Thursday, 30 March 2017

Renjana

Pada suatu masa, di mana lara berkuasa atas bentala, aku terduduk di atas sebuah batu, menunggu hadirmu sambil bersanding dengan temaram senja yang masih setia memelukku. Melodi pawana berembus perlahan, lamat-lamat menyajikan satu lagu gambaran renjana; refleksi sempurna duka yang menabuh genderang atma sejak lama.

Satu tanganku terangkat menyapa kosong udara, sebelum diam-diam berpindah menyentuh dada di mana perih menyapa. Kata yang kau ucap malam itu masih membekas dalam relung sukmaku yang terdalam, mencipta bilur yang tak mau pulih , menyesak dada hingga napas tercekat. Aku kembali menelan getir yang sama dengan malam lalu, tatkala bibirmu menyeru kata pisah, mendeklarasikan berdirinya satu tembok besar di antara kita.

Kau, sang pendamba kebebasan, pada akhirnya pergi dan berpaling.

Aku, sang pengidam sejuk suaramu, pada akhirnya hanya mampu membeku dalam bisu, merengkuh personamu dalam angan yang menari dalam kalbu.

Dalam tiap larik doaku, serta asa yang bersama hela napas menderu, aku menyerukan namamu, berharap kau datang bersama kebebasanmu, dan turut membawaku. Jika boleh kutanggalkan ego yang menjerat ragaku, aku ingin meruah rindu yang biar oleh angin dibawa berlalu.

Angin melakoni tugasnya dengan baik. Pesan rindu yang kuseru-seru siang dan malam sampai padamu hingga kau datang memenuhi undangan dari larik doaku. Kau hadir bersama kebebasanmu dan dengan dua tangan terulur membawaku tenggelam dalam dekapmu yang manis. Dekapmu yang jua getir.

Tangan kita bertaut malam itu. Kita saling merindu. Kita sama-sama mencumbu. Kata duka, lara, luka, dan segala kata bermakna sepadan terbang berlalu dibawa angin yang menderu-deru. Hanya terbayang satu kata dalam sanubari, yaitu kamu, yang membuatku jatuh hati.

Dalam satu desah napas bisikku menyapamu, memaklumkan pada dunia bahwa kau milikku, dalam satu seru berbunyi, “Aku mencintaimu.”
»»  READ MORE

Wednesday, 29 March 2017

Pers, Demokrasi, dan Ironi

Rasanya aku ingin menghujat barisan mahasiswa itu, yang berseru-seru meminta keadilan kepada pemerintah, yang menggulingkan pemegang hegemoni mutlak demokrasi terpimpin. Bisa apa mereka? Apakah menggulingkan si pencipta paham Nasakom itu adalah prestasi besar bagi ego dan idealisme kosong yang mereka miliki? Apakah mereka dari awal sudah menahu bahwasanya pemegang rezim baru itu lebih-lebih lagi otoriternya; lebih-lebih sering lagi memperkosa hak rakyat?

Sukseslah mereka adanya, tatkala Presiden Sukarno terguling dari otoritasnya sebagai penghuni singgasana manis berlabel Istana Negara; pun kala Presiden Suharto naik menggantikan penghuni sebelum ia, dan duduk nyaman mengatur rakyatnya, yang memegang peran ganda sebagai pion-pion pribadinya.

Memang kondisi ekonomi Indonesia menanjak drastis hingga kami bisa mengecap rasa-rasa nikmat pengenyang perut tanpa perlu menipiskan dompet kami. Memang Indonesia sejahtera. Memang. Tetapi itu kalau dilihat dari luarnya saja–atau paling tidak sampai di balik kulit ari. Siapa yang pernah mengupas kulit yang lebih dalam lagi, dan melihat busuknya buah rezim yang mendominasi? Atau, mari kita sederhanakan, siapa yang berani?

Jawabannya ada dalam tuangan cerita ini, cerita yang sungguh kualami dan benar terjadi. Cerita yang tak sempat kureka-reka walau kondisi memaksa. Ialah kami, pers berjiwa militan, yang berani menerjang ketidakadilan dan menyobek tirai despotisme yang digantung para tirani. Namun, dalam kisah ini, sebuah ironi tertuang melalui pena duka yang kubeli dengan mengemis dari penguasa. Kekuatan militansi kami dibredel bersama awak media tempat kami berkaca, dibungkam hingga kami tak bisa bersuara.

Di suatu masa, saat itu 15 Februari 1984, aku berjalan menyusuri deretan toko di bilangan Jakarta Barat, dipayungi kanopi-kanopi yang masih meneteskan air sisa hujan semalam dan pagi tadi. Siang itu begitu sepi, hingga bisa dikatakan di sepanjang jalan itu, aku seorang diri. Tanganku menggenggam tali kamera analog yang menggantung di leher seraya mengamati apa yang terjadi di sekitarku, siap mengabadikan segala momen yang mungkin terjadi.

“Zhar, ngapain ke pecinan kalau ada yang lebih mudah diliput, semacam kegiatan Presiden di istana?”

Terngiang tanya yang disuarakan oleh salah satu dari kawanku di kantor tadi, ketika aku mempersiapkan diri untuk pergi meliput sesuatu. Aku mengerutkan keningku saat itu, bertanya dalam hati–tersirat jelas tanya itu lewat air mukaku yang tampak tak senang–apakah aku tak boleh mengikuti kehendakku untuk mencari isu dan mengangkatnya menjadi sebuah berita, tanpa adanya intervensi kepentingan politik dari para penggede negara maupun petinggi media?

Maka, tanpa banyak bicara, hanya kulayangkan senyumanku pada rekanku itu sebelum melangkah pergi atas kemauanku sendiri. Aku menutup telinga soal batas-batas normatif temporer yang dibangun secara semu oleh orang-orang yang selalu melindungi impresi diri, dengan membuat sebuah limitasi bagi mereka-mereka yang dianggap tidak berhak untuk mempunyai pengaruh atas negara ini. Pseudo demokrasi.

“Azhary, tunggu.”

Aku menoleh ke sumber dari suara yang memecah lamunanku, yaitu seorang gadis yang kini berlari kecil dan berusaha menyejajarkan langkahnya dengan milikku yang lebar-lebar. Spontan kedua tungkaiku memperlambat laju, bahkan berhenti berjalan, untuk secara refleks membiarkan gadis itu mendekat. Aku menatapnya heran. Gadis itu membawa kamera analog yang nyaris sama persis dengan punyaku. Tubuhnya basah oleh keringat. Keringat juga menitik-nitik di pelipisnya yang ditempeli helai-helai rambut yang lolos dari ikatannya. Namun, semua itu tidaklah penting, selain senyuman di wajahnya.

“Ya, Tan? Kamu kenapa ke sini?” ialah balasan atas sapanya, yang disertai dengan kedua alis yang terangkat. “Saya dengar kamu dikejar deadline menyelesaikan satu karikatur untuk berita besok pagi?”

