“Mau apa kau ke sini?” tanya Greyson geram.
“Tentu saja ingin menemuimu, sweetheart!” sahut Bella dengan wajah sumringah, “Tak kusangka
akhirnya kau berpaling dari Alice kepadaku,”
“Itu tidak akan terjadi, Miss Westphalen!” sambar Greyson
dengan rahang terkatup rapat.
“Uh, bisakah kau membukakan pintu pagar?” tanya Bella seakan
tidak mendengar perkataan Greyson yang terakhir.
Tanpa berkata-kata, Greyson membukakan pintu pagar dan
membiarkan Bella masuk dengan seenaknya.
“Yah, rumah yang tetap terawat meskipun sudah ditinggal tiga
tahun,” ujar Bella sembari melihat-lihat seisi ruang tamu. Ia pun meletakkan
barang bawaannya di atas sofa tempat Greyson tidur semalam.
Greyson yang melihat Bella sangat seenaknya pun mendengus
kesal. “Kau mau minum apa?” tanya Greyson dingin.
“Oh, biar kubuat sendiri minuman itu. Sekarang kita
mengobrol saja di sini. Aku sangat merindukanmu,” kata Bella dengan pandangan
manja.
Melihat itu Greyson muak dan berkata, “Sayangnya tidak
denganku. Aku bertanya, kau mau minum apa?”
“Aku akan membuatnya sen―”
“Kau mau minum apa?” ulang Greyson memotong perkataan Bella.
“Lemon tea,” jawab Bella kesal. Saat ia melihat Greyson
berbalik menuju dapur, Bella pun berniat mengikutinya namun langkahnya terhenti
karena Greyson membalikkan badannya dan menatap tajam ke arahnya.
“Tunggu di sini,” kata Greyson singkat.
“Tapi aku ingin ikut,” sahut Bella memelas.
“Tidak,”
“Aku―” perkataan Bella terhenti saat melihat sosok gadis di
belakang Greyson yang tengah menatapnya dengan mata membelalak.
Greyson heran menatap pandangan Bella yang berubah menjadi
terperangah. Ia pun berniat memutar tubuhnya untuk menatap ke belakang. Namun
tiba-tiba saja tubuhnya sudah didekap dengan erat oleh Bella.
“Oh, Greyson. Aku sangat merindukanmu!” kata Bella sambil
mencuri pandang ke arah Alice yang memandang mereka dengan pandangan aneh.
“Lepas―” ucapan Greyson terhenti karena mendapati bibir
Bella sudah menyentuh bibirnya.
“Uh, maaf bila aku mengganggu,” kata Alice sambil menunduk.
Sedetik kemudian ia sudah berlari kecil ke arah dapur.
“Alice!” seru Greyson sambil menyentakkan tangan Bella yang
masih memeluknya. “Lepaskan aku! Kau bodoh!”
Bella menatap Greyson yang tengah mengejar Alice ke dapur.
Ia tersenyum puas dan bergumam, “Aku tidak akan menyerahkan Greyson dengan
mudahnya kepadamu, Alice Cartel,”
xxx
Alice duduk di salah satu kursi di dapur. Ia terdiam.
Kepalanya tertunduk. Ingatan beberapa menit yang lalu berputar di otaknya. Ia
bingung mengapa gadis itu bisa berada di rumah ini. Ia heran mengapa Greyson
dengan mudahnya menerima ciuman gadis bodoh itu padahal baru semalam ia berkata
hubungan itu hanyalah sandiwara belaka.
Alice ingin menangis, namun ia tidak dapat menangis. Segala
perasaan bercampur dalam otaknya. Ia ingin mempercayai perkataan Greyson
beberapa saat yang lalu, namun ia lebih mempercayai penglihatannya.
“Alice!” seru Greyson.
Mendengar seruan Greyson, Alice tak kunjung mendongakkan
kepalanya. Ia justru menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa kesal.
“Alice! Dengarkan aku. Look at me!” pinta Greyson. Ia berlutut
di depan Alice, pandangannya memohon. Ia pun mengangkat satu tangannya untuk
mengangkat dagu Alice. Namun dengan cepat Alice menepis tangan Greyson dan
segera berdiri.
