Sunday, 16 December 2012

FanFiction – “Running Away” 9

“Aku ikut,” ujar Alice pasti saat mendengar pernyataan Greyson yang akan ke Oklahoma malam itu juga.

“Tidak. Aku tidak ingin kau kelelahan. Sebaiknya kau di sini saja menunggu aku,” ujar Greyson berusaha memberi pengertian. Tetapi Alice tetap memaksa untuk ikut sehingga akhirnya Greyson sepakat mereka akan berangkat bersama malam itu. Mereka pun segera meninggalkan tempat ramai itu dan kembali ke apartemen masing-masing. Saat mereka akan berpisah, mereka berjanji akan bertemu di suatu tempat agar dapat berangkat ke bandara bersama-sama.
Nafas Greyson tersengal-sengal karena merasa sangat panik. Berkali-kali ia mengatur nafas namun pikirannya tetap kacau. Ia memikirkan ayahnya yang sangat ia cintai. Berbagai pikiran negatif pun menyerbu otaknya dan ia berusaha membuangnya jauh-jauh dengan menggeleng kuat-kuat.
Segala sesuatunya sudah siap. Greyson segera keluar dari apartemennya dan menuju tempat parkir underground. Setelah menemukan mobilnya, ia segera masuk dan mengendarai mobilnya ke tempat Alice dan Greyson berjanji untuk bertemu.
Setelah sampai, ia segera melihat Alice yang sudah membawa sebuah koper. Tanpa basa-basi Alice segera meletakkan kopernya di bangku penumpang belakang dan duduk di sebelah Greyson di depan. Perjalanan mereka menuju bandara diliputi keheningan. Greyson merasa gelisah, sedangkan Alice menjaga perasaan Greyson, jangan sampai ia salah berucap dan membuat Greyson semakin resah.

xxx

Greyson pun segera mengurus tiket penerbangan, yang terawal, ke Oklahoma. Ia akhirnya mendapatkan dua tiket penerbangan. Penerbangan akan dilakukan satu jam lagi. Mereka menunggu sembari duduk di sebuah bangku panjang. Greyson berkali-kali menggigiti kuku jarinya, sedangkan Alice yang duduk di sebelahnya menyandarkan kepalanya di bahu Greyson dan tangannya menggenggam tangan Greyson yang bebas.
Satu jam pun berlalu masih dalam keheningan. Mereka lalu bersiap untuk masuk ke dalam pesawat. Setelah di dalam pesawat pun mereka masih bergumul dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Greyson mengerang membuat Alice menatap Greyson bingung.
“Aku bodoh, Alice,” ujar Greyson lirih penuh penyesalan.
Alice bingung akan ucapan Greyson. Ia membelai tangan Greyson untuk menenangkannya. Lalu ia berkata lembut, “Keep calm, Grey. Everything will be okay, and I’m here with you if you need me,” Ia pun menyandarkan kepalanya di pundak Greyson yang kemudian menyandarkan kepalanya di kepala Alice.
Akhirnya sampailah mereka di bandara Will Rogers World. Greyson dan Alice pun bergegas keluar dari bandara dan menaiki taksi ke Edmond, Oklahoma; tempat keluarga Greyson tinggal semenjak tiga tahun yang lalu.
Dalam perjalanan, Greyson terus menerus bergumam tidak jelas dan Alice hanya berusaha menenangkan Greyson agar tidak terus menerus gelisah dengan membelai tangannya. Setelah sekitar lima belas kilometer, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Mereka pun turun dengan tergesa-gesa, menurunkan bawaan mereka, membayar, dan kemudian segera berlari ke dalam rumah.
Di dalam rumah, mereka disambut hangat oleh Mrs. Chance, ibu dari Greyson. “Oh, Grey! Merry Christmas!”
Sambil memeluk ibunya dengan perasaan rindu, Greyson bertanya, “Merry Christmas too, Mom. Bagaimana kondisi Dad?”
“Tenang, sweetheart. Your Dad’s okay,” sahut Mrs. Chance yang membuat Greyson dapat bernafas lega. Lalu Mrs. Chance melirik ke arah Alice dan mengerutkan keningnya, kemudian berkata, “Wait, let me guess. You are Alice, aren’t you?”
Alice pun merasa senang karena ibunya Greyson masih mengingatnya dengan baik. Ia lalu tersenyum dan mengangguk. Kemudian Mrs. Chance kembali bertanya dengan sedikit berbisik, “Apakah kau sekarang menjadi kekasih Greyson?”
“Oh, Mom. Stop it!” ujar Greyson yang pipinya memerah.
“Uh, itu bukan masalah, anakku. Aku senang jika kekasihmu adalah Alice. Dan bukan Bella. Aku tak suka padanya,” timpal Mrs. Chance dengan mengernyitkan hidungnya.
“Oh, sudahlah. Apa Mom tidak membiarkan kami masuk? Di sini sangat dingin,” kata Greyson mengakhiri perbincangan dan membuat Mrs. Chance menepuk dahinya dan segera mempersilakan mereka masuk.
Setelah masuk, Greyson bergegas ke kamar ayahnya dan diikuti oleh Alice dan juga Mrs. Chance. Di dalam kamar, terlihat ayah Greyson yang sedang terbaring lemah. Namun Mr. Chance masih menyisihkan senyum terbaiknya untuk anaknya yang baru saja pulang.
“Greyson and―” ujar Mr. Chance lemah.
“Alice,” sambung Alice sambil tersenyum.
“Oh, right, Alice Cartel. Merry Christmas!” lanjut Mr. Chance masih dengan senyum lemah.
“Merry Christmas too, Mr. Chance,” balas Alice.
“Wah, mengapa kau pulang, Grey? Bukankah kau sedang sibuk?” tanya Mr. Chance dengan suara serak.
Greyson menghela nafas lalu berkata, “Sesibuk apa pun aku, jika ada anggota keluargaku yang sakit, aku akan pulang saat itu juga,”
Mr. Chance tersenyum lagi mendengar perkataan anak bungsunya itu. Lalu ia melirik ke arah Alice dan berkata untuk menggoda mereka, “Greyson, kau sepertinya tidak salah memilih kekasih,”
Seketika itu juga pipi Greyson dan juga Alice memerah.

