Pesawat itu mendarat di bandara JFK, seluruh penumpangnya
turun, dan di antara mereka ada Greyson dan Bella. Greyson berjalan mendahului
Bella sambil menarik koper besarnya, sedangkan Bella mengikuti Greyson dengan
susah payah.
“Grey! Can you wait for me?” seru Bella masih sambil
mengejar Greyson.
“Menyusahkan,” gumam Greyson. Ia masih melanjutkan
langkahnya, bahkan mempercepatnya.
“Grey―” ucapan Bella terputus karena ia tersandung kakinya
sendiri sehingga jatuh.
Greyson memutar bola matanya dan berbalik arah untuk
menghampiri Bella yang terlihat meringis kesakitan. “Kau ini,” desis Greyson
seraya membantu Bella berdiri.
“Kau seharusnya tidak mendahuluiku dan membuat aku
mengejarmu! Ini semua ulahmu!” seru Bella. Ia merajuk dan sedang berusaha
mencuri perhatian Greyson.
“Aku tak meminta kau mengejarku,” balas Greyson dingin
sambil berbalik arah untuk melanjutkan perjalanannya.
“Uh, lihat saja. Aku akan membuatmu menyukaiku,” gumam
Bella.
xxx
“Untuk apa kau datang ke sini?” tanya Alice sambil
membawakan minuman untuk Zack di halaman depan.
“Tentu saja untuk menjumpaimu, sweetie,” jawab Zack sambil tersenyum hangat.
“Sweetie?” tanya
Alice heran yang segera dibalas tatapan bingung oleh Zack. Alice pun teringat
dan segera menimpali, “Ah, ya! Lalu? Mengapa kau mengikutiku sampai sini?”
Zack berdeham sejenak dan menjawab, “Kau lupa aku
kekasihmu?”
Ditanya demikian membuat Alice gelagapan dan salah tingkah.
Ia pun segera menjawab sambil menyeringai, “Oh! Ya! Eh, tidak! Tentu tidak. Ya,
aku… tidak akan lupa, sweetheart!”
Kening Zack berkerut samar melihat tingkah Alice yang aneh.
Tetapi ia memutuskan untuk tidak banyak berkomentar. Ia mengambil secangkir kopi
panas yang dibuat Alice dan menyesapnya. “Kau sendirian?”
“Tidak sebenarnya,” gumam Alice. Ia ingat sebelumnya ada
Greyson di sini, dan ia tidak melupakan kekecewaannya pada laki-laki yang sudah
mengkhianatinya itu. Tanpa sadar ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat.
Melihat perubahan ekspresi Alice yang tiba-tiba, Zack
bertanya, “Maksudmu?”
Alice seakan kembali ke alam nyata. Ia pun mendongak dan
menjawab dengan tergagap, “Ya, maksudku. Aku. Aku memang tidak sendiri. Yah,
ada… ada kau. Dan… Tikus,”
Zack pun tersenyum mengerti. Ia tertawa pelan dan
perlahan-lahan mengusap lembut rambut Alice. “Kau sangat lucu, Alice,” kata
Zack.
Setelah Zack mengatakan itu, kecanggungan pun menyeruak di
antara mereka selama beberapa detik. Mereka tak tahu harus mengatakan apa dan
terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Alice berdeham untuk memecahkan
kecanggungan yang terjadi.
“Um, Zack,” panggil Alice dengan nada ragu.
“Ya?”
“Ada yang harus kukatakan padamu,”
xxx
“Where are we going to go?” tanya Bella saat ia dan Greyson
sedang berada di taksi.
“My apartment,” jawab Greyson singkat tanpa menoleh ke
belakang―tempat duduk Bella. Ia masih menerawang ke arah jendela di sampingnya
dan memikirkan hal yang dapat membuatnya berteriak histeris.
Mendengar jawaban Greyson, mata Bella berbinar-binar. Ia pun
bertanya dengan kegirangan, “Jadi, aku akan tidur di apartemenmu?”
“Mungkin,”
“Bersamamu? Di satu kamar?” tanya Bella lagi hampir menjerit
senang.
Greyson memutar bola matanya dan menjawab dengan nada
sarkastis, “Ternyata kau cukup murah,”
Bella tersinggung akan jawaban Greyson. Pipinya memerah padam
dan ia mendengus. Ia ingin membalas perkataan Greyson tetapi ia tidak dapat
berkata apa-apa.
“Kita berhenti di sini, Sir!” ujar Greyson pada sang supir
taksi beberapa menit kemudian. Greyson dan Bella pun turun setelah Greyson
membayar tarif yang tertera di argometer.