“Aku tahu sejak awal,” ujar Alice dengan rahang terkatup
rapat. Ia menelan ludah dan melanjutkan, “Hanya Zack yang tidak akan pernah menipuku,”
Alice beranjak dari tempatnya berdiri dan hendak berlari
keluar rumah. Namun tangannya ditahan oleh Greyson yang saat ini tengah
menatapnya dengan pandangan nanar. “Apa… apa maksudmu?”
“Kurasa kau sudah tahu maksudku,” timpal Alice dengan suara
bergetar sambil berusaha menepis tangan Greyson.
“Kau mau ke mana?” tanya Greyson lagi.
“Tentu saja ke rumahku. Aku punya rumah sendiri!” bentak
Alice.
“Tapi… tapi di sana ada tikus. Tikus yang besar… dan… dan
kau takut,” gumam Greyson dengan suara bergetar. Ia ingin menahan Alice namun
tak tahu lagi apa yang harus ia katakan untuk menahan gadisnya itu. Perlahan
genggamannya mengendur dan terlepas.
“Kuharap kau dapat bertahan lama dengannya, Grey,” ucap
Alice pedih. Perlahan ia melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah itu.
xxx
Greyson menatap nanar kepergian Alice. Ia tidak bisa melakukan
apapun. Ia pun berjalan ke ruang tamu dengan langkah berat dan mendapati Bella
sedang melipat tangan sambil bersandar di tembok dengan senyum penuh
kemenangan.
“Kau bisa pergi sekarang,” ucap Greyson dingin sambil
menatap Bella dengan pandangan mengancam.
“Aku tidak akan pergi sebelum kau memberikanku lemon tea
yang aku mau,” protes Bella.
Dengan geram ia berjalan dengan menghentakkan kaki ke arah
Bella. Ia berdiri tepat di hadapan Bella sambil melemparkan pandangan yang
dapat membunuh siapapun. Melihat itu, Bella merasa dirinya menciut. Ia pun
berjalan keluar rumah.
Greyson membanting pintu rumah dan berjalan lunglai ke
kamarnya. Ia duduk di pinggiran kasur dan terdiam di sana. Ia merogoh saku
jaketnya dan tidak mendapati fotonya bersama Alice di sana. Ia pun merasa
sedikit panik.
“Damn! Di mana fotoku?” seru Greyson kesal.
Ia mengaduk-aduk seluruh tasnya dan tidak menemukan apa pun.
Ah! Greyson baru ingat. Ia meninggalkan fotonya di kamar apartemennya. Ia pun
merutuk dalam hatinya dan berniat kembali ke New York untuk mengambil foto itu.
.xxx
Alice masih tidak menyangka akan penglihatannya tadi. Namun
tidak dapat ia pungkiri bahwa ia tidak salah lihat.
“Grey…” bisik Alice sambil mengusap gambar Greyson di foto
yang sedang ia pegang. Tidak terasa air matanya jatuh di atas foto itu―tepat di
atas gambar Greyson― dan membuat gambarnya rusak. Ia terkejut, dan berusaha
susah payah untuk mengeringkan lembaran itu dengan tangannya. Namun sia-sia.
Usahanya itu justru membuat foto itu semakin rusak. Dengan putus asa ia
menghempaskan dirinya di atas kasur. Ia memandang foto itu sambil menghela
nafas. “Maaf, Grey,”
Tiba-tiba ia mendengar suara bel. Ia berdiri dan berjalan ke
arah jendela untuk melihat siapa yang bertamu―seperti kebiasaannya sewaktu
kecil―kemudian melongokkan kepalanya dan melihat Greyson lah yang berdiri di depan
pagar.
Alice mengatupkan rahangnya dan berjalan kaku menjauhi
jendela untuk membukakan pagar.
“Silakan masuk,” kata Alice sesaat setelah membukakan pintu
pagar. Ia berbicara pada Greyson namun pandangannya mengarah ke tanah.
“Tidak, terimakasih,” sahut Greyson dengan nada bicara kaku.
“Kau mau apa?”
“Hanya ingin menitipkan kunci rumahku selama dua hari,”
sahut Greyson tanpa basa-basi.
Alice tercengang. Ia pun menatap Greyson penuh tanya.
