis itu, secara bergantian dengan bingung. Ia pun menyudahi kegiatan makannya dan menyusul Alice.
“Alice, sepertinya kau butuh penyegaran,” kata Zack sambil berdiri di belakang sofa tempat Alice duduk.
“Kurasa begitu,” jawab Alice sambil memijit pelipisnya.
Zack tersenyum. “Kau tahu tempat indah dekat sini?” tanya Zack.
Senyum Alice pun mengembang cerah, ia pun menjawab dengan sedikit lebih bersemangat, “Tentu saja! Di dekat sini ada air terjun Wichita yang sangat indah,”
“Kau mau ke sana?” tawar Zack yang segera disambut anggukan antusias dari Alice, “Kalau begitu tunjukkan tempatnya. Um, by the way, kita mau naik apa ke sana?”
“Bagaimana jika berjalan kaki? Lumayan dekat, kok!” tanya Alice pada Zack.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju Wichita Falls. Alice sangat menyukai Wichita Falls karena di tempat itu terdapat banyak sekali air. Alice sangat menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan air.
Perjalanan diwarnai dengan keheningan. Keheningan yang sangat Alice kenal. Keheningan yang hanya akan ditimbulkan jika ia sedang bersama Zack. Keheningan yang menjadi ciri khas persahabatan mereka.
Zack melingkarkan tangannya di pinggang Alice selama dalam perjalanan. Kira-kira setelah mereka berjalan lima belas menit, sampailah mereka di tempat tujuan mereka. Mata biru Alice yang indah terlihat begitu berbinar-binar melihat percikan air terjun itu. Ia tidak memedulikan udara akhir musim dingin yang bertiup cukup keras.
“Ayo Zack!” seru Alice sambil berlari menuju air terjun. Langkahnya berhenti. Ia melihat di seberang tempatnya berdiri ada Greyson yang sedang tertawa bersama Bella. Alice mengatupkan kedua rahangnya keras-keras untuk menahan air mata yang sudah di pelupuk matanya. Semakin kuat ia menahannya, tangis Alice semakin deras. Seharusnya ia yang ada di sana, seharusnya ia yang sedang bermain air bersama laki-laki itu, seharusnya ia yang sedang berbahagia bersama Greyson. Bukan perempuan itu.
“Mengapa berhen―” kata-kata Zack pun berhenti karena melihat pemandangan itu. “Laki-laki itu,” desis Zack geram. Tangannya mengepal di kedua sisinya. Ia pun berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju Greyson.
Greyson pun mendongak saat tiba-tiba sinar matahari di hadapannya terhalang sebuah tubuh. Ia menatap orang yang berdiri di hadapannya. Zack. Laki-laki itu menatapnya dengan bengis. Tangannya mengepal erat. Greyson pun berdiri di hadapan orang itu, dan beberapa detik setelahnya, pukulan keras pun mendarat ke wajahnya.

To be continued
»»  READ MORE

Friday, 4 January 2013

FanFiction – “Running Away” 16


Pesawat itu mendarat di bandara JFK, seluruh penumpangnya turun, dan di antara mereka ada Greyson dan Bella. Greyson berjalan mendahului Bella sambil menarik koper besarnya, sedangkan Bella mengikuti Greyson dengan susah payah.
“Grey! Can you wait for me?” seru Bella masih sambil mengejar Greyson.
“Menyusahkan,” gumam Greyson. Ia masih melanjutkan langkahnya, bahkan mempercepatnya.
“Grey―” ucapan Bella terputus karena ia tersandung kakinya sendiri sehingga jatuh.
Greyson memutar bola matanya dan berbalik arah untuk menghampiri Bella yang terlihat meringis kesakitan. “Kau ini,” desis Greyson seraya membantu Bella berdiri.
“Kau seharusnya tidak mendahuluiku dan membuat aku mengejarmu! Ini semua ulahmu!” seru Bella. Ia merajuk dan sedang berusaha mencuri perhatian Greyson.
“Aku tak meminta kau mengejarku,” balas Greyson dingin sambil berbalik arah untuk melanjutkan perjalanannya.
“Uh, lihat saja. Aku akan membuatmu menyukaiku,” gumam Bella.

