Thursday, 30 March 2017

Renjana

Pada suatu masa, di mana lara berkuasa atas bentala, aku terduduk di atas sebuah batu, menunggu hadirmu sambil bersanding dengan temaram senja yang masih setia memelukku. Melodi pawana berembus perlahan, lamat-lamat menyajikan satu lagu gambaran renjana; refleksi sempurna duka yang menabuh genderang atma sejak lama.

Satu tanganku terangkat menyapa kosong udara, sebelum diam-diam berpindah menyentuh dada di mana perih menyapa. Kata yang kau ucap malam itu masih membekas dalam relung sukmaku yang terdalam, mencipta bilur yang tak mau pulih , menyesak dada hingga napas tercekat. Aku kembali menelan getir yang sama dengan malam lalu, tatkala bibirmu menyeru kata pisah, mendeklarasikan berdirinya satu tembok besar di antara kita.

Kau, sang pendamba kebebasan, pada akhirnya pergi dan berpaling.

Aku, sang pengidam sejuk suaramu, pada akhirnya hanya mampu membeku dalam bisu, merengkuh personamu dalam angan yang menari dalam kalbu.

Dalam tiap larik doaku, serta asa yang bersama hela napas menderu, aku menyerukan namamu, berharap kau datang bersama kebebasanmu, dan turut membawaku. Jika boleh kutanggalkan ego yang menjerat ragaku, aku ingin meruah rindu yang biar oleh angin dibawa berlalu.

Angin melakoni tugasnya dengan baik. Pesan rindu yang kuseru-seru siang dan malam sampai padamu hingga kau datang memenuhi undangan dari larik doaku. Kau hadir bersama kebebasanmu dan dengan dua tangan terulur membawaku tenggelam dalam dekapmu yang manis. Dekapmu yang jua getir.

Tangan kita bertaut malam itu. Kita saling merindu. Kita sama-sama mencumbu. Kata duka, lara, luka, dan segala kata bermakna sepadan terbang berlalu dibawa angin yang menderu-deru. Hanya terbayang satu kata dalam sanubari, yaitu kamu, yang membuatku jatuh hati.

Dalam satu desah napas bisikku menyapamu, memaklumkan pada dunia bahwa kau milikku, dalam satu seru berbunyi, “Aku mencintaimu.

No comments:

Post a Comment