Saturday, 5 January 2013

FanFiction – “Running Away” 17

“Sudah dua hari, mengapa Greyson dan Bella belum pulang?” tanya Alice kepada dirinya sendiri ketika sedang sendirian di dalam kamar. Baru saja ia berpikiran demikian, pagar rumahnya diketuk oleh seseorang. Ketika ia melongokkan kepalanya melalui jendela, yang pertama kali ia lihat adalah kepala Greyson.
“Alice, ada orang di luar!” seru Zack dari arah ruang tamu.
“Ya!” sahut Alice sambil berjalan ke luar.
“Hey Alice,” sapa Greyson kaku. Alice membukakan pintu pagar untuknya dan ia melihat Greyson tengah menggandeng tangan Bella dengan mesra. Tiba-tiba saja muncul sebuah perasaan aneh dalam hatinya. Kerongkongannya tercekat, ia hampir-hampir tidak dapat bernafas.
“Hai,” sahut Alice serak, “Tunggu, biar kuambilkan kunci rumahmu,” Alice pun berlari ke dalam rumah. Tanpa sadar air mata jatuh dari matanya saat ia melintas di depan Zack yang sedang berada di ruang tamu. Zack bingung melihat Alice meneteskan air matanya.
“Ada yang tidak beres,” gumam Zack pada dirinya sendiri. Sedetik kemudian ia sudah melihat keluar untuk mengetahui siapa yang ada di sana dan ia mendapati Greyson yang sedang menggandeng tangan Bella. “Keterlaluan,” desis Zack geram.
Tak lama kemudian, Alice sudah keluar dari kamarnya sambil menenteng sebuah kunci rumah dan air mata di pipinya sudah ia hapus meskipun masih nampak.
“Ini… kunci rumahmu,” ujar Alice pada Greyson sambil mengulurkan tangan untuk memberikan kuncinya. Lagi-lagi ia melihat pemandangan yang tidak enak. Bella tengah bersandar di bahu Greyson dan tangan kanan Greyson bermain-main di rambut Bella.
“Thank you,” ucap Greyson sambil mengambil kunci dengan tangan kirinya, “Very much,”
“You’re welcome,” sahut Alice dengan suara yang hampir-hampir tidak terdengar. Kepalanya tertunduk. Tak sanggup menatap Greyson yang sedang bersama kekasih barunya. Ia hampir saja menangis, namun tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang merangkulnya dari samping kirinya. Alice menoleh dan mendapati Zack sedang tersenyum lembut padanya.
“Alice, ayo masuk!” bisik Zack sambil menutup pagar dengan tangannya yang bebas. Alice pun mengangguk dan menunggu Zack selesai menutup pagarnya. Zack mendongak dan menatap Greyson tajam. Didapatinya laki-laki itu terkejut. Agaknya ia terkejut akan keberadaannya di sana, di rumah Alice. Kemudian Zack dan Alice berbalik arah dan masuk kembali ke dalam rumah.

xxx

Zack? Mengapa ada Zack di rumah Alice? Sejak kapan ia ada di situ? Pertanyaan itu muncul dalam benak Greyson. Ia sibuk memikirkan itu sehingga ia tidak sadar ia masih berdiri di depan pagar rumah Alice. Rahangnya terkatup rapat.
“Hun?” panggil Bella sambil melambaikan tangannya di hadapan Greyson.
“Ah. Ya?” sahut Greyson tergagap ketika ia kembali dari lamunannya.
“Kau melamun,” dengus Bella sambil mengerucutkan bibirnya.
“Maaf. Ayo kuantar kau ke rumah,” kata Greyson sambil menggandeng tangan kekasihnya dan berjalan menjauhi rumah Alice. “Bagaimana mungkin Zack ada di rumah gadis itu?” tanya Greyson lebih kepada dirinya sendiri dengan lirih.
“Huh?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa,” sahut Greyson sambil menyunggingkan seulas senyum yang dibuat―sebisa mungkin―terlihat manis.
Bella hanya diam. Ia tahu Greyson masih sangat mencintai Alice dan terkejut akan keberadaan laki-laki tadi di rumah Alice. Tetapi ia tidak peduli. Ia tidak peduli akan perasaan Greyson. Ia hanya memedulikan perasaannya saat ini saja. Ia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan Greyson walaupun―ia tahu―tak akan lama.