xxx

“Untuk apa kau datang ke sini?” tanya Alice sambil membawakan minuman untuk Zack di halaman depan.
“Tentu saja untuk menjumpaimu, sweetie,” jawab Zack sambil tersenyum hangat.
Sweetie?” tanya Alice heran yang segera dibalas tatapan bingung oleh Zack. Alice pun teringat dan segera menimpali, “Ah, ya! Lalu? Mengapa kau mengikutiku sampai sini?”
Zack berdeham sejenak dan menjawab, “Kau lupa aku kekasihmu?”
Ditanya demikian membuat Alice gelagapan dan salah tingkah. Ia pun segera menjawab sambil menyeringai, “Oh! Ya! Eh, tidak! Tentu tidak. Ya, aku… tidak akan lupa, sweetheart!”
Kening Zack berkerut samar melihat tingkah Alice yang aneh. Tetapi ia memutuskan untuk tidak banyak berkomentar. Ia mengambil secangkir kopi panas yang dibuat Alice dan menyesapnya. “Kau sendirian?”
“Tidak sebenarnya,” gumam Alice. Ia ingat sebelumnya ada Greyson di sini, dan ia tidak melupakan kekecewaannya pada laki-laki yang sudah mengkhianatinya itu. Tanpa sadar ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat.
Melihat perubahan ekspresi Alice yang tiba-tiba, Zack bertanya, “Maksudmu?”
Alice seakan kembali ke alam nyata. Ia pun mendongak dan menjawab dengan tergagap, “Ya, maksudku. Aku. Aku memang tidak sendiri. Yah, ada… ada kau. Dan… Tikus,”
Zack pun tersenyum mengerti. Ia tertawa pelan dan perlahan-lahan mengusap lembut rambut Alice. “Kau sangat lucu, Alice,” kata Zack.
Setelah Zack mengatakan itu, kecanggungan pun menyeruak di antara mereka selama beberapa detik. Mereka tak tahu harus mengatakan apa dan terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Alice berdeham untuk memecahkan kecanggungan yang terjadi.
“Um, Zack,” panggil Alice dengan nada ragu.
“Ya?”
“Ada yang harus kukatakan padamu,”

xxx

“Where are we going to go?” tanya Bella saat ia dan Greyson sedang berada di taksi.
“My apartment,” jawab Greyson singkat tanpa menoleh ke belakang―tempat duduk Bella. Ia masih menerawang ke arah jendela di sampingnya dan memikirkan hal yang dapat membuatnya berteriak histeris.
Mendengar jawaban Greyson, mata Bella berbinar-binar. Ia pun bertanya dengan kegirangan, “Jadi, aku akan tidur di apartemenmu?”
“Mungkin,”
“Bersamamu? Di satu kamar?” tanya Bella lagi hampir menjerit senang.
Greyson memutar bola matanya dan menjawab dengan nada sarkastis, “Ternyata kau cukup murah,”
Bella tersinggung akan jawaban Greyson. Pipinya memerah padam dan ia mendengus. Ia ingin membalas perkataan Greyson tetapi ia tidak dapat berkata apa-apa.
“Kita berhenti di sini, Sir!” ujar Greyson pada sang supir taksi beberapa menit kemudian. Greyson dan Bella pun turun setelah Greyson membayar tarif yang tertera di argometer.
“Wah, apartemenmu bagus sekali!” ucap Bella terkagum-kagum saat mereka sudah masuk ke dalam apartemen Greyson yang sudah cukup lama tidak dihuni. Greyson tidak menanggapi perkataan Bella dan segera masuk ke dalam kamarnya untuk meletakkan kopernya.
Sesaat setelah ia meletakkan kopernya, ia berjalan keluar kamar untuk mencari barang yang menjadi alasannya kembali ke New York. Saat ia hendak menghampiri meja televisi dan mengambil foto itu, ia mendapati Bella sedang berusaha mengambil foto itu dari bingkainya dengan terburu-buru.
“Kau mau apa?” bentak Greyson pada Bella. Bella pun tersentak mendapati Greyson sudah berdiri tidak jauh darinya dan menatapnya dengan penuh amarah. Ia merasa menyusut dipandang demikian oleh Greyson.
“Ti-Tidak,” elak Bella dengan tergagap-gagap. Ia segera meletakkan bingkai foto itu di tempatnya semula.
Greyson pun bergegas menuju tempat Bella berdiri dan mendorong gadis itu cukup keras―sehingga Bella menjauh―dan ia mengambil foto itu dengan cepat. Lalu ia berbalik untuk kembali ke kamarnya. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, menatap Bella tajam.
“Sampai sekali lagi kau menyentuh foto ini, kau―” desis Greyson dengan mata berkilat marah, “Tak akan pernah aku maafkan,”

