Alice terdiam di dalam mobil Greyson. Begitu pula laki-laki
di sebelahnya. Keheningan yang mencekam memenuhi udara di dalam mobil. Mereka
berdua menyadari keberadaan masing-masing, namun justru itulah yang membuat
mereka tak mampu berbuat apa pun.
Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah mereka di
perumahan tempat mereka tinggal. Alice bisa sedikit bernafas lega karena dalam
hitungan menit ia akan sampai di rumahnya, dan turun dari mobil ini sehingga ia
tak terpaksa harus berbicara dengan Greyson.
Alice dapat melihat rumahnya di depan. Ia sudah bersiap
bernafas lega. Tidak. Rumah itu telah mereka lalui dan sekarang rumah itu sudah
di belakang mereka. Alice memandang Greyson dengan heran. Namun dengan pandangan
acuh tak acuh, Greyson tetap memfokuskan pandangannya ke arah jalanan
di depannya.
Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Greyson mengendarai
mobil itu hingga mereka semakin jauh dari perumahan itu.
“Grey, rumahku―”
“Shut up,” sambar Greyson singkat.
Dengan kesal Alice mendengus. Ia ingin protes tetapi ia juga
ingin berusaha sekuat tenaga untuk menghindari pembicaraan dengan Greyson,
sehingga Alice hanya duduk dengan bibir mengerucut. Pikiran negatif tentang
Greyson pun mulai muncul. Bagaimana jika Greyson ingin menculiknya? Bagaimana
jika Greyson ternyata ingin menjualnya? Bagaimana jika…
Pikiran buruk terhadap Greyson pun lenyap seketika ketika
mereka sampai di sebuah tempat yang sangat indah.
xxx
Setelah melepas sabuk pengaman, Greyson segera membuka pintu
dan keluar dari mobil. Ia menghirup udara segar di sana dalam-dalam.
Mendengarkan alunan suara air―yang tak kunjung membeku― yang menderu di
depannya. Perlahan bibir Greyson tersenyum. Berbagai kenangan indah yang sudah
lampau menari-nari dalam benaknya, menghasilkan kehangatan yang mulai menjalari
tubuhnya.
Melihat Greyson turun, Alice pun ikut turun dari mobil dan
menempatkan dirinya di sebelah Greyson. Ia melemparkan pandangan terpesona pada
tempat ini. Tempat yang semakin indah.
“Kau masih mengingat tempat ini?” tanya Greyson akhirnya,
setelah hampir satu jam mereka saling berdiam diri.
“Tentu,” jawab Alice singkat. Ia merasakan kerinduan yang
begitu besar membuncah dalam hatinya sesaat setelah mendengar suara Greyson.
Namun otaknya terus menerus berusaha membuang rasa itu. Otaknya mengatakan ia
sudah memiliki Zack. Lain dengan otaknya, hatinya mengatakan yang sebaliknya.
Perlahan Greyson menyelipkan tangannya di telapak tangan
Alice, dan menempatkan jari-jemarinya di sela-sela jari Alice. Ia menggenggam
tangan Alice erat dan menuntun gadis itu mendekat ke air terjun.
Alice sedikit terkesiap merasakan jemari Greyson yang sudah
terselip di antara jari-jarinya. Sesaat otaknya mengatakan ia harus melepaskan
genggaman Greyson. Tetapi hatinya berkata ia harus membalas genggaman itu. Dan
Alice mendengarkan kata hatinya.
Dengan langkah ringan, dua orang itu berjalan ke aliran air
terjun Wichita Falls, tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama
hingga larut malam, sehingga kedua orang tua mereka marah. Tempat mereka
membagi kisah sepulang sekolah. Tempat mereka bertatapan, tertawa, tersenyum,
dan bergandengan tangan bersama. Dan akhirnya menjadi tempat mereka menyalurkan
rasa cinta kepada satu sama lain.
