“Sudah dua hari, mengapa Greyson dan Bella belum pulang?”
tanya Alice kepada dirinya sendiri ketika sedang sendirian di dalam kamar. Baru
saja ia berpikiran demikian, pagar rumahnya diketuk oleh seseorang. Ketika ia melongokkan
kepalanya melalui jendela, yang pertama kali ia lihat adalah kepala Greyson.
“Alice, ada orang di luar!” seru Zack dari arah ruang tamu.
“Ya!” sahut Alice sambil berjalan ke luar.
“Hey Alice,” sapa Greyson kaku. Alice membukakan pintu pagar
untuknya dan ia melihat Greyson tengah menggandeng tangan Bella dengan mesra.
Tiba-tiba saja muncul sebuah perasaan aneh dalam hatinya. Kerongkongannya
tercekat, ia hampir-hampir tidak dapat bernafas.
“Hai,” sahut Alice serak, “Tunggu, biar kuambilkan kunci rumahmu,”
Alice pun berlari ke dalam rumah. Tanpa sadar air mata jatuh dari matanya saat
ia melintas di depan Zack yang sedang berada di ruang tamu. Zack bingung
melihat Alice meneteskan air matanya.
“Ada yang tidak beres,” gumam Zack pada dirinya sendiri. Sedetik
kemudian ia sudah melihat keluar untuk mengetahui siapa yang ada di sana dan ia
mendapati Greyson yang sedang menggandeng tangan Bella. “Keterlaluan,” desis
Zack geram.
Tak lama kemudian, Alice sudah keluar dari kamarnya sambil
menenteng sebuah kunci rumah dan air mata di pipinya sudah ia hapus meskipun
masih nampak.
“Ini… kunci rumahmu,” ujar Alice pada Greyson sambil
mengulurkan tangan untuk memberikan kuncinya. Lagi-lagi ia melihat pemandangan
yang tidak enak. Bella tengah bersandar di bahu Greyson dan tangan kanan
Greyson bermain-main di rambut Bella.
“Thank you,” ucap Greyson sambil mengambil kunci dengan
tangan kirinya, “Very much,”
“You’re welcome,” sahut Alice dengan suara yang
hampir-hampir tidak terdengar. Kepalanya tertunduk. Tak sanggup menatap Greyson
yang sedang bersama kekasih barunya. Ia hampir saja menangis, namun tiba-tiba
ada sebuah tangan besar yang merangkulnya dari samping kirinya. Alice menoleh
dan mendapati Zack sedang tersenyum lembut padanya.
“Alice, ayo masuk!” bisik Zack sambil menutup pagar dengan
tangannya yang bebas. Alice pun mengangguk dan menunggu Zack selesai menutup
pagarnya. Zack mendongak dan menatap Greyson tajam. Didapatinya laki-laki itu
terkejut. Agaknya ia terkejut akan keberadaannya di sana, di rumah Alice. Kemudian
Zack dan Alice berbalik arah dan masuk kembali ke dalam rumah.
xxx
Zack? Mengapa ada Zack di rumah Alice? Sejak kapan ia ada di
situ? Pertanyaan itu muncul dalam benak Greyson. Ia sibuk memikirkan itu
sehingga ia tidak sadar ia masih berdiri di depan pagar rumah Alice. Rahangnya
terkatup rapat.
“Hun?” panggil Bella sambil melambaikan tangannya di hadapan
Greyson.
“Ah. Ya?” sahut Greyson tergagap ketika ia kembali dari
lamunannya.
“Kau melamun,” dengus Bella sambil mengerucutkan bibirnya.
“Maaf. Ayo kuantar kau ke rumah,” kata Greyson sambil
menggandeng tangan kekasihnya dan berjalan menjauhi rumah Alice. “Bagaimana
mungkin Zack ada di rumah gadis itu?” tanya Greyson lebih kepada dirinya
sendiri dengan lirih.
“Huh?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa,” sahut Greyson sambil
menyunggingkan seulas senyum yang dibuat―sebisa mungkin―terlihat manis.
Bella hanya diam. Ia tahu Greyson masih sangat mencintai
Alice dan terkejut akan keberadaan laki-laki tadi di rumah Alice. Tetapi ia
tidak peduli. Ia tidak peduli akan perasaan Greyson. Ia hanya memedulikan
perasaannya saat ini saja. Ia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan
Greyson walaupun―ia tahu―tak akan lama.
xxx
“Menangislah, Alice,” ujar Zack lembut pada Alice yang
sedang menangis di bahunya yang kokoh. “Menangislah jika itu membuatmu merasa
lebih baik,”
“Aku benci laki-laki itu!” raung Alice sambil memukul-mukul
pundak Zack. Zack hanya terdiam. Ia tahu. Sangat tahu gadis ini masih sangat
mencintai Greyson. Tetapi ia tetap mempertahankan Alice bukan karena ingin
memaksa Alice untuk mencintainya, tetapi karena tujuan lain.
