“Aku tak bisa,” jawab Greyson sambil menggeleng pelan.
Alice terperangah mendengar jawaban Greyson. Ia pun
bertanya, “Mengapa?”
“Aku harus pergi minggu depan. Guy baru saja mengirimi aku
sebuah pesan singkat. Ia bilang aku harus melakukan sebuah konser di Indonesia,
atau Guy terpaksa akan berhenti menjadi manajer untuk selamanya. Aku tidak mau
hal itu terjadi padanya,” terang Greyson sambil menatap ke bawah.
“Tapi―”
“Alice, maafkan aku. Ini semua demi Guy. Andaikan bukan Guy
yang meminta, mungkin aku akan menolaknya dan lebih memilih untuk bersamamu,”
jelas Greyson sembari menggenggam tangan Alice, “Setelah konser itu selesai,
aku akan kembali padamu. Aku janji.”
Alice tidak sanggup menatap wajah Greyson. Akhirnya ia pun
bertanya, “Kapan konser itu dilaksanakan?”
“April. Dua puluh April
waktu Indonesia,” jawab Greyson.
“Itu masih dua bulan lagi, Grey! Mengapa kau terburu-buru?”
protes Alice.
“Ada beberapa hal yang harus aku urus. Kuharap kau mengerti,
Alice,” ucap Greyson sambil menatap Alice lembut, “Selama seminggu ini, kita
habiskan waktu bersama-sama. Jangan biarkan ada yang mengganggu kita. Ya?”
Alice pun akhirnya tersenyum dan mengangguk mengerti.
“Setelah pulang dari sana, aku berjanji akan membuatmu
bahagia. Dan kebahagiaanmu tidak ada lagi yang akan merebutnya. I promise.”
xxx
Hari keberangkatan Greyson pun tiba. Sudah satu minggu penuh
mereka menghabiskan waktu dan tidak membiarkan siapapun dan apapun mengganggu
mereka. Alice mengantarkan Greyson ke bandara. Hatinya merasa takut. Ia takut
Greyson tidak menepati janjinya seperti dulu. Terlebih lagi ketika Greyson
mengucapkan hal yang hampir sama dengan kepergiannya empat tahun lalu.
“Hey, Alice! Trust me, I will visit you later! Aku janji aku
akan menemuimu dua bulan lagi! Tunggulah aku, Alice, aku berjanji. Sampai jumpa
Alice!” seru Greyson.
“Grey!” seru Alice
sambil menahan lengan baju Greyson agar tidak segera masuk ke pesawat.
“Alice? Aku harus berangkat dua puluh menit lagi.”
“Jangan katakan kata-kata itu. Kumohon. Aku tidak mau itu
terulang lagi,” kata Alice lirih. Ia menundukkan kepalanya dengan tangan masih
mencengkeram erat lengan baju Greyson.
Greyson pun tersenyum. Ia mengangkat dagu Alice dan berkata
lembut, “Baiklah, aku akan menggantinya. Alice, maukah kau menungguku hingga
dua bulan lagi? Aku akan kembali untuk membahagiakanmu.”
Alice tersenyum mendengar kata-kata lembut dari Greyson. Ia
pun mengangguk pasti dan kemudian mencium pipi Greyson yang sesaat kemudian
memerah padam. Setelah mereka mengucapkan salam perpisahan, Greyson pun
berjalan menjauh. Dan Alice menatap punggung Greyson yang semakin hilang dari
pandangan dengan gelisah.
Sebelum ia melihat Greyson masuk ke dalam pesawat melalui
tembok kaca itu, Alice pun segera berlari meninggalkan bandara. Ia takut. Ia
sangat takut Greyson akan direnggut selamanya dari dirinya. Ia takut kehilangan
orang yang ia sayangi untuk yang kedua kalinya.
Ia takut tak dapat bertemu Greyson lagi.
xxx
Alice menggigit bibirnya selama perjalanan menuju ke
rumahnya. Jarinya mengetuk-ngetuk jendela taksi yang ia tumpangi. Matanya memandang
liar ke luar jendela. Kegelisahan merayap di sekujur tubuhnya. Entah mengapa ia
merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang tidak ia inginkan. Sesuatu
yang menimpa Greyson.
Ia pun akhirnya sampai di rumahnya, setelah menumpangi
sebuah perahu untuk menyeberangi sungai besar dekat desanya. Tanpa banyak
bicara, ia segera naik ke kamarnya untuk berdiam diri di sana. Pikirannya
melayang-layang entah ke mana. Tiba-tiba saja ia merasa ia harus menyalakan
televisinya.
Layar televisi yang mulanya hitam pun perlahan-lahan
menampilkan cahaya. Alice mengganti channelnya dan memutuskan untuk menonton
berita. Rahangnya menegang ketika melihat dua orang pembawa acara yang
menyampaikan berita tentang hal yang amat sangat tidak ingin ia dengar.
“Penerbangan Amerika
Serikat – Indonesia dengan nomor penerbangan xxxx mengalami kecelakaan pada pukul delapan hari ini. Pesawat―”
Dengan segera, Alice mematikan televisinya dan mulai duduk
meringkuk di sudut ranjangnya. Perlahan-lahan kedua tangannya terangkat. Ia
mulai menjambak rambutnya dan pandangannya mulai kabur karena air mata. Ia
membisikkan sebuah nama dengan bibir bergetar.