Ia menggeleng, gadis itu. Intan, namanya. “Nggak perlu deadline untuk saya menyelesaikan gambar-gambar itu, Zhar. Saya sudah selesaikan semuanya,” jawab Intan sebelum ia tersenyum dan senyumnya berubah menjadi tawa renyah yang manis didengar.

“Ya sudah, ayo kita berangkat?”

Aku melongo. “Berangkat?” tanyaku, bagai orang dungu.

Intan mengangguk bersemangat lalu berkata, “Ya, berangkat! Liputan, Zhar. Saya mau ikut kamu, hari ini.” Setelahnya, ia menggedikkan bahu untuk kemudian melanjutkan,

“Saya selalu penasaran dengan framing beritamu yang selalu beda dari yang lain. Entahlah, tapi menurut saya, cara kamu memandang sesuatu untuk dijadikan berita itu sangat kritis dan tajam. Tetapi juga manis.”

Aku tersenyum namun tak banyak bicara, setelahnya, dan ialah yang kembali membuka cakap–mengusir hening yang sama sekali tak sunyi, “Besok Imlek, dan kamu sengaja datang ke pecinan ini untuk mencari sesuatu yang sekiranya pas dan sesuai dengan momen itu, ‘kan?” Aku melirik Intan, dan bila tak salah tangkap, terlihat secercah kekhawatiran di matanya, meski senyuman melengkung sempurna di parasnya.

“Begitulah.”

“Bukannya mau menggurui, tetapi ... kurasa framing-mu kali ini agak terlalu sensitif. Kamu tahu, ‘kan–” Ucapannya terhenti.

“Tahu apa?”

Ia tak melanjutkan dan tetap bungkam. Kali ini hening menjerat kami dengan berbalut sunyi yang sejati, tetapi tak lama-lama, sebab mataku menangkap sesosok pria berkemeja putih berjongkok di balik pohon tepat di seberang jalan tempat aku dan Intan berpijak. Mataku melebar ketika kulihat orang itu membawa senapan laras panjang pada kedua tangannya. Ia tampak membidik sesuatu yang berada jauh di ujung jalan; tak menyadari kehadiran kami.

Bukan sekadar presensinya yang sekonyong-konyong memecah hening yang membeku di antara aku dan Intan, melainkan sebuah dentuman yang membahana hanya sedetik usai aku menangkap gambar sosok itu dengan kamera analog-ku. Aku menahan napas tatkala berdiri di sebelah Intan, di balik pilar besar yang menutupi hadir kami dari pandangan si pemegang senapan. Intan membeku hingga bibirnya memucat. Sekujur tubuhku terasa kaku hingga dapat merosot jatuh sewaktu-waktu.

“Petrus.” Akhirnya Intan bersuara dalam bisiknya yang lirih. Napasnya terdengar berat. Ia terang saja merasa ketakutan. Aku pun.

Kepalaku terangguk mengiyakan, sebab manusia berkemeja putih itu sudah lenyap dari tempatnya semula tak sampai menunggu menit-menit untuk berlalu. Aku tahu ia telah pergi dan tak akan mengancam nyawa kami, tetapi rasa ngeri itu masih menyisa. Bagaimana tidak? Kami baru saja melihat secara langsung operasi rahasia milik penguasa negeri, yang kabarnya dialamatkan bagi usaha reduksi kejahatan di Indonesia, khususnya Jakarta.

Tanpa menunggu Intan, aku kembali melangkah, setengah berlari, menuju arah tembakan pria tadi. Sebuah pemikiran gila mulai membentuk entitasnya dalam benak. Hanya satu perasaan yang kini menggerogoti hatiku, ialah amarah yang menggebu. Mengambil gambar seorang penembak misterius adalah sesuatu yang sejatinya berada di luar kompetensiku sebagai seorang pers, yang hidup di zamannya tirani-tirani bertangan besi. Namun aku tak akan membiarkan gambarku menjadi potret kosong yang tak bermakna. Bila pers tak punya kuasa menghakimi, biar sesuatu yang kuberitakan menyerukan keadilan yang sejati.

“Zhar, sebaiknya kita pulang sekarang,” ujar Intan yang kini berjalan menyusulku dengan langkah kaki cepat, berusaha menyeimbangkan lebar-lebar langkahku. Tampaknya ia mulai membaca maksud dari arah pergiku. Aku tak menyahut dan terus bungkam sembari tetap melangkah. Hal itulah yang membuat Intan pada akhirnya memanggilku kembali dalam jeritan bernada frustrasi, “Azhary! Dengerin saya!”

Aku menulikan diriku atas seruan-seruan bernada probabilitas terburuk, dan terus saja berjalan mencari siapa yang kali ini menjadi korban modus operandi, yang baru saja kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Tak butuh waktu terlalu lama bagiku untuk mendahului Intan dan tiba di lokasi tempat korban Petrus berbaring dengan bercak darah menghiasi kaus berwarna krim kusam milik orang itu. Segera kutangkap potret figur mati di hadapanku dengan kamera, seraya menggertakkan gigi dengan sentimen getir yang pekat.

Aku mengenal pria gendut dengan luka tembak dalam di dada tempat jantungnya berada. Ia adalah pencopet kelas kakap yang kadang-kadang bosan mencopet, lalu memilih merampok. Ia terkenal di daerah pecinan ini, bahkan sampai ke luar-luar, hingga aku yang tak berasal dari sini pun mengenalnya. Tak ada yang berani padanya Penjahat memang harus diadili. Merekalah yang di antara masyarakat telah menimbulkan resah. Namun, bukan begini caranya. Mereka pantas menjalani proses peradilan yang lebih layak. Mereka pantas untuk mati sebagai manusia, bukan hewan buruan pemegang kuasa, tak peduli sebagaimana buruk mereka.

“Intan, bisa tolong tunggu di sini? Saya mau cari karung atau apapun untuk menutupi tubuh orang ini,” kataku sambil menoleh ke arah suara langkah kaki Intan, yang masih berlari-lari kecil untuk mendekat padaku, ketika ia sudah dekat. Keningku berkerut samar saat kulihat Intan yang tak bergeming. Ia memandangku dengan caranya yang tak biasa: tidak ada kelembutan dan sesuatu yang kurindukan di balik tatapnya. Apa artinya? Marah? Benci? Atau ... jijik?

Aku tak mau ambil pusing. Kuanggap saja tidak ada yang dipikirkan gadis itu, ketika aku beranjak dari tempatku berpijak, lalu pergi menuju gang sempit di antara deretan toko di seberang jalan.

