Pemilik
mata itu pun tersenyum dan mendekati Alice yang sedang berdiri di sisi Zack.
Alice tak dapat melakukan apa pun kecuali tetap mematung. Ia terlalu terkejut
dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia tak mampu membalas senyuman itu. Ia hanya
mampu membalas tatapan itu.
“Alice!”
seru sang pemilik mata coklat sambil berlari menghampiri Alice dan merengkuhnya
ke dalam pelukan. “Aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu. Sangat!”
Alice
kembali terdiam. Ia masih tetap mematung di dalam pelukan Greyson. Sementara
Zack hanya menatap mereka berdua dengan pandangan tak suka. Mungkin perasaan
cemburu tengah berkecamuk di dalam hatinya.
Kesadaran
Alice pun berangsur-angsur pulih. Setelah ia sadar sepenuhnya, dengan kasar ia
memaksa Greyson melepaskan pelukannya. Lalu ia menatap mata Greyson dengan
kemarahan dan rasa muak.
“Apa
yang kau lakukan di sini? Apa? Apa kamu tidak cukup menyakitiku? Setelah sekian
lama kau meninggalkan aku dan sekarang kau datang, memelukku, dan hanya berkata
‘Aku sangat merindukanmu’?” ujar Alice panjang lebar. Kemarahan tengah
menyelimuti hatinya saat ini. Kemarahan
yang begitu besar membuatnya meneteskan air mata.
“Alice―”
“Apa?
Kau mau mengatakan apa? Menghilang tiga tahun tanpa kabar dan sekarang kau
hanya―”
Perkataan
Alice terputus. Greyson berhasil membungkam mulutnya dengan mengecup bibir
gadis itu dengan sangat lembut. Cara itu cukup berhasil untuk menghentikan
sejenak rentetan kata yang akan diucapkan Alice. Alice terlihat terkejut dengan
ciuman tiba-tiba yang diberikan Greyson. Ciuman pertamanya. Terlebih dengan
orang yang sangat spesial untuknya. Ia lagi-lagi tak mampu melakukan apa pun.
Ia seakan-akan menjadi sangat lemah di hadapan Greyson.
Zack
menatap kedua orang di depannya dengan pandangan nanar.
xxx
“Apa-apaan
laki-laki tadi? Menciummu dengan seenaknya!” seru Zack marah.
“Zack…”
Alice tak mampu berkata-kata.
“Tunggu,”
Zack berhenti sejenak dan berpikir, “Laki-laki tadi… Greyson?”
Alice
yang sedari tadi hanya memandang ke bawah pun mendongak menatap Zack. Ia mengangguk
samar lalu berkata, “Ya,”
Timbullah
amarah dalam hati Zack. Gadis di hadapannya, gadis yang sangat ia cintai,
dicium dengan seenaknya oleh orang yang selama ini ia kagumi.
“Aku
melihat fotomu bersamanya, foto kalian di depan sebuah gedung yang sangat
indah,” kata Zack dingin.
Alice
terperangah. Ia menatap mata Zack dengan mulut ternganga. Lalu dengan tergagap,
ia berkata, “Ka..Kapan?”
Zack
menghembuskan nafas untuk membuang segala emosi di dalam hatinya lalu menyahut,
“Tadi. Di pinggir sungai,” Zack berhenti sejenak, dan kembali melanjutkan, “Apa
hubunganmu dengannya? Kau tak dapat menyembunyikannya lagi dariku,”
Alice
tak sanggup menjawab. Ia hanya menatap lantai sambil mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba ia merasa dagunya diangkat oleh sebuah jari. Lalu ia mendapati Zack
sedang menatap matanya dalam jarak yang sangat dekat. Dapat dirasakannya
hembusan nafas Zack yang harum.
“Jawablah,
Alice,” ujar Zack memohon.
Secara
tiba-tiba kemarahan timbul di hati Alice―belakangan ini emosi Alice sangat
tidak menentu―ia menepis tangan Zack lalu berkata dengan rahang tertutup rapat,
“Itu semua bukan urusanmu,”
xxx
Greyson
sedang berdiam diri di kamarnya di penginapan. Ia kembali membayangkan rentetan
kejadian beberapa waktu yang lalu. Dimulai dari saat ia bertemu pandang dengan
Alice, sampai ketika laki-laki tadi menarik paksa tangan Alice ketika Greyson
dan Alice sedang berciuman. Dan juga pandangan Alice yang seperti memohon
ketika bergerak menjauh dari Greyson.
Sesaat
ia merasa bahagia bisa bertemu dengan Alice. Namun perasaannya tidak menentu
ketika melihat gadis itu bersama dengan laki-laki yang bukan dirinya.
Tiba-tiba, di tengah lamunannya, pintu kamar diketuk dari luar.
“Masuk,”
Lalu
perlahan pintu terbuka dan terlihat sosok Alexa, sosok yang sangat ia butuhkan
saat ini. Melihat Alexa datang, Greyson spontan tersenyum. Alexa pun membalas
senyuman Grey, lalu ia menutup pintu.
