Dengan langkah kaki yang kaku karena dingin, Zack terus
menyusuri jalan menuju pinggir sungai demi menemui Alice-nya.
“Mengapa kau memaksaku?”
Suara yang sangat ia kenal itu tiba-tiba terdengar saat ia
sudah hampir dekat dengan pinggir sungai. Ia pun bergegas menuju tempat itu.
Saat ia sudah sampai, ia melihat Alice yang memunggunginya sedang membentak
laki-laki yang tak lain adalah Greyson.
Zack langsung saja menahan tangan Alice yang sudah hampir
menampar Greyson. Karena terkejut tangannya ditahan, Alice segera memandang ke
belakang untuk melihat siapa yang menahan tangannya.
“Zack?” bisik Alice masih dengan kilatan kemarahan di mata
birunya.
Lalu Zack melepas genggaman Alice dan mengalihkan
pandangannya dari Alice ke Greyson. Ia memandang laki-laki yang hanya satu
tahun lebih muda darinya itu dengan pandangan dingin yang tajam.
“Apa yang kau lakukan terhadap Alice?” tanya Zack dingin.
Greyson terdiam sejenak. Pandangannya teralihkan ke Zack. Ia
mengatupkan rahangnya kuat-kuat saat melihat Zack merengkuh Alice dalam
pelukannya dan Alice tidak menolak.
Tanpa menjawab pertanyaan Zack, Greyson tersenyum masam, dan
berkata, “Alice, kurasa aku tahu siapa Zack,”
Perlahan Greyson membalikkan badannya dan berjalan menjauh.
xxx
Alice menatap kepergian Greyson dengan pandangan nanar. Seiring
dengan kepergian Greyson, ada beberapa pertanyaan yang timbul dalam benaknya.
Mengapa Greyson marah melihatnya bersama Zack?
“Ayo kita kembali ke rumahmu. Ini sudah malam dan udara
sangat dingin. Tidak baik untuk kesehatanmu,” ujar Zack panjang lebar sambil
menarik tangan Alice.
Alice menyentakkan tangannya sehingga genggaman Zack terlepas
dari tangannya. “Aku bisa berjalan sendiri,” ujar Alice dingin.
Dengan perasaan yang tidak menentu, ia memandang Alice yang
sudah berjalan lebih dahulu di depannya. Sesaat kemudian ia menyusul Alice dan
berjalan tepat di sampingnya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Alice,” kata Zack yang
membuat langkah Alice terhenti.
Setelah langkahnya berhenti, Alice menatap Zack tajam dan
berkata dengan rahang tertutup, “Kupikir kau mengerti kondisiku,”
“Tapi―”
“Kau boleh mengatakannya besok. Aku lelah,” potong Alice dan
kemudian melanjutkan perjalanannya dengan langkah cepat.
xxx
Perlahan Greyson membuka matanya karena ia merasa hari sudah
mulai terang. Setelah sepenuhnya tersadar dari tidurnya, Greyson berjalan ke arah
jendela dan memandang langit musim gugur yang berwarna biru dengan semburat
oranye kemerahan dan sedikit warna putih dari awan-awan yang menggantung.
Laki-laki itu menghirup udara pagi yang segar perlahan-lahan.
Melupakan sejenak kejadian-kejadian menyakitkan semalam. Ia mulai berpikir
optimis tentang hal-hal yang akan terjadi hari ini. Sejenak ia melihat jam yang
berdiri di atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya dan melihat waktu sudah
menunjukkan pukul tujuh pagi.
Ia pun tersadar dan segera berlari ke dalam kamar mandi untuk
mencuci muka dan menyikat giginya. Ia baru saja ingat akan jadwal kerja hari
ini.
“Ah, pasti para kru sudah datang,” ujar Greyson pada dirinya
sendiri saat akan mengenakan mantel abu-abunya.
Dengan sangat tergesa-gesa, Greyson berjalan keluar kamarnya
dan menuruni tangga menuju lantai bawah. Di lantai dasar ia melihat Alexa yang
sedang sarapan bersama dua wakil manajernya.
“Morning, my brother,” sapa Alexa seraya tersenyum, saat
melihat adik kesayangannya.
