Sudah beberapa hari setelah Alice menyaksikan tayangan di
televisi saat itu. Ia merasa seperti orang bodoh yang mau-maunya dipermainkan
oleh seorang penyanyi terkenal. Seharusnya ia menyadarinya sejak awal.
Seharusnya ia tahu, Greyson tidak sungguh-sungguh mencintainya.
Lagi-lagi perubahan itu terjadi. Alice tidak seceria saat ia
masih bersama Greyson. Pipinya tidak lagi merona merah karena sering tertawa.
Bahkan saat ini wajahnya pucat dan tubuhnya semakin kurus. Perubahan yang jauh
lebih buruk daripada sebelumnya.
“Alice, kuharap kau makan sekarang,” ucap Zack tajam.
Mendengar kata-kata Zack, Alice melengos dan membuang muka.
Ia tersenyum masam dan menyahut, “Apa pedulimu? Urus saja urusanmu sendiri,”
Yang merasakan kehilangan bukan hanya Alice. Zack pun juga.
Ia merasa kehilangan Alice-nya yang
dulu. Ia tahu, selama bersamanya, Alice memang jarang sekali tersenyum apalagi
tertawa. Namun mata biru Alice selalu hangat dan tersenyum setiap kali menatapnya.
Namun kini semuanya menghilang. Dan lagi-lagi pria itu yang sudah merampasnya.
Zack ingin sekali membalas apa yang sudah disebabkan oleh
Greyson. Namun ia tahu hal itu sama sekali tidak mungkin. Lagi pula ia tahu
Alice tidak ingin ia berbuat kasar kepada siapapun.
“Alice, kumohon,” pinta Zack. Kali ini wajahnya memelas. Ia
sangat mengkhawatirkan kondisi Alice.
“Baiklah,” ucap Alice dengan nada yang lebih lembut. Mau
tidak mau hatinya tersentuh juga melihat sinar khawatir di mata hijau Zack.
Zack yang mendengar sahutan Alice pun tersenyum. Ia senang
akhirnya gadis itu mau mendengarkan ucapannya. Dengan perlahan ia menyuapi
Alice sesuap demi sesuap makanan. Alice merasa terharu dengan perhatian Zack
yang begitu besar. Tiba-tiba pandangan mereka bertemu dan membuat pipi Alice
merona merah. Jantungnya berdegup keras. Alice kemudian menyadari sesuatu yang
membuatnya terbatuk-batuk karena tersedak.
Sangatlah mungkin ia jatuh cinta pada Zack.
xxx
Alexa tampak bingung melihat adiknya yang sedari tadi
mondar-mandir tak keruan. Entah masalah apa yang membuat Greyson menjadi
seperti orang linglung yang tidak tahu arah. Karena merasa diperhatikan,
Greyson pun mendengus dan menghempaskan diri ke atas sofa lalu terdiam sambil
menggigit bibirnya.
“Ada apa?” tanya Alexa hati-hati.
Setelah menghela nafas sejenak, Greyson pun memaksakan
dirinya untuk menjawab, “Oh, kau takkan mengerti,”
“Aku akan berusaha mengerti,” sahut Alexa.
Greyson pun memandang mata coklat kakaknya, ia tersenyum
kemudian menjawab, “Entahlah, Lex. Aku merasa… Yah, tidak mudah
menjelaskannya,”
Alexa tersenyum lalu beranjak dari bangkunya dan berkata,
“Kau bisa menceritakannya padaku jika kau sudah siap,” Perlahan ia keluar dari
kamar Greyson dan menutup pintunya memberikan Greyson waktu untuk sendiri.
Di dalam kamarnya, Greyson terus menerus memikirkan masalah
yang saat ini tengah dialaminya. Berkali-kali ia menarik dan menghela nafas
untuk mengusir kepenatannya, namun sia-sia belaka. Lagi-lagi ia menyakiti
Alice. Ia merasa dirinya adalah seorang penghianat. Ia telah membuat Alice
salah sangka.
Kini ia tidak lagi bekerja dengan Troy. Ia memutuskan untuk
keluar dari manajemen itu. Guy pun keluar dari pekerjaannya, dan menawarkan
dirinya menjadi manajer Greyson. Mau tak mau Greyson merasa terharu dengan perhatian
Guy, yang selama ini ia anggap sebagai musuh. Seiring dengan keluarnya Greyson,
banyak sekali label yang menawarkan kerja sama dengan Greyson. Namun dengan
halus Greyson menolak karena ia ingin vakum sementara dari dunia musik.
