Saturday, 15 December 2012

FanFicion - "Running Away" 7


Sudah dua minggu sejak terakhir kali ia bertemu dengan Alice. Hari-hari yang dilaluinya sepulang dari desa itu dihabiskan dengan bermuram durja. Tak ada lagi yang mampu ia lakukan kecuali menjalani rutinitasnya sebagai penyanyi dan membagikan senyuman juga tawa palsu ke media dan para penggemarnya.
Hari ini hari kosongnya menjelang Christmas Concert yang akan diadakan di Central Park―yang sangat dekat dengan apartemennya―tanggal 21 Desember nanti. Ia menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di dalam kamar apartemen. Merenung, membaca novel, mendengarkan lagu, dan sesekali bermain game favoritnya. Namun semua itu tidak mengobati rasa sakitnya yang sudah semakin parah.
Karena bosan, Greyson pun memutuskan untuk menyamar dan berjalan-jalan sebentar di East Broadway Mall, salah satu mall besar di New York. Ia mengenakan mantelnya. Namun tidak seperti biasanya, ia tidak memasukkan foto Alice di saku mantelnya. Setelah mengenakan mantel, ia berjalan ke luar untuk ‘mengambil’ mobilnya, dan kemudian mengendarainya ke mall tersebut.
Di dalam mobil, selama perjalanan, ia mendengarkan siaran radio remaja yang seringkali memutarkan lagu-lagu yang sedang hits di dunia. Tiba-tiba saja, lagu yang sangat ia kenal pun terdengar dari speaker. Lagunya.
Greyson menggigit bibir bawahnya saat mendengar lagu yang ia ciptakan sendiri itu. Nafasnya terasa sesak. Dan perlahan, dengan suara bergetar ia bernyanyi,

Running away through the night so black.
The stars on my shoulder pulling me back.
Whispers of you ringing through my ears
trying to forget all the wasted tears.
And all your lies in your blue eyes,
another day goes by and all I can say is
wish I could forget you, but you keep coming back
,”

Tak terasa air mata jatuh dari matanya. Ia merasa bodoh saat ini. Bagaimana mungkin laki-laki yang sudah hampir dewasa menangis karena mendengar suaranya yang menyanyikan lagu yang ia ciptakan sendiri?
Saat ini, saat ia merasakan sakit di hatinya, ia menyadari satu hal.
“I’ve understood why Alice hated me,”

xxx

Sampailah gadis itu di kota besar ini setelah menjalani berbagai argumentasi dengan kedua orang tuanya. Ia melihat sekelilingnya dengan sangat kagum. Belum pernah ia melihat kota yang ‘sehidup’ ini.
Dengan cepat, sesuai dengan arahan kedua orang tuanya yang sudah pernah ke New York, Alice segera mencari taksi yang akan membawanya ke salah satu hotel di Manhattan. Setelah sampai di hotel tersebut, ia memesan sebuah kamar yang akan di tempatinya selama satu hari, sebelum ia menemukan apartemen untuk tempat tinggalnya.
Malam ini ia habiskan dengan memikirkan cara untuk bertemu dengan Greyson di kota yang sangat luas ini. Karena tidak menemukan jalan keluar, ia mengeluarkan foto itu lagi dan memandangnya selama beberapa menit. Setelah itu ia merasa kantuk yang luar biasa menyerangnya dan ia pun tertidur.
Pagi-pagi benar Alice sudah terbangun dan hal pertama yang diingatnya adalah ekspresi sedih Zack saat mengantarnya ke bandara. Sesaat ia merasa menyesal meninggalkan desanya dan juga Zack. Namun kemudian ia tersadar bahwa ia kemari untuk menemui Greyson, sahabatnya yang sudah ia lukai.
Setelah matahari mulai beranjak dari tidurnya, Alice membersihkan diri dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Ia memutuskan untuk berjalan kaki ke mana saja kakinya inginkan. Tanpa sadar kakinya sudah menuntunnya ke sebuah taman yang sangat besar dan luas. Taman yang sangat indah dengan pohon-pohon yang sudah tidak ada daunnya.
Ia berjalan ke sekeliling taman yang terdapat banyak pemusik blues jalanan. Beberapa orang sedang  Ia sangat menikmati suasana di taman yang ia belum tahu namanya. Tiba-tiba, saat ia melangkah, ia menginjak sebuah selebaran berwarna hijau. Karena rasa penasaran, Alice mengambil kertas itu dan membacanya.
Matanya membelalak setelah membaca selebaran itu.