xxx

“Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi, Alice,” pinta Zack setelah Alice memberitahunya bahwa ia tidak benar-benar mencintai Zack dan ingin memutuskan hubungan.
Alice tampak berpikir sebentar, lalu ia menggeleng pelan.
“Hanya beberapa minggu. Jika kau tidak bisa mencintaiku sebagai kekasih, kau boleh meninggalkanku,” kata Zack berjanji pada Alice. Ia menggenggam kedua tangan Alice dan meremasnya pelan.
“Baiklah,” kata Alice sembari mendesah pelan. Lagi-lagi perasaan itu muncul. Ini semua salah. Tidak. Ini semua benar. Otak Alice berkata bahwa memberi waktu kepada dirinya sendiri untuk jatuh cinta pada Zack adalah sebuah pilihan yang benar. Namun tidak dengan hatinya.
“Terimakasih,” ujar Zack sambil tersenyum lembut.
“Ya. Um, aku ingin ke kamar,” ujar Alice kaku sambil beranjak dari tempatnya duduk dan segera berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai. “Semua yang aku lakukan benar. Aku berhak mendapat cinta lain. Greyson sudah mengkhianatiku. Greyson sudah mengkhianatiku,” gumam Alice. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat di sisi tubuhnya.

xxx

Detik demi detik berlalu. Laki-laki itu masih duduk di tempat yang sama, memandangi foto yang sama, foto kenangan bersama gadis yang sama―yang ada di pikirannya saat ini. Pandangannya menerawang. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia merasa telah kehilangan arah.
Beberapa kali ide gila itu melintas di benaknya, namun ia segera mengusirnya dengan menggeleng kuat-kuat. Ide yang tidak masuk akal. Ide bodoh yang dapat melukai dirinya sendiri. Meskipun ia mengusir ide itu berulang kali dan menganggapnya bodoh, beberapa kali pula ia merasa ide itu masuk akal dan patut dilakukan.
Tidak. Itu tidak mungkin.
Greyson pun beranjak dari tempat ia duduk dan keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke ruang tamu dan mendapati Bella sedang duduk diam di salah satu sofa. Perlahan rasa bersalah itu merambat di hatinya. Ia tahu Bella masih terpukul akan kejadian tadi. Ia sadar ia terlalu kasar.
Dengan langkah ragu, Greyson berjalan menghampiri Bella dan berlutut di depan sofa tempat Bella duduk. Bella terheran-heran akan sikap Greyson yang aneh.
“Bella…” panggil Greyson lirih. Ia memegang kedua pipi Bella dan perlahan mendekatkan wajah Bella ke wajahnya. Dan, ia mencium bibir Bella. Mendapat perlakuan yang tiba-tiba itu, Bella terkejut dan menjauhkan wajah Greyson dari wajahnya.
“Grey? Kau―”
“Aku ingin kau menjadi kekasihku,”