xxx

“Menangislah, Alice,” ujar Zack lembut pada Alice yang sedang menangis di bahunya yang kokoh. “Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik,”
“Aku benci laki-laki itu!” raung Alice sambil memukul-mukul pundak Zack. Zack hanya terdiam. Ia tahu. Sangat tahu gadis ini masih sangat mencintai Greyson. Tetapi ia tetap mempertahankan Alice bukan karena ingin memaksa Alice untuk mencintainya, tetapi karena tujuan lain.
Alice terus saja terisak. Ia tahu benar mengapa hatinya sesakit ini. Ia tidak menyangka Greyson bisa secepat itu mencintai Bella. Perlahan Alice kembali menegakkan tubuhnya. Ia masih sesenggukkan, tetapi ia tersenyum kepada Zack.
“Thanks very much, Zack. I love you,” bisik Alice sambil memeluk tubuh Zack.
Darah Zack seketika itu juga berdesir cepat. Tak pernah Alice mengucapkan kata sakral itu sekalipun padanya. Dan baru beberapa detik yang lalu ia mendengar kata itu meluncur dari bibir Alice. Ia serasa melayang di udara. Namun detik berikutnya, ia sadar yang Alice maksud adalah cinta sebagai sahabat. Bukan sebagai kekasih.

xxx

Lagi-lagi Greyson berdiam diri di pinggiran kasurnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana mungkin laki-laki itu ada di rumah Alice? Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa bersamanya? Ia masih bertanya-tanya, apakah menjadikan Bella kekasihnya adalah pilihan yang tepat? Ia tak tahu.
Tangan Greyson terangkat ke dadanya. Ia merasakan sakit yang amat sangat. Ia mulai mengerang. Sekarang rasa sakit itu merambat ke kepalanya.
“Mom…” erang Greyson. Ia lupa ibunya tidak ada di sini, “Sakit…”

xxx

“Suara apa itu?” tanya Alice tiba-tiba saat ia sedang duduk di kamarnya. Ia mendengar suara erangan dari rumah sebelah, tepat di sebelah kamarnya. “Greyson?”
Alice pun segera berlari ke luar kamar dan menghampiri Zack dengan wajah panik. Zack heran melihat Alice yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. “Ada apa, Alice?” tanya Zack.
“Cepat, ikut aku. Sesuatu terjadi pada Greyson!” jelas Alice dengan cepat. Wajahnya terlihat sangat gelisah. Melihat itu, Zack pun segera berdiri dan ke luar rumah bersama Alice. Tanpa banyak bicara, Alice segera berlari menuju rumah itu dan tidak lagi mengetuk pintu rumah, ia pun masuk ke kamar Greyson. “Grey!”
Erangan Greyson semakin keras. Ia tampak menjambak rambutnya sambil sesekali berteriak memanggil ibunya. “Mom…”
“Grey! What happened?” tanya Alice panik. Ia mengguncang-guncang tubuh Greyson dengan kasar.
Namun yang ditanya tidak menjawab. Ia justru mendorong tubuh Alice dengan keras sehingga membuat gadis itu terjatuh. Zack tidak tinggal diam, ia menarik kerah baju Greyson dan menampar laki-laki itu.
“Berani-beraninya kau!” bentak Zack dengan bengis. Alice berusaha menarik Zack menjauh dari Greyson karena ia tahu Greyson sedang tidak baik saat ini.
Greyson mendelik tajam tepat ke mata Zack. Ia mendorong juga laki-laki itu hingga terjerembab. “Pergi kalian berdua!” seru Greyson. Ia sangat tidak ingin diganggu saat ini.
“Kau ini!” seru Zack sambil berusaha memukul Greyson. Tangan Alice menahannya sehingga Zack tidak jadi memukul laki-laki itu.
“Cukup Zack! Jangan bertindak bodoh!” tegur Alice. Lalu ia melihat ke arah Greyson dan bertanya lembut, “Apa yang terjadi padamu Grey?”
“I said, get out from my house!” jerit Greyson histeris sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangan.
Alice terkejut akan tanggapan Greyson. Ia mematung sambil memandang Greyson. Air matanya jatuh perlahan. Ia mulai menangis sesenggukan. Hatinya sakit melihat kondisi sahabat masa kecilnya. Ia takut.
Sedikit demi sedikit emosi Greyson mereda melihat air mata Alice yang membasahi pipinya. Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya. Ia pun berdiri dan menyentuh pipi Alice. “Alice…” panggil Greyson lirih.
Tangan Greyson pun ditepis oleh Alice. Ia segera berlari keluar dari kamar Greyson menuju rumahnya sendiri. Zack yang melihat Alice berlari pun hendak menyusul gadis itu. Tetapi sebelumnya, Zack menyempatkan diri untuk meninju wajah Greyson.
“Kau akan berhadapan denganku,” desis Zack.