Cukup lama aku mencari. Tempat yang kudatangi agak rapi dan kosong sementara, ditinggal pemiliknya yang mau merayakan hari besar esok pagi. Sunyi sekali, bahkan hingga aku berhasil menemukan dua lembar karung goni dan berjalan ke tempat tadi. Tak dapat kutemukan Intan di manapun di sana. Kepalaku terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Ah. Mungkin ia sedang pergi ke kamar mandi.

Aku pun berjongkok di sebelah tubuh tak bernyawa yang kini tergeletak di tanah. Kututupi tubuh itu dengan karung yang baginya kucarikan. Miris, sungguh. Hatiku bagai tertohok bilah-bilah pedang, tatkala tak sengaja kusentuh kulit dinginnya. Inikah negeri yang semestinya kucintai? Yang diwarnai intrik politik hingga mengorbankan sisi manusiawi para petingginya? Muak. Aku muak betulan. Segera aku bangkit untuk berdiri, hendak cepat menyingkir dan menuliskan beritaku yang akan kujadikan senjata balasan bagi sang tirani di singgasana sana. Belum sempat kedua tungkaiku berdiri tegak, hantaman keras mendarat di tengkukku, hingga aku terjerembab dan jatuh tengkurap di atas tubuh gendut penjahat yang mati. Wajahku mencium tanah.

Perih. Nyeri. Kepalaku berputar.

Apa ini?

Pandanganku mengabur.

Apa ini?

Aku dipaksa berdiri. Kerahku ditarik hingga aku tersentak. Mataku berusaha melihat apa yang terjadi, tetapi nihil. Yang kulihat hanyalah dunia di sekelilingku berputar, sebelum hantaman lain mendarat bertubi di perutku. Di punggungku. Di wajahku. Aku kembali terjerembab.

Samar-samar dapat kulihat, kini, kondisi yang terjadi. Ada tujuh manusia di sekitarku. Enam di antaranya sepertinya pria, ditilik dari postur besar mereka. Mereka bawa senjata. Lalu ada satu lagi. Aku tak perlu lama-lama menelaah, tak perlu lama-lama meneliti. Sosok satunya adalah Intan, gadis yang pribadinya pernah kukagumi, yang tatapannya pernah kusuka, yang tawanya pernah kupuja.

“Biadab betul jurnalis sialan ini.”

“Ancaman negara.”

“Tangkap.”

“Adili.”

Suara pria-pria itu berkumandang di kepalaku yang masih berpusing. Lalu suara sesosok gadis mengikuti, “Padahal sudah sering kuawasi.”

Sebelum ragaku kembali terjerembab dan sadarku direnggut oleh hantaman lainnya, timbul tanya dalam benak, apa kami, para pers militan, akan pernah punya hak bersuara yang tanpa intervensi, yang tidak dihitung sebuah subversi, yang tanpa dikihanati?

Rasanya aku ingin menghujat barisan mahasiswa itu, yang dulu berseru-seru meminta keadilan kepada pemerintah dan menggulingkan pemegang hegemoni mutlak demokrasi terpimpin. Apakah mereka dari awal sudah menahu bahwasanya pemegang rezim baru ini lebih-lebih lagi otoriternya; lebih-lebih sering lagi memperkosa hak rakyat? Hak pers?

Lalu soal tanya siapa yang berani mengupas busuknya buah rezim yang mendominasi, aku masih bertetap hati untuk menjawab “aku”, pers militan yang siap menerjang ideologi demokrasi yang pseudo, bahkan bila harus mati berkalang tanah.

Ini demi keadilan.

Selesai.
Malang, 28 Maret 2017.
Untuk M. Azhary Arramadhani.
»»  READ MORE

Tuesday, 28 March 2017

Kembali

Yo!
Long time no see, Fellas!

Ternyata sudah 2 tahun lamanya saya nggak menuangkan sesuatu di blog saya ini. Jangankan menuangkan sesuatu, banyaknya kunjungan saya aja rasanya bisa dihitung dengan jari. Saya minta maaf untuk temen-temen yang mungkin sering berkunjung kemari dan mendapati ketidakaktifan saya di sini.

Nah, kenapa saya tiba-tiba datang dengan gaya penulisan yang 'nggak Trice banget'? Udah gitu, banyak banget postingan yang udah raib dari laman ini. Kenapa?

Jawabannya cukup sederhana. Saya udah cukup dewasa untuk nggak mengumbar hal-hal yang sifatnya pribadi di laman pribadi saya, dan rasanya nggak sepantasnya saja seorang mahasiswa (wah, iya, saya udah kuliah nih hahaha) menuliskan sesuatu yang semacam postingan-postingan lama saya. Curhat kok di blog? Caranya nggak berkelas pula? HAHAHA. Maaf, nggak mau sok dewasa kok. Cuma mau mengubah gaya penulisan aja supaya saya nggak kehilangan nilai.

Nah, lalu untuk fiksi penggemar saya yang berjudul "Running Away" itu kenapa nggak saya hapus sekalian? Karena itu sifatnya karya, dan saya merasa saya harus mempertahankannya tanpa mengubah sedikitpun yang ada di sana, mengingat saya ini manusia yang pasti mengalami perkembangan, dan saya nggak mau menghapus jejak penulisan karya saya dari jaman baheula sampai sekarang yang pasti sudah cukup improved. Namun, saya mau meminta maaf sekali lagi, sepertinya fiksi penggemar ini tidak akan saya lanjutkan, karena saya pribadi sudah lupa ini cerita mau dibawa ke mana.

Oke, cukup intermezzo-nya (iya, dari tadi ini masih intermezzo). Saya di sini juga mau menyampaikan bahwa saya mungkin akan mulai aktif lagi di blog ini. Kenapa? Pertama, saya merasa adalah percuma untuk tidak mempublikasikan karya saya, sebab itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang manusia yang diberi talenta oleh Yang Kuasa. Yang kedua, karena saya terinspirasi oleh blog teman saya yang berisi puisi-puisi buatan doi. Saya mengagumi kemampuan teman saya itu dan mau jadi lebih produktif seperti dia.

Rasanya itu saja cuapan dari saya di sini. Sekali lagi, saya minta maaf dan berterimakasih atas dukungan semua teman-teman yang udah atau bahkan sering berkunjung ke blog saya ini.

Adios, amigos!
»»  READ MORE

Wednesday, 14 January 2015

Stephany.



Ia sahabatku.

Seseorang berseragam putih abu-abu itu, yang berjalan dengan menenteng sebuah tas, bergerak lincah tanpa beban sedang senyumnya mengembang. Wajah muda penuh harapan. Pun kacamata yang bertengger manis di hidungnya tak jua membuat wajahnya nampak lebih tua.

Ya. Ia temanku. Sahabatku. Seseorang yang telah sekian lama berdiri di sampingku, menopangku kala kujatuh, dan tertawa bersamaku kala kubahagia.