Sudah dua jam mereka menghabiskan waktu di air terjun itu
dalam keheningan. Mata mereka yang berbicara. Mata mereka mengungkapkan isi
hati mereka yang saling merindukan. Dan mata mereka juga yang mengungkapkan
rasa bersalah pada satu sama lain.
“Ayo kita pulang. Di sini dingin. Aku tak ingin kau sakit,”
kata Greyson dengan nada datar.
Alice merasakan kehangatan itu lagi ketika mendengar
ungkapan perhatian Greyson padanya. Tanpa ragu ia mengangguk dan mereka mulai
memasuki mobil, lagi-lagi dalam diam. Setelah menempuh beberapa menit
perjalanan, sampailah mereka di depan rumah Alice yang notabene bersebelahan
dengan rumah Greyson.
“Kalau kau butuh sesuatu, aku ada di sebelah rumahmu,” kata
Greyson sesaat setelah ia membantu Alice menurunkan barang bawaannya. “Selamat sore!”
Greyson hendak masuk ke dalam mobil untuk memarkirkan
mobilnya di dalam rumahnya. Namun sebelum ia sempat masuk, ia menoleh sejenak
ke arah Alice. Ia melihat beberapa bulir air mata jatuh dari mata Alice.
Spontan Greyson segera berjalan mendekati Alice dan bertanya khawatir, “Ada
apa?”
“Maafkan aku, Grey! Maafkan aku! Aku mencintaimu, tapi…
tapi…” kata Alice dengan terisak-isak sambil menghambur ke pelukan Greyson.
Dengan heran Greyson membalas pelukan Alice dan memandang
gadis di depannya. Ia tak mengerti mengapa Alice tiba-tiba menangis. Pelan-pelan
ia memberanikan diri untuk membelai rambut coklat Alice yang lembut dan mengecup puncak kepala Alice.
“Aku sudah mengkhianatimu, Grey!” jerit Alice kesal. Kesal
pada dirinya sendiri.
Greyson masih tidak mengerti. Ia pun bertanya dengan nada
heran, “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,”
Alice terdiam sejenak, menimbang-nimbang yang akan
dikatakannya. Namun sudah kepalang basah, ia harus melanjutkan kata-katanya,
“Sudah dua bulan aku menjadi kekasih Zack,”
Sesaat setelah mendengar perkataan Alice, segala perasaan
yang memenuhi hatinya mulai lenyap terbawa angin sore. Ia merasakan kekosongan
di dalam hatinya. Sambil memandang Alice dengan tatapan nanar dan tersenyum pedih,
Greyson berkata, “Selamat sore,” dan mulai masuk ke mobilnya.
xxx
Ia kembali menyesap coklat hangat di tangannya, pandangannya
menerawang ke arah jendela, menatap butiran-butiran kecil salju dengan perasaan
hampa. Ia tak tahu harus berbuat apa. Hatinya kosong sekarang. Pikirannya telah
terkuras habis.
“Sudah dua bulan aku
menjadi kekasih Zack,”
Lagi-lagi suara gadis itu terngiang-ngiang di dalam otaknya.
Mimpi buruknya menjadi kenyataan, Alice telah melupakannya dan berpaling pada
Zack. Namun ini semua salahnya. Dengan bodohnya ia mengikuti permainan
sandiwara yang dibuat oleh Troy, mantan manajernya. Seharusnya ia mengikuti
kata hatinya dan lebih memilih Alice ketimbang kariernya.
Rasa lapar menyerangnya, ia pun beranjak dari tempat
duduknya di dekat jendela dan mulai melangkah dengan kaki yang mulai kaku ke
arah dapur dan berniat untuk membuat spaghetti. Ketika ia sedang memotong tomat
untuk bahan sausnya, pikirannya melayang memikirkan mimpi buruknya sehingga jari
tangan kirinya teriris pisau.
xxx
Alice tengah duduk di kasurnya sambil membersihkan kuku jari
tangannya. Ia merasakan hampa yang luar biasa. Perasaan bersalah kembali
menyerang dirinya dan membuatnya gelisah. Ia tak tahu apa yang harus ia
lakukan. Meminta maaf pada Greyson sudah percuma. Greyson tak akan pernah
memaafkannya.