To be continued…
»»  READ MORE

FanFiction – “Running Away” 15


“Mau apa kau ke sini?” tanya Greyson geram.
“Tentu saja ingin menemuimu, sweetheart!” sahut Bella dengan wajah sumringah, “Tak kusangka akhirnya kau berpaling dari Alice kepadaku,”
“Itu tidak akan terjadi, Miss Westphalen!” sambar Greyson dengan rahang terkatup rapat.
“Uh, bisakah kau membukakan pintu pagar?” tanya Bella seakan tidak mendengar perkataan Greyson yang terakhir.
Tanpa berkata-kata, Greyson membukakan pintu pagar dan membiarkan Bella masuk dengan seenaknya.
“Yah, rumah yang tetap terawat meskipun sudah ditinggal tiga tahun,” ujar Bella sembari melihat-lihat seisi ruang tamu. Ia pun meletakkan barang bawaannya di atas sofa tempat Greyson tidur semalam.
Greyson yang melihat Bella sangat seenaknya pun mendengus kesal. “Kau mau minum apa?” tanya Greyson dingin.
“Oh, biar kubuat sendiri minuman itu. Sekarang kita mengobrol saja di sini. Aku sangat merindukanmu,” kata Bella dengan pandangan manja.
Melihat itu Greyson muak dan berkata, “Sayangnya tidak denganku. Aku bertanya, kau mau minum apa?”
“Aku akan membuatnya sen―”
“Kau mau minum apa?” ulang Greyson memotong perkataan Bella.
“Lemon tea,” jawab Bella kesal. Saat ia melihat Greyson berbalik menuju dapur, Bella pun berniat mengikutinya namun langkahnya terhenti karena Greyson membalikkan badannya dan menatap tajam ke arahnya.
“Tunggu di sini,” kata Greyson singkat.
“Tapi aku ingin ikut,” sahut Bella memelas.
“Tidak,”
“Aku―” perkataan Bella terhenti saat melihat sosok gadis di belakang Greyson yang tengah menatapnya dengan mata membelalak.
Greyson heran menatap pandangan Bella yang berubah menjadi terperangah. Ia pun berniat memutar tubuhnya untuk menatap ke belakang. Namun tiba-tiba saja tubuhnya sudah didekap dengan erat oleh Bella.
“Oh, Greyson. Aku sangat merindukanmu!” kata Bella sambil mencuri pandang ke arah Alice yang memandang mereka dengan pandangan aneh.
“Lepas―” ucapan Greyson terhenti karena mendapati bibir Bella sudah menyentuh bibirnya.
“Uh, maaf bila aku mengganggu,” kata Alice sambil menunduk. Sedetik kemudian ia sudah berlari kecil ke arah dapur.
“Alice!” seru Greyson sambil menyentakkan tangan Bella yang masih memeluknya. “Lepaskan aku! Kau bodoh!”
Bella menatap Greyson yang tengah mengejar Alice ke dapur. Ia tersenyum puas dan bergumam, “Aku tidak akan menyerahkan Greyson dengan mudahnya kepadamu, Alice Cartel,”

