Wednesday, 12 December 2012

FanFiction - "Running Away" 4

Lama Alice menatap mata itu. Ia terperangah. Mata coklat yang begitu ia rindukan, yang begitu ia kenal. Namun tak satu pun hal yang dapat Alice lakukan kecuali terdiam mematung menatap mata indah itu, yang kini tengah menatap dalam ke matanya.
Pemilik mata itu pun tersenyum dan mendekati Alice yang sedang berdiri di sisi Zack. Alice tak dapat melakukan apa pun kecuali tetap mematung. Ia terlalu terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia tak mampu membalas senyuman itu. Ia hanya mampu membalas tatapan itu.
“Alice!” seru sang pemilik mata coklat sambil berlari menghampiri Alice dan merengkuhnya ke dalam pelukan. “Aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu. Sangat!”
Alice kembali terdiam. Ia masih tetap mematung di dalam pelukan Greyson. Sementara Zack hanya menatap mereka berdua dengan pandangan tak suka. Mungkin perasaan cemburu tengah berkecamuk di dalam hatinya.
Kesadaran Alice pun berangsur-angsur pulih. Setelah ia sadar sepenuhnya, dengan kasar ia memaksa Greyson melepaskan pelukannya. Lalu ia menatap mata Greyson dengan kemarahan dan rasa muak.
“Apa yang kau lakukan di sini? Apa? Apa kamu tidak cukup menyakitiku? Setelah sekian lama kau meninggalkan aku dan sekarang kau datang, memelukku, dan hanya berkata ‘Aku sangat merindukanmu’?” ujar Alice panjang lebar. Kemarahan tengah menyelimuti hatinya saat ini. Kemarahan yang begitu besar membuatnya meneteskan air mata.
“Alice―”
“Apa? Kau mau mengatakan apa? Menghilang tiga tahun tanpa kabar dan sekarang kau hanya―”
Perkataan Alice terputus. Greyson berhasil membungkam mulutnya dengan mengecup bibir gadis itu dengan sangat lembut. Cara itu cukup berhasil untuk menghentikan sejenak rentetan kata yang akan diucapkan Alice. Alice terlihat terkejut dengan ciuman tiba-tiba yang diberikan Greyson. Ciuman pertamanya. Terlebih dengan orang yang sangat spesial untuknya. Ia lagi-lagi tak mampu melakukan apa pun. Ia seakan-akan menjadi sangat lemah di hadapan Greyson.
Zack menatap kedua orang di depannya dengan pandangan nanar.

xxx

“Apa-apaan laki-laki tadi? Menciummu dengan seenaknya!” seru Zack marah.
“Zack…” Alice tak mampu berkata-kata.
“Tunggu,” Zack berhenti sejenak dan berpikir, “Laki-laki tadi… Greyson?”
Alice yang sedari tadi hanya memandang ke bawah pun mendongak menatap Zack. Ia mengangguk samar lalu berkata, “Ya,”
Timbullah amarah dalam hati Zack. Gadis di hadapannya, gadis yang sangat ia cintai, dicium dengan seenaknya oleh orang yang selama ini ia kagumi.
“Aku melihat fotomu bersamanya, foto kalian di depan sebuah gedung yang sangat indah,” kata Zack dingin.
Alice terperangah. Ia menatap mata Zack dengan mulut ternganga. Lalu dengan tergagap, ia berkata, “Ka..Kapan?”
Zack menghembuskan nafas untuk membuang segala emosi di dalam hatinya lalu menyahut, “Tadi. Di pinggir sungai,” Zack berhenti sejenak, dan kembali melanjutkan, “Apa hubunganmu dengannya? Kau tak dapat menyembunyikannya lagi dariku,”
Alice tak sanggup menjawab. Ia hanya menatap lantai sambil mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia merasa dagunya diangkat oleh sebuah jari. Lalu ia mendapati Zack sedang menatap matanya dalam jarak yang sangat dekat. Dapat dirasakannya hembusan nafas Zack yang harum.
“Jawablah, Alice,” ujar Zack memohon.
Secara tiba-tiba kemarahan timbul di hati Alice―belakangan ini emosi Alice sangat tidak menentu―ia menepis tangan Zack lalu berkata dengan rahang tertutup rapat, “Itu semua bukan urusanmu,”

