“Tidak. Aku tidak ingin kau kelelahan. Sebaiknya kau di sini
saja menunggu aku,” ujar Greyson berusaha memberi pengertian. Tetapi Alice
tetap memaksa untuk ikut sehingga akhirnya Greyson sepakat mereka akan
berangkat bersama malam itu. Mereka pun segera meninggalkan tempat ramai itu
dan kembali ke apartemen masing-masing. Saat mereka akan berpisah, mereka
berjanji akan bertemu di suatu tempat agar dapat berangkat ke bandara
bersama-sama.
Nafas Greyson tersengal-sengal karena merasa sangat panik.
Berkali-kali ia mengatur nafas namun pikirannya tetap kacau. Ia memikirkan
ayahnya yang sangat ia cintai. Berbagai pikiran negatif pun menyerbu otaknya
dan ia berusaha membuangnya jauh-jauh dengan menggeleng kuat-kuat.
Segala sesuatunya sudah siap. Greyson segera keluar dari
apartemennya dan menuju tempat parkir underground. Setelah menemukan mobilnya,
ia segera masuk dan mengendarai mobilnya ke tempat Alice dan Greyson berjanji
untuk bertemu.
Setelah sampai, ia segera melihat Alice yang sudah membawa
sebuah koper. Tanpa basa-basi Alice segera meletakkan kopernya di bangku
penumpang belakang dan duduk di sebelah Greyson di depan. Perjalanan mereka
menuju bandara diliputi keheningan. Greyson merasa gelisah, sedangkan Alice
menjaga perasaan Greyson, jangan sampai ia salah berucap dan membuat Greyson
semakin resah.
xxx
Greyson pun segera mengurus tiket penerbangan, yang terawal,
ke Oklahoma. Ia akhirnya mendapatkan dua tiket penerbangan. Penerbangan akan
dilakukan satu jam lagi. Mereka menunggu sembari duduk di sebuah bangku
panjang. Greyson berkali-kali menggigiti kuku jarinya, sedangkan Alice yang
duduk di sebelahnya menyandarkan kepalanya di bahu Greyson dan tangannya
menggenggam tangan Greyson yang bebas.
Satu jam pun berlalu masih dalam keheningan. Mereka lalu
bersiap untuk masuk ke dalam pesawat. Setelah di dalam pesawat pun mereka masih
bergumul dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Greyson mengerang membuat
Alice menatap Greyson bingung.
“Aku bodoh, Alice,” ujar Greyson lirih penuh penyesalan.
Alice bingung akan ucapan Greyson. Ia membelai tangan
Greyson untuk menenangkannya. Lalu ia berkata lembut, “Keep calm, Grey.
Everything will be okay, and I’m here with you if you need me,” Ia pun
menyandarkan kepalanya di pundak Greyson yang kemudian menyandarkan kepalanya
di kepala Alice.
Akhirnya sampailah mereka di bandara Will Rogers World.
Greyson dan Alice pun bergegas keluar dari bandara dan menaiki taksi ke Edmond,
Oklahoma; tempat keluarga Greyson tinggal semenjak tiga tahun yang lalu.
Dalam perjalanan, Greyson terus menerus bergumam tidak jelas
dan Alice hanya berusaha menenangkan Greyson agar tidak terus menerus gelisah
dengan membelai tangannya. Setelah sekitar lima belas kilometer, mereka
akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Mereka pun turun dengan
tergesa-gesa, menurunkan bawaan mereka, membayar, dan kemudian segera berlari
ke dalam rumah.
Di dalam rumah, mereka disambut hangat oleh Mrs. Chance, ibu
dari Greyson. “Oh, Grey! Merry Christmas!”
Sambil memeluk ibunya dengan perasaan rindu, Greyson
bertanya, “Merry Christmas too, Mom. Bagaimana kondisi Dad?”
“Tenang, sweetheart. Your Dad’s okay,” sahut Mrs. Chance
yang membuat Greyson dapat bernafas lega. Lalu Mrs. Chance melirik ke arah
Alice dan mengerutkan keningnya, kemudian berkata, “Wait, let me guess. You are
Alice, aren’t you?”
Alice pun merasa senang karena ibunya Greyson masih
mengingatnya dengan baik. Ia lalu tersenyum dan mengangguk. Kemudian Mrs.
Chance kembali bertanya dengan sedikit berbisik, “Apakah kau sekarang menjadi
kekasih Greyson?”
“Oh, Mom. Stop it!” ujar Greyson yang pipinya memerah.
“Uh, itu bukan masalah, anakku. Aku senang jika kekasihmu
adalah Alice. Dan bukan Bella. Aku
tak suka padanya,” timpal Mrs. Chance dengan mengernyitkan hidungnya.
“Oh, sudahlah. Apa Mom tidak membiarkan kami masuk? Di sini
sangat dingin,” kata Greyson mengakhiri perbincangan dan membuat Mrs. Chance
menepuk dahinya dan segera mempersilakan mereka masuk.
Setelah masuk, Greyson bergegas ke kamar ayahnya dan diikuti
oleh Alice dan juga Mrs. Chance. Di dalam kamar, terlihat ayah Greyson yang
sedang terbaring lemah. Namun Mr. Chance masih menyisihkan senyum terbaiknya
untuk anaknya yang baru saja pulang.
“Greyson and―” ujar Mr. Chance lemah.
“Alice,” sambung Alice sambil tersenyum.
“Oh, right, Alice Cartel. Merry Christmas!” lanjut Mr.
Chance masih dengan senyum lemah.
“Merry Christmas too, Mr. Chance,” balas Alice.
“Wah, mengapa kau pulang, Grey? Bukankah kau sedang sibuk?”
tanya Mr. Chance dengan suara serak.
Greyson menghela nafas lalu berkata, “Sesibuk apa pun aku,
jika ada anggota keluargaku yang sakit, aku akan pulang saat itu juga,”
Mr. Chance tersenyum lagi mendengar perkataan anak bungsunya
itu. Lalu ia melirik ke arah Alice dan berkata untuk menggoda mereka, “Greyson,
kau sepertinya tidak salah memilih kekasih,”
Seketika itu juga pipi Greyson dan juga Alice memerah.
xxx
Sudah tiga hari Greyson dan Alice tinggal di rumah keluarga
Chance. Keluarga dengan lima anggota keluarga yang hangat. Alice merasa nyaman
berada di antara anggota keluarga Chance yang menyambutnya dengan suka cita.
Pada hari ketiga ini, keadaan Mr. Chance sudah membaik. Greyson pun memutuskan
untuk kembali ke Manhattan bersama Alice karena dua wakil manajernya mulai
mencari-carinya masalah pekerjaan.
“Mom, Dad terimakasih ya. Maaf jika kami berdua merepotkan
kalian berdua,” ujar Greyson saat di bandara menjelang keberangkatannya bersama
Alice.
“Oh, sama sekali tidak, Grey. Justru kami sangat senang kau
mau pulang untuk mengunjungi aku,” sahut Mr. Chance yang duduk di kursi roda.
“Thanks Mr. and Mrs. Chance,” ucap Alice sambil memeluk Mrs.
Chance dan menjabat tangan Mr. Chance.
“Yeah, sama-sama. Sudahlah, penerbangan kalian akan
dilaksanakan dua puluh lima menit lagi. Sebaiknya kalian segera pergi,” kata Mrs.
Chance, “Dan kami berharap jika kalian kembali ke sini, kalian membawa kabar
baik bahwa kalian akan menikah,”
“Uh, Mom. Can you stop it? Okay, we’ll go now. Good bye!”
seru Greyson. Kemudian ia menggandeng tangan Alice dan berbalik untuk segera
menjalani pemeriksaan.
xxx
Sesampainya di New York, Greyson tak segera menuju ke
apartemennya. Ia justru mengantarkan Alice ke apartemennya sendiri dan
memutuskan untuk beristirahat sejenak di situ. Alice tidak mengusir Greyson. Ia
membiarkan Greyson tidur sebentar di kamarnya, sedangkan ia menyiapkan minuman
panas untuk Greyson.
Saat Alice tengah membuat coklat hangat untuk Greyson,
tiba-tiba seseorang memeluk pinggangnya dari belakang, ia sedikit terkejut. Ia
menoleh ke samping dan mendapati Greyson yang tengah tersenyum lebar padanya
sambil berkata, “Selamat pagi, istriku,”
Mendengar ucapan Greyson, pipi Alice memerah. Ia segera
melepaskan pelukan Greyson dan berkata tajam, “Aku bukan istrimu, Grey! Dan
ingat, kita masih lima belas tahun!”
“Ah, apa kau pikir kita tidak seperti suami istri saat ini?
Kau membuatkanku minuman panas, sedangkan aku bersantai di kamarmu,” ujar
Greyson. Ia duduk di salah satu kursi meja makan dan mengangkat kedua kakinya
ke atas meja makan.
Pipi Alice bertambah merah, lalu ia berseru saat melihat
kaki Greyson di atas meja makan, “Turunkan kakimu dari situ, Mr. Greyson!”
“Okay, Mrs. Chance,” sahut Greyson sambil mengedipkan
sebelah matanya dan menurunkan kedua kakinya.
“Stop it!” sambar Alice seraya melemparkan selembar serbet
ke wajah Greyson yang segera disambut tawa renyah dari pemuda itu.
Tiba-tiba ponsel Greyson berbunyi. Sang pemilik ponsel pun
segera mengangkat telepon itu. “Hello, Troy? What’s happened?”
Greyson menghela nafas panjang. Raut wajahnya yang semula
ceria berubah kusut saat mendengar wakil manajernya itu berkata di telepon. “Terserah
kau!” bentak Greyson kesal sambil memutuskan sambungan. Setelah memutuskan
telepon, Greyson hanya duduk diam di kursi dengan wajah yang bersungut-sungut.
Ia memutar-mutar ponselnya di meja.
“Ada apa, Grey?” tanya Alice saat melihat perubahan raut
wajah Greyson.
“Aku mendapat pekerjaan lagi,” jawab Greyson masih dengan
nada kesal, “Tur ke negara-negara di Asia,”
“Bukankah itu baik?” tanya Alice heran.
“Bukan itu masalahnya,” timpal Greyson ketus.
“Lalu?” tanya Alice penasaran.
“Aku tidak boleh mengajakmu!” jelas Greyson kesal.
“Itu bukanlah masalah besar, Grey!” kata Alice sambil
tertawa manis.
“Tunggu. Aku belum selesai,” Greyson menelan ludah sejenak
dan melanjutkan, “Aku tidak akan pernah
boleh lagi mengajakmu. Dan kau tidak boleh ikut aku secara diam-diam,”
“Atau?”
“Atau karierku terpaksa dihentikan,”
To be continued…
No comments:
Post a Comment