Setelah kira-kira dua jam ia terdiam di rumah Bella, ia pun
minta diri dan pergi untuk mencari penginapan terdekat. Akhirnya ia mendapat
penginapan yang cukup bagus, lalu ia memesan kamar untuk tinggal selama satu
malam agar besok ia dapat kembali ke New York melanjutkan pekerjaannya.
Di kamar penginapan, Greyson duduk di pinggiran kasur, ia
terdiam mengenang hal-hal yang pernah ia jalani bersama teman masa kecilnya,
Alice. Ia merogoh saku jaketnya dan mengambil selembar foto. Selembar foto yang
sama dengan milik Alice, foto mereka berdua saat jalan-jalan ke Memorial Park
Mausoleum. Diam-diam Greyson tersenyum. Senyuman yang menyesakkan.
“Alice, kamu di mana?” bisik Greyson.
Setelah puas mengingat kenangannya bersama Alice, Greyson
pun menyetel televisi yang ada di kamarnya, ia menonton acara talkshow.
Talkshow yang menampilkan dirinya. Talkshow yang dilakukan dua hari yang lalu.
Ia muak melihat dirinya sendiri saat itu. Ia merasa sangat munafik.
xxx
Alice yang sangat terkejut dengan penglihatannya, tak
sanggup melakukan apa pun. Alih-alih mematikan televisi, Alice justru menonton
acara itu sambil sesekali melemparkan pandangan muak dan memaki perlahan.
‘Seenaknya
meninggalkan aku, dan melupakan janjimu. Dan sekarang kau bersenang-senang
dengan duniamu. Apakah kau lupa padaku, Grey?’ batin Alice sambil mengusap
air matanya, yang tiba-tiba terjatuh, dengan sebelah tangannya dengan kasar.
“Yah, aku memiliki
seorang teman kecil di Wichita Falls yang sangat aku rindukan. Mungkin ia
sedang menyaksikan aku sekarang. Hai Alice!” tiba-tiba Alice mendengar
Greyson berkata demikian seraya melambaikan tangan ke arah kamera dengan wajah
sangat sumringah.
Mata Alice membelalak, lalu ia berkata dengan suara
bergetar, “Grey, apakah yang kau katakan itu benar?”
Seketika hati Alice luluh dan ia memandang wajah Greyson di televisi sambil tanpa sadar mendekat dan mengelus permukaan televisi.
Lalu Alice tersadar dan ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Kemudian dengan sangat muak ia mematikan televisinya dan berkata tajam, "Pembohong,"
xxx
Hari ini Greyson Chance sudah sampai di apartemennya di New York, ia sedang merebahkan diri di sofa
ruang tamu. Sambil sesekali memikirkan Alice dan perkataan Bella saat itu.
"Um, yah, aku merasa ia tidak lagi menginginkan dirimu menemuinya,"
ruang tamu. Sambil sesekali memikirkan Alice dan perkataan Bella saat itu.
"Um, yah, aku merasa ia tidak lagi menginginkan dirimu menemuinya,"
Apa benar Alice sudah tidak mengharapkan Greyson lagi? Lagi-lagi ia menyesali keterlenaannya pada ketenaran saat itu sehingga melupakan janjinya pada Alice.
"Hey Alice! Trust me, I will visit you later! Aku janji aku akan menemuimu dua bulan setelah kemunculanku di televisi. Tunggulah aku, Alice, aku berjanji. Ini semua hanya masalah waktu. Kuharap kau tidak melupakanku. Sampai jumpa Alice!"
Itulah perkataan Greyson dulu sesaat sebelum penerbangannya. Saat itu ia begitu gembira sampai-sampai ia tidak memikirkan perkataanya.
Semuanya. Semuanya tentang ketenaran dan dikelilingi oleh para penggemar telah merebutnya dari Alice. Telah membuatnya melupakan Alice yang begitu berharga buatnya.
xxx
"Alice!" panggil seseorang dari arah taman. Alice pun berjalan ke arah jendela kamarnya dan menjulurkan kepalanya ke bawah―kamar Alice berada di lantai dua.