“Morning, Lex,” sahut Greyson sambil mencium pipi kakak
perempuannya.
“Pukul berapa kau tidur semalam, Grey? Kau bangun sangat
telat!” tegur Troy.
“Maafkan aku. Aku terlalu lelah dengan penerbangan kemarin,”
jelas Greyson dengan sedikit dusta. Sesungguhnya ia tidak lelah dengan
penerbangan kemarin. Tetapi ia terlalu lelah memikirkan hal-hal yang terjadi
kemarin.
“Kau ini banyak alasan!” timpal Guy sengit.
Saat Greyson hendak membuka mulut untuk membalas perkataan
Guy, Troy memandang Greyson tajam sebagai tanda ia tidak boleh menimpali
perkataan Guy. Sehingga Greyson kembali mengatupkan bibirnya.
Mereka berempat pun menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan
bergegas pergi ke lokasi shooting di mana para kru sudah menunggu. Setelah
sampai di lokasi shooting―di dekat sungai― Greyson segera disambut oleh para
perias yang sudah bersiap-siap merias Greyson.
Setelah dirias dan mengenakan pakaian yang sesuai, Greyson
pun mulai melakukan berbagai acting untuk video klipnya nanti. Sampai pada saat
acting tersenyum, Greyson mendapati Alice sedang bermain berdua dengan Zack di
pinggir sungai. Hal itu membuatnya kehilangan konsentrasi sehingga ia terdiam
dan membisu memandangi gadis itu yang tengah tertawa.
“Greyson!” panggil salah satu kru kamerawan.
Namun Greyson tidak mendengar panggilan orang itu. Ia tetap
mematung di tempatnya dengan pandangan yang tak lepas dari Alice.
“Greyson!” panggil orang itu sekali lagi dengan suara keras
sehingga membuat Greyson tersadar.
“Eh, i…iya,” ujar Greyson terbata-bata.
xxx
Segerombolan orang datang ke dekat sungai tempatnya sedang
bermain bersama Zack. Karena penasaran, Alice sesekali mencuri-curi pandang ke
tempat gerombolan orang yang membawa berbagai perlengkapan shooting.
Lalu matanya menangkap sosok laki-laki yang berjalan bersama
dua orang laki-laki dan seorang perempuan mendekati gerombolan itu. Laki-laki
itu menggunakan mantel berwarna abu-abu. Dan raut wajah laki-laki itu tidak
menunjukkan kegembiraan sama sekali.
Alice sempat terpaku menatap laki-laki yang sekarang sedang
ditarik untuk dirias. Namun dengan cepat ia menyadari keberadaan Zack dan
kembali bermain bersama orang itu.
Mereka berdua masih bermain di sungai sambil sesekali tertawa―Alice
kini sudah mulai sering tertawa setelah kedatangan Greyson―dan Alice sesekali
masih mencuri pandang ke arah Greyson. Dan pada suatu waktu, Alice tak sengaja
bertemu pandang dengan Greyson yang ternyata juga sedang menatapnya.
Cepat-cepat Alice membuang muka dan menatap ke arah lain.
Melihat Alice yang tiba-tiba diam, Zack menegurnya, “Hey!”
Sambil mendongak menatap Zack, Alice menyahut singkat, “Aku
ingin pulang,”
Tetapi Zack membantahnya, “Tapi kita baru ke sini beberapa
waktu yang lalu! Masakan kau mau kembali secepat ini?”
“Kalau aku bilang pulang, ya pulang!” bentak Alice yang
segera berjalan cepat menuju rumahnya.
Zack tidak menyusul Alice, ia justru memandang ke kerumunan
orang di depannya, lebih tepatnya ke arah Greyson. Lalu perlahan-lahan ia
melangkahkan kakinya ke arah Greyson dan mendorong bahunya dengan kasar.
“Ingat, jangan harap aku akan memaafkanmu yang sudah membuat
Alice berubah,” ucap Zack dingin dengan pandangan tajam.
Greyson yang merasa tidak terima, dengan cepat meninju wajah
Zack.
To be continued…
No comments:
Post a Comment