Greyson sudah meninggalkannya.
Untuk selamanya.
xxx
Dengan marah, Alice berlari keluar kamarnya. Ia berlari
sekuat-kuatnya. Ia ingin melampiaskan segalanya di tempat favoritnya. Sungai.
Ia harus ke sana. Air mata sudah tidak dapat lagi dibendungnya. Pipinya basah.
Wajahnya memerah. Ketakutannya terbukti. Segalanya telah terjadi. Segalanya
telah terenggut dari dalam hidupnya.
Sampailah ia di sungai. Ia memandangi pantulan dirinya di
dasar sungai. Ia menyumpal mulutnya dengan bagian kerah bajunya dan mulai
menjerit sekuat tenaga. Air matanya terus menerus mengalir. Ia ingin
menumpahkan segala kesedihannya dengan berteriak tanpa membuat orang lain
terganggu.
“Why should be Greyson? Why?” jerit Alice sambil terisak
keras. Angin bertiup cukup kencang, membuat tubuhnya menggigil. Namun ia sudah
tidak peduli lagi. Semuanya telah meninggalkannya sendirian. Zack, dan kini
Greyson. Tubuhnya mulai limbung. Ia hampir saja terjatuh sampai tubuhnya
ditahan oleh seseorang. Sebelum Alice benar-benar tidak sadarkan diri, ia
menangkap sosok itu dan sempat berkata lirih dengan suara bergetar, “Kupikir
kau―” detik berikutnya, ia jatuh pingsan.
xxx
“Mengapa kau menangis,
Alice? Aku ada di sini. Aku berada di sampingmu. Percayalah, aku tidak akan
meninggalkanmu,” sayup-sayup terdengar suara lembut yang memenuhi
kepalanya.
“Grey? Kau kah itu?”
Alice berbisik pelan. Ia mencari-cari asal suara tersebut, namun yang
didapatkannya hanyalah bayang-bayang semu, “Grey?
Kau di mana? Grey! Please, don’t leave me!”
Cahaya putih yang berpendar-pendar itu pun lenyap.
Digantikan dengan kegelapan yang hitam pekat.
xxx
Alice pun siuman satu jam kemudian. Ia heran mengapa ia
sudah berada di tempat tidurnya, padahal baru beberapa saat lalu ia berdiri di
pinggir sungai. Ia segera duduk dan mencari-cari sesuatu. Mencari bayang-bayang
yang sebenarnya tidak pernah ada. Ia pun mulai menangis keras lagi ketika
ingatan itu merayap ke otaknya.
“Alice? Apa kau baik-baik saja?” tanya suara yang tak lain
dan tak bukan adalah suara milik ibunya.
Melihat ibunya yang sudah berdiri di sebelah tempat tidurnya
dan menatapnya dengan lembut, Alice segera menghambur memeluk ibunya sembari
terisak keras. “Mom… Grey… Greyson,” kata Alice lirih.
“Alice? Ada apa dengan Greyson? Bukankah ia―” tanya ibunya
dengan bingung. Kata-katanya berhenti entah karena apa. Ia pun mengelus rambut
Alice dengan lembut sambil berkata, “Sebaiknya kau tidur, Alice. Kau terlihat
lelah.”
Alice pun mengangguk lemah. Ia segera melepaskan pelukannya
dan membaringkan dirinya di atas kasur.
xxx
Alice terbangun pada malam harinya dalam kondisi lapar.
Seisi rumah sudah tertidur ketika ia berjalan menuju dapur di rumahnya untuk
mencari makanan yang mungkin ada untuk mengganjal perutnya. Dan benar saja, ada
beberapa makanan di atas meja makan. Ia pun segera memakan apa pun yang ada di
situ dengan rakus.
Tak lama setelah ia memulai makan, ia mendengar suara aneh
dari arah kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari dapur. Seperti suara
dengkuran. Seketika itu juga bulu tengkuknya meremang. Ia pun berpikir untuk
melanjutkan makannya dengan cepat agar ia bisa segera kembali ke kamarnya dan
melanjutkan tidur. Namun pikiran itu tiba-tiba hilang. Ia menghentikan makannya
dan berjalan perlahan menuju kamar tamu yang―diketahuinya―kosong.
Perlahan ia membuka kamar itu dan mendapati sesuatu yang
tengah berbaring di atas kasur. Bagian atas ‘benda’ itu terlihat naik-turun,
seperti orang yang sedang bernafas. Dengkuran pun terdengar semakin keras di
kamar itu. Alice tanpa ragu segera berjalan ke arah tempat tidur dan menyingkap
selimut yang menutupinya.
Alice menjerit pelan ketika melihat sosok siapa yang sedang
tertidur di sana.
Mendengar jeritan Alice, laki-laki yang sedang tidur itu pun
segera bangun dan membelalak melihat Alice. Dan detik berikutnya, Alice sudah
jatuh pingsan.
To be continued…