Tak pernah sekalipun kumenyesal pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Tak pernah sekalipun kumenyesal pernah menjadi saksi senyum lebar itu, yang menunjukkan deretan gigi rapihnya. Menyenangkan untuk dilihat. Suaranya yang khas acap kali hadir dalam hariku. Dalam suka maupun senduku. Tak pernah sekalipun ia pergi, meninggalkan aku yang kehilangan satu hal yang menopangku.

Ia selalu ada untukku.

Namun kini kami berpisah. Jarak antaraku dan dia telah melebar, seiring berjalannya waktu yang tak pernah berdusta, yang tak pernah menanti. Kendatipun begitu, aku selalu mengingat senyumnya, tawanya, pun tangisnya. Juga hari-hari itu, kala kami berjalan bersama, menyusuri pantai dekat rumah kami sembari bertelanjang kaki menikmati senja yang sama-sama kami suka.

Aku menetap dan ia pergi. Hanya kenangan yang ada bagi kami. Kedua mataku kerap kali melayang jauh ke ujung cakrawala. Lebur warna merah dan jingga di horizon membawaku pergi pada kenangan-kenangan yang telah berlalu. Memaksa bulir likuida bening menetes dari sudut mataku.

Tawa kami masih bergema di pantai itu. Pantai berpasir putih yang dulu pernah dihiasi jejak-jejak kaki kami. Jejak kaki gadis-gadis liar yang melanggar aturan dan pulang malam dengan senyum lebar di wajah, tak takut meski konsekuensi harus dimarahi. Kami tidak salah. Kami tahu. Menghabiskan waktu bersama sahabatku bukanlah hal yang salah, begitu pikirku. Aku menyayanginya dan ingin agar ia terus ada dalam hidupku. Tak peduli apa yang ada dalam benaknya; apa ia akan berpikir sama denganku.

Waktu telah bergulir begitu cepat. Aku berdiri di sini, menatapnya dari kejauhan tengah berjalan dengan langkah kaki ringan, berdampingan dengan teman-teman sebaya. Tawanya masih terdengar sama. Tak ada yang berbeda dari dirinya. Mungkin hanya postur tubuhnya yang sedikit berbeda. Tetapi itu tak lantas membuatku lupa padanya.

Jelas tidak. Entah apa aku masih ada di memorinya atau tidak. Aku tidak peduli. Ia masih sahabatku.
Meski kini kutatap ia dari kejauhan, yang tak akan pernah dicapainya jika belum tiba waktunya. Dan hanya ucapan ini yang mampu kuucapkan dari atas sini.

Selamat ulang tahun, Sahabatku. Aku menyayangimu.
»»  READ MORE

Friday, 18 January 2013

FanFiction – “Running Away” 20


“Aku tak bisa,” jawab Greyson sambil menggeleng pelan.
Alice terperangah mendengar jawaban Greyson. Ia pun bertanya, “Mengapa?”
“Aku harus pergi minggu depan. Guy baru saja mengirimi aku sebuah pesan singkat. Ia bilang aku harus melakukan sebuah konser di Indonesia, atau Guy terpaksa akan berhenti menjadi manajer untuk selamanya. Aku tidak mau hal itu terjadi padanya,” terang Greyson sambil menatap ke bawah.
“Tapi―”
“Alice, maafkan aku. Ini semua demi Guy. Andaikan bukan Guy yang meminta, mungkin aku akan menolaknya dan lebih memilih untuk bersamamu,” jelas Greyson sembari menggenggam tangan Alice, “Setelah konser itu selesai, aku akan kembali padamu. Aku janji.”
Alice tidak sanggup menatap wajah Greyson. Akhirnya ia pun bertanya, “Kapan konser itu dilaksanakan?”
“April. Dua puluh April waktu Indonesia,” jawab Greyson.
“Itu masih dua bulan lagi, Grey! Mengapa kau terburu-buru?” protes Alice.
“Ada beberapa hal yang harus aku urus. Kuharap kau mengerti, Alice,” ucap Greyson sambil menatap Alice lembut, “Selama seminggu ini, kita habiskan waktu bersama-sama. Jangan biarkan ada yang mengganggu kita. Ya?”
Alice pun akhirnya tersenyum dan mengangguk mengerti.
“Setelah pulang dari sana, aku berjanji akan membuatmu bahagia. Dan kebahagiaanmu tidak ada lagi yang akan merebutnya. I promise.”

xxx

Hari keberangkatan Greyson pun tiba. Sudah satu minggu penuh mereka menghabiskan waktu dan tidak membiarkan siapapun dan apapun mengganggu mereka. Alice mengantarkan Greyson ke bandara. Hatinya merasa takut. Ia takut Greyson tidak menepati janjinya seperti dulu. Terlebih lagi ketika Greyson mengucapkan hal yang hampir sama dengan kepergiannya empat tahun lalu.
“Hey, Alice! Trust me, I will visit you later! Aku janji aku akan menemuimu dua bulan lagi! Tunggulah aku, Alice, aku berjanji. Sampai jumpa Alice!” seru Greyson.
 “Grey!” seru Alice sambil menahan lengan baju Greyson agar tidak segera masuk ke pesawat.
“Alice? Aku harus berangkat dua puluh menit lagi.”
“Jangan katakan kata-kata itu. Kumohon. Aku tidak mau itu terulang lagi,” kata Alice lirih. Ia menundukkan kepalanya dengan tangan masih mencengkeram erat lengan baju Greyson.
Greyson pun tersenyum. Ia mengangkat dagu Alice dan berkata lembut, “Baiklah, aku akan menggantinya. Alice, maukah kau menungguku hingga dua bulan lagi? Aku akan kembali untuk membahagiakanmu.”
Alice tersenyum mendengar kata-kata lembut dari Greyson. Ia pun mengangguk pasti dan kemudian mencium pipi Greyson yang sesaat kemudian memerah padam. Setelah mereka mengucapkan salam perpisahan, Greyson pun berjalan menjauh. Dan Alice menatap punggung Greyson yang semakin hilang dari pandangan dengan gelisah.
Sebelum ia melihat Greyson masuk ke dalam pesawat melalui tembok kaca itu, Alice pun segera berlari meninggalkan bandara. Ia takut. Ia sangat takut Greyson akan direnggut selamanya dari dirinya. Ia takut kehilangan orang yang ia sayangi untuk yang kedua kalinya.
Ia takut tak dapat bertemu Greyson lagi.

