Saturday, 5 January 2013

FanFiction – “Running Away” 18


“Tega-teganya kau menyakiti Alice!” bentak Zack seusai memukul wajah Greyson.
Greyson tidak membalas pukulan Zack, ia justru diam menatap arah lain. Entah mengapa, ia merasa pantas mendapatkan pukulan itu. “Memangnya ada apa dengan gadis itu?”
“Bodoh!” seru Zack sambil menambah satu pukulan lagi di sisi lain wajah Greyson. “Apa kau tidak tahu Alice masih sangat menyayangimu, huh? Ia begitu mengkhawatirkan kondisimu dua hari yang lalu. Ia takut terjadi sesuatu padamu. Sedangkan apa yang kau lakukan?”
Kata-kata Zack sangatlah menyudutkan Greyson. Ia bahkan tidak tahu gadis itu masih mencintainya. Ia begitu peduli dengan egonya hingga tidak memperkirakan perasaan Alice, tidak dapat mengartikan arti pandangan Alice, arti air mata Alice.
“Cukup, Zack. Ayo kita pulang,” ujar Alice yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Zack. “Aku…” sambung Alice lirih, “Aku tidak apa-apa,”
Zack menuding tepat ke wajah Greyson. Ia menatap laki-laki itu tajam. “Ingat, urusanmu denganku belum selesai,”
Zack dan Alice pun berjalan menjauh dari tempat itu. Rencana mereka untuk bersenang-senang justru menjadi tidak menyenangkan. Sementara itu, Greyson masih terdiam dan Bella menatap Greyson dengan mata membelalak.
“Grey?” panggil Bella takut-takut.
Greyson pun menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum palsu. “Bella, sepertinya kita harus pulang,”
“Tapi―” Bella memberhentikan kata-katanya karena ia tahu kondisi Greyson saat ini, “Baiklah,” Bella tidak banyak bicara. Gadis itu justru diam mengingat kejadian tadi. Melihat laki-laki yang bersama Alice menatap Greyson dengan penuh amarah, mendengar kata-kata Zack yang tajam dan melihat ekspresi Greyson yang tidak dapat diartikan. Namun ia dapat menggabungkan itu semua dan mengartikannya. Tidak lama lagi hubungannya dan Greyson akan berhenti.

xxx

“Seharusnya kau tak perlu mengatakan itu, Zack,” kata Alice kaku sembari menatap jalanan di depannya dengan pandangan menerawang. “Aku ingin ia tahu sendiri,”
“Maafkan aku. Aku  tidak dapat menahan emosiku,” sesal Zack.
“Tak apa. Aku berterimakasih padamu, dan aku sangat menghargai ketulusanmu mencintaiku,” ucap Alice sambil tersenyum samar. Pandangannya masih menerawang ke jalanan di hadapannya, menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Zack tersenyum dan membelai lembut rambut coklat Alice yang indah. Entah mengapa, Zack sangat menyayangi gadis itu, meskipun ia tahu, sampai kapanpun gadis itu tidak akan pernah membalas perasaannya.
Tiba-tiba melintas sebuah mobil di sebelah mereka. Mobil itu berhenti dan pelan-pelan kaca bagian pengemudi terbuka dan terlihatlah wajah Greyson yang sedang tersenyum samar.
“Kalian berdua ingin ikut?” tawar Greyson.
“Tidak,” jawab Alice langsung dengan nada bicara tajam. Mendengar jawaban Alice, Greyson terkejut dan kemudian, tanpa banyak bicara, ia melajukan kembali mobilnya.
Alice lega melihat mobil itu sudah menjauh darinya. Namun tanpa diduga-duga, mobil itu kembali berhenti agak jauh di depan mereka, dan terlihat Greyson yang turun dari mobil itu lalu berjalan ke arahnya.
“Aku akan berjalan bersamamu,” ujar Greyson saat ia sudah berdiri di depan Alice dan Zack, “Um, maksudku, bersama kalian,”
“Mobilmu?” tanya Alice.
“Bella yang mengendarainya,”
“Kau mempercayakan mobilmu pada gadis seperti dia? Apakah kau bodoh? Ah, aku lupa. Kau tidak mungkin tidak percaya pada kekasihmu,” ucap Alice sarkastis.

xxx

Sudah lewat satu hari sejak Zack memukul wajah Greyson di air terjun saat itu. Hubungan mereka berempat tidak berubah sama sekali. Greyson semakin tersiksa dengan kepura-puraannya, Alice semakin merindukan Greyson, Bella semakin tidak peduli dengan kondisi Greyson, dan Zack semakin sibuk menguatkan diri.
“Alice, entah mengapa aku sangat ingin pergi ke taman,” ujar Zack.
“Di dekat sini ada taman. Kau ingin ke sana?” tanya Alice sambil mengetuk-ngetuk meja makan.
“Jika kau ingin menemaniku, tentunya,” timpal Zack sambil tersenyum semanis mungkin.
Alice tersenyum simpul mendengar Zack berkata seperti itu. “Buang senyum palsumu itu, Zachary Curtin!” sambar Alice sambil melemparkan sebungkus roti.
“Hey! Jangan membuang-buang makanan!” seru Zack sembari menangkap roti itu dan tertawa-tawa. Alice pun ikut tertawa senang. Ia sangat menikmati saat-saat seperti ini. Ia merindukan saat-saat seperti ini. Terutama jika ia bersama sahabat masa kecilnya.
“Cepat habiskan sarapanmu, dan kita ke taman,” ucap Alice.
“Baik, Mom,” sahut Zack yang segera disambut satu kali lagi lemparan roti.