xxx

Sudah dua hari sejak Alice melihat perubahan Greyson yang membuatnya takut. Ia tak ingin berjumpa dengan Greyson. Paling tidak untuk saat ini. Hatinya belum siap.
“Alice? Kau tidak memakan sarapanmu?” tanya Zack sambil mengambil selai untuk dioleskan di atas roti di tangannya.
Alice pun tersadar, lalu ia tersenyum dan mengikuti gerak Zack mengambil selai dan memakan rotinya dengan ogah-ogahan. Ia masih memikirkan kondisi Greyson. Hatinya sesungguhnya ingin menjumpai Greyson, tetapi otaknya mengatakan hal lain. Entah mengapa hati dan otaknya sulit bekerja sama.
“Sudah lah! Aku tidak mau makan lagi,” ujar Alice sambil pergi dari tempat makan menuju ruang tamu. Zack hanya menatap Alice dan roti, yang baru satu kali digigit oleh gadis itu, secara bergantian dengan bingung. Ia pun menyudahi kegiatan makannya dan menyusul Alice.
“Alice, sepertinya kau butuh penyegaran,” kata Zack sambil berdiri di belakang sofa tempat Alice duduk.
“Kurasa begitu,” jawab Alice sambil memijit pelipisnya.
Zack tersenyum. “Kau tahu tempat indah dekat sini?” tanya Zack.
Senyum Alice pun mengembang cerah, ia pun menjawab dengan sedikit lebih bersemangat, “Tentu saja! Di dekat sini ada air terjun Wichita yang sangat indah,”
“Kau mau ke sana?” tawar Zack yang segera disambut anggukan antusias dari Alice, “Kalau begitu tunjukkan tempatnya. Um, by the way, kita mau naik apa ke sana?”
“Bagaimana jika berjalan kaki? Lumayan dekat, kok!” tanya Alice pada Zack.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju Wichita Falls. Alice sangat menyukai Wichita Falls karena di tempat itu terdapat banyak sekali air. Alice sangat menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan air.
Perjalanan diwarnai dengan keheningan. Keheningan yang sangat Alice kenal. Keheningan yang hanya akan ditimbulkan jika ia sedang bersama Zack. Keheningan yang menjadi ciri khas persahabatan mereka.
Zack melingkarkan tangannya di pinggang Alice selama dalam perjalanan. Kira-kira setelah mereka berjalan lima belas menit, sampailah mereka di tempat tujuan mereka. Mata biru Alice yang indah terlihat begitu berbinar-binar melihat percikan air terjun itu. Ia tidak memedulikan udara akhir musim dingin yang bertiup cukup keras.
“Ayo Zack!” seru Alice sambil berlari menuju air terjun. Langkahnya berhenti. Ia melihat di seberang tempatnya berdiri ada Greyson yang sedang tertawa bersama Bella. Alice mengatupkan kedua rahangnya keras-keras untuk menahan air mata yang sudah di pelupuk matanya. Semakin kuat ia menahannya, tangis Alice semakin deras. Seharusnya ia yang ada di sana, seharusnya ia yang sedang bermain air bersama laki-laki itu, seharusnya ia yang sedang berbahagia bersama Greyson. Bukan perempuan itu.
“Mengapa berhen―” kata-kata Zack pun berhenti karena melihat pemandangan itu. “Laki-laki itu,” desis Zack geram. Tangannya mengepal di kedua sisinya. Ia pun berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju Greyson.
Greyson pun mendongak saat tiba-tiba sinar matahari di hadapannya terhalang sebuah tubuh. Ia menatap orang yang berdiri di hadapannya. Zack. Laki-laki itu menatapnya dengan bengis. Tangannya mengepal erat. Greyson pun berdiri di hadapan orang itu, dan beberapa detik setelahnya, pukulan keras pun mendarat ke wajahnya.

To be continued

No comments:

Post a Comment