Sunday, 6 January 2013

FanFiction – “Running Away” 19


R.I.P
Zachary Curtin
18 Maret 1996 – 19 Februari 2012

Berkali-kali Alice membaca tulisan di batu nisan itu. Ia masih tidak percaya laki-laki tegap bermata hijau yang selalu menamaninya saat ia sendiri, telah berbaring dalam damai di bawahnya. Ia masih belum menerima semua itu. Ia masih ingin bersandar di bahu laki-laki itu, memegang tangannya, dan menatap mata hijaunya.
Selama pemakaman, Alice tidak sedikitpun mengeluarkan air mata, membuat orang-orang di sekitarnya, yang tahu hubungan mereka begitu dekat, merasa Alice tidak memiliki perasaan dan memiliki hati sekeras batu. Tetapi tidak. Alice begitu terpukul dengan kejadian itu. Zack, Zachary Curtin, adalah orang yang sangat berharga yang pernah ada di kehidupannya.
Greyson terus menerus menggenggam tangan Alice untuk menguatkan gadis itu. Ia tak sanggup berkata apa pun, karena biar bagaimana pun juga, Zack sudah cukup berjasa dalam hubungannya dengan Alice. Diam-diam ia juga merasa sedih dengan kepergian Zack.
“Alice, bagaimana jika kita pulang? Udara di sini sangatlah dingin,” ucap Greyson lembut.
“Tidak. Kau saja yang pulang. Aku masih ingin bersama Zack,” sahut Alice dengan suara bergetar. Ia menatap ke arah batu nisan dengan pandangan kosong.
Greyson pun menyerah. Akhirnya ia berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan ke tempat penginapan di desa tempat tinggal Alice. Ia kembali menatap ke belakang dan melihat punggung Alice mulai bergetar. Gadis itu mulai menangis.

xxx

“Zack, tolong kau jangan pergi lama-lama. Aku membutuhkanmu,” ucap Alice sambil membelai-belai batu nisan di depannya, seakan-akan sedang berbicara dengan Zack. Pandangannya kabur, satu butir air mata mulai turun membasahi pipinya, permulaan untuk beberapa butir air mata lain yang mulai turun dengan deras. “Mengapa kau tidak mengajakku?” tanya Alice lagi dengan suara lebih lirih.
“Alice…” panggil seseorang dari balik punggung Alice.
“Grey? Bukankah kau sudah pulang?” tanya Alice saat menyadari orang itu adalah Greyson.
“Tidak. Aku tidak akan pulang tanpamu,” ucap Greyson dengan lembut, “Sampai kapan kau mau menyiksa dirimu sendiri? Biarkan ia tenang, Alice. Kau tahu? Ia akan sangat sedih jika kau terus menerus membuang-buang air matamu,”
“Membuang? Aku menangisi orang yang aku sayangi! Kau tidak mengerti, Grey! Kau membencinya. Kau tidak tahu perasaanku!” seru Alice sambil tersedu-sedu. Matanya merah memancarkan kesedihan yang amat sangat.
“Tidak! Kau salah. Aku sama sekali tidak membencinya. Aku menyukainya. Aku sangat berterimakasih padanya karena sudah menjagamu selama aku tidak ada,” jelas Greyson sabar.
“Cukuplah! Tidak usah berbohong padaku. Tidak mungkin kau tidak membencinya,” desis Alice.
Greyson menatap gadis itu dengan pandangan sedih. Ia tahu tak ada gunanya membantah ucapan Alice saat ini. Emosinya sedang sangat tidak stabil. Tetapi dengan setia ia menunggu gadis itu sampai ia puas ‘bertemu’ dengan Zack. Greyson terus menerus membelai rambut panjang gadis itu, ikut merasakan apa yang dirasakannya.
“Ayo kita pulang, Grey,” kata Alice akhirnya, “Zack, maafkan aku. Aku tidak bisa menemanimu terus menerus. Aku harus pulang. Besok aku akan ke sini lagi,”
Alice akhirnya pulang dengan ditemani Greyson. Setelah ia sudah mengantar gadis itu sampai di rumahnya, Greyson pun kembali ke penginapannya. Ia melepaskan baju hitamnya dan menggantinya dengan baju lain saat ia sudah berdiri di kamarnya.
Ia pun duduk di atas ranjangnya dan merasakan telepon genggamnya bordering. Ada pesan masuk. Ia pun membuka dan membacanya. Setelah ia membacanya, ia memutar bola mata dan membalas pesan itu.
Sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin mengajak Alice pergi, namun gadis itu sedang diliputi kesedihan. Akhirnya ia pun memutuskan untuk berjalan ke sungai tempat Alice dan Zack biasa bertemu.

xxx

Greyson melepaskan alas kakinya dan mulai duduk di pinggiran sungai. Ia menatap air yang sudah mulai mencair dengan pandangan menerawang. Ia merasa ketenangan mulai memasuki dirinya. Angin akhir musim dingin bertiup lembut membuat tubuhnya cukup menggigil. Laki-laki itu merapatkan mantelnya. Ia mulai mengeluarkan foto yang begitu berharga miliknya dari dalam saku mantel.
Pandangannya tertuju pada gadis di foto itu. Gadis yang begitu ia cintai, yang sedang tersenyum lebar. Gadis yang bahagia. “Maafkan aku, Alice. Aku sudah merebut kebahagiaanmu,” ucap Greyson lirih. Ia merasa telah merampas kebahagiaan dalam diri Alice dengan menjadi penyanyi terkenal. Rentetan kejadian ini seluruhnya berawal dari ketika Greyson meninggalkan Wichita Falls untuk meraih mimpinya.
“Ternyata kau masih menyimpan foto itu dengan baik,”
Greyson menoleh ke sumber suara, dan mendapati Alice yang sudah berganti pakaian sedang memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Mata gadis itu masih sembab, namun tersenyum. Gadis itu pun duduk di sebelah Greyson dan menyandarkan kepalanya di bahu Greyson.
“Tentu saja. Aku tidak akan membuangnya,” sahut Greyson.
“Milikku sudah rusak. Maafkan aku, tetapi rusaknya di bagian wajahmu,” sesal Alice seraya merogoh saku mantelnya untuk mengambil foto miliknya yang sama persis dengan milik Greyson.
“Tidak apa-apa,” timpal Greyson saat ia melirik ke arah foto di tangan Alice. Ia tersenyum geli melihat wajahnya yang sudah tidak berbentuk di dalam foto.
“Kau tahu, Grey. Sungguh, aku tidak menyalahkanmu saat ini,” kata Alice, “Tetapi hidupku berubah sejak kau pergi empat tahun yang lalu. Kau tidak salah. Menjadi penyanyi terkenal adalah impianmu sejak lama, dan dari dulu aku sudah tahu kau akan terkenal suatu saat nanti. Apalagi sejak aku melihat permainan pianomu di pesta ulang tahun Bella,”
“Ya! Aku masih mengingatnya! Aku ingat, saat itu kau tertawa dan memamerkan gigi ompongmu,” kenang Greyson.
“Jangan bahas gigiku!” protes Alice, “Hari itulah, hari di mana aku mulai menyukai seorang pria. Seorang pria yang duduk di belakang piano dan memainkan lagu-lagu indah. Seorang pria berumur tujuh tahun yang setiap kali bermain piano selalu memejamkan matanya,”
“Kau sangat mengenalku, Alice. Saat itu juga aku mulai menyukai seorang perempuan bermata biru yang menggunakan dress warna kuning yang kependekan, dengan rambut coklat yang terurai indah,” timpal Greyson sembari tersenyum.
“Benarkah?” tanya Alice kagum yang disambut dengan anggukan kepala oleh Greyson, “Yah, akhirnya kita dekat, semakin dekat hingga sama-sama tidak menyadari perasaan kita sudah tumbuh menjadi sangat besar. Aku tidak peduli dengan perasaanku, aku hanya peduli dengan keberadaanmu di sebelahku, menyediakan bahumu saat aku menangis, membelaku jika ada yang jahat padaku. Hanya itulah yang aku pikirkan.
“Hingga saat itu. Saat kau bilang kau akan pergi jauh dariku, aku mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Hatiku seperti kosong. Ada sesuatu yang hilang. Saat itulah aku tahu, aku sudah jatuh cinta padamu.
“Hari-hari aku lewatkan dengan kesedihan, hingga setelah satu tahun menunggumu yang tidak kunjung kembali, aku pun minta orang tuaku untuk pindah rumah. Dan ayahku memilih tempat ini. Tempat aku bertemu Zack untuk pertama kalinya,” Alice menghentikan sejenak kata-katanya karena air mata mulai turun dari matanya, “Saat itulah, aku mulai merasa tidak sendiri. Aku punya teman. Teman yang selalu ada ketika aku sedih. Teman yang sempat menggantikan posisimu.
“Zack selalu menatap mataku dengan mata hijaunya yang teduh. Tangannya yang kokoh selalu ada untuk merangkulku ketika aku mulai merasa kesepian. Aku sudah mulai merasa akan melupakanmu, sampai ketika kau datang ke desa ini, aku tahu, aku tidak akan pernah melupakanmu. Dan tidak akan pernah mencintai Zack sebagai laki-laki,”
Air mata Alice mengalir deras. Greyson pun dengan segerap merangkul tubuh Alice yang mulai bergetar. Ia mengecup puncak kepala Alice dan merasakan kehangatan yang dulu sempat ia rasakan. “Maafkan aku, Alice. Maafkan aku. Ini semua salahku,” sesal Greyson dengan bersungguh-sungguh.
“Tak apa, Grey. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Ini bukan salahmu. Segala yang terjadi beberapa bulan belakangan ini bukanlah salahmu. Ini semua karena masalah waktu,” kata Alice masih dengan tersedu-sedu.
“Ya sudah, ini mulai dingin. Bagaimana jika kita pulang?” tanya Greyson pada Alice.
“Baiklah. Kau mau mampir ke rumahku? Ibuku membuat pie nanas,” kata Alice sambil menghapus air matanya. Ketika ia mulai berdiri, ia berkata pada Greyson dengan pandangan memohon, “Kau mau, kan berjanji padaku, untuk tidak akan meninggalkan aku?”
Greyson berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan, “Aku tak bisa,”

To be continued…

2 comments: