“Tega-teganya kau menyakiti Alice!” bentak Zack seusai
memukul wajah Greyson.
Greyson tidak membalas pukulan Zack, ia justru diam menatap
arah lain. Entah mengapa, ia merasa pantas mendapatkan pukulan itu. “Memangnya
ada apa dengan gadis itu?”
“Bodoh!” seru Zack sambil menambah satu pukulan lagi di sisi
lain wajah Greyson. “Apa kau tidak tahu Alice masih sangat menyayangimu, huh?
Ia begitu mengkhawatirkan kondisimu dua hari yang lalu. Ia takut terjadi
sesuatu padamu. Sedangkan apa yang kau lakukan?”
Kata-kata Zack sangatlah menyudutkan Greyson. Ia bahkan
tidak tahu gadis itu masih mencintainya. Ia begitu peduli dengan egonya hingga
tidak memperkirakan perasaan Alice, tidak dapat mengartikan arti pandangan
Alice, arti air mata Alice.
“Cukup, Zack. Ayo kita pulang,” ujar Alice yang tiba-tiba
sudah berdiri di belakang Zack. “Aku…” sambung Alice lirih, “Aku tidak
apa-apa,”
Zack menuding tepat ke wajah Greyson. Ia menatap laki-laki
itu tajam. “Ingat, urusanmu denganku belum selesai,”
Zack dan Alice pun berjalan menjauh dari tempat itu. Rencana
mereka untuk bersenang-senang justru menjadi tidak menyenangkan. Sementara itu,
Greyson masih terdiam dan Bella menatap Greyson dengan mata membelalak.
“Grey?” panggil Bella takut-takut.
Greyson pun menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum
palsu. “Bella, sepertinya kita harus pulang,”
“Tapi―” Bella memberhentikan kata-katanya karena ia tahu
kondisi Greyson saat ini, “Baiklah,” Bella tidak banyak bicara. Gadis itu
justru diam mengingat kejadian tadi. Melihat laki-laki yang bersama Alice
menatap Greyson dengan penuh amarah, mendengar kata-kata Zack yang tajam dan
melihat ekspresi Greyson yang tidak dapat diartikan. Namun ia dapat menggabungkan
itu semua dan mengartikannya. Tidak lama lagi hubungannya dan Greyson akan
berhenti.
xxx
“Seharusnya kau tak perlu mengatakan itu, Zack,” kata Alice
kaku sembari menatap jalanan di depannya dengan pandangan menerawang. “Aku
ingin ia tahu sendiri,”
“Maafkan aku. Aku
tidak dapat menahan emosiku,” sesal Zack.
“Tak apa. Aku berterimakasih padamu, dan aku sangat
menghargai ketulusanmu mencintaiku,” ucap Alice sambil tersenyum samar.
Pandangannya masih menerawang ke jalanan di hadapannya, menerka-nerka apa yang
akan terjadi selanjutnya.
Zack tersenyum dan membelai lembut rambut coklat Alice yang
indah. Entah mengapa, Zack sangat menyayangi gadis itu, meskipun ia tahu,
sampai kapanpun gadis itu tidak akan pernah membalas perasaannya.
Tiba-tiba melintas sebuah mobil di sebelah mereka. Mobil itu
berhenti dan pelan-pelan kaca bagian pengemudi terbuka dan terlihatlah wajah
Greyson yang sedang tersenyum samar.
“Kalian berdua ingin ikut?” tawar Greyson.
“Tidak,” jawab Alice langsung dengan nada bicara tajam.
Mendengar jawaban Alice, Greyson terkejut dan kemudian, tanpa banyak bicara, ia
melajukan kembali mobilnya.
Alice lega melihat mobil itu sudah menjauh darinya. Namun
tanpa diduga-duga, mobil itu kembali berhenti agak jauh di depan mereka, dan
terlihat Greyson yang turun dari mobil itu lalu berjalan ke arahnya.