xxx

Telepon genggam Greyson berbunyi saat sang pemilik sedang tertidur dengan nyenyaknya pagi itu. Dengan gusar ia mengambil telepon genggamnya dan mengangkatnya tanpa membaca siapa yang menelepon.
“Hmm?”
Greyson! Bagaimana mungkin di akhir pekan seperti ini kau tidur sampai siang? Ingat, bro, kau punya jadwal pemotretan saat ini,” kata orang di telepon dengan panjang lebar.
“Siapa ini?” tanya Greyson yang ternyata sedari tadi belum tahu siapa peneleponnya.
Orang di seberang sana itu pun terdengar menghela nafas, “Baiklah, Grey. Datang ke bagian utara Central Park dan kau akan tau siapa aku,” ucap sang penelepon dan segera memutuskan sambungan.
Greyson menguap keras dan mengerang karena pagi-pagi sudah ada yang mengganggu tidur indahnya. Namun lagi-lagi atas dasar kebosanan, Greyson pun bangkit dari pembaringan dan membersihkan diri sesaat setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Setelah membersihkan diri, Greyson pun memutuskan untuk mengikuti petunjuk sang penelepon. Ia berjalan kaki sambil menghirup udara akhir musim gugur dalam-dalam. Karena menggunakan pakaian yang sangat tebal dan masker, tak ada satupun orang yang mengenalnya.
Sampailah ia di Central Park. Dan ia secara reflek berjalan ke bagian utara dari Central Park. Dan ia melihat Troy yang sudah menunggunya sambil berkacak pinggang. Greyson pun berlari ke arah Troy dengan cengiran lebar.
Yah, seburuk-buruknya keadaannya, Greyson akan merasa lebih baik jika bertemu dengan Alexa atau Troy. Bahkan terkadang Guy, yang seringkali sinis padanya.
Mereka pun berbicara masalah konser yang akan dilakukan di tempat ini pada tanggal 21 Desember yang akan datang. Tepat di tengah pembicaraan, Greyson melihat seorang gadis, yang sedang duduk di bangku taman di bawah pohon besar yang sudah botak, sedang membaca sebuah selebaran. Gadis itu berambut coklat, dan matanya yang memandang ke bawah terlihat sedikit warna birunya.
“Alice?”
Greyson mengucek matanya untuk memastikan kebenaran penglihatannya. Dan saat ia melihat kembali ke bangku taman itu, ia sadar penglihatannya tadi tidaklah salah.
Itu benar-benar Alice.

xxx

Alice sudah menemukan apartemen yang cocok untuknya di daerah Manhattan juga. Ia tak ingin jauh-jauh dari taman besar, yang baru-baru ini diketahui Alice, bernama Central Park. Apartemen yang ia pilih cukup bagus dengan fasilitas memadai, dan pemandangan yang indah dari jendela kamarnya.
Ia terlalu sibuk akhir-akhir ini. Sibuk membeli dan memindahkan barang-barang ke apartemennya. Hingga tak terasa kalender telah menunjukkan tanggal 20 Desember, sehari sebelum acara yang sangat ditunggu-tunggu Alice. Ia cepat-cepat mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk sebuah poster besar dengan tulisan ‘GREYSON!! IT’S ME ALICE CARTEL!’ yang akan dipakainya di konser Greyson esok hari.
Sudah lewat dua jam Alice berkutat pada poster yang akan ia gunakan esok hari. Satu minggu yang lalu, tepat saat ia menemukan selebaran yang berisi tentang Christmas Concert, Alice segera berburu tiket VIP agar dapat menonton Greyson dengan lebih dekat.
Sesungguhnya ia bukan ingin menonton konser Greyson. Tetapi ia ingin bertemu Greyson.

xxx

“Alexa, doakan aku ya,” ujar Greyson di belakang panggung sembari memeluk Alexa yang dengan setia menemaninya.
“Aku pasti mendoakanmu,” sahut Alexa sambil tersenyum, “Kau tidak menelepon Mom?”
“Aku baru saja meneleponnya. Mom terdengar sangat bersemangat dan ia berjanji akan mendoakanku bersama Dad,” lalu Greyson menambahkan sesuatu dengan berbisik, “Ia juga berkata bahwa Tanner sudah punya pacar,”
Lalu mereka tertawa bersama.
“Greyson, ini sudah waktumu untuk naik ke atas panggung,” ujar salah satu kru acara tersebut.
Greyson mengangguk dan sekali lagi meminta dukungan dari kakaknya yang segera membalas dengan acungan jempol.
Perlahan Greyson menaiki panggung dan cahaya yang sangat terang menyambutnya. Ia mendengar suara riuh penonton yang mayoritas adalah wanita. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah  penonton yang sangat ribut.
Dan yang pertama kali dilihatnya setelah ia duduk di bangku pianonya adalah, sebuah poster besar dengan warna mencolok yang bertuliskan ‘GREYSON!! IT’S ME ALICE CARTEL!’ yang membuatnya menahan senyum.

