R.I.P
Zachary Curtin
18 Maret 1996 – 19 Februari 2012
18 Maret 1996 – 19 Februari 2012
Berkali-kali Alice membaca tulisan di batu nisan itu. Ia
masih tidak percaya laki-laki tegap bermata hijau yang selalu menamaninya saat
ia sendiri, telah berbaring dalam damai di bawahnya. Ia masih belum menerima
semua itu. Ia masih ingin bersandar di bahu laki-laki itu, memegang tangannya,
dan menatap mata hijaunya.
Selama pemakaman, Alice tidak sedikitpun mengeluarkan air
mata, membuat orang-orang di sekitarnya, yang tahu hubungan mereka begitu
dekat, merasa Alice tidak memiliki perasaan dan memiliki hati sekeras batu.
Tetapi tidak. Alice begitu terpukul dengan kejadian itu. Zack, Zachary Curtin,
adalah orang yang sangat berharga yang pernah ada di kehidupannya.
Greyson terus menerus menggenggam tangan Alice untuk
menguatkan gadis itu. Ia tak sanggup berkata apa pun, karena biar bagaimana pun
juga, Zack sudah cukup berjasa dalam hubungannya dengan Alice. Diam-diam ia
juga merasa sedih dengan kepergian Zack.
“Alice, bagaimana jika kita pulang? Udara di sini sangatlah
dingin,” ucap Greyson lembut.
“Tidak. Kau saja yang pulang. Aku masih ingin bersama Zack,”
sahut Alice dengan suara bergetar. Ia menatap ke arah batu nisan dengan
pandangan kosong.
Greyson pun menyerah. Akhirnya ia berdiri dari tempatnya
duduk dan berjalan ke tempat penginapan di desa tempat tinggal Alice. Ia
kembali menatap ke belakang dan melihat punggung Alice mulai bergetar. Gadis
itu mulai menangis.
xxx
“Zack, tolong kau jangan pergi lama-lama. Aku membutuhkanmu,”
ucap Alice sambil membelai-belai batu nisan di depannya, seakan-akan sedang
berbicara dengan Zack. Pandangannya kabur, satu butir air mata mulai turun
membasahi pipinya, permulaan untuk beberapa butir air mata lain yang mulai
turun dengan deras. “Mengapa kau tidak mengajakku?” tanya Alice lagi dengan
suara lebih lirih.
“Alice…” panggil seseorang dari balik punggung Alice.
“Grey? Bukankah kau sudah pulang?” tanya Alice saat
menyadari orang itu adalah Greyson.
“Tidak. Aku tidak akan pulang tanpamu,” ucap Greyson dengan
lembut, “Sampai kapan kau mau menyiksa dirimu sendiri? Biarkan ia tenang,
Alice. Kau tahu? Ia akan sangat sedih jika kau terus menerus membuang-buang air
matamu,”
“Membuang? Aku menangisi orang yang aku sayangi! Kau tidak
mengerti, Grey! Kau membencinya. Kau tidak tahu perasaanku!” seru Alice sambil
tersedu-sedu. Matanya merah memancarkan kesedihan yang amat sangat.
“Tidak! Kau salah. Aku sama sekali tidak membencinya. Aku
menyukainya. Aku sangat berterimakasih padanya karena sudah menjagamu selama
aku tidak ada,” jelas Greyson sabar.
“Cukuplah! Tidak usah berbohong padaku. Tidak mungkin kau
tidak membencinya,” desis Alice.
Greyson menatap gadis itu dengan pandangan sedih. Ia tahu
tak ada gunanya membantah ucapan Alice saat ini. Emosinya sedang sangat tidak
stabil. Tetapi dengan setia ia menunggu gadis itu sampai ia puas ‘bertemu’
dengan Zack. Greyson terus menerus membelai rambut panjang gadis itu, ikut
merasakan apa yang dirasakannya.
“Ayo kita pulang, Grey,” kata Alice akhirnya, “Zack, maafkan
aku. Aku tidak bisa menemanimu terus menerus. Aku harus pulang. Besok aku akan
ke sini lagi,”
Alice akhirnya pulang dengan ditemani Greyson. Setelah ia
sudah mengantar gadis itu sampai di rumahnya, Greyson pun kembali ke penginapannya.
Ia melepaskan baju hitamnya dan menggantinya dengan baju lain saat ia sudah
berdiri di kamarnya.
Ia pun duduk di atas ranjangnya dan merasakan telepon
genggamnya bordering. Ada pesan masuk. Ia pun membuka dan membacanya. Setelah
ia membacanya, ia memutar bola mata dan membalas pesan itu.
Sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin
mengajak Alice pergi, namun gadis itu sedang diliputi kesedihan. Akhirnya ia
pun memutuskan untuk berjalan ke sungai tempat Alice dan Zack biasa bertemu.
xxx
Greyson melepaskan alas kakinya dan mulai duduk di pinggiran
sungai. Ia menatap air yang sudah mulai mencair dengan pandangan menerawang. Ia
merasa ketenangan mulai memasuki dirinya. Angin akhir musim dingin bertiup
lembut membuat tubuhnya cukup menggigil. Laki-laki itu merapatkan mantelnya. Ia
mulai mengeluarkan foto yang begitu berharga miliknya dari dalam saku mantel.