“Aku akan berjalan bersamamu,” ujar Greyson saat ia sudah
berdiri di depan Alice dan Zack, “Um, maksudku, bersama kalian,”
“Mobilmu?” tanya Alice.
“Bella yang mengendarainya,”
“Kau mempercayakan mobilmu pada gadis seperti dia? Apakah
kau bodoh? Ah, aku lupa. Kau tidak mungkin tidak percaya pada kekasihmu,” ucap
Alice sarkastis.
xxx
Sudah lewat satu hari sejak Zack memukul wajah Greyson di
air terjun saat itu. Hubungan mereka berempat tidak berubah sama sekali. Greyson
semakin tersiksa dengan kepura-puraannya, Alice semakin merindukan Greyson,
Bella semakin tidak peduli dengan kondisi Greyson, dan Zack semakin sibuk
menguatkan diri.
“Alice, entah mengapa aku sangat ingin pergi ke taman,” ujar
Zack.
“Di dekat sini ada taman. Kau ingin ke sana?” tanya Alice
sambil mengetuk-ngetuk meja makan.
“Jika kau ingin menemaniku, tentunya,” timpal Zack sambil
tersenyum semanis mungkin.
Alice tersenyum simpul mendengar Zack berkata seperti itu.
“Buang senyum palsumu itu, Zachary Curtin!” sambar Alice sambil melemparkan
sebungkus roti.
“Hey! Jangan membuang-buang makanan!” seru Zack sembari
menangkap roti itu dan tertawa-tawa. Alice pun ikut tertawa senang. Ia sangat
menikmati saat-saat seperti ini. Ia merindukan saat-saat seperti ini. Terutama jika
ia bersama sahabat masa kecilnya.
“Cepat habiskan sarapanmu, dan kita ke taman,” ucap Alice.
“Baik, Mom,” sahut Zack yang segera disambut satu kali lagi
lemparan roti.
xxx
“Bella!” panggil Greyson di depan rumah Bella. Tak lama
kemudian, muncullah seorang wanita paruh baya yang merupakan pengasuh Bella.
“Ada apa?” tanya wanita itu.
“Tolong panggilkan Bella, ya. Saya ingin pergi bersamanya
sebentar,” sahut Greyson sopan.
“Baik. Tunggu di sini ya,”
Greyson menunggu Bella dengan sabar. Sudah cukup lama ia
berdiri di situ, kira-kira sepuluh menit. Tapi akhirnya yang ditunggu datang
juga. Bella sudah berdandan rapi. Ia memakai dress selutut berwarna pink pastel
yang sangat indah, dan juga sepatu high heels berwarna senada. Dan tentu saja ia
mengenakan sweater bulu warna putih untuk menahan udara dingin.
“Kita mau ke mana, Grey?” tanya Bella sambil melemparkan
senyuman.
“Seharusnya kau tak perlu berdandan seperti itu. Aku hanya
ingin mengajakmu ke taman,” jawab Greyson kaku. Ia heran melihat penampilan
Bella saat ini. Hatinya merasa tidak enak dengan gadis itu. Gadis itu tidak
tahu benar tujuan Greyson yang sebenarnya.
xxx
“Ayo kita duduk di sana!” ajak Alice sambil menunjuk sebuah
bangku di bawah pohon besar yang sudah botak, dan di belakang sebuah air
mancur.
“Baiklah,”
Mereka pun berbincang-bincang selama beberapa menit. Namun
seperti biasa, sebagian besar waktu mereka habiskan dengan saling berdiam diri.
Masing-masing berkomunikasi melalui keheningan dan tatapan mata. Tak lama
kemudian, pandangan yang sangat tidak ingin Alice lihat pun muncul di
hadapannya.
Greyson berjalan dengan Bella yang berdandan sangat rapi.
Gadis itu memeluk lengan Greyson, sedangkan Greyson hanya menatap lurus ke
depan dengan acuh tak acuh. Alice sudah hampir pergi melihat keberadaan mereka,
namun segera ditahan oleh Zack.
“Jangan pergi. Aku merasa akan terjadi sesuatu di sini.