xxx

Konser berjalan lancar, ia telah menyanyikan lima buah lagu yang di antaranya adalah ‘Rocking Around The Christmas Tree’ dan ‘Santa Claus is Coming To Town’, hingga akhirnya Greyson menyanyikan lagu terakhirnya yang berjudul ‘Running Away’
“Okay, guys. This is my last song,” terdengar suara penonton yang kecewa. Namun ada beberapa yang berteriak histeris, “I dedicate this song for my girl that has broken my heart,”
Alice pun langsung terhenyak mendengar perkataan Greyson. Penyesalan begitu tergambar dari wajahnya. Penyesalan yang begitu dalam. Hampir saja ia menangis jika ia tidak ingat ini adalah tempat umum.
“But it doesn’t matter. Even if she’s broken my heart for hundred times―” ia hentikan sejenak kata-katanya dan membuat penonton riuh berteriak. Ia melirik ke arah Alice, yang terlihat hampir menangis, dan tersenyum tipis, lalu melanjutkan, “I would still love her,”
Alice mendongak dan menatap Greyson yang saat ini tengah menatapnya sembari memainkan pianonya. Mau tak mau Alice membalas senyuman Greyson yang begitu mempesona.
Wish I could forget you, but I just can’t,
Tepuk tangan yang riuh dari penonton menutup penampilan Greyson malam itu. Greyson berjalan ke bibir panggung dan membungkuk dalam sambil berkata, “Merry Christmas, everyone!”
Dan lampu panggung pun dimatikan. Sedikit demi sedikit penonton meninggalkan tempat duduknya masih dengan suara ribut. Namun Alice masih saja duduk di bangkunya sambil sesekali tersenyum senang.
I would still love her,” kata-kata itu terus terngiang di dalam benaknya. Apakah ia boleh sedikit berharap? Apakah kata-kata itu untuknya?

xxx

“Congratulation, Grey! You’re rock!” jerit Alexa senang.
“Itu semua karena dukunganmu, Lex!” sahut Greyson sambil memeluk Alexa dengan sayang.
Lalu beberapa wartawan datang untuk mewawancarai Greyson. Greyson pun meninggalkan kakaknya sebentar untuk menanggapi para wartawan yang pasti akan menggila jika tidak ditanggapi. Setelah diwawancarai dan difoto sana-sini, Greyson kembali ke kakaknya, dan berpamitan pulang. Tak lupa ia berterimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat.
Greyson memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki karena apartemennya sangat dekat dengan Central Park. Tanpa diduga, ia melihat sesosok gadis yang amat sangat ia kenal sedang berjalan perlahan-lahan sambil mendekap tubuhnya sendiri.
Tanpa basa-basi, Greyson segera menyusul gadis itu. Dan saat ia sudah sampai di sebelah gadis itu, ia berdeham pelan. Gadis yang tak lain adalah Alice itu pun mendongak menatap Greyson yang sedang tersenyum lembut padanya.
Alice pun menghentikan langkahnya dan membuat Greyson otomatis berhenti juga. Alice terisak pelan karena akhirnya bertemu dengan orang yang sangat ingin ia jumpai. Ia lalu memeluk Greyson erat.
Greyson tak hanya menatap Alice, namun ia juga membalas pelukan Alice dan mendekapnya hangat. Greyson mengecup puncak kepala Alice. Lalu Greyson melepaskan dekapannya, mengangkat dagu Alice dengan tangannya, dan menatap mata Alice dalam-dalam.
“Alice,” panggil Greyson lembut, “Lihat aku,”
Alice pun menatap mata coklat Greyson yang sangat indah. Alice merasakan getaran di hatinya saat melihat mata Greyson yang lembut. “Aku sudah melihatmu,” sahut Alice.
“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Greyson masih dengan suara lembutnya.
Alice hanya mengangguk sembari tersenyum.
“Aku mencintaimu,”

To be continued…

2 comments: