Friday, 4 January 2013

FanFiction – “Running Away” 16


Pesawat itu mendarat di bandara JFK, seluruh penumpangnya turun, dan di antara mereka ada Greyson dan Bella. Greyson berjalan mendahului Bella sambil menarik koper besarnya, sedangkan Bella mengikuti Greyson dengan susah payah.
“Grey! Can you wait for me?” seru Bella masih sambil mengejar Greyson.
“Menyusahkan,” gumam Greyson. Ia masih melanjutkan langkahnya, bahkan mempercepatnya.
“Grey―” ucapan Bella terputus karena ia tersandung kakinya sendiri sehingga jatuh.
Greyson memutar bola matanya dan berbalik arah untuk menghampiri Bella yang terlihat meringis kesakitan. “Kau ini,” desis Greyson seraya membantu Bella berdiri.
“Kau seharusnya tidak mendahuluiku dan membuat aku mengejarmu! Ini semua ulahmu!” seru Bella. Ia merajuk dan sedang berusaha mencuri perhatian Greyson.
“Aku tak meminta kau mengejarku,” balas Greyson dingin sambil berbalik arah untuk melanjutkan perjalanannya.
“Uh, lihat saja. Aku akan membuatmu menyukaiku,” gumam Bella.

xxx

“Untuk apa kau datang ke sini?” tanya Alice sambil membawakan minuman untuk Zack di halaman depan.
“Tentu saja untuk menjumpaimu, sweetie,” jawab Zack sambil tersenyum hangat.
Sweetie?” tanya Alice heran yang segera dibalas tatapan bingung oleh Zack. Alice pun teringat dan segera menimpali, “Ah, ya! Lalu? Mengapa kau mengikutiku sampai sini?”
Zack berdeham sejenak dan menjawab, “Kau lupa aku kekasihmu?”
Ditanya demikian membuat Alice gelagapan dan salah tingkah. Ia pun segera menjawab sambil menyeringai, “Oh! Ya! Eh, tidak! Tentu tidak. Ya, aku… tidak akan lupa, sweetheart!”
Kening Zack berkerut samar melihat tingkah Alice yang aneh. Tetapi ia memutuskan untuk tidak banyak berkomentar. Ia mengambil secangkir kopi panas yang dibuat Alice dan menyesapnya. “Kau sendirian?”
“Tidak sebenarnya,” gumam Alice. Ia ingat sebelumnya ada Greyson di sini, dan ia tidak melupakan kekecewaannya pada laki-laki yang sudah mengkhianatinya itu. Tanpa sadar ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat.
Melihat perubahan ekspresi Alice yang tiba-tiba, Zack bertanya, “Maksudmu?”
Alice seakan kembali ke alam nyata. Ia pun mendongak dan menjawab dengan tergagap, “Ya, maksudku. Aku. Aku memang tidak sendiri. Yah, ada… ada kau. Dan… Tikus,”
Zack pun tersenyum mengerti. Ia tertawa pelan dan perlahan-lahan mengusap lembut rambut Alice. “Kau sangat lucu, Alice,” kata Zack.
Setelah Zack mengatakan itu, kecanggungan pun menyeruak di antara mereka selama beberapa detik. Mereka tak tahu harus mengatakan apa dan terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Alice berdeham untuk memecahkan kecanggungan yang terjadi.
“Um, Zack,” panggil Alice dengan nada ragu.
“Ya?”
“Ada yang harus kukatakan padamu,”