Sebaiknya kita mendengarkan saja percakapan mereka,” ucap Zack. Ia melihat
sejenak ke arah Greyson dan Bella yang sudah duduk di sisi lain air mancur,
“Ayo kita duduk di dekat air mancur agar bisa mendengar mereka dengan jelas,”
Alice pun menurut, mereka akhirnya berjalan menuju air
mancur dan duduk di sana seperti tidak mengetahui apa-apa. Mereka mulai
menajamkan pendengaran dan mendengarkan.
“Bella, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,” kata
Greyson kaku.
Darah mendesir deras di dalam tubuh Bella. Ia sudah tahu
akan terjadi hal yang tidak beres jika Greyson sudah berkata seperti itu.
“A-ada apa?” tanya Bella tergagap.
“Aku… sudah tidak bisa bersamamu,” ucap Greyson tanpa
basa-basi, “Aku ingin kita segera mengakhiri hubungan ini,”
Tulang-tulang di dalam tubuh Bella seakan terlepas dari
dalam tubuhnya. Ia mendadak menjadi lemas. Namun ia tahu, ini bukan saat yang
tepat untuk menangis. Akhirnya ia berusaha menahan air matanya dan berkata
lirih, “Aku tahu ini akan terjadi, Grey. Aku, aku sangat menikmati kebersamaan
kita beberapa saat lalu. Terimakasih sudah mau jujur padaku. Aku, aku pergi
dulu,”
Bella pun pergi meninggalkan Greyson yang masih duduk diam
di tempatnya semula. Ia masih memikirkan apa lagi yang harus ia lakukan setelah
ini. Lalu Greyson menangkap sosok Zack dan Alice yang sudah berdiri tak jauh
darinya. Ia pun menegakkan posisi duduknya. Tiba-tiba, Zack menghampiri Greyson
diikuti Alice.
“Aku suka dengan keberanianmu, Grey,” ucap Zack mengakui.
“Apa maksudmu?” tanya Greyson. Lalu ia berpikir sejenak dan
sedikit demi sedikit mengerti, “Kalian mendengarkan percakapanku dengan Bella?”
“Ya,” jawab Alice dan Zack bersamaan.
Greyson memutar bola mata dan mendengus kesal. Ia tidak tahu
harus berbuat apa. Akhirnya ia pun berjalan menjauhi mereka berdua.
“Tunggu!” seru Zack, membuat langkah Greyson terhenti.
Greyson pun kembali. Zack menatap Alice dalam-dalam, ia mendekat dan mengecup
kening Alice. “Aku mencintaimu, Alice. Sangat mencintaimu,” mata hijaunya
menatap Alice lekat. Ia kemudian melanjutkan, “Tetapi tugasku sudah selesai.
Sebelum aku pergi, aku ingin
memberikan ini,”
Zack melepaskan kalung yang selama ini ia pakai. Tak seorangpun
mengetahui keberadaan kalung itu di leher Zack. Hanya sebuah kalung rantai,
tanpa liontin. Kemudian ia mengalungkan benda itu di leher Alice.
“Aku pergi dulu,” kata Zack yang kemudian berjalan menjauh,
meninggalkan Alice dan Greyson yang berdiri mematung. Alice tak mampu
berkata-kata. Ia tak tahu pasti apa yang dirasakannya saat ini. Segalanya
bercampur dalam hatinya; rasa sedih, kecewa, bahagia.
Greyson dan Alice berdiri masih dalam diam. Mereka sibuk
dengan pikiran masing-masing, sibuk memikirkan apa yang harus mereka katakan.
Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Suara decit rem mobil dan bunyi
klakson kendaraan lain membawa mereka kembali ke kenyataan.
Mata Alice membelalak, ia berseru, “Zack!” dan segera
berlari ke arah jalan diikuti oleh Greyson.
Mereka berdua berdiri mematung di pinggir jalan. Mereka
melihat Zack. Terbaring kaku bersimbah darah.
To be continued…
No comments:
Post a Comment