Alice terus saja terisak. Ia tahu benar mengapa hatinya
sesakit ini. Ia tidak menyangka Greyson bisa secepat itu mencintai Bella.
Perlahan Alice kembali menegakkan tubuhnya. Ia masih sesenggukkan, tetapi ia
tersenyum kepada Zack.
“Thanks very much, Zack. I love you,” bisik Alice sambil
memeluk tubuh Zack.
Darah Zack seketika itu juga berdesir cepat. Tak pernah
Alice mengucapkan kata sakral itu sekalipun padanya. Dan baru beberapa detik
yang lalu ia mendengar kata itu meluncur dari bibir Alice. Ia serasa melayang
di udara. Namun detik berikutnya, ia sadar yang Alice maksud adalah cinta
sebagai sahabat. Bukan sebagai kekasih.
xxx
Lagi-lagi Greyson berdiam diri di pinggiran kasurnya. Ia tak
tahu harus berbuat apa. Bagaimana mungkin laki-laki itu ada di rumah Alice?
Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa bersamanya? Ia masih bertanya-tanya,
apakah menjadikan Bella kekasihnya adalah pilihan yang tepat? Ia tak tahu.
Tangan Greyson terangkat ke dadanya. Ia merasakan sakit yang
amat sangat. Ia mulai mengerang. Sekarang rasa sakit itu merambat ke kepalanya.
“Mom…” erang Greyson. Ia lupa ibunya tidak ada di sini,
“Sakit…”
xxx
“Suara apa itu?” tanya Alice tiba-tiba saat ia sedang duduk
di kamarnya. Ia mendengar suara erangan dari rumah sebelah, tepat di sebelah
kamarnya. “Greyson?”
Alice pun segera berlari ke luar kamar dan menghampiri Zack
dengan wajah panik. Zack heran melihat Alice yang berjalan tergesa-gesa ke
arahnya. “Ada apa, Alice?” tanya Zack.
“Cepat, ikut aku. Sesuatu terjadi pada Greyson!” jelas Alice
dengan cepat. Wajahnya terlihat sangat gelisah. Melihat itu, Zack pun segera
berdiri dan ke luar rumah bersama Alice. Tanpa banyak bicara, Alice segera
berlari menuju rumah itu dan tidak lagi mengetuk pintu rumah, ia pun masuk ke
kamar Greyson. “Grey!”
Erangan Greyson semakin keras. Ia tampak menjambak rambutnya
sambil sesekali berteriak memanggil ibunya. “Mom…”
“Grey! What happened?” tanya Alice panik. Ia
mengguncang-guncang tubuh Greyson dengan kasar.
Namun yang ditanya tidak menjawab. Ia justru mendorong tubuh
Alice dengan keras sehingga membuat gadis itu terjatuh. Zack tidak tinggal
diam, ia menarik kerah baju Greyson dan menampar laki-laki itu.
“Berani-beraninya kau!” bentak Zack dengan bengis. Alice
berusaha menarik Zack menjauh dari Greyson karena ia tahu Greyson sedang tidak
baik saat ini.
Greyson mendelik tajam tepat ke mata Zack. Ia mendorong juga
laki-laki itu hingga terjerembab. “Pergi kalian berdua!” seru Greyson. Ia
sangat tidak ingin diganggu saat ini.
“Kau ini!” seru Zack sambil berusaha memukul Greyson. Tangan
Alice menahannya sehingga Zack tidak jadi memukul laki-laki itu.
“Cukup Zack! Jangan bertindak bodoh!” tegur Alice. Lalu ia
melihat ke arah Greyson dan bertanya lembut, “Apa yang terjadi padamu Grey?”
“I said, get out from my house!” jerit Greyson histeris
sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangan.
Alice terkejut akan tanggapan Greyson. Ia mematung sambil
memandang Greyson. Air matanya jatuh perlahan. Ia mulai menangis sesenggukan.
Hatinya sakit melihat kondisi sahabat masa kecilnya. Ia takut.