xxx

Sudah tiga hari Greyson dan Alice tinggal di rumah keluarga Chance. Keluarga dengan lima anggota keluarga yang hangat. Alice merasa nyaman berada di antara anggota keluarga Chance yang menyambutnya dengan suka cita. Pada hari ketiga ini, keadaan Mr. Chance sudah membaik. Greyson pun memutuskan untuk kembali ke Manhattan bersama Alice karena dua wakil manajernya mulai mencari-carinya masalah pekerjaan.
“Mom, Dad terimakasih ya. Maaf jika kami berdua merepotkan kalian berdua,” ujar Greyson saat di bandara menjelang keberangkatannya bersama Alice.
“Oh, sama sekali tidak, Grey. Justru kami sangat senang kau mau pulang untuk mengunjungi aku,” sahut Mr. Chance yang duduk di kursi roda.
“Thanks Mr. and Mrs. Chance,” ucap Alice sambil memeluk Mrs. Chance dan menjabat tangan Mr. Chance.
“Yeah, sama-sama. Sudahlah, penerbangan kalian akan dilaksanakan dua puluh lima menit lagi. Sebaiknya kalian segera pergi,” kata Mrs. Chance, “Dan kami berharap jika kalian kembali ke sini, kalian membawa kabar baik bahwa kalian akan menikah,”
“Uh, Mom. Can you stop it? Okay, we’ll go now. Good bye!” seru Greyson. Kemudian ia menggandeng tangan Alice dan berbalik untuk segera menjalani pemeriksaan.

xxx

Sesampainya di New York, Greyson tak segera menuju ke apartemennya. Ia justru mengantarkan Alice ke apartemennya sendiri dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di situ. Alice tidak mengusir Greyson. Ia membiarkan Greyson tidur sebentar di kamarnya, sedangkan ia menyiapkan minuman panas untuk Greyson.
Saat Alice tengah membuat coklat hangat untuk Greyson, tiba-tiba seseorang memeluk pinggangnya dari belakang, ia sedikit terkejut. Ia menoleh ke samping dan mendapati Greyson yang tengah tersenyum lebar padanya sambil berkata, “Selamat pagi, istriku,”
Mendengar ucapan Greyson, pipi Alice memerah. Ia segera melepaskan pelukan Greyson dan berkata tajam, “Aku bukan istrimu, Grey! Dan ingat, kita masih lima belas tahun!”
“Ah, apa kau pikir kita tidak seperti suami istri saat ini? Kau membuatkanku minuman panas, sedangkan aku bersantai di kamarmu,” ujar Greyson. Ia duduk di salah satu kursi meja makan dan mengangkat kedua kakinya ke atas meja makan.
Pipi Alice bertambah merah, lalu ia berseru saat melihat kaki Greyson di atas meja makan, “Turunkan kakimu dari situ, Mr. Greyson!”
“Okay, Mrs. Chance,” sahut Greyson sambil mengedipkan sebelah matanya dan menurunkan kedua kakinya.
“Stop it!” sambar Alice seraya melemparkan selembar serbet ke wajah Greyson yang segera disambut tawa renyah dari pemuda itu.
Tiba-tiba ponsel Greyson berbunyi. Sang pemilik ponsel pun segera mengangkat telepon itu. “Hello, Troy? What’s happened?”
Greyson menghela nafas panjang. Raut wajahnya yang semula ceria berubah kusut saat mendengar wakil manajernya itu berkata di telepon. “Terserah kau!” bentak Greyson kesal sambil memutuskan sambungan. Setelah memutuskan telepon, Greyson hanya duduk diam di kursi dengan wajah yang bersungut-sungut. Ia memutar-mutar ponselnya di meja.
“Ada apa, Grey?” tanya Alice saat melihat perubahan raut wajah Greyson.
“Aku mendapat pekerjaan lagi,” jawab Greyson masih dengan nada kesal, “Tur ke negara-negara di Asia,”
“Bukankah itu baik?” tanya Alice heran.
“Bukan itu masalahnya,” timpal Greyson ketus.
“Lalu?” tanya Alice penasaran.
“Aku tidak boleh mengajakmu!” jelas Greyson kesal.
“Itu bukanlah masalah besar, Grey!” kata Alice sambil tertawa manis.
“Tunggu. Aku belum selesai,” Greyson menelan ludah sejenak dan melanjutkan, “Aku tidak akan pernah boleh lagi mengajakmu. Dan kau tidak boleh ikut aku secara diam-diam,”
“Atau?”
“Atau karierku terpaksa dihentikan,”

To be continued…

No comments:

Post a Comment