xxx

Alice menggigit bibirnya selama perjalanan menuju ke rumahnya. Jarinya mengetuk-ngetuk jendela taksi yang ia tumpangi. Matanya memandang liar ke luar jendela. Kegelisahan merayap di sekujur tubuhnya. Entah mengapa ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang tidak ia inginkan. Sesuatu yang menimpa Greyson.
Ia pun akhirnya sampai di rumahnya, setelah menumpangi sebuah perahu untuk menyeberangi sungai besar dekat desanya. Tanpa banyak bicara, ia segera naik ke kamarnya untuk berdiam diri di sana. Pikirannya melayang-layang entah ke mana. Tiba-tiba saja ia merasa ia harus menyalakan televisinya.
Layar televisi yang mulanya hitam pun perlahan-lahan menampilkan cahaya. Alice mengganti channelnya dan memutuskan untuk menonton berita. Rahangnya menegang ketika melihat dua orang pembawa acara yang menyampaikan berita tentang hal yang amat sangat tidak ingin ia dengar.
“Penerbangan Amerika Serikat – Indonesia dengan nomor penerbangan xxxx mengalami kecelakaan pada pukul delapan hari ini. Pesawat―”
Dengan segera, Alice mematikan televisinya dan mulai duduk meringkuk di sudut ranjangnya. Perlahan-lahan kedua tangannya terangkat. Ia mulai menjambak rambutnya dan pandangannya mulai kabur karena air mata. Ia membisikkan sebuah nama dengan bibir bergetar.
Greyson sudah meninggalkannya.
Untuk selamanya.

xxx

Dengan marah, Alice berlari keluar kamarnya. Ia berlari sekuat-kuatnya. Ia ingin melampiaskan segalanya di tempat favoritnya. Sungai. Ia harus ke sana. Air mata sudah tidak dapat lagi dibendungnya. Pipinya basah. Wajahnya memerah. Ketakutannya terbukti. Segalanya telah terjadi. Segalanya telah terenggut dari dalam hidupnya.
Sampailah ia di sungai. Ia memandangi pantulan dirinya di dasar sungai. Ia menyumpal mulutnya dengan bagian kerah bajunya dan mulai menjerit sekuat tenaga. Air matanya terus menerus mengalir. Ia ingin menumpahkan segala kesedihannya dengan berteriak tanpa membuat orang lain terganggu.
“Why should be Greyson? Why?” jerit Alice sambil terisak keras. Angin bertiup cukup kencang, membuat tubuhnya menggigil. Namun ia sudah tidak peduli lagi. Semuanya telah meninggalkannya sendirian. Zack, dan kini Greyson. Tubuhnya mulai limbung. Ia hampir saja terjatuh sampai tubuhnya ditahan oleh seseorang. Sebelum Alice benar-benar tidak sadarkan diri, ia menangkap sosok itu dan sempat berkata lirih dengan suara bergetar, “Kupikir kau―” detik berikutnya, ia jatuh pingsan.

xxx

“Mengapa kau menangis, Alice? Aku ada di sini. Aku berada di sampingmu. Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu,” sayup-sayup terdengar suara lembut yang memenuhi kepalanya.
“Grey? Kau kah itu?” Alice berbisik pelan. Ia mencari-cari asal suara tersebut, namun yang didapatkannya hanyalah bayang-bayang semu, “Grey? Kau di mana? Grey! Please, don’t leave me!”
Cahaya putih yang berpendar-pendar itu pun lenyap. Digantikan dengan kegelapan yang hitam pekat.

xxx

Alice pun siuman satu jam kemudian. Ia heran mengapa ia sudah berada di tempat tidurnya, padahal baru beberapa saat lalu ia berdiri di pinggir sungai. Ia segera duduk dan mencari-cari sesuatu. Mencari bayang-bayang yang sebenarnya tidak pernah ada. Ia pun mulai menangis keras lagi ketika ingatan itu merayap ke otaknya.
“Alice? Apa kau baik-baik saja?” tanya suara yang tak lain dan tak bukan adalah suara milik ibunya.
Melihat ibunya yang sudah berdiri di sebelah tempat tidurnya dan menatapnya dengan lembut, Alice segera menghambur memeluk ibunya sembari terisak keras. “Mom… Grey… Greyson,” kata Alice lirih.
“Alice? Ada apa dengan Greyson? Bukankah ia―” tanya ibunya dengan bingung. Kata-katanya berhenti entah karena apa. Ia pun mengelus rambut Alice dengan lembut sambil berkata, “Sebaiknya kau tidur, Alice. Kau terlihat lelah.”
Alice pun mengangguk lemah. Ia segera melepaskan pelukannya dan membaringkan dirinya di atas kasur.

xxx

Alice terbangun pada malam harinya dalam kondisi lapar. Seisi rumah sudah tertidur ketika ia berjalan menuju dapur di rumahnya untuk mencari makanan yang mungkin ada untuk mengganjal perutnya. Dan benar saja, ada beberapa makanan di atas meja makan. Ia pun segera memakan apa pun yang ada di situ dengan rakus.
Tak lama setelah ia memulai makan, ia mendengar suara aneh dari arah kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari dapur. Seperti suara dengkuran. Seketika itu juga bulu tengkuknya meremang. Ia pun berpikir untuk melanjutkan makannya dengan cepat agar ia bisa segera kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur. Namun pikiran itu tiba-tiba hilang. Ia menghentikan makannya dan berjalan perlahan menuju kamar tamu yang―diketahuinya―kosong.
Perlahan ia membuka kamar itu dan mendapati sesuatu yang tengah berbaring di atas kasur. Bagian atas ‘benda’ itu terlihat naik-turun, seperti orang yang sedang bernafas. Dengkuran pun terdengar semakin keras di kamar itu. Alice tanpa ragu segera berjalan ke arah tempat tidur dan menyingkap selimut yang menutupinya.
Alice menjerit pelan ketika melihat sosok siapa yang sedang tertidur di sana.
Mendengar jeritan Alice, laki-laki yang sedang tidur itu pun segera bangun dan membelalak melihat Alice. Dan detik berikutnya, Alice sudah jatuh pingsan.

To be continued…
»»  READ MORE

Sunday, 6 January 2013

FanFiction – “Running Away” 19


R.I.P
Zachary Curtin
18 Maret 1996 – 19 Februari 2012

Berkali-kali Alice membaca tulisan di batu nisan itu. Ia masih tidak percaya laki-laki tegap bermata hijau yang selalu menamaninya saat ia sendiri, telah berbaring dalam damai di bawahnya. Ia masih belum menerima semua itu. Ia masih ingin bersandar di bahu laki-laki itu, memegang tangannya, dan menatap mata hijaunya.
Selama pemakaman, Alice tidak sedikitpun mengeluarkan air mata, membuat orang-orang di sekitarnya, yang tahu hubungan mereka begitu dekat, merasa Alice tidak memiliki perasaan dan memiliki hati sekeras batu. Tetapi tidak. Alice begitu terpukul dengan kejadian itu. Zack, Zachary Curtin, adalah orang yang sangat berharga yang pernah ada di kehidupannya.
Greyson terus menerus menggenggam tangan Alice untuk menguatkan gadis itu. Ia tak sanggup berkata apa pun, karena biar bagaimana pun juga, Zack sudah cukup berjasa dalam hubungannya dengan Alice. Diam-diam ia juga merasa sedih dengan kepergian Zack.
“Alice, bagaimana jika kita pulang? Udara di sini sangatlah dingin,” ucap Greyson lembut.
“Tidak. Kau saja yang pulang. Aku masih ingin bersama Zack,” sahut Alice dengan suara bergetar. Ia menatap ke arah batu nisan dengan pandangan kosong.
Greyson pun menyerah. Akhirnya ia berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan ke tempat penginapan di desa tempat tinggal Alice. Ia kembali menatap ke belakang dan melihat punggung Alice mulai bergetar. Gadis itu mulai menangis.