“Wah, apartemenmu bagus sekali!” ucap Bella terkagum-kagum
saat mereka sudah masuk ke dalam apartemen Greyson yang sudah cukup lama tidak
dihuni. Greyson tidak menanggapi perkataan Bella dan segera masuk ke dalam
kamarnya untuk meletakkan kopernya.
Sesaat setelah ia meletakkan kopernya, ia berjalan keluar
kamar untuk mencari barang yang menjadi alasannya kembali ke New York. Saat ia
hendak menghampiri meja televisi dan mengambil foto itu, ia mendapati Bella
sedang berusaha mengambil foto itu dari bingkainya dengan terburu-buru.
“Kau mau apa?” bentak Greyson pada Bella. Bella pun
tersentak mendapati Greyson sudah berdiri tidak jauh darinya dan menatapnya
dengan penuh amarah. Ia merasa menyusut dipandang demikian oleh Greyson.
“Ti-Tidak,” elak Bella dengan tergagap-gagap. Ia segera
meletakkan bingkai foto itu di tempatnya semula.
Greyson pun bergegas menuju tempat Bella berdiri dan
mendorong gadis itu cukup keras―sehingga Bella menjauh―dan ia mengambil foto
itu dengan cepat. Lalu ia berbalik untuk kembali ke kamarnya. Baru beberapa
langkah ia berjalan, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, menatap Bella
tajam.
“Sampai sekali lagi kau menyentuh foto ini, kau―” desis
Greyson dengan mata berkilat marah, “Tak akan pernah aku maafkan,”
xxx
“Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi, Alice,” pinta
Zack setelah Alice memberitahunya bahwa ia tidak benar-benar mencintai Zack dan
ingin memutuskan hubungan.
Alice tampak berpikir sebentar, lalu ia menggeleng pelan.
“Hanya beberapa minggu. Jika kau tidak bisa mencintaiku
sebagai kekasih, kau boleh meninggalkanku,” kata Zack berjanji pada Alice. Ia
menggenggam kedua tangan Alice dan meremasnya pelan.
“Baiklah,” kata Alice sembari mendesah pelan. Lagi-lagi
perasaan itu muncul. Ini semua salah. Tidak. Ini semua benar. Otak Alice
berkata bahwa memberi waktu kepada dirinya sendiri untuk jatuh cinta pada Zack
adalah sebuah pilihan yang benar. Namun tidak dengan hatinya.
“Terimakasih,” ujar Zack sambil tersenyum lembut.
“Ya. Um, aku ingin ke kamar,” ujar Alice kaku sambil
beranjak dari tempatnya duduk dan segera berjalan ke kamarnya dengan langkah
gontai. “Semua yang aku lakukan benar. Aku berhak mendapat cinta lain. Greyson
sudah mengkhianatiku. Greyson sudah mengkhianatiku,” gumam Alice. Kedua tangannya
mengepal kuat-kuat di sisi tubuhnya.
xxx
Detik demi detik berlalu. Laki-laki itu masih duduk di
tempat yang sama, memandangi foto yang sama, foto kenangan bersama gadis yang
sama―yang ada di pikirannya saat ini. Pandangannya menerawang. Ia tak tahu lagi
harus berbuat apa. Ia merasa telah kehilangan arah.
Beberapa kali ide gila itu melintas di benaknya, namun ia
segera mengusirnya dengan menggeleng kuat-kuat. Ide yang tidak masuk akal. Ide
bodoh yang dapat melukai dirinya sendiri. Meskipun ia mengusir ide itu berulang
kali dan menganggapnya bodoh, beberapa kali pula ia merasa ide itu masuk akal
dan patut dilakukan.
Tidak. Itu tidak mungkin.
Greyson pun beranjak dari tempat ia duduk dan keluar dari
kamarnya. Ia berjalan ke ruang tamu dan mendapati Bella sedang duduk diam di
salah satu sofa. Perlahan rasa bersalah itu merambat di hatinya. Ia tahu Bella
masih terpukul akan kejadian tadi. Ia sadar ia terlalu kasar.
Dengan langkah ragu, Greyson berjalan menghampiri Bella dan
berlutut di depan sofa tempat Bella duduk. Bella terheran-heran akan sikap
Greyson yang aneh.
“Bella…” panggil Greyson lirih. Ia memegang kedua pipi Bella
dan perlahan mendekatkan wajah Bella ke wajahnya. Dan, ia mencium bibir Bella.
Mendapat perlakuan yang tiba-tiba itu, Bella terkejut dan menjauhkan wajah
Greyson dari wajahnya.
“Grey? Kau―”
“Aku ingin kau menjadi kekasihku,”
To be continued…
No comments:
Post a Comment