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari arah dapur. Alice
tersentak dan dengan was-was ia menajamkan pendengarannya. Suara itu terdengar seperti
gemerisik pepohonan. Perlahan namun pasti ia beranjak dari tempat tidurnya dan
mulai berjalan dengan mengendap-endap ke dapurnya. Dan ketika ia sampai di
dapurnya, ia menatap sosok itu, membuatnya spontan menjerit histeris.
xxx
Greyson tersentak mendengar jeritan dari rumah sebelahnya.
Alice. Ia pun kembali berusaha membalut lukanya dengan plester. Ketika ia
hampir berhasil membalut lukanya, terdengarlah ketukan di pagarnya. Ketukan
yang sangat keras dan terburu-buru. Greyson pun memutar bola matanya dan
sedikit mendengus.
Setelah selesai membalut luka di jarinya, ia bergegas ke
luar rumah untuk melihat siapa yang mengetuk pagar dengan keras itu pada malam hari.
“Tunggu!” seru Greyson saat akan membuka pintu rumah yang
terkunci. Sesaat setelah membuka pintu rumahnya, Greyson mendongak dan melihat
gadis, yang sangat tidak ingin dijumpainya, mengetuk pagar dengan terburu-buru
dan dengan wajah panik penuh keringat.
Dengan malas Greyson membukakan pintu pagar dan gadis itu
segera menghambur ke dalam pelukannya. Greyson tidak menanggapi pelukannya.
“Aku takut, Grey! Di sana… di sana ada… ada tikus!” ujar
Alice tergagap di dalam pelukannya.
Mau tak mau Greyson geli juga mendengar pernyataan Alice.
Namun masih dengan tatapan dinginnya, tanpa berkata-kata Greyson melepaskan
pelukan Alice dan menutup pintu pagar. Setelahnya, ia menganggukkan kepala ke
arah pintu untuk mempersilakan Alice masuk.
Di dalam rumah, keheningan masih terasa di antara dua orang
itu. Greyson yang awalnya ingin membuat makan malam pun lupa akan rencananya.
Ia bingung harus berbuat apa. Akhirnya ia menghempaskan diri di atas sofa di
ruang tamunya sembari mengisyaratkan pada Alice agar cepat duduk.
“Wah, rumahmu tetap bersih ya! Padahal sudah ditinggal tiga
tahun,” ujar Alice kagum saat sedang melihat-lihat ke sekeliling ruangan itu.
“Ya,” jawab Greyson singkat sembari mengangguk samar.
Alice melirik sejenak ke arah Greyson. Ia tidak menyangka
laki-laki itu akan memberikan tanggapan yang sangat singkat padanya. Alice pun
menghela nafas dan melanjutkan, “Pasti, um, di sini tidak ada tikus,”
Greyson tersenyum tipis tanpa diketahui Alice. Sebesar apa
pun kekecewaannya pada gadis itu, Greyson tak sanggup bersikap dingin padanya.
Namun ia segera memperbaiki ekspresi wajahnya dan mengangguk samar sambil
menjawab, “Tentu,”
Tiba-tiba Greyson beranjak dari tempat duduknya membuat
Alice heran. “Mau ke mana?”
Tanpa banyak bicara, Greyson menunjuk ke arah dapur dan
melangkahkan kakinya ke sana. Alice pun mengikutinya dari belakang, dan langkah
gadis itu terhenti karena tiba-tiba Greyson berbalik badan dan menatapnya
dingin.
Alice merasa tubuhnya mengecil saat itu. Ia begitu takut
melihat pandangan Greyson. Jarang sekali laki-laki itu melemparkan pandangan
dingin pada orang. Ia hanya melakukannya jika ia membenci orang yang
bersangkutan. Alice pun tersadar. Greyson membencinya. Sangat membencinya.
To be continued…
No comments:
Post a Comment