xxx

“Zack, tolong kau jangan pergi lama-lama. Aku membutuhkanmu,” ucap Alice sambil membelai-belai batu nisan di depannya, seakan-akan sedang berbicara dengan Zack. Pandangannya kabur, satu butir air mata mulai turun membasahi pipinya, permulaan untuk beberapa butir air mata lain yang mulai turun dengan deras. “Mengapa kau tidak mengajakku?” tanya Alice lagi dengan suara lebih lirih.
“Alice…” panggil seseorang dari balik punggung Alice.
“Grey? Bukankah kau sudah pulang?” tanya Alice saat menyadari orang itu adalah Greyson.
“Tidak. Aku tidak akan pulang tanpamu,” ucap Greyson dengan lembut, “Sampai kapan kau mau menyiksa dirimu sendiri? Biarkan ia tenang, Alice. Kau tahu? Ia akan sangat sedih jika kau terus menerus membuang-buang air matamu,”
“Membuang? Aku menangisi orang yang aku sayangi! Kau tidak mengerti, Grey! Kau membencinya. Kau tidak tahu perasaanku!” seru Alice sambil tersedu-sedu. Matanya merah memancarkan kesedihan yang amat sangat.
“Tidak! Kau salah. Aku sama sekali tidak membencinya. Aku menyukainya. Aku sangat berterimakasih padanya karena sudah menjagamu selama aku tidak ada,” jelas Greyson sabar.
“Cukuplah! Tidak usah berbohong padaku. Tidak mungkin kau tidak membencinya,” desis Alice.
Greyson menatap gadis itu dengan pandangan sedih. Ia tahu tak ada gunanya membantah ucapan Alice saat ini. Emosinya sedang sangat tidak stabil. Tetapi dengan setia ia menunggu gadis itu sampai ia puas ‘bertemu’ dengan Zack. Greyson terus menerus membelai rambut panjang gadis itu, ikut merasakan apa yang dirasakannya.
“Ayo kita pulang, Grey,” kata Alice akhirnya, “Zack, maafkan aku. Aku tidak bisa menemanimu terus menerus. Aku harus pulang. Besok aku akan ke sini lagi,”
Alice akhirnya pulang dengan ditemani Greyson. Setelah ia sudah mengantar gadis itu sampai di rumahnya, Greyson pun kembali ke penginapannya. Ia melepaskan baju hitamnya dan menggantinya dengan baju lain saat ia sudah berdiri di kamarnya.
Ia pun duduk di atas ranjangnya dan merasakan telepon genggamnya bordering. Ada pesan masuk. Ia pun membuka dan membacanya. Setelah ia membacanya, ia memutar bola mata dan membalas pesan itu.
Sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin mengajak Alice pergi, namun gadis itu sedang diliputi kesedihan. Akhirnya ia pun memutuskan untuk berjalan ke sungai tempat Alice dan Zack biasa bertemu.

xxx

Greyson melepaskan alas kakinya dan mulai duduk di pinggiran sungai. Ia menatap air yang sudah mulai mencair dengan pandangan menerawang. Ia merasa ketenangan mulai memasuki dirinya. Angin akhir musim dingin bertiup lembut membuat tubuhnya cukup menggigil. Laki-laki itu merapatkan mantelnya. Ia mulai mengeluarkan foto yang begitu berharga miliknya dari dalam saku mantel.
Pandangannya tertuju pada gadis di foto itu. Gadis yang begitu ia cintai, yang sedang tersenyum lebar. Gadis yang bahagia. “Maafkan aku, Alice. Aku sudah merebut kebahagiaanmu,” ucap Greyson lirih. Ia merasa telah merampas kebahagiaan dalam diri Alice dengan menjadi penyanyi terkenal. Rentetan kejadian ini seluruhnya berawal dari ketika Greyson meninggalkan Wichita Falls untuk meraih mimpinya.
“Ternyata kau masih menyimpan foto itu dengan baik,”
Greyson menoleh ke sumber suara, dan mendapati Alice yang sudah berganti pakaian sedang memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Mata gadis itu masih sembab, namun tersenyum. Gadis itu pun duduk di sebelah Greyson dan menyandarkan kepalanya di bahu Greyson.
“Tentu saja. Aku tidak akan membuangnya,” sahut Greyson.
“Milikku sudah rusak. Maafkan aku, tetapi rusaknya di bagian wajahmu,” sesal Alice seraya merogoh saku mantelnya untuk mengambil foto miliknya yang sama persis dengan milik Greyson.
“Tidak apa-apa,” timpal Greyson saat ia melirik ke arah foto di tangan Alice. Ia tersenyum geli melihat wajahnya yang sudah tidak berbentuk di dalam foto.
“Kau tahu, Grey. Sungguh, aku tidak menyalahkanmu saat ini,” kata Alice, “Tetapi hidupku berubah sejak kau pergi empat tahun yang lalu. Kau tidak salah. Menjadi penyanyi terkenal adalah impianmu sejak lama, dan dari dulu aku sudah tahu kau akan terkenal suatu saat nanti. Apalagi sejak aku melihat permainan pianomu di pesta ulang tahun Bella,”
“Ya! Aku masih mengingatnya! Aku ingat, saat itu kau tertawa dan memamerkan gigi ompongmu,” kenang Greyson.
“Jangan bahas gigiku!” protes Alice, “Hari itulah, hari di mana aku mulai menyukai seorang pria. Seorang pria yang duduk di belakang piano dan memainkan lagu-lagu indah. Seorang pria berumur tujuh tahun yang setiap kali bermain piano selalu memejamkan matanya,”
“Kau sangat mengenalku, Alice. Saat itu juga aku mulai menyukai seorang perempuan bermata biru yang menggunakan dress warna kuning yang kependekan, dengan rambut coklat yang terurai indah,” timpal Greyson sembari tersenyum.
“Benarkah?” tanya Alice kagum yang disambut dengan anggukan kepala oleh Greyson, “Yah, akhirnya kita dekat, semakin dekat hingga sama-sama tidak menyadari perasaan kita sudah tumbuh menjadi sangat besar. Aku tidak peduli dengan perasaanku, aku hanya peduli dengan keberadaanmu di sebelahku, menyediakan bahumu saat aku menangis, membelaku jika ada yang jahat padaku. Hanya itulah yang aku pikirkan.
“Hingga saat itu. Saat kau bilang kau akan pergi jauh dariku, aku mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Hatiku seperti kosong. Ada sesuatu yang hilang. Saat itulah aku tahu, aku sudah jatuh cinta padamu.
“Hari-hari aku lewatkan dengan kesedihan, hingga setelah satu tahun menunggumu yang tidak kunjung kembali, aku pun minta orang tuaku untuk pindah rumah. Dan ayahku memilih tempat ini. Tempat aku bertemu Zack untuk pertama kalinya,” Alice menghentikan sejenak kata-katanya karena air mata mulai turun dari matanya, “Saat itulah, aku mulai merasa tidak sendiri. Aku punya teman. Teman yang selalu ada ketika aku sedih. Teman yang sempat menggantikan posisimu.
“Zack selalu menatap mataku dengan mata hijaunya yang teduh. Tangannya yang kokoh selalu ada untuk merangkulku ketika aku mulai merasa kesepian. Aku sudah mulai merasa akan melupakanmu, sampai ketika kau datang ke desa ini, aku tahu, aku tidak akan pernah melupakanmu. Dan tidak akan pernah mencintai Zack sebagai laki-laki,”
Air mata Alice mengalir deras. Greyson pun dengan segerap merangkul tubuh Alice yang mulai bergetar. Ia mengecup puncak kepala Alice dan merasakan kehangatan yang dulu sempat ia rasakan. “Maafkan aku, Alice. Maafkan aku. Ini semua salahku,” sesal Greyson dengan bersungguh-sungguh.
“Tak apa, Grey. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Ini bukan salahmu. Segala yang terjadi beberapa bulan belakangan ini bukanlah salahmu. Ini semua karena masalah waktu,” kata Alice masih dengan tersedu-sedu.
“Ya sudah, ini mulai dingin. Bagaimana jika kita pulang?” tanya Greyson pada Alice.
“Baiklah. Kau mau mampir ke rumahku? Ibuku membuat pie nanas,” kata Alice sambil menghapus air matanya. Ketika ia mulai berdiri, ia berkata pada Greyson dengan pandangan memohon, “Kau mau, kan berjanji padaku, untuk tidak akan meninggalkan aku?”
Greyson berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan, “Aku tak bisa,”