xxx

Greyson sedang berdiam diri di kamarnya di penginapan. Ia kembali membayangkan rentetan kejadian beberapa waktu yang lalu. Dimulai dari saat ia bertemu pandang dengan Alice, sampai ketika laki-laki tadi menarik paksa tangan Alice ketika Greyson dan Alice sedang berciuman. Dan juga pandangan Alice yang seperti memohon ketika bergerak menjauh dari Greyson.
Sesaat ia merasa bahagia bisa bertemu dengan Alice. Namun perasaannya tidak menentu ketika melihat gadis itu bersama dengan laki-laki yang bukan dirinya. Tiba-tiba, di tengah lamunannya, pintu kamar diketuk dari luar.
“Masuk,”
Lalu perlahan pintu terbuka dan terlihat sosok Alexa, sosok yang sangat ia butuhkan saat ini. Melihat Alexa datang, Greyson spontan tersenyum. Alexa pun membalas senyuman Grey, lalu ia menutup pintu.
“Bolehkah aku duduk di sampingmu?” tanya Alexa sambil menaikkan alisnya. Senyuman masih terukir di wajahnya yang manis.
“Tentu,” jawab Greyson tanpa basa-basi.
“Aku tahu kau ada masalah. Hmm, apakah gadis tadi adalah Alice, temanmu dulu?” tanya Alexa yang sudah duduk di sebelah Greyson seraya menaikkan sebelah alisnya.
Greyson menghela napas dan menjawab, “Ya, dia gadis yang sama dengan teman masa kecilku,”
Alexa tersenyum melihat adiknya. Lalu ia perlahan-lahan membelai rambut Greyson dengan lembut. “Kau jatuh cinta padanya?”
Spontan Greyson tersenyum malu. Pipinya memerah, lalu ia berkata, “Dari mana kau tahu itu, Lex?”
“Aku selalu tahu tentang dirimu,” ujar Alexa sambil mengacak rambut Greyson dengan sayang.
“Jangan salahkan aku jika aku menyayangimu,” timpal Greyson sambil tersenyum lebar dan memeluk Alexa.
“Kuharap kau merebut Alice sebelum laki-laki tadi,” kata Alexa dengan wajah serius, “Laki-laki tadi jauh lebih tampan darimu dan ia terlihat lebih dewasa,”
“Dasar kau!” seru Greyson sambil mengejar kakaknya yang segera berlari setelah berkata demikian.

xxx

Malam sudah tiba. Matahari sudah kembali ke peraduannya. Langit sudah menggelap dan bintang-bintang mulai menampakkan dirinya. Sudah malam, dan cuaca sangat dingin. Namun Alice masih saja duduk di tempat favoritnya, pinggiran sungai.
Sambil merapatkan jaket tebalnya, Alice memandang ketenangan air sungai. Perasaannya sangat tenang mendengar gemericik air sungai yang berpadu dengan suara serangga malam. Dan sesekali terdengar bunyi gemerisik dedaunan, yang masih tersisa, yang tertiup angin malam.
Tiba-tiba, di tengah lamunannya, ada sebuah tangan yang memegang pundaknya. Alice sedikit terkejut dan spontan berkata, “Zack, apa itu kau?”
Lalu pemilik tangan itu menyahut, “Zack? Siapa Zack?”
Mendengar suara itu, Alice dengan segera melihat ke samping kirinya, ke arah Greyson yang ternyata sudah menempatkan dirinya tepat di sebelahnya.
“Greyson?” tanya Alice. Perasaan hangat mulai menjalari tubuhnya saat melihat orang yang sangat ingin ia jumpai saat ini.
“Aku mencarimu,” bisik Greyson kemudian.
Alice sedikit bingung dengan perkataan Greyson, lalu ia menanggapi, “Mencariku?”
“Ke Wichita Falls,” sahut Greyson lembut. Mata coklatnya yang indah menatap jauh ke langit malam yang penuh bintang.
“Seriously?” tanya Alice ragu.
“Dan aku hanya menemukan Bella di sana,” lanjut Greyson. Perlahan ia menoleh ke arah Alice dan tersenyum.
“Bella,” ulang Alice dengan nada sedikit dingin. Ia merapatkan kedua rahangnya.
“Maafkan aku,” ujar Greyson lagi sambil menunduk penuh rasa penyesalan, “Aku sudah mengingkari janjiku padamu. Maafkan aku,”
Alice merasa sangat tersentuh mendengar permintaan maaf Greyson yang―ia rasakan―sangat tulus. Perlahan ia melingkarkan tangan kirinya ke tangan kanan Greyson dan menyandarkan kepalanya ke bahu Greyson yang kokoh.
Greyson menatap kepala Alice di depannya dan mengecup pelan puncak kepala Alice. “Sungguh Alice, aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu,”
Alice tersenyum, lalu ia berkata, “I miss you more,”
Perlahan, Greyson membelai rambut Alice dengan sangat lembut, penuh rasa sayang. Ia begitu mencintai Alice sebagai seorang gadis. Bukan hanya sebagai seorang sahabat.
I love you, Alice. I hope you do too,’ batin Greyson.
Alice begitu menikmati malam ini. Malam yang terindah sepanjang hidupnya. Malam bersama Greyson Chance, orang yang ia beri tempat spesial di dalam hatinya. Orang yang ia tunggu tiga tahun belakangan ini. Yang sangat ia rindukan, dan yang sempat ia benci. Namun kini perasaan benci itu sudah luruh sepenuhnya, digantikan oleh perasaan ingin memiliki.
“Alice…” panggil Greyson lembut.
Alice mengangkat kepalanya dari pundak Greyson, lalu menatap Greyson dengan mata birunya. “Ya?”
“Aku ingin tahu siapa Zack,”

To be continued…

No comments:

Post a Comment