"Hey Zack," sahut Alice pelan sambil memaksakan seulas senyum.
"Mau ke sungai? Tadi pagi aku membuat perangkap ikan dan memasangnya di sungai. Mungkin sekarang perangkapku sudah penuh dengan ikan," jelas Zack sambil tersenyum lembut.
Alice hanya mengangguk dan turun ke bawah untuk menemui Zack. Di lantai dasar ia bertemu dengan ibunya. Ia berkata, "Aku mau ke sungai,"
"Ya nak, jangan pulang terlalu larut," pesan ibunya.
Alice lagi-lagi hanya mengangguk acuh tak acuh sambil melanjutkan perjalannya ke taman belakang.
Zack yang melihat Alice sudah berjalan mendekatinya pun tersenyum dan merangkul Alice. Dan mereka berjalan berdua di tengah udara dingin musim gugur.
Sampailah mereka di sungai kecil itu. Zack menuntun Alice ke salah satu pinggiran sungai dan menunjukkan perangkap ikan yang sudah ia pasang. Lalu ia memekik kegirangan saat melihat ada beberapa ekor ikan yang terperangkap di dalamnya.
"Lihatlah Alice!" seru Zack sambil mengangkat perangkap ikannya itu.
Alice pun menjulurkan kepalanya untuk melihat dan ia tersenyum tipis.
"Kuharap kau mau mengambilnya dan membawakannya untuk ibumu," ujar Zack masih dengan wajah sumringah.
"Tidak," jawab Alice singkat.
"Aku tidak memberikannya untukmu! Aku memberikannya untuk ibumu, jadi terima saja," jelas Zack sambil tertawa manis.
Alice sangat menyukai tawa itu. Tetapi ia lebih menyukai tawa Greyson. Ia sangat merindukan tawa milik Greyson. Tawa renyah yang tulus yang membuat matanya menyipit menyembunyikan iris matanya yang berwarna coklat.
Dan dengan tersenyum tipis, senyum yang cukup tulus, ia mengangguk setuju.
Zack menatap mata biru milik Alice dan ia tersenyum tanpa sebab. Ia secara spontan selalu tersenyum jika sedang bersama Alice. Ia sudah lama menyukai Alice dan berusaha menyelami isi hati Alice. Namun sia-sia, Alice selalu dengan sekuat tenaga menutupinya dan tidak sedikit pun membiarkan orang lain memasuki hatinya dan merubuhkan benteng pertahanannya. Namun Zack tidak menyerah walau hanya sebentar. Ia terus menerus berusaha memasuki hati Alice dengan perlahan-lahan tapi pasti tanpa melukai gadis itu.
"Ayo ke rumahmu!" ujar Zack tiba-tiba.
Mereka lalu berjalan beriringan dengan tangan Zack yang bebas menggandeng tangan Alice. Alice hanya bisa membalas genggaman tangan Zack karena ia merasa sangat nyaman.
xxx
"Grey, kuharap kau datang ke kantor saat ini juga, ada pekerjaan untukmu," Ujar Troy Carter, wakil manajer Greyson, di telepon.
"Aku akan datang, bye!" ujar Greyson singkat dan setelahnya mematikan sambungan telepon.
Tanpa banyak bicara, Greyson pun dengan segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor manajemennya. Sebelum ia keluar apartemen untuk mengambil mobilnya, ia menyempatkan diri untuk melihat foto Alice dan kembali melipatnya untuk dimasukkan kembali ke dalam saku jaket.
Dalam waktu singkat, Greyson sudah sampai di kantor manajemennya dan segera masuk ke dalam ruang kerja wakil manajernya, Troy. Di dalam sudah ada Guy Oseary juga yang sedang mengobrol dengan Troy tanpa menyadari kehadirannya.