To be continued…
»»  READ MORE

Saturday, 5 January 2013

FanFiction – “Running Away” 18


“Tega-teganya kau menyakiti Alice!” bentak Zack seusai memukul wajah Greyson.
Greyson tidak membalas pukulan Zack, ia justru diam menatap arah lain. Entah mengapa, ia merasa pantas mendapatkan pukulan itu. “Memangnya ada apa dengan gadis itu?”
“Bodoh!” seru Zack sambil menambah satu pukulan lagi di sisi lain wajah Greyson. “Apa kau tidak tahu Alice masih sangat menyayangimu, huh? Ia begitu mengkhawatirkan kondisimu dua hari yang lalu. Ia takut terjadi sesuatu padamu. Sedangkan apa yang kau lakukan?”
Kata-kata Zack sangatlah menyudutkan Greyson. Ia bahkan tidak tahu gadis itu masih mencintainya. Ia begitu peduli dengan egonya hingga tidak memperkirakan perasaan Alice, tidak dapat mengartikan arti pandangan Alice, arti air mata Alice.
“Cukup, Zack. Ayo kita pulang,” ujar Alice yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Zack. “Aku…” sambung Alice lirih, “Aku tidak apa-apa,”
Zack menuding tepat ke wajah Greyson. Ia menatap laki-laki itu tajam. “Ingat, urusanmu denganku belum selesai,”
Zack dan Alice pun berjalan menjauh dari tempat itu. Rencana mereka untuk bersenang-senang justru menjadi tidak menyenangkan. Sementara itu, Greyson masih terdiam dan Bella menatap Greyson dengan mata membelalak.
“Grey?” panggil Bella takut-takut.
Greyson pun menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum palsu. “Bella, sepertinya kita harus pulang,”
“Tapi―” Bella memberhentikan kata-katanya karena ia tahu kondisi Greyson saat ini, “Baiklah,” Bella tidak banyak bicara. Gadis itu justru diam mengingat kejadian tadi. Melihat laki-laki yang bersama Alice menatap Greyson dengan penuh amarah, mendengar kata-kata Zack yang tajam dan melihat ekspresi Greyson yang tidak dapat diartikan. Namun ia dapat menggabungkan itu semua dan mengartikannya. Tidak lama lagi hubungannya dan Greyson akan berhenti.

xxx

“Seharusnya kau tak perlu mengatakan itu, Zack,” kata Alice kaku sembari menatap jalanan di depannya dengan pandangan menerawang. “Aku ingin ia tahu sendiri,”
“Maafkan aku. Aku  tidak dapat menahan emosiku,” sesal Zack.
“Tak apa. Aku berterimakasih padamu, dan aku sangat menghargai ketulusanmu mencintaiku,” ucap Alice sambil tersenyum samar. Pandangannya masih menerawang ke jalanan di hadapannya, menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Zack tersenyum dan membelai lembut rambut coklat Alice yang indah. Entah mengapa, Zack sangat menyayangi gadis itu, meskipun ia tahu, sampai kapanpun gadis itu tidak akan pernah membalas perasaannya.
Tiba-tiba melintas sebuah mobil di sebelah mereka. Mobil itu berhenti dan pelan-pelan kaca bagian pengemudi terbuka dan terlihatlah wajah Greyson yang sedang tersenyum samar.
“Kalian berdua ingin ikut?” tawar Greyson.
“Tidak,” jawab Alice langsung dengan nada bicara tajam. Mendengar jawaban Alice, Greyson terkejut dan kemudian, tanpa banyak bicara, ia melajukan kembali mobilnya.
Alice lega melihat mobil itu sudah menjauh darinya. Namun tanpa diduga-duga, mobil itu kembali berhenti agak jauh di depan mereka, dan terlihat Greyson yang turun dari mobil itu lalu berjalan ke arahnya.
“Aku akan berjalan bersamamu,” ujar Greyson saat ia sudah berdiri di depan Alice dan Zack, “Um, maksudku, bersama kalian,”
“Mobilmu?” tanya Alice.
“Bella yang mengendarainya,”
“Kau mempercayakan mobilmu pada gadis seperti dia? Apakah kau bodoh? Ah, aku lupa. Kau tidak mungkin tidak percaya pada kekasihmu,” ucap Alice sarkastis.