xxx

Alice duduk di salah satu kursi di dapur. Ia terdiam. Kepalanya tertunduk. Ingatan beberapa menit yang lalu berputar di otaknya. Ia bingung mengapa gadis itu bisa berada di rumah ini. Ia heran mengapa Greyson dengan mudahnya menerima ciuman gadis bodoh itu padahal baru semalam ia berkata hubungan itu hanyalah sandiwara belaka.
Alice ingin menangis, namun ia tidak dapat menangis. Segala perasaan bercampur dalam otaknya. Ia ingin mempercayai perkataan Greyson beberapa saat yang lalu, namun ia lebih mempercayai penglihatannya.
“Alice!” seru Greyson.
Mendengar seruan Greyson, Alice tak kunjung mendongakkan kepalanya. Ia justru menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa kesal.
“Alice! Dengarkan aku. Look at me!” pinta Greyson. Ia berlutut di depan Alice, pandangannya memohon. Ia pun mengangkat satu tangannya untuk mengangkat dagu Alice. Namun dengan cepat Alice menepis tangan Greyson dan segera berdiri.
“Aku tahu sejak awal,” ujar Alice dengan rahang terkatup rapat. Ia menelan ludah dan melanjutkan, “Hanya Zack yang tidak akan pernah menipuku,”
Alice beranjak dari tempatnya berdiri dan hendak berlari keluar rumah. Namun tangannya ditahan oleh Greyson yang saat ini tengah menatapnya dengan pandangan nanar. “Apa… apa maksudmu?”
“Kurasa kau sudah tahu maksudku,” timpal Alice dengan suara bergetar sambil berusaha menepis tangan Greyson.
“Kau mau ke mana?” tanya Greyson lagi.
“Tentu saja ke rumahku. Aku punya rumah sendiri!” bentak Alice.
“Tapi… tapi di sana ada tikus. Tikus yang besar… dan… dan kau takut,” gumam Greyson dengan suara bergetar. Ia ingin menahan Alice namun tak tahu lagi apa yang harus ia katakan untuk menahan gadisnya itu. Perlahan genggamannya mengendur dan terlepas.
“Kuharap kau dapat bertahan lama dengannya, Grey,” ucap Alice pedih. Perlahan ia melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah itu.

xxx

Greyson menatap nanar kepergian Alice. Ia tidak bisa melakukan apapun. Ia pun berjalan ke ruang tamu dengan langkah berat dan mendapati Bella sedang melipat tangan sambil bersandar di tembok dengan senyum penuh kemenangan.
“Kau bisa pergi sekarang,” ucap Greyson dingin sambil menatap Bella dengan pandangan mengancam.
“Aku tidak akan pergi sebelum kau memberikanku lemon tea yang aku mau,” protes Bella.
Dengan geram ia berjalan dengan menghentakkan kaki ke arah Bella. Ia berdiri tepat di hadapan Bella sambil melemparkan pandangan yang dapat membunuh siapapun. Melihat itu, Bella merasa dirinya menciut. Ia pun berjalan keluar rumah.
Greyson membanting pintu rumah dan berjalan lunglai ke kamarnya. Ia duduk di pinggiran kasur dan terdiam di sana. Ia merogoh saku jaketnya dan tidak mendapati fotonya bersama Alice di sana. Ia pun merasa sedikit panik.
“Damn! Di mana fotoku?” seru Greyson kesal.
Ia mengaduk-aduk seluruh tasnya dan tidak menemukan apa pun. Ah! Greyson baru ingat. Ia meninggalkan fotonya di kamar apartemennya. Ia pun merutuk dalam hatinya dan berniat kembali ke New York untuk mengambil foto itu.

.xxx

Alice masih tidak menyangka akan penglihatannya tadi. Namun tidak dapat ia pungkiri bahwa ia tidak salah lihat.
“Grey…” bisik Alice sambil mengusap gambar Greyson di foto yang sedang ia pegang. Tidak terasa air matanya jatuh di atas foto itu―tepat di atas gambar Greyson― dan membuat gambarnya rusak. Ia terkejut, dan berusaha susah payah untuk mengeringkan lembaran itu dengan tangannya. Namun sia-sia. Usahanya itu justru membuat foto itu semakin rusak. Dengan putus asa ia menghempaskan dirinya di atas kasur. Ia memandang foto itu sambil menghela nafas. “Maaf, Grey,”
Tiba-tiba ia mendengar suara bel. Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela untuk melihat siapa yang bertamu―seperti kebiasaannya sewaktu kecil―kemudian melongokkan kepalanya dan melihat Greyson lah yang berdiri di depan pagar.
Alice mengatupkan rahangnya dan berjalan kaku menjauhi jendela untuk membukakan pagar.
“Silakan masuk,” kata Alice sesaat setelah membukakan pintu pagar. Ia berbicara pada Greyson namun pandangannya mengarah ke tanah.
“Tidak, terimakasih,” sahut Greyson dengan nada bicara kaku.
“Kau mau apa?”
“Hanya ingin menitipkan kunci rumahku selama dua hari,” sahut Greyson tanpa basa-basi.
Alice tercengang. Ia pun menatap Greyson penuh tanya. “Memangnya, kau―?”
“Ingin ke New York,” sambung yang ditanya cepat.
“Sendiri?”
“Kuharap tidak. Mungkin Bella mau menemaniku,”
Kerongkongan Alice seperti tercekat. Ia tidak menyangka Greyson ternyata bersungguh-sungguh mencintai Bella. Pada mulanya ia ingin Greyson memberikan sebuah penjelasan. Namun kini semuanya sudah jelas. Greyson sudah menjelaskannya.
“Ah, ya. Tentu,” ujar Alice sambil mengambil kunci rumah yang disodorkan Greyson padanya, “Aku akan menjaga rumahmu. Bersenang-senanglah dengan Bella!”
Alice pun bergegas kembali ke dalam rumahnya. Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Ia tidak ingin Greyson melihat air mata yang turun dari matanya. Ia tidak ingin melihat Greyson lagi.