“Memangnya, kau―?”
“Ingin ke New York,” sambung yang ditanya cepat.
“Sendiri?”
“Kuharap tidak. Mungkin Bella mau menemaniku,”
Kerongkongan Alice seperti tercekat. Ia tidak menyangka
Greyson ternyata bersungguh-sungguh mencintai Bella. Pada mulanya ia ingin
Greyson memberikan sebuah penjelasan. Namun kini semuanya sudah jelas. Greyson
sudah menjelaskannya.
“Ah, ya. Tentu,” ujar Alice sambil mengambil kunci rumah
yang disodorkan Greyson padanya, “Aku akan menjaga rumahmu. Bersenang-senanglah
dengan Bella!”
Alice pun bergegas kembali ke dalam rumahnya. Ia tidak lagi
menoleh ke belakang. Ia tidak ingin Greyson melihat air mata yang turun dari
matanya. Ia tidak ingin melihat Greyson lagi.
xxx
“Kau sudah siap?” tanya Greyson dingin pada Bella.
“Tentu!” sahut Bella senang. Ia tidak menyangka ternyata
Greyson benar-benar berpaling padanya secepat itu. Ia pun masuk ke dalam mobil
Greyson untuk bersiap-siap ke bandara.
Dengan kecepatan tinggi Greyson mengendarai mobilnya menuju
bandara tanpa berkata-kata. Pandangannya lurus ke depan tanpa sedikitpun
menoleh bahkan melirik ke arah Bella. Ia tidak menanggapi sepatah katapun yang
diucapkan Bella sehingga membuat gadis itu merajuk sepanjang jalan. Namun
Greyson tidak memedulikannya.
“Sudah sampai,” ujar Greyson saat mereka tiba di parking
area bandara. Ia bergegas turun dan mengeluarkan barang-barangnya sendiri dari bagasi.
“Hey! Bisakah kau mengambilkan barang-barangku?” tanya Bella
yang tengah bersusah payah mengangkat barang-barangnya.
Greyson menoleh dengan tidak sabar dan menyahut, “Kau punya
tangan, kan? Cepat angkat barang-barangmu atau kutinggal kau di sini,”
Dengan bersungut-sungut, Bella mengeluarkan barang-barangnya
dari bagasi mobil Greyson dan segera menyusul laki-laki itu yang sudah
mendahuluinya. “Tunggu!” seru Bella tanpa dihiraukan oleh Greyson.
Mereka pun sampai di ruang tunggu bandara dan Greyson
merogoh tiket pesawat yang baru dibelinya tadi siang. Ia melihat sebentar dua
lembar tiket di tangannya dan menyerahkan satunya kepada Bella.
“Tunggu. Kita tidak duduk bersebelahan?” tanya Bella saat
melihat lembaran tiket di tangannya dan juga tiket milik Greyson.
“Ya,” jawab Greyson singkat acuh tak acuh.
Bella mendengus kesal karena Greyson sengaja membeli dua
tiket dengan tempat duduk yang berjauhan. Ia berniat untuk tidak mengacuhkan
Greyson sepanjang perjalanan untuk membuat laki-laki itu jera. Namun ia salah.
Justru itulah yang diinginkan Greyson.
xxx
Alice berjalan mondar-mandir di terasnya. Ia bingung harus
berbuat apa. Ia ingin pergi ke suatu tempat, namun ia tidak tahu ke mana ia
harus pergi.
“Uh, apa yang harus aku lakukan?” tanya Alice sambil duduk
di bangku teras.
Pada awalnya ia datang ke sini untuk menyendiri dan menjauh
dari orang-orang tertentu. Dan ia berpikir akan baik-baik saja tanpa
orang-orang itu sampai ia bertemu secara tidak sengaja dengan Greyson di dekat
bandara. Sekarang ia sadar ia sangat membutuhkan Greyson.
“Spada!” seru seseorang dari arah pagar. Alice segera
menoleh ke arah pagar dan sontak terkejut dengan penglihatannya.
“Ah! Akhirnya aku menemukan rumah yang tepat! Aku sudah
mencarimu ke seluruh Wichita Falls!” kata orang itu yang tak lain dan tak bukan
adalah Zack.
To be continued…
No comments:
Post a Comment