Ia sangat ingin menghubungi Alice untuk menjelaskan
semuanya. Namun ia tak tahu bagaimana cara menghubunginya. Ia tidak memiliki
nomor ponsel Alice, begitu juga dengan alamat e-mail Alice. Greyson merasa
bodoh. Bagaimana mungkin ia dapat mengaku sebagai kekasih Alice sedangkan ia
tidak tahu hal-hal dasar mengenai Alice.
Tiba-tiba sebuah ketakutan menjalari tubuhnya. Matanya
membelalak, nafasnya memburu, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Bayangan Alice muncul di benaknya. Bayangan Alice sedang bersama Zack. Bayangan
Alice yang sudah melupakannya, dan beralih ke Zack.
Pandangannya pun menggelap, perutnya seakan dipenuhi
kupu-kupu. Ia merasa pusing dengan sebuah pertanyaan yang terus menerus
menari-nari di dalam otaknya. Rasa sakit menjalari kepalanya. Ia merasa sudah
hampir berputus asa dengan masalah yang ia hadapi. Mungkin menurut orang lain
hal itu adalah masalah sepele, namun baginya masalah itu adalah sebuah masalah
besar. Apakah kini Alice membencinya?
xxx
“Aku mencintaimu, Alice,” ujar Zack malam itu, ketika
salju-salju mulai turun dan langit mulai dihiasi bulan berwarna keperakkan,
yang tampak di sela-sela ranting pohon.
Alice merasa ia tak sanggup bernafas. Jantungnya berdetak
tak keruan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia juga tak tahu apa statusnya saat
ini. Seakan mengerti isi hati Alice, Zack berkata, “Aku tahu kau bingung. Aku
akan menunggumu,”
Perlahan senyum mengembang di bibir Alice. “Aku juga
mencintaimu,” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Alice. Perlahan
timbul rasa bersalah di dalam hati Alice setelah mengatakan itu. Ia tak tahu
mengapa. Apa yang dikatakannya bertolak belakang dengan apa yang dirasakannya,
namun otaknya berkata ia harus mengatakan itu.
Zack terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari bibir
Alice. Seketika itu juga senyuman tergambar di wajah Zack. Ia pun segera
mendekap Alice di dalam pelukannya. Alice merasa kehangatan mengaliri tubuhnya.
Namun ada yang mengganjal di sana. Di dalam hatinya.
xxx
“Mom! Dad!” jerit Greyson dari dalam kamarnya. Ia merasakan
sakit yang luar biasa di kepalanya saat itu.
Mrs. Chance pun bergegas ke kamar Greyson dan dengan panik
bertanya, “Ada apa, Son?”
Tak lama kemudian Mr. Chance menyusul dengan kursi rodanya.
Ia juga sepanik istrinya. Greyson terus mengerang kesakitan. Kepalanya seperti
ditusuk ribuan paku. Greyson berusaha mengusir rasa sakitnya dengan menjambak
rambutnya kuat-kuat.
Alexa dan Tanner pun berlari ke dalam kamar Greyson karena
mendengar erangan bocah itu. Alexa menangis melihat kondisi adiknya yang sedang
kacau. Sedangkan Tanner berusaha menenangkan Alexa dengan merangkul tubuh Alexa
yang lebih kecil darinya sambil memandang cemas ke arah Greyson.
Erangan Greyson pun
berhenti digantikan dengan isak tangis. Mrs. Chance segera mendekap Greyson
dalam pelukannya dan bertanya dengan lembut, “What’s happened, My Son?”
Sembari sesenggukan, Greyson menggeleng kuat-kuat dan
menjawab, “Aku takut, Mom!”
Mrs. Chance memandang Greyson dengan bingung. Ia tak tahu
apa yang terjadi terhadap anaknya, karena Greyson sama sekali tidak mau
menceritakan apa pun kepadanya. Mrs. Chance pun melirik Alexa, yang sedang
terisak, dengan pandangan bertanya namun hanya dibalas dengan gelengan pelan.
“Alice. Alice!” raung Greyson. Ia tampak seperti orang gila
saat itu, “Aku bodoh, Mom! Aku bodoh! Aku sudah menipunya!”
Mrs. Chance masih terheran-heran. Apa yang terjadi dengan
Alice dan Greyson? Sepertinya beberapa waktu yang lalu, ketika mereka berdua
datang ke rumah itu, mereka tampak biasa-biasa saja. Berbagai pertanyaan timbul
di dalam kepalanya. Namun ia memutuskan untuk membiarkan Greyson tenang dulu
agar ia dapat menceritakannya dengan lebih jelas.
“Aku takut,” ujar Greyson dengan suara yang mulai melemah.
Perlahan tubuhnya menjadi lemas dan detik berikutnya ia tak lagi sadarkan diri.
To be continued…
No comments:
Post a Comment