“Bolehkah
aku duduk di sampingmu?” tanya Alexa sambil menaikkan alisnya. Senyuman masih
terukir di wajahnya yang manis.
“Tentu,”
jawab Greyson tanpa basa-basi.
“Aku
tahu kau ada masalah. Hmm, apakah gadis tadi adalah Alice, temanmu dulu?” tanya
Alexa yang sudah duduk di sebelah Greyson seraya menaikkan sebelah alisnya.
Greyson
menghela napas dan menjawab, “Ya, dia gadis yang sama dengan teman masa
kecilku,”
Alexa
tersenyum melihat adiknya. Lalu ia perlahan-lahan membelai rambut Greyson
dengan lembut. “Kau jatuh cinta padanya?”
Spontan
Greyson tersenyum malu. Pipinya memerah, lalu ia berkata, “Dari mana kau tahu
itu, Lex?”
“Aku
selalu tahu tentang dirimu,” ujar Alexa sambil mengacak rambut Greyson dengan
sayang.
“Jangan
salahkan aku jika aku menyayangimu,” timpal Greyson sambil tersenyum lebar dan
memeluk Alexa.
“Kuharap
kau merebut Alice sebelum laki-laki tadi,” kata Alexa dengan wajah serius,
“Laki-laki tadi jauh lebih tampan darimu dan ia terlihat lebih dewasa,”
“Dasar
kau!” seru Greyson sambil mengejar kakaknya yang segera berlari setelah berkata
demikian.
xxx
Malam
sudah tiba. Matahari sudah kembali ke peraduannya. Langit sudah menggelap dan
bintang-bintang mulai menampakkan dirinya. Sudah malam, dan cuaca sangat
dingin. Namun Alice masih saja duduk di tempat favoritnya, pinggiran sungai.
Sambil
merapatkan jaket tebalnya, Alice memandang ketenangan air sungai. Perasaannya
sangat tenang mendengar gemericik air sungai yang berpadu dengan suara serangga
malam. Dan sesekali terdengar bunyi gemerisik dedaunan, yang masih tersisa, yang tertiup angin malam.
Tiba-tiba,
di tengah lamunannya, ada sebuah tangan yang memegang pundaknya. Alice sedikit
terkejut dan spontan berkata, “Zack, apa itu kau?”
Lalu
pemilik tangan itu menyahut, “Zack? Siapa Zack?”
Mendengar
suara itu, Alice dengan segera melihat ke samping kirinya, ke arah Greyson yang
ternyata sudah menempatkan dirinya tepat di sebelahnya.
“Greyson?” tanya Alice.
Perasaan hangat mulai menjalari tubuhnya saat melihat orang yang sangat ingin
ia jumpai saat ini.
“Aku
mencarimu,” bisik Greyson kemudian.
Alice
sedikit bingung dengan perkataan Greyson, lalu ia menanggapi, “Mencariku?”
“Ke
Wichita Falls,” sahut Greyson lembut. Mata coklatnya yang indah menatap jauh ke
langit malam yang penuh bintang.
“Seriously?”
tanya Alice ragu.
“Dan
aku hanya menemukan Bella di sana,” lanjut Greyson. Perlahan ia menoleh ke arah
Alice dan tersenyum.
“Bella,”
ulang Alice dengan nada sedikit dingin. Ia merapatkan kedua rahangnya.
“Maafkan
aku,” ujar Greyson lagi sambil menunduk penuh rasa penyesalan, “Aku sudah
mengingkari janjiku padamu. Maafkan aku,”
Alice
merasa sangat tersentuh mendengar permintaan maaf
Greyson yang―ia rasakan―sangat tulus. Perlahan
ia melingkarkan tangan kirinya ke tangan kanan Greyson dan menyandarkan
kepalanya ke bahu Greyson yang kokoh.
Greyson menatap kepala Alice
di depannya dan mengecup pelan puncak kepala Alice. “Sungguh Alice, aku sangat
merindukanmu. Sangat merindukanmu,”
Alice tersenyum, lalu ia
berkata, “I miss you more,”
Perlahan, Greyson membelai
rambut Alice dengan sangat lembut, penuh rasa sayang. Ia begitu mencintai Alice
sebagai seorang gadis. Bukan hanya sebagai seorang sahabat.
‘I love you, Alice. I hope you do too,’ batin Greyson.
Alice begitu menikmati malam
ini. Malam yang terindah sepanjang hidupnya. Malam bersama Greyson Chance,
orang yang ia beri tempat spesial di dalam hatinya. Orang yang ia tunggu tiga
tahun belakangan ini. Yang sangat ia rindukan, dan yang sempat ia benci. Namun
kini perasaan benci itu sudah luruh sepenuhnya, digantikan oleh perasaan ingin
memiliki.
“Alice…” panggil Greyson
lembut.
Alice mengangkat kepalanya
dari pundak Greyson, lalu menatap Greyson dengan mata birunya. “Ya?”
“Aku ingin tahu siapa Zack,”
To be continued…
No comments:
Post a Comment