Pandangannya tertuju pada gadis di foto itu. Gadis yang
begitu ia cintai, yang sedang tersenyum lebar. Gadis yang bahagia. “Maafkan
aku, Alice. Aku sudah merebut kebahagiaanmu,” ucap Greyson lirih. Ia merasa
telah merampas kebahagiaan dalam diri Alice dengan menjadi penyanyi terkenal.
Rentetan kejadian ini seluruhnya berawal dari ketika Greyson meninggalkan
Wichita Falls untuk meraih mimpinya.
“Ternyata kau masih menyimpan foto itu dengan baik,”
Greyson menoleh ke sumber suara, dan mendapati Alice yang
sudah berganti pakaian sedang memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Mata
gadis itu masih sembab, namun tersenyum. Gadis itu pun duduk di sebelah Greyson
dan menyandarkan kepalanya di bahu Greyson.
“Tentu saja. Aku tidak akan membuangnya,” sahut Greyson.
“Milikku sudah rusak. Maafkan aku, tetapi rusaknya di bagian
wajahmu,” sesal Alice seraya merogoh saku mantelnya untuk mengambil foto
miliknya yang sama persis dengan milik Greyson.
“Tidak apa-apa,” timpal Greyson saat ia melirik ke arah foto
di tangan Alice. Ia tersenyum geli melihat wajahnya yang sudah tidak berbentuk
di dalam foto.
“Kau tahu, Grey. Sungguh, aku tidak menyalahkanmu saat ini,”
kata Alice, “Tetapi hidupku berubah sejak kau pergi empat tahun yang lalu. Kau
tidak salah. Menjadi penyanyi terkenal adalah impianmu sejak lama, dan dari
dulu aku sudah tahu kau akan terkenal suatu saat nanti. Apalagi sejak aku
melihat permainan pianomu di pesta ulang tahun Bella,”
“Ya! Aku masih mengingatnya! Aku ingat, saat itu kau tertawa
dan memamerkan gigi ompongmu,” kenang Greyson.
“Jangan bahas gigiku!” protes Alice, “Hari itulah, hari di
mana aku mulai menyukai seorang pria. Seorang pria yang duduk di belakang piano
dan memainkan lagu-lagu indah. Seorang pria berumur tujuh tahun yang setiap
kali bermain piano selalu memejamkan matanya,”
“Kau sangat mengenalku, Alice. Saat itu juga aku mulai
menyukai seorang perempuan bermata biru yang menggunakan dress warna kuning
yang kependekan, dengan rambut coklat yang terurai indah,” timpal Greyson
sembari tersenyum.
“Benarkah?” tanya Alice kagum yang disambut dengan anggukan
kepala oleh Greyson, “Yah, akhirnya kita dekat, semakin dekat hingga sama-sama
tidak menyadari perasaan kita sudah tumbuh menjadi sangat besar. Aku tidak
peduli dengan perasaanku, aku hanya peduli dengan keberadaanmu di sebelahku,
menyediakan bahumu saat aku menangis, membelaku jika ada yang jahat padaku.
Hanya itulah yang aku pikirkan.
“Hingga saat itu. Saat kau bilang kau akan pergi jauh
dariku, aku mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Hatiku seperti kosong.
Ada sesuatu yang hilang. Saat itulah aku tahu, aku sudah jatuh cinta padamu.
“Hari-hari aku lewatkan dengan kesedihan, hingga setelah
satu tahun menunggumu yang tidak kunjung kembali, aku pun minta orang tuaku
untuk pindah rumah. Dan ayahku memilih tempat ini. Tempat aku bertemu Zack
untuk pertama kalinya,” Alice menghentikan sejenak kata-katanya karena air mata
mulai turun dari matanya, “Saat itulah, aku mulai merasa tidak sendiri. Aku
punya teman. Teman yang selalu ada ketika aku sedih. Teman yang sempat
menggantikan posisimu.
“Zack selalu menatap mataku dengan mata hijaunya yang teduh.
Tangannya yang kokoh selalu ada untuk merangkulku ketika aku mulai merasa
kesepian. Aku sudah mulai merasa akan melupakanmu, sampai ketika kau datang ke
desa ini, aku tahu, aku tidak akan pernah melupakanmu. Dan tidak akan pernah
mencintai Zack sebagai laki-laki,”
Air mata Alice mengalir deras. Greyson pun dengan segerap
merangkul tubuh Alice yang mulai bergetar. Ia mengecup puncak kepala Alice dan
merasakan kehangatan yang dulu sempat ia rasakan. “Maafkan aku, Alice. Maafkan
aku. Ini semua salahku,” sesal Greyson dengan bersungguh-sungguh.
“Tak apa, Grey. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Ini bukan
salahmu. Segala yang terjadi beberapa bulan belakangan ini bukanlah salahmu.
Ini semua karena masalah waktu,” kata Alice masih dengan tersedu-sedu.
“Ya sudah, ini mulai dingin. Bagaimana jika kita pulang?”
tanya Greyson pada Alice.
“Baiklah. Kau mau mampir ke rumahku? Ibuku membuat pie
nanas,” kata Alice sambil menghapus air matanya. Ketika ia mulai berdiri, ia
berkata pada Greyson dengan pandangan memohon, “Kau mau, kan berjanji padaku, untuk
tidak akan meninggalkan aku?”
Greyson berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan, “Aku tak
bisa,”
To be continued…
kak... kok kece sih? kan kasian greysonnya :'(
ReplyDeleteWaaah ternyata kau membacanya :D wakakakak
Delete