xxx

Sudah lewat satu hari sejak Zack memukul wajah Greyson di air terjun saat itu. Hubungan mereka berempat tidak berubah sama sekali. Greyson semakin tersiksa dengan kepura-puraannya, Alice semakin merindukan Greyson, Bella semakin tidak peduli dengan kondisi Greyson, dan Zack semakin sibuk menguatkan diri.
“Alice, entah mengapa aku sangat ingin pergi ke taman,” ujar Zack.
“Di dekat sini ada taman. Kau ingin ke sana?” tanya Alice sambil mengetuk-ngetuk meja makan.
“Jika kau ingin menemaniku, tentunya,” timpal Zack sambil tersenyum semanis mungkin.
Alice tersenyum simpul mendengar Zack berkata seperti itu. “Buang senyum palsumu itu, Zachary Curtin!” sambar Alice sambil melemparkan sebungkus roti.
“Hey! Jangan membuang-buang makanan!” seru Zack sembari menangkap roti itu dan tertawa-tawa. Alice pun ikut tertawa senang. Ia sangat menikmati saat-saat seperti ini. Ia merindukan saat-saat seperti ini. Terutama jika ia bersama sahabat masa kecilnya.
“Cepat habiskan sarapanmu, dan kita ke taman,” ucap Alice.
“Baik, Mom,” sahut Zack yang segera disambut satu kali lagi lemparan roti.

xxx

“Bella!” panggil Greyson di depan rumah Bella. Tak lama kemudian, muncullah seorang wanita paruh baya yang merupakan pengasuh Bella.
“Ada apa?” tanya wanita itu.
“Tolong panggilkan Bella, ya. Saya ingin pergi bersamanya sebentar,” sahut Greyson sopan.
“Baik. Tunggu di sini ya,”
Greyson menunggu Bella dengan sabar. Sudah cukup lama ia berdiri di situ, kira-kira sepuluh menit. Tapi akhirnya yang ditunggu datang juga. Bella sudah berdandan rapi. Ia memakai dress selutut berwarna pink pastel yang sangat indah, dan juga sepatu high heels berwarna senada. Dan tentu saja ia mengenakan sweater bulu warna putih untuk menahan udara dingin.
“Kita mau ke mana, Grey?” tanya Bella sambil melemparkan senyuman.
“Seharusnya kau tak perlu berdandan seperti itu. Aku hanya ingin mengajakmu ke taman,” jawab Greyson kaku. Ia heran melihat penampilan Bella saat ini. Hatinya merasa tidak enak dengan gadis itu. Gadis itu tidak tahu benar tujuan Greyson yang sebenarnya.

xxx

“Ayo kita duduk di sana!” ajak Alice sambil menunjuk sebuah bangku di bawah pohon besar yang sudah botak, dan di belakang sebuah air mancur.
“Baiklah,”
Mereka pun berbincang-bincang selama beberapa menit. Namun seperti biasa, sebagian besar waktu mereka habiskan dengan saling berdiam diri. Masing-masing berkomunikasi melalui keheningan dan tatapan mata. Tak lama kemudian, pandangan yang sangat tidak ingin Alice lihat pun muncul di hadapannya.
Greyson berjalan dengan Bella yang berdandan sangat rapi. Gadis itu memeluk lengan Greyson, sedangkan Greyson hanya menatap lurus ke depan dengan acuh tak acuh. Alice sudah hampir pergi melihat keberadaan mereka, namun segera ditahan oleh Zack.
“Jangan pergi. Aku merasa akan terjadi sesuatu di sini. Sebaiknya kita mendengarkan saja percakapan mereka,” ucap Zack. Ia melihat sejenak ke arah Greyson dan Bella yang sudah duduk di sisi lain air mancur, “Ayo kita duduk di dekat air mancur agar bisa mendengar mereka dengan jelas,”
Alice pun menurut, mereka akhirnya berjalan menuju air mancur dan duduk di sana seperti tidak mengetahui apa-apa. Mereka mulai menajamkan pendengaran dan mendengarkan.
“Bella, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,” kata Greyson kaku.
Darah mendesir deras di dalam tubuh Bella. Ia sudah tahu akan terjadi hal yang tidak beres jika Greyson sudah berkata seperti itu. “A-ada apa?” tanya Bella tergagap.
“Aku… sudah tidak bisa bersamamu,” ucap Greyson tanpa basa-basi, “Aku ingin kita segera mengakhiri hubungan ini,”
Tulang-tulang di dalam tubuh Bella seakan terlepas dari dalam tubuhnya. Ia mendadak menjadi lemas. Namun ia tahu, ini bukan saat yang tepat untuk menangis. Akhirnya ia berusaha menahan air matanya dan berkata lirih, “Aku tahu ini akan terjadi, Grey. Aku, aku sangat menikmati kebersamaan kita beberapa saat lalu. Terimakasih sudah mau jujur padaku. Aku, aku pergi dulu,”
Bella pun pergi meninggalkan Greyson yang masih duduk diam di tempatnya semula. Ia masih memikirkan apa lagi yang harus ia lakukan setelah ini. Lalu Greyson menangkap sosok Zack dan Alice yang sudah berdiri tak jauh darinya. Ia pun menegakkan posisi duduknya. Tiba-tiba, Zack menghampiri Greyson diikuti Alice.
“Aku suka dengan keberanianmu, Grey,” ucap Zack mengakui.
“Apa maksudmu?” tanya Greyson. Lalu ia berpikir sejenak dan sedikit demi sedikit mengerti, “Kalian mendengarkan percakapanku dengan Bella?”
“Ya,” jawab Alice dan Zack bersamaan.
Greyson memutar bola mata dan mendengus kesal. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia pun berjalan menjauhi mereka berdua.
“Tunggu!” seru Zack, membuat langkah Greyson terhenti. Greyson pun kembali. Zack menatap Alice dalam-dalam, ia mendekat dan mengecup kening Alice. “Aku mencintaimu, Alice. Sangat mencintaimu,” mata hijaunya menatap Alice lekat. Ia kemudian melanjutkan, “Tetapi tugasku sudah selesai. Sebelum aku pergi, aku ingin memberikan ini,”
Zack melepaskan kalung yang selama ini ia pakai. Tak seorangpun mengetahui keberadaan kalung itu di leher Zack. Hanya sebuah kalung rantai, tanpa liontin. Kemudian ia mengalungkan benda itu di leher Alice.
“Aku pergi dulu,” kata Zack yang kemudian berjalan menjauh, meninggalkan Alice dan Greyson yang berdiri mematung. Alice tak mampu berkata-kata. Ia tak tahu pasti apa yang dirasakannya saat ini. Segalanya bercampur dalam hatinya; rasa sedih, kecewa, bahagia.
Greyson dan Alice berdiri masih dalam diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, sibuk memikirkan apa yang harus mereka katakan. Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Suara decit rem mobil dan bunyi klakson kendaraan lain membawa mereka kembali ke kenyataan.
Mata Alice membelalak, ia berseru, “Zack!” dan segera berlari ke arah jalan diikuti oleh Greyson.
Mereka berdua berdiri mematung di pinggir jalan. Mereka melihat Zack. Terbaring kaku bersimbah darah.

To be continued…
»»  READ MORE