xxx

“Bella!” panggil Greyson di depan rumah Bella. Tak lama kemudian, muncullah seorang wanita paruh baya yang merupakan pengasuh Bella.
“Ada apa?” tanya wanita itu.
“Tolong panggilkan Bella, ya. Saya ingin pergi bersamanya sebentar,” sahut Greyson sopan.
“Baik. Tunggu di sini ya,”
Greyson menunggu Bella dengan sabar. Sudah cukup lama ia berdiri di situ, kira-kira sepuluh menit. Tapi akhirnya yang ditunggu datang juga. Bella sudah berdandan rapi. Ia memakai dress selutut berwarna pink pastel yang sangat indah, dan juga sepatu high heels berwarna senada. Dan tentu saja ia mengenakan sweater bulu warna putih untuk menahan udara dingin.
“Kita mau ke mana, Grey?” tanya Bella sambil melemparkan senyuman.
“Seharusnya kau tak perlu berdandan seperti itu. Aku hanya ingin mengajakmu ke taman,” jawab Greyson kaku. Ia heran melihat penampilan Bella saat ini. Hatinya merasa tidak enak dengan gadis itu. Gadis itu tidak tahu benar tujuan Greyson yang sebenarnya.

xxx

“Ayo kita duduk di sana!” ajak Alice sambil menunjuk sebuah bangku di bawah pohon besar yang sudah botak, dan di belakang sebuah air mancur.
“Baiklah,”
Mereka pun berbincang-bincang selama beberapa menit. Namun seperti biasa, sebagian besar waktu mereka habiskan dengan saling berdiam diri. Masing-masing berkomunikasi melalui keheningan dan tatapan mata. Tak lama kemudian, pandangan yang sangat tidak ingin Alice lihat pun muncul di hadapannya.
Greyson berjalan dengan Bella yang berdandan sangat rapi. Gadis itu memeluk lengan Greyson, sedangkan Greyson hanya menatap lurus ke depan dengan acuh tak acuh. Alice sudah hampir pergi melihat keberadaan mereka, namun segera ditahan oleh Zack.
“Jangan pergi. Aku merasa akan terjadi sesuatu di sini. Sebaiknya kita mendengarkan saja percakapan mereka,” ucap Zack. Ia melihat sejenak ke arah Greyson dan Bella yang sudah duduk di sisi lain air mancur, “Ayo kita duduk di dekat air mancur agar bisa mendengar mereka dengan jelas,”
Alice pun menurut, mereka akhirnya berjalan menuju air mancur dan duduk di sana seperti tidak mengetahui apa-apa. Mereka mulai menajamkan pendengaran dan mendengarkan.
“Bella, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,” kata Greyson kaku.
Darah mendesir deras di dalam tubuh Bella. Ia sudah tahu akan terjadi hal yang tidak beres jika Greyson sudah berkata seperti itu. “A-ada apa?” tanya Bella tergagap.
“Aku… sudah tidak bisa bersamamu,” ucap Greyson tanpa basa-basi, “Aku ingin kita segera mengakhiri hubungan ini,”
Tulang-tulang di dalam tubuh Bella seakan terlepas dari dalam tubuhnya. Ia mendadak menjadi lemas. Namun ia tahu, ini bukan saat yang tepat untuk menangis. Akhirnya ia berusaha menahan air matanya dan berkata lirih, “Aku tahu ini akan terjadi, Grey. Aku, aku sangat menikmati kebersamaan kita beberapa saat lalu. Terimakasih sudah mau jujur padaku. Aku, aku pergi dulu,”
Bella pun pergi meninggalkan Greyson yang masih duduk diam di tempatnya semula. Ia masih memikirkan apa lagi yang harus ia lakukan setelah ini. Lalu Greyson menangkap sosok Zack dan Alice yang sudah berdiri tak jauh darinya. Ia pun menegakkan posisi duduknya. Tiba-tiba, Zack menghampiri Greyson diikuti Alice.
“Aku suka dengan keberanianmu, Grey,” ucap Zack mengakui.
“Apa maksudmu?” tanya Greyson. Lalu ia berpikir sejenak dan sedikit demi sedikit mengerti, “Kalian mendengarkan percakapanku dengan Bella?”
“Ya,” jawab Alice dan Zack bersamaan.
Greyson memutar bola mata dan mendengus kesal. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia pun berjalan menjauhi mereka berdua.
“Tunggu!” seru Zack, membuat langkah Greyson terhenti. Greyson pun kembali. Zack menatap Alice dalam-dalam, ia mendekat dan mengecup kening Alice. “Aku mencintaimu, Alice. Sangat mencintaimu,” mata hijaunya menatap Alice lekat. Ia kemudian melanjutkan, “Tetapi tugasku sudah selesai. Sebelum aku pergi, aku ingin memberikan ini,”
Zack melepaskan kalung yang selama ini ia pakai. Tak seorangpun mengetahui keberadaan kalung itu di leher Zack. Hanya sebuah kalung rantai, tanpa liontin. Kemudian ia mengalungkan benda itu di leher Alice.
“Aku pergi dulu,” kata Zack yang kemudian berjalan menjauh, meninggalkan Alice dan Greyson yang berdiri mematung. Alice tak mampu berkata-kata. Ia tak tahu pasti apa yang dirasakannya saat ini. Segalanya bercampur dalam hatinya; rasa sedih, kecewa, bahagia.
Greyson dan Alice berdiri masih dalam diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, sibuk memikirkan apa yang harus mereka katakan. Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Suara decit rem mobil dan bunyi klakson kendaraan lain membawa mereka kembali ke kenyataan.
Mata Alice membelalak, ia berseru, “Zack!” dan segera berlari ke arah jalan diikuti oleh Greyson.
Mereka berdua berdiri mematung di pinggir jalan. Mereka melihat Zack. Terbaring kaku bersimbah darah.

To be continued…

No comments:

Post a Comment