Sedikit demi sedikit emosi Greyson mereda melihat air mata
Alice yang membasahi pipinya. Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak di dalam
hatinya. Ia pun berdiri dan menyentuh pipi Alice. “Alice…” panggil Greyson
lirih.
Tangan Greyson pun ditepis oleh Alice. Ia segera berlari
keluar dari kamar Greyson menuju rumahnya sendiri. Zack yang melihat Alice
berlari pun hendak menyusul gadis itu. Tetapi sebelumnya, Zack menyempatkan
diri untuk meninju wajah Greyson.
“Kau akan berhadapan denganku,” desis Zack.
xxx
Sudah dua hari sejak Alice melihat perubahan Greyson yang membuatnya
takut. Ia tak ingin berjumpa dengan Greyson. Paling tidak untuk saat ini. Hatinya
belum siap.
“Alice? Kau tidak memakan sarapanmu?” tanya Zack sambil
mengambil selai untuk dioleskan di atas roti di tangannya.
Alice pun tersadar, lalu ia tersenyum dan mengikuti gerak
Zack mengambil selai dan memakan rotinya dengan ogah-ogahan. Ia masih
memikirkan kondisi Greyson. Hatinya sesungguhnya
ingin menjumpai Greyson, tetapi otaknya mengatakan hal lain. Entah mengapa hati
dan otaknya sulit bekerja sama.
“Sudah lah! Aku tidak mau makan lagi,” ujar Alice sambil
pergi dari tempat makan menuju ruang tamu. Zack hanya menatap Alice dan roti,
yang baru satu kali digigit oleh gadis itu, secara bergantian dengan bingung.
Ia pun menyudahi kegiatan makannya dan menyusul Alice.
“Alice, sepertinya kau butuh penyegaran,” kata Zack sambil
berdiri di belakang sofa tempat Alice duduk.
“Kurasa begitu,” jawab Alice sambil memijit pelipisnya.
Zack tersenyum. “Kau tahu tempat indah dekat sini?” tanya
Zack.
Senyum Alice pun mengembang cerah, ia pun menjawab dengan
sedikit lebih bersemangat, “Tentu saja! Di dekat sini ada air terjun Wichita
yang sangat indah,”
“Kau mau ke sana?” tawar Zack yang segera disambut anggukan
antusias dari Alice, “Kalau begitu tunjukkan tempatnya. Um, by the way, kita
mau naik apa ke sana?”
“Bagaimana jika berjalan kaki? Lumayan dekat, kok!” tanya
Alice pada Zack.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju
Wichita Falls. Alice sangat menyukai Wichita Falls karena di tempat itu
terdapat banyak sekali air. Alice sangat menyukai segala sesuatu yang
berhubungan dengan air.
Perjalanan diwarnai dengan keheningan. Keheningan yang
sangat Alice kenal. Keheningan yang hanya akan ditimbulkan jika ia sedang
bersama Zack. Keheningan yang menjadi ciri khas persahabatan mereka.
Zack melingkarkan tangannya di pinggang Alice selama dalam
perjalanan. Kira-kira setelah mereka berjalan lima belas menit, sampailah
mereka di tempat tujuan mereka. Mata biru Alice yang indah terlihat begitu
berbinar-binar melihat percikan air terjun itu. Ia tidak memedulikan udara
akhir musim dingin yang bertiup cukup keras.
“Ayo Zack!” seru Alice sambil berlari menuju air terjun.
Langkahnya berhenti. Ia melihat di seberang tempatnya berdiri ada Greyson yang
sedang tertawa bersama Bella. Alice mengatupkan kedua rahangnya keras-keras
untuk menahan air mata yang sudah di pelupuk matanya. Semakin kuat ia
menahannya, tangis Alice semakin deras. Seharusnya ia yang ada di sana,
seharusnya ia yang sedang bermain air bersama laki-laki itu, seharusnya ia yang
sedang berbahagia bersama Greyson. Bukan perempuan itu.
“Mengapa berhen―” kata-kata Zack pun berhenti karena melihat
pemandangan itu. “Laki-laki itu,” desis Zack geram. Tangannya mengepal di kedua
sisinya. Ia pun berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju Greyson.
Greyson pun mendongak saat tiba-tiba sinar matahari di
hadapannya terhalang sebuah tubuh. Ia menatap orang yang berdiri di hadapannya.
Zack. Laki-laki itu menatapnya dengan bengis. Tangannya mengepal erat. Greyson
pun berdiri di hadapan orang itu, dan beberapa detik setelahnya, pukulan keras
pun mendarat ke wajahnya.
To be continued…
No comments:
Post a Comment