Tuesday, 18 April 2017

Duka Tiba-Tiba

Remuk
Redam
Hancur
Berkeping
Bersepai
Rata
Sungguh

Rata dengan bentala

Nyanyian semesta sudah berhenti
Tawa dan suka sekarang sepi
Angin memadam api
Hujan hening dibuai sunyi

Kosong
Matamu
Sedih
Tuturmu
Bicaramu
Nadamu
Sungguh

Mengapa begitu?

Dalam bungkamnya bumi dan segenap isinya,
Atma berhias rangkaian tanya

Tak habis pikir
Jangan-jangan akulah sang musabab
Tak hilang getir
Tiap mata menangkap sepasang manikmu yang sembab

Mendongaklah,
lihatlah aku yang sungguh mau tahu
»»  READ MORE

Monday, 17 April 2017

Jangan Jauh-Jauh

Jangan tersenyum
Jangan tertawa
Jangan mendekat
Jangan bicara

Berhenti di sana
Ya,
di sana saja

Aku tidak suka hadirmu
Aku benci eksistensimu
Aku tidak suka tawamu
Aku benci senyumanmu

Tapi aku juga suka
Juga cinta

Tapi aku juga enggan
membiarkan jantungku melompat
Melompat sampai leher
Melompat sampai sesak

Maka kumau kau berhenti saja
Supaya hatiku damai-damai jua

Tapi mengapa berat?
Apalagi saat atensimu tertanam padanya
Tapi mengapa sesak?
Lebih-lebih lagi pula

Baiklah kuganti saja

Supaya kamu jangan pergi
Supaya kamu tetap di sini
Supaya kamu tetap tersenyum secerah pagi
Jangan hilang lagi
»»  READ MORE

Wednesday, 12 April 2017

Menulis Apa?

Pena di tangan
Tangan di meja
Pena bergerak
Tangan menggerak

Menulis
Menulis lagi
Menulis terus

Aku lelah

Karena yang kutulis bukan tentang aku
Karena yang kutulis bukan tentang kau

Jangan pikir aku akan berkata
aku, kau, kita
Bagaimana mau kita
bila tulisanku tak juga tentang kau?

Aku mau menulis lagi
Aku mau menulis terus

Tapi aku lelah

Karena aku hanya mau menulis tentang aku
Karena aku hanya mau menulis tentang kau

Karena aku mau kau mau aku menulis tentang kita
Ya, kau yang mau
Jangan aku lagi

Karena aku lelah
»»  READ MORE