xxx

“Where are we going to go?” tanya Bella saat ia dan Greyson sedang berada di taksi.
“My apartment,” jawab Greyson singkat tanpa menoleh ke belakang―tempat duduk Bella. Ia masih menerawang ke arah jendela di sampingnya dan memikirkan hal yang dapat membuatnya berteriak histeris.
Mendengar jawaban Greyson, mata Bella berbinar-binar. Ia pun bertanya dengan kegirangan, “Jadi, aku akan tidur di apartemenmu?”
“Mungkin,”
“Bersamamu? Di satu kamar?” tanya Bella lagi hampir menjerit senang.
Greyson memutar bola matanya dan menjawab dengan nada sarkastis, “Ternyata kau cukup murah,”
Bella tersinggung akan jawaban Greyson. Pipinya memerah padam dan ia mendengus. Ia ingin membalas perkataan Greyson tetapi ia tidak dapat berkata apa-apa.
“Kita berhenti di sini, Sir!” ujar Greyson pada sang supir taksi beberapa menit kemudian. Greyson dan Bella pun turun setelah Greyson membayar tarif yang tertera di argometer.
“Wah, apartemenmu bagus sekali!” ucap Bella terkagum-kagum saat mereka sudah masuk ke dalam apartemen Greyson yang sudah cukup lama tidak dihuni. Greyson tidak menanggapi perkataan Bella dan segera masuk ke dalam kamarnya untuk meletakkan kopernya.
Sesaat setelah ia meletakkan kopernya, ia berjalan keluar kamar untuk mencari barang yang menjadi alasannya kembali ke New York. Saat ia hendak menghampiri meja televisi dan mengambil foto itu, ia mendapati Bella sedang berusaha mengambil foto itu dari bingkainya dengan terburu-buru.
“Kau mau apa?” bentak Greyson pada Bella. Bella pun tersentak mendapati Greyson sudah berdiri tidak jauh darinya dan menatapnya dengan penuh amarah. Ia merasa menyusut dipandang demikian oleh Greyson.
“Ti-Tidak,” elak Bella dengan tergagap-gagap. Ia segera meletakkan bingkai foto itu di tempatnya semula.
Greyson pun bergegas menuju tempat Bella berdiri dan mendorong gadis itu cukup keras―sehingga Bella menjauh―dan ia mengambil foto itu dengan cepat. Lalu ia berbalik untuk kembali ke kamarnya. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, menatap Bella tajam.
“Sampai sekali lagi kau menyentuh foto ini, kau―” desis Greyson dengan mata berkilat marah, “Tak akan pernah aku maafkan,”

xxx

“Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi, Alice,” pinta Zack setelah Alice memberitahunya bahwa ia tidak benar-benar mencintai Zack dan ingin memutuskan hubungan.
Alice tampak berpikir sebentar, lalu ia menggeleng pelan.
“Hanya beberapa minggu. Jika kau tidak bisa mencintaiku sebagai kekasih, kau boleh meninggalkanku,” kata Zack berjanji pada Alice. Ia menggenggam kedua tangan Alice dan meremasnya pelan.
“Baiklah,” kata Alice sembari mendesah pelan. Lagi-lagi perasaan itu muncul. Ini semua salah. Tidak. Ini semua benar. Otak Alice berkata bahwa memberi waktu kepada dirinya sendiri untuk jatuh cinta pada Zack adalah sebuah pilihan yang benar. Namun tidak dengan hatinya.
“Terimakasih,” ujar Zack sambil tersenyum lembut.
“Ya. Um, aku ingin ke kamar,” ujar Alice kaku sambil beranjak dari tempatnya duduk dan segera berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai. “Semua yang aku lakukan benar. Aku berhak mendapat cinta lain. Greyson sudah mengkhianatiku. Greyson sudah mengkhianatiku,” gumam Alice. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat di sisi tubuhnya.

xxx

Detik demi detik berlalu. Laki-laki itu masih duduk di tempat yang sama, memandangi foto yang sama, foto kenangan bersama gadis yang sama―yang ada di pikirannya saat ini. Pandangannya menerawang. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia merasa telah kehilangan arah.
Beberapa kali ide gila itu melintas di benaknya, namun ia segera mengusirnya dengan menggeleng kuat-kuat. Ide yang tidak masuk akal. Ide bodoh yang dapat melukai dirinya sendiri. Meskipun ia mengusir ide itu berulang kali dan menganggapnya bodoh, beberapa kali pula ia merasa ide itu masuk akal dan patut dilakukan.
Tidak. Itu tidak mungkin.
Greyson pun beranjak dari tempat ia duduk dan keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke ruang tamu dan mendapati Bella sedang duduk diam di salah satu sofa. Perlahan rasa bersalah itu merambat di hatinya. Ia tahu Bella masih terpukul akan kejadian tadi. Ia sadar ia terlalu kasar.
Dengan langkah ragu, Greyson berjalan menghampiri Bella dan berlutut di depan sofa tempat Bella duduk. Bella terheran-heran akan sikap Greyson yang aneh.
“Bella…” panggil Greyson lirih. Ia memegang kedua pipi Bella dan perlahan mendekatkan wajah Bella ke wajahnya. Dan, ia mencium bibir Bella. Mendapat perlakuan yang tiba-tiba itu, Bella terkejut dan menjauhkan wajah Greyson dari wajahnya.
“Grey? Kau―”
“Aku ingin kau menjadi kekasihku,”

To be continued…

No comments:

Post a Comment