xxx

“Kau sudah siap?” tanya Greyson dingin pada Bella.
“Tentu!” sahut Bella senang. Ia tidak menyangka ternyata Greyson benar-benar berpaling padanya secepat itu. Ia pun masuk ke dalam mobil Greyson untuk bersiap-siap ke bandara.
Dengan kecepatan tinggi Greyson mengendarai mobilnya menuju bandara tanpa berkata-kata. Pandangannya lurus ke depan tanpa sedikitpun menoleh bahkan melirik ke arah Bella. Ia tidak menanggapi sepatah katapun yang diucapkan Bella sehingga membuat gadis itu merajuk sepanjang jalan. Namun Greyson tidak memedulikannya.
“Sudah sampai,” ujar Greyson saat mereka tiba di parking area bandara. Ia bergegas turun dan mengeluarkan barang-barangnya sendiri dari bagasi.
“Hey! Bisakah kau mengambilkan barang-barangku?” tanya Bella yang tengah bersusah payah mengangkat barang-barangnya.
Greyson menoleh dengan tidak sabar dan menyahut, “Kau punya tangan, kan? Cepat angkat barang-barangmu atau kutinggal kau di sini,”
Dengan bersungut-sungut, Bella mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi mobil Greyson dan segera menyusul laki-laki itu yang sudah mendahuluinya. “Tunggu!” seru Bella tanpa dihiraukan oleh Greyson.
Mereka pun sampai di ruang tunggu bandara dan Greyson merogoh tiket pesawat yang baru dibelinya tadi siang. Ia melihat sebentar dua lembar tiket di tangannya dan menyerahkan satunya kepada Bella.
“Tunggu. Kita tidak duduk bersebelahan?” tanya Bella saat melihat lembaran tiket di tangannya dan juga tiket milik Greyson.
“Ya,” jawab Greyson singkat acuh tak acuh.
Bella mendengus kesal karena Greyson sengaja membeli dua tiket dengan tempat duduk yang berjauhan. Ia berniat untuk tidak mengacuhkan Greyson sepanjang perjalanan untuk membuat laki-laki itu jera. Namun ia salah. Justru itulah yang diinginkan Greyson.

xxx

Alice berjalan mondar-mandir di terasnya. Ia bingung harus berbuat apa. Ia ingin pergi ke suatu tempat, namun ia tidak tahu ke mana ia harus pergi.
“Uh, apa yang harus aku lakukan?” tanya Alice sambil duduk di bangku teras.
Pada awalnya ia datang ke sini untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang tertentu. Dan ia berpikir akan baik-baik saja tanpa orang-orang itu sampai ia bertemu secara tidak sengaja dengan Greyson di dekat bandara. Sekarang ia sadar ia sangat membutuhkan Greyson.
“Spada!” seru seseorang dari arah pagar. Alice segera menoleh ke arah pagar dan sontak terkejut dengan penglihatannya.
“Ah! Akhirnya aku menemukan rumah yang tepat! Aku sudah mencarimu ke seluruh Wichita Falls!” kata orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zack.

To be continued

»»  READ MORE