"Hey, Grey," sapa Troy saat melihat Greyson sudah duduk di sofa sambil memainkan iPhone-nya.
"Hmm," sahut Greyson singkat sambil matanya tetap berkutat di iPhone dengan jari-jarinya yang menyentuh layar iPhone dan sesekali mendecak kesal. Ia sedang memainkan game favoritnya, Angry Bird.
"Kami mempunyai pekerjaan untukmu. Dua hari yang akan datang, kau harus melakukan penerbangan ke salah satu desa di negara ini untuk melakukan shooting video klip. Bagaimana?" ujar Troy panjang lebar.
Greyson hanya mendengarkannya sambil lalu sambil sesekali bergumam.
Guy yang kesal melihat tanggapan Greyson pun merebut iPhone dari tangannya dan berkata tajam, "Hentikan. Hargai kami yang sedang mengajakmu berbicara, kid!"
Greyson memutar bola matanya dan menghela napas kesal. "Ingat, aku sudah lima belas tahun. Aku bukan lagi anak kecil yang bisa seenaknya kau panggil 'kid'!" protes Greyson.
"Aku tahu itu, tetapi sikapmu sangatlah kekanak-kanakkan!" balas Guy.
"Sudah, cukup! Hentikan perdebatan kalian. Aku sudah sangat pusing mendengarkan kalian berdebat," potong Troy dengan raut wajah kesal.
"Kau harus memberitahu pria tua ini!" timpal Greyson acuh tak acuh.
"Seharusnya bocah ini yang kau,―"
"Cukup!" sela Troy mulai kehabisan kesabaran.
"Well, di mana lokasi shooting itu?" tanya Greyson akhirnya.
Troy menimbang-nimbang lalu berkata, "Yah, lokasi itu tidak memiliki nama. Kau cukup ikut dengan kami dan tak usah banyak protes. Ingat, kami tidak akan macam-macam padamu. Kau boleh mengajak Alexa,"
Wajah Greyson yang sedang suntuk pun berubah cerah saat mendengar nama kakak tersayangnya disebut. "Seriously?"
"Yes, sure. Kau juga boleh mengajak Tanner jika kau mau," tawar Troy.
"Tidak, aku hanya ingin mengajak Alexa. Aku sangat merindukannya! Hah, bagaimana kabarnya di Oklahoma?" tanya Greyson dengan pandangan menerawang.
"Yah, terserah apa yang kau katakan. Yang penting kau harus profesional. Tidak ada kata manja, oke?" kata Guy tajam.
"Manja? Memangnya aku ini,―"
"HENTIKAN!" bentak Troy.
xxx
Ia tengah membaca sebuah koran harian yang baru sampai di rumah Alice. Saat ia membuka lembar demi lembar kertas koran itu, ia melihat berita tentang seorang penyanyi remaja laki-laki yang sedang booming di dunia saat ini. Ia sangat mengagumi anak laki-laki yang usianya hanya di bawahnya satu tahun ini.
"Hey Alice,"
Alice yang sedang sibuk menyulam itu pun mendongak dan memutar bola matanya dengan kesal.
"Oh, maafkan aku Alice," ujar Zack akhirnya merasa bersalah.
"Tak apa. Lanjutkan," kata Alice singkat.
"Lihatlah anak ini," ujar Zack sambil menunjukkan berita itu kepada Alice, "Aku sangat mengaguminya. Lihatlah betapa hebat,―"
Belum selesai Zack melanjutkan kata-katanya, Alice merebut koran itu dan menyobek bagian berita itu.
"Hey! What's on your mind?" seru Zack tak suka.
Alice menatap Zack dengan tajam. Mata birunya memancarkan kemarahan yang sangat besar. "Jangan pernah bicarakan anak itu lagi di depanku," ujar Alice dingin sambil menunjuk ke arah koran yang baru saja ia sobek. Lalu ia meninggalkan Zack, yang larut dalam kebingungan, sendirian di teras.
To be continued...
No comments:
Post a Comment